Angel

Angel
Episode 1



Matahari siang yang menyengat, membuat gadis dengan setelan blouse dan rok spand selutut itu sesekali mengusap peluh yang mengalir sebiji jagung di pelipisnya yang tertutup poni.


Mengibas cepat jemari tangannya tepat di depan wajahnya yang nampak memerah.


Dengan membawa map yang ia apit di dekat ketiaknya, ia sesekali mengedarkan pandangan nya pada gedung besar di depannya ini.


Sedikit agak ragu, namun dengan cepat ia singkirkan rasa itu. Terlebih saat sosok yang amat ia sayangi itu melintas singkat di dalam pikirannya. Yah, dia harus berani dan tak gentar.


Hingga tapak sol sepatu High Heels setinggi lima senti itu berhenti tepat di depan pos penjaga dengan dua satpam bertubuh tegap yang berdiri, berjaga di dekat pintu kaca otomatis gedung.


" Euhmmm----- maaf, Pak--------" Ucap gadis ini setelah sebelumnya ia nampak membungkuk memberi salam hormat.


" Iya, ada perlu apa, Nona?? " Tanya satpam berwajah tampan seraya tersenyum ramah.


" Euhm------ apa disini ada lowongan??"


Satpam itu nampak mengeryit lalu menoleh ke arah satpam yang memiliki paras sedingin es, yang sedang duduk di balik meja pos penjaga nya. Pria yang kira-kira berusia 40 tahun an itu, diam sejenak sembari memperhatikan, lalu sedetik kemudian pria itu menggeleng dan melengos setelahnya.


" Euhm----- maaf, Nona. Sepertinya perusahaan ini memang sedang tidak membuka lowongan"


Raut kecewa nampak jelas dari balik wajah cantik gadis bersurai coklat sebahu ini. Ini adalah gedung kesepuluh yang ia datangi dan ia selalu mendapatkan jawaban yang sama.


Mengapa dewi fortuna tak mau sekalipun berpihak padanya kali ini?? Dia harus mendapatkan penghasilan bulan ini, karna jika pemasukan tak ada, siapa nanti yang akan membeli obat untuk ibunya??


" Baiklah, terima kasih, pak " Ucap gadis ini dengan nada suara lemah.


Dan dengan langkah gontai, dia berjalan ke arah halte bus. Tenggorokan nya tercekat. Ia kehausa. Udara siang ini benar-benar panas dan membuatnya dehidrasi. Tapi, apa daya, ia sedang tak memiliki uang lebih. Kalaupun ada nanti akan ia gunakan untuk ongkos bus pulang ke rumah.


" Hmmmmmm------- huuufftttt------ panas" Gumam gadis ini seraya menyenderkan kepalanya ke tiang penyangga canopy halte.


Dia sesekali meneguk ludahnya sendiri, sekedar membasahi tenggorokan nya yang kering. Ia terlalu lelah hari ini, hingga ia harus memejamkan mata untuk sekedar merilekskan tubuh lemah nya.


" Hmmmmm---- sudah pukul 2 siang rupanya, pantas saja aku sudah lelah. Setelah istirahat sebentar, aku akan pulang saja. Cukup untuk hari ini, besok aku akan kembali mencari pekerjaan" Gumam gadis ini setelah melirik singkat arloji berwarna putih yang melingkar di pergelangan kiri tangan nya.


Gadis ini kembali memejamkan matanya.


Drrrtttt !! Drrttttt !!! Drrtttt !!


Ponsel gadis ini bergetar dan itu sukses membuatnya membuka mata. Merogoh tas selempang coklat nya dan meraih ponsel pintar miliknya lalu menatap layar nya dengan raut wajah lelah.


Gadis ini melotot, hampir sedikit terkejut ketika menatap layar ponselnya yang bertuliskan, ' Crazy Boy calling '.


Meski ragu, tapi nampaknya ia berniat untuk menjawab panggilan untuk nya itu.


" Halo----" Sapa gadis ini dengan nada bicara hati-hati, ia masih nampak syok sepertinya.


" Heiii, yakkk, cewek judes !! Kenapa lama sekali sih menjawab panggilanku??!!" Teriak seseorang di ujung sana.


Gadis ini memejamkan matanya geram. Menahan emosinya, karna ia sedang tidak ingin berdebat.


" Aku sibuk"


" Eh, begitukah responmu saat sahabat lama mu ini menghubungimu?? Huuuuuuu------ "


Gadis ini terdiam, bayangan nya melayang pada sosok pemuda tampan, songong, cuek dan cogan sekolah yang ia sebut sebagai sahabat karib nya. Di saat semua gadis ingin berteman dan dekat dengan pemuda itu, entah mengapa dia lebih memilih dekat dengannya yang super duper judes.


" ----- wah, wah, wah---- kau sedang melamunkan aku kan?? Iya, iya, aku tahu aku ini tampan. Tapi kau jangan segitu nya juga jika mengagumi ku"


Mendengar ucapan pemuda pemilik suara berat dan nge- bass itu gadis ini melotot.


" Yak !! Dasar gila! Siapa yang sedang melamunkanmu?? Aisshhhh----- penyakit PD luar biasa mu kenapa tidak berubah juga?? Haaaaaaa----- sudahlah, aku sedang sibuk, aku tidak mau mendengar omongan gila dan tak pentingmu itu"


" Hei, hei, yak !! Yak !! Jangan di tutup dulu. Kau sedang sibuk apa sih?? Bekerja ??"


