
" Kemari kau. Ayo sini ikut aku! " Acha menarik telinga Bintang yang baru saja rebahan dan menggoda nya.
Membuat Bintang meringis dan mau tak mau dia pun harus mengikut Acha yang membawanya ke arah ruang tamu apartemen nya.
" Aaarrgghhh----- jangan menarik telinga ku keras-keras, Cha------ auuuwwww, sakiittt-----!!" Keluh Bintang saat Acha semakin menarik telinganya.
" Aku tidak peduli!! Ini hukuman karena kau baru saja menggodaku! " teriak Acha.
" Duduk!! " pintanya pada Bintang.
Dan akhirnya Acha melepaskan tarikan jemarinya pada telinga Bintang yang kini mulai tampak memerah akibat perbuatan nya.
Bintang bahkan masih cemberut seraya mendudukan dirinya di atas sofa empuk berwarna hitam miliknya.
" Bukankah dari dulu aku memang suka menggodamu, lalu kenapa hari ini kau sensi begitu?? Biasanya juga kau diam saja. Kau takut baper ya??" ucap Bintang sembarangan.
Acha melotot. Dengan spontan dia kembali mengayunkan tangan nya ke arah Bintang dan mendaratkan pukulan kerasnya di lengan kekar Bintang dan kembali membuat Bintang meringis kesakitan.
" Jangan GR !! Dulu ataupun sekarang tidak ada bedanya. Kau dan aku akan tetap menjadi sahabat, tidak lebih!! " Ujar Acha sembari duduk bersidekap di depan Bintang.
" Iya. Iya. Begitu saja kau marah. Dulu tukang marah-marah, sekarang pun tetap tukang marah-marah. Makanya wajahmu nampak tu--------" Dengan cepat Bintang segera menutup mulutnya dan memandang takut ke arah Acha yang kali ini sudah memasang death glare nya.
" Tu----- apa?! Huh??!!"
" Euhm------ tu-------- akhhhhh----- sudah lupakan. Makan yuk! Kau belum makan kan??" ujar Bintang sembari berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Tidak, nanti saja. Bukankah pas menelponku tadi, kau bilang kita perlu bicara?? Kau mau bicara apa denganku?? Apa masalah serius??" Tanya Acha seraya menatap Bintang dengan wajah serius.
" Masalah serius apa?? Kenapa sih?? Kenapa kau terlihat khawatir seperti itu?? "
" Hei!! Sejak kita lulus sekolah, kan kita sudah tak saling bertemu. Kau bahkan menghilang. Setiap kali aku mencarimu, kau selalu saja menghindar dariku. Ada apa denganmu?? Kau sakit?? Kau punya penyakit ?? " tanya Acha sok berspekulasi.
Bintang melotot tajam dan terlihat amat syok.
" Astagaahhh--- Kau mendoakanku penyakitan, lalu meninggal begitu ??! Jahat kau, Cha! "
" Makanya, katakan kemana kau 6 tahun terakhir?? "
" Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, makanya aku menghilang " jawab Bintang.
" Oh " ucap Eun Hye singkat.
Selanjutnya, gadis ini malah menunduk dan pikirannya melayang, entah mengapa lagi-lagi hatinya terasa seperti di cubit.
Setiap mendengar kata ' pekerjaan' dia pasti akan merasa sedih. Nasibnya tak seberuntung teman-teman nya yang lain. Dia tidak pernah mendapatkan pekerjaan yang layak, di tambah lagi ia harus di pecat dan kini menganggur.
" Aku butuh asistent. Kau, bekerjalah denganku " ujar Bintang tiba-tiba.
Acha menegakkan kepalanya dan memandang wajah Bintang dengan ekspresi tak percayanya.
" Hm? Apa katamu barusan ?"
" Haissshhhhh-------- dasar budeg! Berkerjalah sebagai asistent ku. Aku ini artis, jadi aku butuh seseorang yang bisa membantuku menyiapkan ini itu. Aku sih maunya orang yang sudah mengenalku lama, makanya aku memilihmu " jawab Bintang.
