Angel

Angel
Episode 4



Pagi ini Acha nampak sibuk di dapur, dia sedang memasak sarapan pagi untuk Bintang dan juga bekal untuk pemuda itu.


Setelah menyiapkan sarapan di meja dan memasukkan bekal Bintang ke dalam kotak piknik, gadis berambut coklat panjang yang kini masih mengenakan celana pendek hotspand dan atasan berupa camisole yang sedikit menampakkan perut ratanya itu berjalan ke arah sofa, dimana Bintang masih terlelap dengan nyamannya.


" Biinnn---heii---Biinnn. Cepat bangun! Bukankah hari ini kau ada pemotretan?? Manager mu baru saja menelpon " ucap Acha seraya membungkuk di dekat wajah Bintang dan mengguncang bahu pemuda itu pelan.


Bintang nampak menggeliat, namun saat ia membuka matanya, pemuda itu terbelalak, terperanjat dan berteriak.


" AARRRRGGHHHHHH, HANTUUU !! "


Acha mengeryitkan dahinya, menegakkan tubuh dan menoleh ke kiri dan ke kanan.


Yaahhhh, gadis ini agak------ kebingungan.


" Hei, siapa yang kau sebut hantu?? Aku??? " tanya Acha seraya menunjuk dirinya sendiri.


Bintang berkedip berulang kali seraya menatap wajah Acha, lalu dengan gerakan heboh dia menangkup kedua pipi Acha, memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah ekspresi. Pemuda ini tersenyum manis seraya menghela nafas lega.


" Huuuffttt-- syukurlah. Bukan hantu ternyata. Hehehehehehe---"


Acha memutar bola matanya jengah, lalu melepas tangkupan tangan Bintang dan mendorong kening pemuda itu agar menjauh dari wajah cantiknya.


" Jangan. modus !! Cepat. pergi. mandi. bodoh! " Kali ini Acha menatap Bintang dengan tatapan garangnya.


Dan itu jujur saja sedikit membuat Bintang menciut. Akh, cuma Acha memang yang bisa meluluhkan sifat aneh dan keras kepala Bintang.


Pemuda itu nampak berdiri seraya mem- pout kan bibirnya dan berjalan menuju kamarnya.


Acha hanya tersenyum seraya memandang punggung Bintang lalu setelahnya Acha berjalan menuju kamarnya, berganti baju dengan pakaian yang lebih pantas karena sebentar lagi ia akan ikut bersama Bintang ke tempat pemotretan.


" Kak " Acha sedikit terhenyak saat suara bercampur udara dingin muncul ketika ia baru saja menutup lemari.


" Haisshhhhh ----- kau membuatku terkejut, Na! " pekik Acha seraya mengelus dada.


" Hehehehehehe, maaf, Kak. Aku tidak bermaksud mengagetkan sebenarnya, aku tadi baru saja kabur dari kamar Kak Bintang "


Acha mengkerutkan dahinya, menghentikan aktifitasnya memoles bibirnya dengan sedikit lipstik.


" Kabur ?? Tumben sekali?? Biasanya kau betah disana kan?? "


Dengan ekspresi heboh, Anna beralih duduk di sebelah Acha yang sedang berkaca dan jelas saja bayangan diri Anna tidak pernah nampak di pantulan cermin itu.


" Selama ini aku selalu kabur keluar, jika Kak Bintang sedang mandi atau------ sedang------ telanjang, Kak. Aaakhhhhh---- sebenarnya itu adalah pemandangan super fantastic, tapi aaaaaa----aku tidak bisaaa!! " teriak Anna seraya menutup kedua matanya dan mengoyangkan seluruh tubuhnya heboh.


' Hmmmmmm--- hantu alay ' - Acha


Acha hanya tersenyum seraya melirik jenaka ke arah Anna yang masih nampak heboh.


Sejujurnya ia mulai bisa menerima kehadiran Anna, hantu gadis ini ternyata cukup lucu dan terlihat polos, sepertinya, camkan, hanya sepertinya yah !!


Acha berdiri dan meraih tasnya, memasukkan segala keperluannya disana dan terlihat mondar-mandir setelahnya.


Lalu, apa yang dilakukan Anna??


Tentu saja hantu itu ikut mengintil dan memperhatikan setiap pergerakan Acha.


" Anna! Jangan terus mengikutiku seperti itu, diam dan duduklah yang manis, oke?! " pekik Acha.


