AKBAR

AKBAR
21



Akbar sedang bersama Bianca saat ini. Tepatnya di area kampus untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang harus di kumpul lusa. Percayalah pikiran Akbar tidak dengan tugas,namun pikirannya terpaku pada Lena sejak tadi. Gadisnya.


"Kenapa harus putus sih?" gumam Akbar membuat Bianca menoleh.


"Putus? Siapa yang putus Bar?" sahut Bianca. Namun Akbar belum juga sadar dari lamunannya.


"Aku gak bisa hidup tanpa kamu Len, pokoknya setelah ini aku bakal perbaikin semuanya." gumamnya lagi.


Kening Bianca berkerut menandakan kebingungan. Namun otaknya dengan cepat menangkap perkataan Akbar tadi. Dan kesimpulan yang dia dapat bahwa Akbar dengan Lena bukan hanya sekedar sahabatan melainkan sepasang kekasih dan sekarang sudah berubah menjadi mantan?


Berita bagus batin Bianca.


"Akbar." panggil Bianca pelan disertai guncangan kecil pada bahu Akbar membuat Akbar kembali sadar dari lamunannya.


Akbar mengedipkan matanya beberapa kali. "Eh sorry,udah mau selesai kan? Gue harus cabut soalnya." ucapnya.


Bianca mengangguk.


"Bar,tapi nanti anterin pulang dulu bisa gak? Soalnya gue gak bawa kendaraan." pinta Bianca membuat Akbar.


Mau tidak mau Akbar mengangguk. Bukan karena apa-apa ya,cuma karena kasian. Hari sudah mau gelap, apa salahnya ia melakukan kebaikan kan nambah pahala.


Tugas selesai.


Akbar dan Bianca menuju parkiran kampus. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Keadaan kampus sudah mulai sepi. Keduanya masuk kedalam mobil dan Akbar mulai melajukan mobilnya ke arah rumah Bianca sambil di arahkan oleh Bianca.


Di perjalanan hanya suara radio yang membuat suasana menjadi ramai. Entah Akbar atau Bianca tidak ada yang membuka percakapan satu sama lain. Tetapi entah ada angin apa Akbar membuka suara dan menanyakan hal yang membuat Bianca kaget.


"Bi, kalo kita udah putus trus kitanya masih ngejar-ngejar orang itu. Kita disebut bodoh gak sih?" tanya Akbar sambil menoleh sebentar ke arah Bianca.


Bianca tersenyum miring. "Bodohlah, kaya gak ada yang lain aja." jawabnya.


"Tapi disini posisinya gue yang salah." ujar Akbar membuat Bianca memasang telinga dengan lebar.


Ini informasi penting pikirnya.


"Mau cerita? Siapa tau gue bisa bantu?" Bianca mencoba menggali informasi dari Akbar.


Apasi untungnya buat lo!


"Gak." balas Akbar cepat.


"Tapi kata orang kalau kita punya masalah terus di curahin bakalan lega nantinya, gak mau coba?" bujuk Bianca membuat Akbar menarik nafasnya.


Gak ada salahnya kali ya gue cerita sama dia, dia kan cewek siapa tau bisa kasih gue solusi batin Akbar.


"Jadi sebenernya gue sama Lena itu pacaran, dan sekarang hubungan gue sama dia lagi gak baik." jujur Akbar pada akhirnya.


"Karena?" tanya Bianca kepo.


"Ada lah masalah, tapi di sini posisi nya emang gue yang salah."


"Terus rencana lo mau ngejar dia lagi?"


Akbar mengangguk. "Bar, kalo saran gue ya, mending biarin dulu. Dia lagi emosi, gue tebak pasti dia kan yang mutusin lo?"


Akbar mengangguk.


"Gue yakin dia yang bakal minta balik sama lo. Gak usah lo kejar dia, nanti yang ada malah dia ngerasa lo yang butuh dia." tegas Bianca.


Akbar diam nampak berfikir. "Tapi kan emang gue yang butuh dia Bi." ucapnya.


Ganteng-ganteng tapi bucin batin Bianca.


****


Lena sedang berada di warung makan pinggir jalan yang biasa ia kunjungi bersama Akbar maupun Kayla dan Raka. Lena sedang menunggu Kayla datang karena mereka sudah janjian di sini.


Tapi anehnya itu cowok gak nyapa Lena sama sekali. Bahkan duduknya pun jauh dari meja Lena.