DEG !! Sejenak hati gadis ini seperti berhenti berdetak. Mengingat kata ' bekerja ', entah mengapa hatinya merasa nyeri.


" Euhm------ ti, ti, tidak. Aku sedang menganggur sekarang" Jawab gadis ini dengan nada lemah.


" Hm?? Hehehehehehe, kebetulan sekali. Katakan dimana kau sekarang. Aku akan menjemputmu, kita harus bicara, Cha "


" Hm, ya. Jemput aku di halte bis daerah Gangnam" Ujar gadis bernama Acha ini dengan nada bicara semakin melemah.


" Oke, tunggu aku ya, jangan kemana-mana"


" Yaaaa " Sambungan telponpun akhirnya berakhir.


Acha memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya kembali, dia memijit pelipisnya singkat. Entah mengapa ia merasa sedikit gemetar. Belum lagi pandangan nya mulai kabur.


Bukan untuk terlelap. Acha hanya berusaha mengatasi gangguan kesehatan yang ia alami sekarang.


.


.


.


" Achaaaa---- hei, bangun gadis judes! Kau ini ceroboh sekali sih, hei----- Achaaa------"


Sentuhan jemari kuat yang menoel-noel pipi halus dan suara berat seseorang pemuda berhasil membuat Acha terbangun. Akh, bisa-bisa nya ia tertidur. Bukankah ia tadi tak berniat untuk tidur kan??


Baiklah, mungkin antara hati dan kondisi tubuhnya sedang tak sinkron sekarang.


Acha yang baru saja sadar dari tidurnya mengeryit bingung seraya menatap seseorang yang kini berdiri tegap di hadapan nya.


" Haiisshhh-------- ada apa dengan ekspresimu itu?? Kau lupa padaku?? Ya, ya, ya, sekarang aku lebih tampan kan?? Kau saja sampai tak mengenaliku" ucap pemuda ini seraya menyugar rambut nya yang memiliki potongan slicked back dan tersenyum jenaka.


Acha terkekeh dengan tatapan sayu seraya bangkit berdiri. Jika kalian ingin tahu, tampang Acha saat ini sudah hampir menyamai gadis yang sedang mabuk berat.


" Kau benar-benar Bintang ?? Kemana saja kau selama in------------" ucapan Acha terputus karna secara tiba-tiba tubuhnya ambruk tepat di dalam pelukan Bintang.


Yah, Acha tak sadarkan diri, dia pingsan.


" Acha?? Hei, kau kenapa?? Waduuhhhhh----- gadis ini benar-benar !!"


Dan dengan gerakan cepat, Bintang langsung mengangkat tubuh lemah Acha dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian mendudukkan gadis itu di kursi penumpang.


Lalu setelahnya Bintang mendudukan diri di balik kemudi, menarik presnelling dan tancap gas.


********


Gubrak !!


Suara gaduh barusan sukses membangunkan Acha dari tidur panjang nya. Mata indahnya terbuka sempurna dan ia langsung terduduk.


Untuk sepersekian detik ia nampak bingung, ia mengedarkan pandangannya kepada ruangan asing dimana kini ia berada.


Bahkan Acha sesekali memukul-mukul kepala nya yang nampak masih terasa berdenyut.


" Mau sampai kapan kau memukul kepalamu?? Sampai kau amnesia??" ucap Bintang yang kini sedang berada di dekat lemari tinggi di ujung kamar ini, nampak menatap Acha dengan aneh.


" Bintang ?!!" Pekik Acha terkejut.


" Kau itu kenapa sih?? Aku bukan penjahat ya! Jadi tolong jangan berekspresi seperti itu" Ujar Bintang seraya mendorong koper besar di atas lemari tinggi nya.


Acha bergerak, menurunkan kakinya ke sisi ranjang.


" Bukan begitu. Aku kok bisa disini?? " Tanya Acha sembari menatap Bintang yang kini mulai berjalan menghampirinya.


" Kau pingsan tadi, gadis judes! " Jawab Bintang setelah menaruh bokongnya tepat di sebelah Acha.


" Pingsan?? Mana mungkin??" Pekik Acha tak terima.


" Haissshhhh... Kau ini benar-benar kepala batu. Apa jawabanku barusan terlihat sedang berbohong?? Lagipula untuk apa aku berbohong?? Tidak ada untung nya bagiku. Jika kau berpikiran aku modus, maka lupakan!! Kita sahabat dari SMP. Cinta atau apalah itu semuanya berasa mati jika denganmu! "


Acha mencebikkan bibirnya.


Sejujurnya ia sendiri tidak yakin dengan pendapatnya. Sepertinya dia memang pingsan tadi dan Bintang tidak berbohong. Lalu ia menyadari satu hal.


" Jam berapa sekarang??" Pekik Acha seraya bangkit berdiri.


" Bermalam saja disini, ini sudah pukul 11 malam"


" APA?!!"  Pekik Acha seraya menatap Bintabg yang kini sudah berbaring seraya melipat tangannya di belakang kepala dan mengerling ke arah Acha.


..


.


.


To be continued