" Kakak, kau mau kemana?? Kencan dengan Kak Bintang?? Kak Bintang itu kekasihmu kan?? "


Kali ini Acha menghentikan aktifitasnya, menatap wajah Anna yang tertekuk.


" Kau cemburu padaku?? Kau mencintai Bintang ?? "


" Tidak. Aku hanya ngefans padanya. Dia milikku, Kak.  "


" Haissshhhhhh ------- iya dia milikmu! Aku bukan kekasihnya kok, dia boss sekaligus sahabat karibku " Jawab Acha kembali meneruskan aktifitasnya.


Wajah Anna berubah ceria.


" Benarkah?? Dia milikku kan, Kak ?"


" Iya, dia milikmu. Tapi dalam artian, itu hanya sebatas status saja. Kau tetap tidak boleh mendekati nya apalagi sampai menganggu nya lagi "


" Issshhhhhhh ------ itu sih namanya sama saja, Kak! Kenapa kau pelit sekali sih? " pekik Anna kembali sebal.


" Hahahahahaha " Acha hanya tertawa seraya berjalan menuju pintu dan keluar dari kamarnya.


" Kak-------- aku ikuuutt !! " Teriak Anna seraya berlari mengejar Acha.


" IKUT SAJA, TOH, KAU AKAN SELALU MENGIKUTI KAMI KAN?! " Teriak Acha dari luar kamarnya.


" Hei! Kenapa kau berteriak seperti itu?? Kau berbicara dengan siapa, Cha? "


Tanpa disadari oleh Acha, ternyata Bintabg baru saja keluar kamar dan mendapati kelakuan aneh Acha ini.


Acha langsung menatap Bintang  yang kini nampak menatapnya tajam.


Acha benar-benar salah tingkah sekarang. Ini belum waktunya untuk memberitahu Bintang soal Anna yang kini ia ijinkan tinggal disini dan berteman dengannya.


" Si, siapa yang sedang berbicara?! Aku tadi sedang menyanyi kok! " kilah Acha.


Bintang nampak terdiam seraya menyipitkan matanya.


" Benarkah? "


" Iya. Sudahlah. Ayo kita sarapan! " Ajak Acha seraya melambaikan tangannya kepada Bintang yang masih terpaku di depan pintu.


" Hm, baiklah "


Dan untung saja Bintang itu memang sedikit----- errrrrr------- bodoh. Pemuda ini memang sangat malas berpikir keras, apalagi jika Acha yang berbicara. Maka ia pasti akan- oh, oke, baiklah, terserahlah.


Acha sedikit menghela nafas lega, meski tak kentara dan itu membuat sosok centil tak kasat mata yang kini sedang duduk di pinggiran sofa milik Bintang nampak cekikikan seraya memainkan rambutnya.


Dia jelas-jelas mentertawakan Acha sekarang.


Acha langsung melirik tajam ke arah Anna tanpa sepengetahuan Bintang. Dan jelas hanya di balas cengiran oleh Anna seraya mengacungkan tanda V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


.


.


.


Hari ini Acha mulai bekerja, gadis itu menjalankan tugasnya sesuai dengan yang di harapkan Bintang, bahkan sebelum Bintang berteriak atau memerintahnya.


Acha benar-benar mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan asistent artis pada umumnya, seperti ia harus mengintil kemana pun Bintang pergi. Bahkan saat pemuda itu pindah lokasi pemotretan.


Lalu, Acha juga membawa kan tas dan perlengkapan Bintang serta memayungi pemuda itu dari terpaan hujan atau dari paparan sinar matahari.


Jadwal Bintang hari ini sungguh sangat padat. Pemotretan, syuting iklan lalu wawancara dengan salah satu stasiun televisi.


Untuk saat ini tidak ada project film.


Acha memandangi Bintang yang kini nampak ber- pose di dekat pohon Tabebuya.


Untuk sepersekian detik gadis itu dibuat sedikit kagum dengan sosok sahabat yang dulu sangat kucel dan bahkan bau.


Hahahaha---tidak salah lah ya. Kini pemuda itu sudah menjadi artis terkenal. Jadi jelas saja penampilan bahkan semua yang ada pada diri Bintang berubah total.


Bintang melirik datar ke arah Acha yang kini nampak selesai menyiapkan makan siang untuknya.


Kemudian gadis itu memberikan Bintang sebotol air mineral seraya mengusap peluh di dahi Bintang dengan tissue.


" Kau lelah? " Tanya Acha.


" Hmmmmmm " Jawab Bintang sekenanya.


