
Acara reuni plus kunjungan besuk geng Aderfia selesai, semuanya satu persatu pamit pulang, kecuali satu orang yang emang betah banget kalo udah dirumah namira, ya siapa lagi kalo bukan algara
"Namira kita pamit pulang dulu ya, nanti insyaallah maen lagi kapan kapan deh heheh " ucap vano
"Iya na kita pamit, jaga kesehatan biar bisa masuk sekolah lagi, biar gak galau terus si bulol itu " ucap Nando menyindir algara
algara yang sudah lelah dengan sikap teman teman nya hanya memejamkan mata dan mencoba mengontrol emosi agar tak mencoba mencincang semua geng nya
"Cepet sembuh na " ucap skala
Namira yang mendengar dan melihat ketulusan dan kasih sayang dari geng Aderfia yang sudah ia anggap sebagai keluarga keduanya tersenyum bahagia, setidaknya ia mempunyai teman teman yang begitu peduli disaat orang tua nya tak berada dirumah
"Iya makasih semuanya , kalian udah gue anggap sodara sendiri, jangan sungkan kalau maen kesini ya, kalo mau maen tinggal ngabarin gue atau nggak anak ini " ucap Namira seraya menunjuk algara yang berada disampingnya
Mereka Yang mendengar pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, setelah itu semuanya bergegas pulang
*******
Kemudian Namira melihat algara masih berdiri disampingnya, bingung kenapa dia tidak pulang mengikuti teman teman nya tadi, Namira pun bertanya
"Al, Lo kok gak pulang si ? "
"H-hah , apa na ? " Algara yang sayup sayup mendengar Namira bertanya padanya pun tersadar dari lamunan nya, ya ternyata tadi algara sedang melamun, kira kira apa yang ada dipikiran nya
"Hah hoh hah hoh, lu kenapa gak pulang ? " Tanya Namira sekali lagi
"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo " algara teringat peristiwa pada malam itu disaat dirinya baru saja pulang sesudah mengantarkan Namira kerumahnya
Namira yang mendengar nada bicara algara yang berubah serius pun penasaran, tidak biasanya anak ini begitu serius ketika berbicara dengannya, Namira pun merespon dengan deheman, tapi sebelum algara membicarakan sesuatu itu, ia menyuruh algara masuk terlebih dahulu
"Mau ngomong apa al "
"Na, Lo beneran suka sama si novan ? "
Namira bingung kenapa Algara tiba tiba menanyakan Novan
"Iya gue masih suka sama Novan, kenapa si Al ? "
Sungguh algara muak sekali mendengar nama orang tersebut , semenjak kejadian malam itu, bukan hanya itu, ia memang tidak menyukai pria tersebut dari awal
"Jauhin dia " ucap algara dengan nada dingin dan mimik wajah yang datar
Namira yang mendengar apa yang dibicarakan algara pun kaget tak habis pikir apa maksud algara sebenarnya
'apa apaan si ni anak tiba tiba nyuruh gue jauhin novan' batin Namira
" Al yang bener aja deh Lo, apa apaan si kok gini gak jelas banget " tanya Namira yang masih tidak paham dengan pembahasan ini dengan sedikit emosi
"Pokonya jauhin dia, dia cowok gak bener na " algara masih bersikukuh meminta Namira menjauh dari cowok itu
"Ya bukti Lo apa ngomong kayak gitu ? "
"Na, pliss dengerin gue kali ini aja dia bu- "
Belum selesai algara berbicara, Namira sudah menyela kata kata nya
Posisi mereka saat ini sedang di ruang tamu tempat yang semula dipakai geng Aderfia dan mereka berkumpul mengobrol, Namira duduk di samping algara, untung saja si mba sedang berada dibelakang jadi tidak akan terdengar kebisingan yang disebabkan dua remaja ini
Algara yang melihat dan menduga akan terjadi seperti ini, hanya menghembuskan nafas dan mencoba agar tidak terpancing, Namira sudah dibutakan oleh cinta, andai algara tau orang tersebut layak menjaga namira, maka algara tidak mempermasalahkan nya, algara justru senang ada yang menjaga namira seperti dia menjaga nya