" Artis?? Kau artis?? Kenapa aku tak pernah melihatmu di televisi??" Tanya Acha seraya mengkerutkan dahi.
" Hmmmmmmm---- aku ini aktor film yang sudah go international. Aku akan membayarmu dengan gaji besar, tapi dengan satu syarat---"
" Kenapa harus ada syarat segala sih?!!" Protes Acha seraya menatap tajam mata Bintang.
" Hahahahahahha----- syarat nya mudah kok. Kau harus tinggal bersamaku, karena aku akan selalu membutuhkanmu setiap waktu " ujar Bintang sambil tertawa bahagia karena berhasil membuat Acha kesal.
" Apa?! Kau gila?? Kau kira aku pembantumu?? Aku tidak bisa tinggal denganmu, karena jika begitu aku harus meninggalkan ibuku yang sedang sakit !!" pekik Acha dengan mata yang berkaca-kaca.
Bintang mendelik dan syok, dia langsung berpindah dan duduk di sebelah Acha.
" Ibu sakit?? Sakit apa, Cha? " tanya Bintang seraya menatap Acha yang malah menunduk.
" Ibu ku sakit keras, jantung " Air mata Acha sukses terjatuh.
Melihat ini, Bintang ikut merasa sedih. Bayang wajah ramah ibu nya Acha semasa ia sekolah dahulu bersama dengan Acha, membuat hati Bintang mencelos. Matanya ikut berair dan dengan cepat ia merengkuh tubuh Acha untuk di peluknya.
Bintang diam, tanpa bersuara. Ia hanya memeluk Acha, memberi sedikit kenyamanan pada gadis itu agar beban di dalam hatinya cepat menguap.
Hampir beberapa menit mereka berdua bertahan dengan posisi ini.
" Sudah, Cha, berhentilah menangis. Aku akan menyuruh orang untuk merawat ibu nanti, sementara kau bekerja bersamaku "
Acha menjauh dari tubuh Bintang seraya mengusap air matanya.
" Kau tidak perlu repot-repot seperti itu "
" Kau lupa ya?? Kita ini kan sahabat. Jadi, kita harus saling membantu kan?" ucap Bintang seraya menatap wajah Acha yang masih terlihat sedih.
" Baiklah " Dan pada akhirnya Acha pun menyetujuinya.
" Makan yuk! Kau kan belum makan dari tadi siang " ajak Bintang ketika pemuda itu bangkit berdiri dan berjalan ke arah meja konter yang dekat dengan dapurnya.
" Memang nya tak ada masalah jika kau makan malam begini?? Kau kan artis. Bukankah kau harus pandai menjaga bentuk tubuh??" tanya Acha sambil mengekor di belakang Bintang.
" Tidak setiap malam juga kan, Cha. Aku juga makan untuk menemanimu. Oh ya, aku baru saja delivery ini. Kau masih suka makanan ini kan? " tanya Bintang seraya membuka kantong plastik berisi satu kotak yang berisikan nasi, sepotong dada ayam dan se- cup besar soft drink, lalu menyodorkan nya pada Acha.
Acha nampak berbinar seraya mengangguk antusias.
" Wahhhh------ fried chicken. Tentu, aku masih menyukai makanan ini, Bin" jawab Acha sambil mencomot makanan ini dengan segera.
" ------tapi, jika aku boleh memberi saran. Kau jangan lagi memakan makanan seperti ini. Ini junkfood, tidak baik untuk kesehatan. Lagipula aku tak ingin kau menyediakan aku makanan seperti ini" sambung Bintang seraya mengambil roti isi daging yang ada di depannya.
Ya, Bintang tidak begitu menyukai makanan yang tidak sehat sedari ia kecil, sangat berbanding terbalik dengan Acha yang sangat menggilai Junkfood.
Acha terdiam, sejujurnya dia sedikit kesal karna Bintang melarangnya makan junkfood setelah ini.
" Aku hanya tak ingin kau mati muda gara-gara terkena kanker! " ujar Bintang.
" Iya, baiklah. Ini yang terakhir. Setelah ini aku akan menghindarinya " ucap Acha sambil mengangguk.