Sifat tak acuh Bintang selalu kambuh saat ia kelelahan dan itu memang amat sangat di pahami oleh Acha.


Dan jika sudah begitu, Acha tak akan banyak mengajak pemuda itu ngobrol.


" Ini makan siangmu. Makanlah dulu, aku mau ke mobil, mengambil sesuatu "


Bintang mengangguk seraya melirik meja yang tak cukup besar, namun juga tak cukup kecil. Kemudian ia bergerak, meraih sendok lalu menyuap daging ayam kukus tanpa bersuara.


" Aissshhhhh------ dimana baju ganti Bintang?! Bukankah ia tadi sudah menyiapkan dan menaruhnya disini!! " omel Acha seraya mengacak-acak bagasi mobil Bintang.


" Kak! " suara khas ini sekarang sudah nampak biasa di dengar oleh telinga Acha.


" Hmmmmmmm--- ada apa, Na ?? "


" Euhmmmm----- Kak Bintang kasihan ya ?? Dia terlihat sangat lesu." Ujar Anna yang kini nampak terduduk di bagasi mobil Bintang yang terbuka, tepat di sebelah Acha yang masih sibuk mencari bahkan mengacak.


" Ya, jadwal nya hari ini sangat padat. Belum lagi, cuaca hari ini sedang panas juga " jawab Acha.


Anna melirik Acha, " Kak, kalo ku perhatikan ya. Kaka cocok loh dengan Kak Bintang! Eh ! Aisshh-- tidak! Tidak! Kalian tidak cocok! Kak Bintang itu kan milikku ! "


Acha melirik Anna seraya tersenyum, lalu ia mencubit gemas pipi hantu cantik itu.


Anna hanya cengar-cengir seraya mengusap pipinya.


" Ha, ketemu! " Pekik Acha seraya meraih baju Bintang yang sedari tadi di carinya.


" -----minggir, Na ! Aku akan menutup pintunya " Ujar Acha seraya menutup pintu bagasi mobil Bintang yang tentu saja di balas anggukan oleh Anna yang dengan cepat beranjak dari posisinya.


Saat Acha memutar tubuhnya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Benturan keras yang terjadi di antara keduanya membuat kopi yang baru saja di bawa oleh orang ini jatuh di atas baju kemeja putih nya.


Acha terperangah untuk sepersekian detik, namun setelah itu dia membungkuk meminta maaf seraya menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.


" Maaf, Maaf. Tolong maafkan aku. Aku benar-benar tak sengaja. Aku---- akan membersihkannya, kemarikan kemejamu " Ujar Acha seraya meraih tissue dari kantong coat nya dan mengusap bekas tumpahan kopi ini.


" Tidak usah, ini salahku juga. Aku tadi berjalan sambil bermain ponsel. Sudah. Sudah. Tidak apa-apa. Aku bisa berganti baju nanti " Ujar orang ini, pemuda tampan dengan senyuman ramahnya.


" Tidak, aku juga salah! "


" Sudahlah, tidak usah. Tidak apa-apa kok. Serius. Aku nanti bisa berganti baju dengan yang bersih. Oh ya, perkenalkan namaku Doni, kau? " Ujar pria ramah ini, Doni. Seraya menjabat tangan halus Acha.


Untuk sepersekian detik Acha kembali terperangah. Dia bahkan nampak mematung seraya menatap wajah Doni dengan dalam.


Entahlah apa yang kini dirasakan Acha. Karena sebelumnya Acha di kenal sebagai pribadi yang cenderung cuek dan sedikit sulit terpesona dengan pria. Tapi kali ini rasanya berbeda, mungkin------ dia mulai------ akh, mungkin saja ini berbeda.


" Namaku Acha. Aku as------" 


" Acha, kemarilaaaaahhhh !! " Teriakan Bintang membuat ucapan Acha harus terputus dan membuat Doni atau Acha menoleh bersama an ke arah Bintang yang nampak berdiri seraya berdecak pinggang.


" ---- aku harus pergi, Doni. Aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa lagi, senang berkenalan denganmu " Ujar Acha sembari tersenyum manis lalu beranjak meninggalkan Doni.


Sedangkan Doni sendiri nampak tersenyum seraya memandangi punggung Acha yang mulai berjalan menjauh.


" Cantik " Gumam Doni singkat. Entah mengapa ia merasa bersemu.


