AKBAR

AKBAR
36



Ponsel Lena lah yang berdering, ada panggilan masuk dari ayah nya. Dengan cepat Lena memundurkan langkahnya dari sana. Akbar terus memperhatikan Lena, walaupun saat ini mami dan papi nya sedang berusaha mengajaknya ngobrol.


"Halo yah?"


"...."


"Rumah sakit?"


"...."


"Kenapa bisa?"


"...."


"baa..ikk teri..ma..ka.sihh."


Bip


Tangis Lena kembali terdengar, yang tadinya tangisnya sudah terganti dengan tangis bahagia sekarang kembali lagi dengan tangis kesedihan.


Why??


Ayahnya, Wirawan. Masuk kerumah sakit di Surabaya karena serangan jantung. Padahal sebelumnya Wirawan tak ada riwayat penyakit jantung, lalu kenapa tiba-tiba ia terserang penyakit mematikan itu. Hati Lena kembali hancur.


Kenapa cobaan yang engkau datangkan selalu berat ya tuhan, hamba gak akan sanggup kalau menanggung semuanya sendiri doa Lena dalam hati.


Ternyata mereka bertiga juga mendengar obrolan Lena dan membuat Devan menghampiri Lena. Terlihat jelas, wajah Lena nampak berubah. Seperti orang bingung.


"Ada apa Len?" tanya Devan pelan sambil memegang bahu kekasih anaknya.


Lena menggeleng kecil tetapi air matanya semakin deras, dan hal itu membuat Devan tidak tega. Devan menarik Lena lembut lalu mendekapnya erat, hal itu Devan lalukan agar Lena mau menyumbangkan apa yang ia rasa pada Devan. Tangis Lena semakin pecah walaupun suaranya tidak terlalu keras. Ini pertama kalinya Devan memeluk Lena.


"Ada apa? Bilang sama papi?" tanya Devan lagi, dan kali ini Devan menyebut dirinya dengan papi.


Lena mendongkak melihat wajah Devan sebentar lalu tersenyum kecil dan kembali menyenderkan kepalanya di dada Devan. Devan mengelus rambut Lena lembut, dan jangan lupakan Citra dan Akbar yang melihat mereka. Bukan cemburu tetapi keduanya malah berbahagia karena melihat mereka bisa sedekat ini.


"Ayah Lena masuk kerumah sakit pi." ucap Lena pelan dan hanya bisa di dengar Devan.


Devan menangkup wajah Lena supaya Lena bisa menatapnya. "Kenapa? Dimana sekarang? Kita kesana!" ujar Devan dengan nada panik.


Lena mengangkat bahunya sambil mengigit bibir bawahnya untuk menahan tangisannya, "kena serangan jantung, sekarang ada di rumah sakit Surabaya."


Devan mendekap Lena kembali kali ini dua kali lebih erat dan membuat tangis Lena akhirnya terdengar. Tangisan pilu.


"Kita kesana sekarang ya, kamu tenang berdoa untuk ayah kamu." ucap Devan lalu menuntun Lena mendekat ke arah Citra dan Akbar.


Citra yang tak mengerti akhirnya membuka suara, "ada apa pi?" tanya Citra pada Devan.


"Mami disini ya jagain Akbar, papi mau anterin Lena ke Surabaya buat ketemu ayahnya." penjelasan Devan membuat Citra dan Akbar semakin bertanya-tanya.


"Ada apa?" tanya Citra lagi.


"Ayahnya Lena kena serangan jantung, dan saat ini beliau sedang di rawat di rumah sakit di Surabaya."


Akbar ikut menangis sambil terbaring, ia sedih karena tak bisa berbuat apa-apa untuk kekasihnya. Tak ada disampingnya saat kekasihnya sedang mengalami musibah kaya gini. Akbar gak berguna pikirnya.


"Aaa..kuuu iii...kuut pii." ucap Akbar masih terbata-bata.


Ketiganya menggeleng, dengan kelemahan yang melanda diri Lena. Lena menghampiri Akbar lalu mengelus wajahnya dan menggenggam tangannya, "kamu harus disini, istirahat yang cukup, aku akan balik lagi kesini secepatnya. Bukan aku mau ninggalin kamu, tapi aku harus lihat kondisi ayah." lirih Lena.


Akbar menggeleng, "aa..kuu haa..russ aa..da. disam..pi..ng kaa...mu."


"Ada papi yang gantiin kamu nak, percayain semua sama papi." timpal Devan.


Akbar terdiam. Tetapi siapa sangka kalau dalam hatinya ia memaki dirinya sendiri. "Akbar sama mami dulu disini ya, biarin papi yang jagain Lena. Kamu harus banyak istirahat biar bisa sehat lagi dan jagain Lena lagi." ujar Citra berusaha membujuk Akbar.


"Taa...pii... kaa..muu.. jan..ji.. gak...akan ni..ng..gal..in a..ku.." kekeuh Akbar.


"Kamu jangan egois dulu ya nak, yang kena musibah ayahnya Lena, orang tua satu-satunya. Masa iya dia harus pilih kamu dari pada orangtuanya?" ujar Devan membuat Akbar terdiam dan pada akhirnya mengangguk.


Lena mengangguk lemah, "aku titip Akbar ya mi," ujar Lena membuat Citra mengangguk lalu mencium pipi serta kening Lena.


