AKBAR

AKBAR
32



Malam semakin larut. Lalu mengapa Akbar belum mengabari Lena sejak tadi. Seharusnya Akbar sudah sampai sekitar satu jam lalu. Ini mengapa belum ada tanda-tanda Akbar menghubungi Lena balik, padahal sejak tadi Lena mondar mandir di kamarnya sambil menghubungi Akbar.


Khawatir.


Cemas.


Takut.


Itulah yang di rasa Lena saat ini. "Akbar angkat dong, jangan bikin aku khawatir." desis Lena.


Lena masih terus berusaha menghubungi Akbar namun hasilnya masih sama tak ada jawaban. Bahkan hingga ponsel Akbar tak lagi aktif. Pada akhirnya ada sebuah panggilan masuk dan ternyata itu dari Citra.


Mami Citra😘 is calling....


Dengan cepat Lena angkat panggilan itu, mengapa dari tadi ia tidak berfikir untuk menghubungi Citra atau Bianca ya. Mungkin karena terlalu panik.


"Halo mi."


"...."


"Di rumah mi, oiya Akbar udah sampai belum ya? Soalnya dari tadi aku telepon dia gak diangkat mi sekarang hape nya mati."


"...."


"APA?"


"...."


"Aku jalan kesana mi."


"...."


Bip


Air mata Lena sudah turun, dengan cepat Lena mengganti pakaian lalu mengambil tas kecil dan berjalan keluar rumah. Ternyata ayahnya belum tidur dan masih duduk di ruang keluarga dengan laptop di hadapannya.


"Ayah." sapa Lena dengan nada suara yang bergetar. Air matanya masih turun di pipi mulusnya.


Wirawan menoleh ke arah Lena. "Loh kok kamu nangis? Kamu mau kemana? Ini udah malem sayang." tanya Wirawan.


Lena berjalan menghampiri Wirawan lalu menangis di pelukan ayahnya, untuk saja laptop yang tadi Wirawan pegang sudah di taruh di sofa samping.


"Aaakbar kecelakaan yah sekarang di rumah sakit." lirih Lena dengan tangisan yang semakin kencang.


Wirawan terpaku, "innalilahi, kenapa bisa? Kita kesana sekarang." putus Wirawan langsung mengambil kunci mobil di kamarnya.


Wirawan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang Lena bilang tadi sedangkan gadis itu masih saja menangis. Hati Wirawan hancur melihat tangisan anak perempuannya. Kedua kalinya Lena seperti ini, yang pertama waktu ibu nya meninggal.


"Kamu tenang, Akbar laki-laki kuat." ucap Wirawan. Namun sayang kata-kata itu tidak bisa bikin hati Lena tenang sedikit pun.


Ucapan Citra tadi di telepon masih terngiang jelas di otak Lena. Memang awalnya suara tangisan Citra tidak terdengar namun setelah mengatakan kalau Akbar sedang kritis di rumah sakit tangis Citra terdengar dan itu membuat Lena semakin pilu.


"Ini salah aku yah, ini salah aku yang nyuruh Akbar pulang!" Lena menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan nyalahin diri kamu sendiri Len, kita akan tau bagaimana ini bisa terjadi nanti di rumah sakit. Kamu berdoa."


Keduanya telah sampai di rumah sakit tersebut langsung menuju ICU di mana di sana sudah ada keluarga Akbar termasuk keluarga Raka. Mengapa Raka tidak mengabarinya?


Lena segera menghampiri Citra dan memeluknya erat, tangis keduanya beradu di tambah lagi tangisan Bianca dan Linda. Raka? Cowok itu juga menangis namun suara tangisnya di tahan.


"Mami, Akbar kenapa bisa kaya gini?"  lirih Lena di sela tangisan.


Citra diam tak menjawab.


"Ini salah aku! Ini semua karena aku. Akbar kaya gini karena aku." teriak Lena lalu tubuhnya ambruk ke bawah.


Bianca menghampiri Citra lalu memeluk maminya, "ini semua emang karena lo! Adek gue terbaring di dalem karena lo." maki Bianca.


Linda menghampiri Lena dan membantunya bangkit. Sedangkan Citra menenangkan angkat sulungnya, "ini semua murni kecelakaan kak, bukan salah Lena. Kamu jangan nyalahin dia."