" Kau kenal dengan Doni ?? Kok aku tidak pernah tau jika kau mengenalnya ?? Kalian teman sekolah ?? Tapi, teman sekolahmu kan aku! Jangan mengobrol saja! Kenapa kau tak mengurusi aku sih? " Berondongan pertanyaan dan omelan langsung Bintang lontarkan pada Acha yang kini telah berdiri tanpa ekspresi di depannya.


Namun gadis itu hanya melirik singkat wajah Bintang.


Acha malah melengos dan pergi menyibukkan diri dengan pekerjaan nya. Gadis ini nampak malas menanggapi Bintang. Bahkan dengan sengaja ia memunggungi Bintang.


Bintang yang merasa di abaikan jelas saja merasa sangat kesal. Dengan langkah cepat pemuda itu menghampiri Acha, meraih bahu Acha dan memutar tubuh gadis itu hingga menghadapnya.


" Kau masih punya mulut untuk menjawab pertanyaanku kan?! Lalu, kenapa kau malah diam dan mengabaikanku?! Hah?! "


Acha terdiam, dia hanya menatap mata dan ekspresi garang Bintang dengan datar.


" Jawab aku, Cha!" Pekik Bintang.


Dia terlihat amat emosi. Namun mengingat ini lokasi pemotretan ia masih berusaha menahan amarahnya.


" Aku tidak akan menjawab apalagi mengajakmu bicara jika kau marah-marah seperti ini. Sekarang pergilah, bekerja lah. Jangan buat pekerjaanmu kacau hanya karena aku. Kita bicara saja di rumah " Jawab Acha dengan tenang. Padahal sama saja, gadis ini juga sedikit emosi dengan sikap berlebihan Bintang barusan.


Dia sedikit merasa jika Bintang agak bersikap aneh.


Bintang masih menatap mata Acha dengan tajam, lalu sedetik kemudian ia nampak memejamkan matanya seraya menghela nafas.


" Baiklah " Dan Bintang pun melepaskan cengkraman tangan nya dari bahu Acha dan pergi meninggalkan gadis itu lalu kembali bekerja.


Tapi sebelum itu dia meraih baju ganti yang telah di siapkan Acha.


*********


Hampir tengah malam Bintang dan Acha memutuskan untuk pulang setelah semua pekerjaan Bintang beres tentunya. Kali ini Acha yang duduk di balik kemudi. Gadis ini nampak serius menatap jalanan di depannya tanpa bersuara.


Setelah perdebatan yang sengit karena Bintang melarang Acha menjadi supirnya karena ia belum pernah mengetahui jika gadis judes ini bisa menyetir.


Kini baik Acha maupun Bintang nampak sama-sama hening dan sunyi. Hanya suara deru mobil yang terdengar samar yang kini terdengar.


Acha sesekali melirik kaca kecil yang terletak di atas kepalanya, memperhatikan tingkah hantu cantik yang kini nampak sedikit terganggu dengan kesunyian yang Bintang dan Acha ciptakan.


Hantu itu bahkan berulang kali berdecak, berpindah-pindah tempat dari jok kursi tengah lalu berpindah ke jok belakang.


Namun, Acha masa bodoh saja. Dia masih kesal dengan pemuda yang kini duduk di sebelahnya seraya menatap ponselnya dengan tampang serius.


Bekerja dengan Bintang, yang katanya adalah sahabat karibnya entah mengapa membuat Acha malah selalu naik darah karena sifat kekanakan dan labilnya seorang Bintang Wiguna.


" Kau duluan saja, aku mau pergi sebentar. Sekitar dua jam an " Ujar Bintang tatkala mobilnya sudah terparkir manis di depan pintu lobby apartemen.


Membuat Acha mengeryit tak mengerti. Namun rasa kesal bercampur lelahnya berhasil menguasai ego nya kali ini.


Tanpa mau bertanya atau buka suara, gadis ini hanya diam. Lalu ia keluar dari mobil Bintang dan Bintang pun berpindah, bergeser dan mulai mendudukkan dirinya di balik kemudi.


Acha hanya menatap datar kepergian Bintang yang sama sekali tak berpamitan padanya.


Seharusnya seorang artis tak boleh sembarangan pergi kan? Minimal dia harus di jaga oleh satu bodyguard. Tapi, entahlah. Acha tak peduli.


Setelah menghela nafas, Acha berjalan menaiki lift untuk menuju ke kamar apartemen Bintang yang terletak di lantai 21 itu.