" Good girl ! " pekik Bintang seraya mengunyah roti nya dan mengacungkan ibu jarinya tepat di samping wajah Acha yang sedang makan. Dan jelas saja gadis cantik ini langsung sebal hingga ia menampik tangan Bintang dengan kasar.
Bintang tidak akan pernah marah jika Acha kasar padanya. Bintang terlalu terbiasa dengan sikap Acha yang suka memukul nya, mencubitnya, menoyor kepalanya, menjewer kupingnya bahkan menjambak rambutnya.
Tapi, jika itu dilakukan orang lain padanya, Bintang akan marah besar bahkan tak segan-segan memukul balik orang itu. Tidak peduli jika orang itu pria atau wanita.
Karena bagi Bintang, Acha adalah sahabat terbaiknya, sodara tersayang nya. Dia yang sedari kecil hingga SMP selalu dingin pada orang lain karena kekurangan kasih sayang. Bisa lansgung berubah seketika saat ia bertemu dengan sosok Acha dan juga sosok ibunya yang penyayang.
Acha adalah gadis pertama yang berani memaki dan memukul Bintang, bahkan berani menatap matanya saat gadis lain malah sok lebay dan terbuai dengan kelakuan badboy nya.
" Setelah ini tidurlah. Besok saja kita bicara lagi soal tugas-tugasmu. Aku besok akan mengantarmu pulang untuk mengambil barang-barang dan meminta ijin pada ibu" ucap Bintang setelah ia selesai dengan roti isinya.
" Iya. Eh! Bin! ---" ujar Acha seraya menarik pergelangan tangan Bintang, sehingga pemuda itu terduduk kembali dan mengkerutkan dahi.
" --------- terima kasih " sambungnya seraya tersenyum tipis.
Bintang tersenyum, mengangguk, bangkit berdiri, lalu berjalan ke kamarnya.
Acha menatap punggung kekar Bintang seraya tersenyum, lalu ia beranjak untuk membereskan meja konter karena ia sudah selesai makan.
.
.
Duduk di depan wanita renta dengan wajah yang mulai nampak keriput disana sini, namun tak pernah sedikitpun kehilangan wajah anggun, ramah dan kelembutannya. Bintang mulai berkaca-kaca.
" Minum dulu tehnya, Bin " ucap wanita itu seraya mendorong secangkir teh agar lebih mudah diraih oleh Bintang, dengan tangan yang bergetar.
Bintang beralih menatap secangkir teh yang masih nampak mengepul. Air matanya benar-benar ingin terjatuh, namun sekuat tenaga ia berusaha untuk menahannya.
Bintang menghela nafas, lalu meraih cangkir teh nya dan menyesapnya sedikit.
Bintang tersenyum seraya menatap ibu nya Acha.
" Teh buatan ibu rasanya masih sama, masih enak "
Ibu nya Acha tersenyum seraya mengusap punggung tangan Bintang.
" Benarkah? Mungkin karena ibu membuatnya dengan kasih sayang, makanya enak, Bin "
Bintang tersenyum senang.
" Iya, ibu benar. Terima kasih, karena telah memberiku sedikit kasih sayang yang tak pernah sekalipun aku dapatkan dari seorang ibu "
" Tanpa kau minta pun ibu akan memberikan seluruh kasih sayang ibu untukmu. Kau dan Acha adalah anak-anak ibu yang paling ibu sayang. Ibu hanya minta satu hal padamu" ujar ibu nya Acha seraya menatap lurus mata tajam Bintang.
Kini jemari renta dan bergetarnya nampak menggenggam erat jemari kuat Bintang.
" Katakan, Bu "
" Jaga Acha saat ia bekerja denganmu, berjanjilah. Jaga Acha untuk ibu ya, Bin? "
Bintang terdiam, namun sedetik kemudian ia mengangguk mantap.