Namira kembali duduk dan mencoba bertanya sekali lagi dengan mata yang berkaca kaca menahan tangis dan emosi
"Al gue tanya sekali lagi, atas dasar apa Lo bilang Novan gak baik kayak tadi hah? "
"Pokonya jauh- "
Lagi lagi Namira memotong pembicaraan algara
"Gua gak butuh jawaban itu, yang gue butuh penjelasan kenapa Lo bilang gue harus jauhin Novan ? KENAPA AL ? LO KALO GAK SUKA GUE DEKET DEKET SAMA NOVAN, YA UDAH JANGAN URUSIN GUE, URUS AJA DIRI LO SENDIRI!! " nafas Namira semakin sesak menahan semua nya ia ingin menangis sekencang mungkin agar sesak di dadanya hilang
Algara yang sudah mulai kehilangan kesabaran membalas perkataan Namira dengan suara tinggi
"GUE TAKUT LO SALAH PILIH COWOK NA!! DIA UDAH PUNYA CEWEK, LU CUMA JADI PELAMPIASAN NYA DOANG, SADARR !! "
Dengan nafas berderu emosi , algara pun mengeluarkan semua yang dia tahu dan dia lihat
Algara melanjutkan perkataan nya di saat Namira diam mendengarkan apa yang dia bicarakan
"G-gue sebenarnya gak mau ngomong ini sama Lo, karena percuma ujungnya bakal kayak gini, tapi gue gak mau lu nantinya salah pilih orang na "
Nada bicara algara kembali melemah namun dengan nafas yang sama, ia sudah lelah berdebat, karena percuma dipikiran Namira Novan adalah cowok yang baik
Namira sudah tak tahan lagi, ia menangis sekarang, ia tak menyangka algara bisa mengeluarkan kata kata kasar dengan suara yang keras, ia benci dengan bentakan, ia benci suara suara keras , namun dibalik itu ia bingung harus mempercayai siapa diantara kedua nya
"Hikss...hikss..t-tapi Al n-novan gak mungkin k-kayak gitu hikss, iya kan " Namira berucap dengan nafas tersengal masih tidak percaya dengan yang dikatakan algara
Algara yang melihat Namira begitu kacau dan menyedihkan hanya karena satu cowok dan salah nya lagi ia malah kebablasan meneriaki Namira, ia tahu Namira paling tidak bisa di bentak apalagi seperti tadi, tapi algara sudah terlalu emosi mendengar Namira selalu membela cowo brengsek itu
Namira masih dengan posisi duduk sembari menangis tersedu sedu
"Percuma gue bilang gini, Lo gak akan percaya na, tenangin diri dulu, baru Lo cari tahu sendiri supaya percaya"
" jangan nangis terus nanti mata Lo bengkak, terus pusing, cepet tidur udah malem, gue pamit pulang "
Namira mendengar nada bicara algara berubah, ia berpikir ini bukan algara nya, algara nya tidak pernah berbicara seperti itu, tapi emang kenyataannya
Algara beranjak mengambil tas nya, kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah, ia memberikan Namira waktu untuk sendiri
Sesampainya di pintu, ia menengok kebelakang melihat Namira masih dengan posisi tadi, sebenarnya algara gak tega, tapi ia mencoba acuh agar Namira paham, biasanya jika Namira menangis ia akan memeluk dan menenangkannya, itu jika yang membuat menangis adalah orang lain, tapi ini dirinya sendirilah yang membuat sahabatnya menangis
Algara melanjutkan langkahnya, lalu menaiki motor dan berpesan kepada pak satpam, agar memberi tahu si mba memastikan Namira memasuki kamar dan berhenti menangis, pastikan ia tidur
Pak satpam yang mendengar pun menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum
" Baik den, hati hati dijalan "
Setelah memberikan pesan tersebut algara melanjutkan tujuannya yaitu pulang dan mencoba meredakan emosi yang sempat meledak
__________________________________________