Acha berjalan gontai di lorong apartemen.  Dia berjalan seraya menunduk, memperhatikan tapak-tapak alas kakinya yang berjalan berirama. Pikirannya melayang, entah kemana. Mood nya hari ini sangat kacau.


Acha mendelik seraya menghentikan langkahnya, saat ia menatap sepasang sepatu Nike lusuh berdiri di dinding  dekat pintu kamar Bintang.


Perlahan ia menegakkan kepalanya, entah mengapa saat ini jantungnya berpacu. Aura berbeda dan amat mencekam, dapat Acha rasakan saat ia berniat menatap seseorang yang berdiri di dekatnya ini. Seseorang? Benarkah dia manusia ??


Dan saat Acha menatap wajah yang katanya 'seseorang' ini, dia langsung terperanjat. Hampir saja ia berteriak keras jika saja dia tak menutup mulutnya cepat.


Acha bukannya takut, dia hanya sedikit terkejut. Dia bahkan mulai mengumpati dirinya sendiri karna tak fokus.


" Haissshhh---- bisakah kau menampakkan dirimu di hadapanku dengan tampang yang normal saja ?! " Pekik Acha seraya melipat tangannya di dada.


" Lho, memang kenapa dengan wajahku?? Bukankah aku tampan?" Jawab sosok yang-------- sebangsa dengan Anna ini seraya tersenyum genit, sok imut.


Padahal tampangnya sekarang cukup mengerikan dengan wajah sebagian rusak dan salah satu bola matanya keluar.


" Sial ! Sudah menjadi hantu gentayangan, tapi mengapa kau tetap saja narsis ?? Ubah penampilanmu atau aku mengusirmu dengan caraku! Dan-- itu mungkin akan sedikit sakit "


" Oke, baiklah "


Dan akhirnya sosok yang kini berdiri di depan Acha ini menyilangkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah. Lalu, sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi tampilan yang lebih sopan.


" Bagaimana penampilan ku?? Aku tampan kan??" Tanya sosok ini seraya mengedip-kedip kan matanya genit.


Acha menyipitkan matanya seraya mencebikkan bibirnya.


" Iya kau tampan. Tapi sayang itu hanya wajah palsu!! "


" Haisshhhh ------ ini benar-benar wajah asliku !! Sebelum------- aku tertabrak kereta waktu itu "


Acha menghela napas nya lalu membuka pintu kamar apartemen Bintang.


Acha berjalan ke arah dapur. Membuka kulkas, mengambil botol jus jeruk, menuangnya pada gelas lalu meminumnya.


" Apa itu enak? " Tanya sosok yang jelas saja mengikuti Acha hingga kemari.


" Apa sih maumu?! Pergi sana! Aku sudah repot mengurusi satu hantu, sekarang mau mengurusi mu juga " Usir Acha seraya menatap wajah pucat sosok itu.


" Mengurusi satu hantu tampan lagi tidak akan berat kan bagimu? Aku janji tidak akan macam-macam. Aku hanya-------- butuh teman "


" Aissshhhhh ------ dasar bocah tengik !! Cepat pergi kataku! " Bentak Acha seraya mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah pucat sosok ini.


" Namaku Juna! Masak orang tampan sepertiku kau panggil bocah tengik? " Ujar sosok ini, Juna. Seraya menyugar rambutnya.


Lalu kembali mengenakan topinya.


" Dasar sinting !! " Pekik Acha seraya mendorong kepala Juna.


" Wah---- kau bisa menyentuhku! Kaka memang hebat! Tak salah jika aku kemari. Ya. cuma kau yang bisa membantuku "


" Tentu saja bisa! Aku terlalu sering bersentuhan dengan yang sejenis denganmu ! " Pekik Acha seraya membanting gelas nya di atas meja konter.


" Terserahlah apa maumu, berteman lah dengan Anna. Kau beruntung karena aku lelah, Jadi aku tidak ingin berdebat denganmu " Ucap Acha lemah seraya berjalan malas menuju kamarnya.


Namun sebelum menutup pintu gadis ini menatap kembali sosok Juna yang masih terduduk manis di kursi dekat meja konter.


" Dan ingat! Jangan membawa hantu lagi kemari! Jangan berbuat macam-macam!! Mengerti?! "


" Hahahhahahahaha---- siap, Kaka cantik!" Pekik Juna girang.


"  Haaaaaaaa------- akhirnya. This is my home. Dan-------- Anna? Hmmmmmmmmm----" Gumam Juna seraya mengusap bibirnya dan memasang tampang tengil nya.


..


.


.


~ to be continue