" Aku janji, Bu. Aku akan kemari bersama Acha ketika kami sedang senggang. Ibu akan di rawat oleh perawat disini. Jika ibu merindukan Acha, ibu bisa setiap saat menelponnya "
" Terima kasih, Bin. Iya. Ibu akan menghubungi nya jika sedang merindukan nya. Haaaa------ mengapa ibu merasa kalian seperti sudah menikah saja, yang harus meninggalkan ibu untuk memulai hidup baru? " ujar ibu Acha seraya tersenyum.
Bintang melotot seketika, ia nampak tersenyum canggung seraya mengusap tengkuknya salah tingkah.
" It-----uuuuu-------"
" Itu tidak mungkin, Bu!! Tidak akan pernah terjadi yang seperti itu antara aku dan Bintang. Kami ini sahabat, dan janji persahabatan di antara kami tidak akan pernah kami langgar" pekik Acha yang baru saja muncul dari dalam kamarnya seraya menyeret koper super besarnya.
Bintang terbelalak lalu mengangguk perlahan ke arah ibu Acha. Dia sedikit menciut karna ekspresi wajah Acha nampak begitu garang.
Sedangkan ibu Acha hanya tersenyum gemas sembari memandang Acha dan Bintang bergantian.
" Hahahahahaahha------ baiklah, baiklah. Ibu mengerti. Tapi, sedikit berharap boleh kan ibumu yang sudah renta ini, Cha? "
" Tidak akan, Bu. Aku tidak mau menikah dengan dia. Dia bukan tipeku !! " pekik Acha seraya melirik Bintang dengan tajam.
Bintang mendelik ke arah Acha.
" Aiisshhhhhh------ memangnya kau tipeku?!Aku juga tidak suka gadis judes dan cerewet! "
Acha melotot lalu menjambak rambut Bintang.
" Apa kau bilang?!! Dasar jelek !!! Jelek!! Jelek!!" teriak Acha tepat di telinga Bintang.
" Awwwwwww, sakiitt! Ibu tolong aku! Acha menyiksaku, Bu. Ibu -------------" teriak Bintang sok manja.
Ibu Acha hanya tersenyum seraya menggeleng kan kepalanya lalu beranjak untuk memisah kedua anak TK sedang bergulat di hadapannya ini.
" Sudah. Hei, hentikan, Cha!! Kasihan Bintang, rambutnya bisa rontok nanti, Cha!! Aduuhhh anak ini. Bik, ambilkan air! Biar aku siram anak ini " pinta ibu Acha pada Bibi perawat saat beliau mulai menyerah karna Acha masih bersikukuh dengan tindakannya pada Bintang.
Dan setelah mendengar itu, Acha sontak saja melepaskan jambakannya. Lalu ia meraih koper besarnya, meraih jemari ibunya danmenciumnya. Kemudian ia memeluk hangat tubuh renta ibunya ini.
" Aku pergi, Bu. Jika ibu merindukanku, ibu boleh menelponku. Aku akan sering kemari. Aku sayang ibu "
Ibu Acha sudah amat hapal dengan sifat Acha yang mudah berubah ini. Makanya ia tak cukup terkejut. Bahkan ibu Acha kini memeluk hangat tubuh anak semata wayang nya itu.
" Iya, hati-hati. Jaga dirimu"
Dan sedetik kemudian Acha melepas pelukannya, menatap wajah ibu nya, mencium pipi ibunya kemudian berjalan keluar.
Bintang sendiri masih nampak terpaku, bahkan saat Acha pergi meninggalkan nya keluar rumah.
" BINTAAANGGGG !! " teriakan Acha berhasil menyadarkannya dan ia pun segera beranjak setelah sebelumnya pamit pada ibu Acha.
" Hei, cewek judes! Mampir ke suatu tempat dulu " ujar Bintang saat ia sudah duduk di balik kemudi.
" Terserah padamu, Bos " ujar Acha sambil melirik Bintang.
Bintang tertawa jenaka.
" Yeahh I am your bos! Jadi bersikaplah baik pada bos tampanmu ini, okay ??"
Acha tak menanggapi, dia hanya bersidekap seraya menatap keluar kaca jendela mobil Bintang.
Dan Bintang pun mulai menarik presnelling dan tancap gas.
.
.
~ tbc