"Bro, istirahat yang cukup biar cepat sehat, percayain ini semua sama papi. Papi gak akan ambil Lena dari kamu kok. Mami kamu aja udah cukup." celoteh Devan agar suasana tidak terlalu menyedihkan.


Akbar mengangguk lalu tersenyum, "papi, pamit dulu ya mi. Jagain Akbar ya jangan kebanyakan main handphone." tegur Devan pada Citra, dan hanya di balas tatapan tajam dari Citra.


Sebelum Citra membuka suaranya lebih baik Devan mencium kening istrinya dulu deh.


"Assalamualaikum." ucap Devan lalu keluar dari sana. Dan di jawab oleh Citra dan Akbar.


Didepan ruangan Akbar masih dengan formasi lengkap tak ada satupun yang bergerak dari sana. Sepenting itukah Akbar untuk mereka?


"Kak, titip adik kamu sama mami ya. Papi mau pergi dulu sama Lena." ujar Devan pada Bianca yang sedang duduk disana.


Keningnya berkerut bingung, "loh? Mau kemana emang? Kenapa harus sama Lena? Papi masih punya aku, gak perlu minta tolong dia." Emosi Bianca kembali.


Devan mengelus bahu putrinya lembut, "ayahnya Lena kena musibah di luar kota, papi harus anterin dia ke sana." jelas Devan membuat siapa saja yang berada disana langsung menoleh ke arah Lena. Terutama Kayla, dengan cepat Kayla menghampiri Lena untuk memastikan itu.


"Kenapa harus papi? Suruh dia pergi sendiri! Dia bukan anak papi. Anak papi di dalam lagi butuh kita, kenapa papi malah milih temenin dia!."


Devan menggeleng, "siapa yang ngajarin kamu kasar kaya gitu kak? Papi gak pernah ngajarin kamu kaya gitu!" bentak Devan.


Hal itu mengundang perhatian orang di sekitar dan Citra di dalam. "Maaf pak, mohon untuk tidak berisik karena ini rumah sakit pasien butuh ketenangan." tegur susterย  yang kebetulan sedang melintas.


Citra keluar dari sana langsung segera menghampiri keduanya, "ada apa sih pi, sampai teriak gitu. Ini rumah sakit!" tanya Citra pada Devan.


Devan menatap Bianca lekat, sedangkan yang di tatap hanya menunduk. Bianca menangis dalam diam. Hatinya sakit saat mendengar bentakan itu dari papinya yang selalu memanjakan dirinya sejak dulu.


"Mami yang ngajarin kamu kasar kaya gitu sama orang? Hah?" tegas Devan.


Citra yang bingung hanya menatap mereka bergantian, "kenapa jadi mami yang di salahin?" tanyanya.


"Bianca Liliana, jawab papi!!!"


Devan sudah marah besar, terlihat ia memanggil sang putri dengan nama panjangnya. Devan bukan ingin memarahin Bianca, niatnya ingin menegur tetapi yang di lakukan Bianca sudah kelewatan.


"Papi cukup, ada apa sebenarnya?" Citra berusaha menenangkan suaminya.


"Ada apa kak sebenernya, kenapa bisa papi sampai kaya gitu?" sekarang Citra bicara pada putrinya.


Dengan ragu Bianca menatap Devan penuh kecewa, "papi jahat, papi bentak aku depan umum, papi bikin aku malu cuma karena mau bela dia.!!" tunjuk Bianca ke arah Lena.


"Kalau papi ngerasa aku kasar sama dia, dan papi gak suka sama kelakuan aku, yaudah aku pergi aja!! Semua orang selalu bela dia, aku ini anak papi sama mami, bukan dia." keluh Bianca mengebu-gebu, nafasnya pun sudah tak beraturan lagi.


Lena yang mendengar itu akhirnya melangkah mendekat ke arah mereka bertiga, Lena jadi tak enak hati karena ini semua karena dirinya.


"Kakak jangan pergi, biarin aku aja yang pergi. Kakak benar, aku bukan anaknya papi dan mami, aku gak berhak terlalu mendominasi orangtua kakak. Maafin aku ya, karena selama ini aku selalu ambil kasih sayang mereka yang seharusnya buat kakak." ujar Lena di hadapan ketiganya bahkan di hadapan sahabatnya serta Yura dan Arga.


Citra dan Devan menggeleng bersamaan, "gapapa mi, pi. Yang dibilang kak Bi bener, maafin aku karena aku yang selalu bergantung sama Akbar jadi ikut bergantung juga sama papi dan mami. Aku pergi sendiri aja gapapa kok pi, aku bisa jaga diri aku sendiri."


"Kak Bi disini aja ya, temenin Akbar. Terimakasih karena udah sabar selama ini, maaf selalu bikin kak Bi ngerasa gak dianggap di keluarga kakak sendiri." ujar Lena dengan suara yang bergetar.


Lena mengambil tangan Bianca lalu mengecupnya sedikit lama. "Aku pergi ya kak, mami, papi, semuanya." ujar Lena lalu berlari meninggalkan mereka.


Kenapa Tuhan cepat sekali memberikan aku kebahagiaan? Baru saja aku merasakan bahagia karena melihat Akbar membuka mata, dan mengapa sekarang lebih menyedihkan? batin Lena.


Bersambung....


Huaa gimana part ini?? Menguras airmata gak sih??


Apa B aja???


Comment yaaaaa๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Vote juga jangan lupaaaaa ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š