Bianca menatap Lena tak suka, "enggak mi, ini karena dia. Akbar kaya gini setelah pulang dari rumah dia!" maki Bianca sambil menunjuk Lena.


Wirawan memeluk putrinya, "kamu jangan seenaknya nyalahin anak saya."


Bianca menatap Wirawan tak suka. "Kak, maafin aku. Ini semua salah aku, maafin aku." ucap Lena sambil menangis.


Tak lama dokter yang menangani Akbar keluar dari ruangan, membuat yang berada di sana langsung mendekat ingin mengetahui bagaimana kondisi Akbar di dalam.


"Saya orangtuanya dok." sahut Devan.


"Ada tusukan di perutnya memang tidak terlalu dalam namun anak bapak kehilangan banyak darah." jelas dokter Andi.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok." tegas Devan.


Dokter Andi mengangguk, "tapi mohon maaf pak, untuk darah yang kami butuhkan saat ini sedang kosong, apakah di antar bapak atau ibu bersedia mendonorkan darah?"


"Ambil darah saya dok, darah saya sama dengan anak saya." ucap Citra dengan cepat.


Dokter Andi mengangguk lagi, "suster antar ibu ini untuk di ambil darahnya, ibu bisa ikut suster."


"Mari bu ikut saya."ajak suster. Citra mengikuti suster bersama dengan Bianca.


"Baik kalau begitu saya tinggal dulu pak." ucap dokter Andi lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Lena kembali menangis di pelukan Wirawan. Raka yang melihat itu tak tega, Kayla pun harus tau kabar ini. Bisa di pastikan Kayla juga sedih mendengar kabar ini.


"Bu, Raka izin sebentar ya mau jemput Kayla." izin Raka pada Gita.


Gita menahan tangan anaknya, "udah malem dek, besok pagi aja kasih tau Kayla nya. Ibu khawatir." Raka hanya bisa mengangguk. Tapi Raka tetap mengabarin Kayla lewat chat.


RAKA ADIPURA


Kamu udah tidur belum?


KAYLA❤


belum, knp Ka ?


RAKA ADIPURA


Akbar kecelakaan, ini aku di rumah sakit sama yang lain termasuk Lena dan ayahnya.


KAYLA ❤


Inalillahi yaallah 😭😭


Jemput aku bisa? Aku mau nemenin Lena, pasti Lena sedih banget.


RAKA ADIPURA


besok pagi aja aku jemput ya, sekarang udah malam. Kamu harus istirahat sayang


KAYLA ❤


aku otw dianter pak Ari!


RAKA ADIPURA


jangan kay, besok aja.


Namun tak ada lagi balasan dari kekasihnya itu. Apakah Raka salah memberi tahu Kayla sekarang? Kalian tau apa yang rasa sekarang? Seperti separuh jiwanya hilang, sungguh. Kejadian seperti ini tidak pernah ada di pikiran Raka saat ini.


Lo kuat Bar batin Raka lalu menghapus air mata yang berada di sudut matanya.


Lena masih menangis di pelukan Linda sekarang, sedangkan ayahnya sedang berbicara dengan ayah Akbar menanyakan kenapa ini bisa terjadi.


"Kak ini salah Lena ya, Lena yang buat Akbar bisa kaya gitu. Lena yang nyuruh Akbar pulang padahal Akbar belum mau pulang." tanya Lena pada Linda.


Linda hanya bisa memeluk Lena dengan erat sambil berbisik, "jangan kaya gitu Len, ini kecelakaan dan gak ada yang tau. Kalau kamu tau Akbar bakal kaya gini, aku yakin kamu gak akan biarin Akbar pulang. Jangan dengerin Bianca, dia cuma lagi emosi nanti juga baik lagi ya."


"Tapi kak in-" ucapan Lena terpotong.


"Hustt, udah kamu berdoa aja biar Akbar kuat di dalem." ujar Linda.


Lena mengangguk tetapi dengan air mata yang masih mengalir. Kamu kuat demi aku ya Bar, aku gak akan ninggalin kamu sampai kamu yang nyuruh aku untuk ninggalin kamu batin Lena.


Bersambung....


Gimana banyak yang salah tebakannya nih hahaha


Seru gak? Kurang dapet ya feel nya....


Next???