Akbar kenapa? pikirnya.


Yah Akbar di sana. Kenapa dia tidak menghampiri Lena. Kenapa seperti orang tidak saling kenal.


Lena terus memperhatikan Akbar dari meja nya. Jujur Lena sangat berharap Akbar menghampirinya. Berjuang lagi untuknya. Tapi...


"Len, sorry telat jalanan macet banget." ucapan Kayla membuat Lena menoleh ke arah suara lembut sahabatnya.


"Iya gapapa santai aja kali Kay." balas Lena sambil tersenyum tipis.


"Lo udah pesen?"


Lena mengangguk. Lalu Kayla mengangkat tangannya memanggil pekerja disana untuk memesan makanannya. Tapi matanya menangkap sosok yang dia kenal. Dengan cepat Kayla menoleh ke arah Lena yang sedang memainkan ponselnya tetapi dengan mata yang tampaknya kosong.


"Len, itu Akbar?" tanya Kayla hati-hati.


Lena mengangguk. "Dia gak samperin lo kesini? Dia pasti lihat lo kan ada disini?"


Lena mengangkat bahunya lalu menggelengkan kepalanya. Kayla bangkit dan berniat ingin menghampiri Akbar namun tangannya di cekal oleh Lena.


Lena menarik nafasnya. "Biar gue aja yang kesana Kay."


Kayla menggeleng kuat. "Enggak! Lo tunggu sini biar gue yang samperin Akbar."


Lena tersenyum tulus pada Kayla. Dan Kayla tau arti senyuman itu. "Oke,jangan nangis tapi." peringat Kayla dan di jawaban anggukan dengan Lena.


Lena bangkit untuk menghampiri Akbar. Tidak salah kan kalau Lena menghampiri Akbar. Lena cuma ingin tau kenapa Akbar tidak menyapanya atau tidak duduk satu meja dengannya. Sebagai sahabat harusnya tak masalah.


Lena menarik nafasnya saat sudah berada disamping meja Akbar. "Akbar?" panggil Lena pelan.


Akbar mendongkakkan kepalanya. Jangan kira ia tidak melihat Lena sejak tadi namun ia mencoba acuh seperti saran Bianca. Dan dia sudah punya rencana dengan Bianca.


"Hei Len, Lo disini juga?" tanyanya dengan nada yang tidak enak di dengar di telinga Lena.


Sungguh ini menyakitkan.


Lena mengangguk. "Gak mau gabung sama gue sama Kayla?" tanyanya dengan nada sedikit bergetar.


Akbar menggeleng. "Gue disini aja Len,lagian gue gak makan disini kok mau di bawa pulang aja."


"Kenapa?" satu kata yang keluar dari bibir Lena membuat Akbar juga merasakan sesak. Padahal hanya dengan 'kenapa'


"Gapapa, lagi mau makan dirumah aja. Lo sama Kayla kan?"


"Bukan itu." balas Lena. Akbar menaikan alisnya sebelah. Akbar tau maksud pertanyaan Lena tadi, tapi...


"Trus apa?"


Saat Lena ingin mencurahkan isi hatinya pada Akbar, dan saat itu pula mas-mas mengantarkan makanan pesanan Akbar tadi. Setelah membayar dengan uang pas, Akbar langsung bangkit dari duduknya.


"Gue cabut duluan, lo jangan pulang terlalu malem. Bilangin Kayla bawa mobilnya hati-hati." pamit Akbar dan ingin beranjak dari sana namun tangannya di cekal oleh Lena.


Dan ternyata Lena sudah mengeluarkan cairan bening dari matanya. Membuat Akbar ingin segera memeluknya tapi sayang ia tidak bisa melakukan itu.


"Kenapa nangis? Udah sana balik ke meja, makan dulu. Gak usah mikirin gue. Gue gapapa Len. Nanti sampe rumah gue kabarin lo." izinnya lalu mengelus kepala Lena dan beranjak pergi.


Lena hanya bisa memandang punggung Akbar yang telah hilang di balik terpal di kedai itu dan kembali ke mejanya dengan Kayla.


Kayla mengamati gerak gerik keduanya. Dan Kayla tau Lena pasti akan menangis.


"Gue bilang apa! Lo gak akan kuat. Udah deh makan dulu abis itu kita pulang,gue bakal nginep dirumah Lo." ujar Kayla sambil mengelus lengan Lena.


Kenapa se sakit ini? batin Lena.