
Citra dan Bianca sudah kembali bersama mereka. Dan Kayla pun sudah sampai disana. Saat ini Kayla lah yang memeluk Lena. Tangis Kayla juga pecah. Kenapa bisa ada tusukan di perut Akbar? Berarti ini bukan kecelakaan tabrak menabrak, ada hal lain lagi. Namun saat ini Devan belum bisa mengurus kasus ini. Yang terpenting saat ini adalah Akbar.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Semuanya masih berada disana. Mata Lena pun sudah bengkak akibat terus menerus menangis. Lena teringat kalau ayahnya besok harus pergi ke luar kota untuk kerja.
"Ayah." panggil Lena saat ayahnya sedang bicara sedang Devan dan Beni.
"Kenapa Lena?" bukan ayahnya tetapi Devan.
Lena menggeleng, "ada perlu sebentar sama ayah, pi." ujarnya.
Wirawan bangkit dari sana setelah izin pada keduanya. "Ada apa nak?"
"Ayah pulang aja, besokkan ayah harus keluar kota untuk kerja. Tapi izinin aku disini buat nemenin Akbar ya."
Wirawan menggeleng, "ayah akan tetap di sini sampai Akbar siuman. Ayah mau tau bagaimana kronologinya sampai bisa seperti ini."
Lena menggenggam tangan ayahnya, "makasih karena ayah mau disini untuk Akbar, tapi ayah punya tanggung jawab yang harus di selesaikan sebelum kejadian ini."
"Tapi-" ucapan Wirawan terpotong.
"Aku akan kabarin ayah terus gimana kondisi Akbar." Mau tidak mau Wirawan mengangguk. Benar pekerjaan ini sangat penting untuknya dan tidak bisa digantikan oleh siapapun lagi.
Wirawan bangkit untuk menghampiri Devan berniat meminta izin untuk pulang lebih dulu. Jujur sebenarnya hatinya tak enak, karena meninggalkan hal sebesar ini. Ini juga tanggung jawabnya.
Setelah meminta izin pada Devan dan juga Citra serta Beni dan Gita, Wirawan pulang kerumah dan membiarkan Lena disini. Sebelumnya Wirawan berpesan pada Lena agar jangan terlalu banyak menangis. Wirawan tau apa yang di rasa anaknya, cuma bukannya Akbar lebih membutuhkan doa dari pada menangis.
"Lo yang sabar, Akbar cowok kuat. Dia pasti bangun." ujar Kayla dengan suara yang juga masih sesegukan.
Lena mengangguk lalu kembali memeluk sahabatnya itu, tangisnya kembali muncul entah kenapa susah sekali berhenti. Tak lama dokter keluar lagi dan memberitahu kondisi Akbar saat ini.
"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar pak,Bu. Tapi pasien belum siuman." jelas dokter Andi.
Devan mengangguk, "tapi kami boleh jenguk kan dok?" tanya Citra.
Dokter Andi mengangguk, "boleh Bu, tetapi bergantian ya jangan berisik juga. Pasien belum bisa di pindahkan ke ruang rawat karena masih ada yang harus kami periksa lebih lanjut."
Semua mengangguk paham. "Kalau begitu saya permisi dulu." pamit dokter lalu berlalu menjauh dari sana.
Ada satu suster yang menjaga di ruangan itu. Citra dan Devan melangkah masuk ke dalam. Tangis Citra kembali pecah saat melihat Akbar terbaring lemah dengan luka di tubuhnya. Jangan lupakan perban tebal yang menyelimuti bagian perutnya.
"Halo anak mami, bangun ya sayang. Adek pasti kuat kan? Masa begini doang kamu tidur sih, ayo dong sayang kasian nih liat mami, kak Bi, Lena sama ibu nangis. Raka sama Kayla juga nangis loh." cicit Citra dengan suara yang terbata-bata karena menangis.
"Papi juga nangis dek." sahut Devan di samping Citra. Benar Devan juga menangis melihat anak bungsunya yang selalu kuat sekarang lemah di hadapannya.
"Mami disini Bar, kamu cepet bangun. Nanti papi janji deh bakalan beliin mobil ya kamu mau itu apa ya namanya mami lupa, pokoknya nanti pas kamu bangun papi akan beli untuk kamu." ujar Citra membuat Devan menoleh kearah istrinya.
"Loh kok jadi papi? Kan mami yang ngomong, dek yang beliin mami ya bukan papi." bela Devan.
Citra menatap Devan tajam, setajam omongan mertua HAHA "diem aja kenapa pi, ini mami lagi sedih loh. Kali-kali beliin Akbar mobil." Devan hanya mengangguk patuh lalu keduanya keluar. Sebelumnya mereka mencium wajah Akbar.
Jujur wajah Akbar tak ada sedikitpun luka. Masih mulus. Tetapi di tubuhnya banyak sekali luka. Pasti kalau udah bangun dia akan berucap syukur karena wajah gantengnya tidak ternodai.
Kali ini Bianca dan Linda yang masuk ke dalam. Bianca kembali menangis. Akbar adiknya yang paling bandel sekarang terbaring tak berdaya begini. Seakan ada yang kurang di hidupnya meskipun mereka sering bertengkar tetapi tak bisa di bohongin mereka saling sayang dan peduli.
"Bar, Lo kenapa bisa kaya gini? Pasti ini semua gara-gara pacar lo itu kan? Gue udah bilang sama lo. Dia gak cocok sama lo, Lo sih ngeyel banget." ujar Bianca pertama kali tanpa terbata. Linda yang mendengar ucapan Bianca hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu, Linda yakin Bianca cuma sedang lagi emosi aja nanti juga baik lagi.
"Bar, kalo lo bangun gue minta sama lo buat ninggalin Lena ya. Gak perlu sama Kayla asal jangan sama Lena juga, Lo harus dapetin yang terbaik." lanjut Bianca.
Linda yang mendengar perkataan itu langsung membuka suara, "Bi, lo gak boleh ngomong gitu! Akbar itu sayang banget sama Lena. Lo gak boleh misahin mereka. Lo emang tega liat adek lo kaya gini?"
"Justru itu Lin, karena adek gue terlalu sayang sama cewek itu, jadi selalu di manfaatin. Gue yakin Akbar bisa dapet yang terbaik dari pada Lena."
"Bahagianya Akbar itu ada di Lena, begitu juga sebaliknya. Yang ngejalanin mereka Bi, bukan lo. Gue yakin mami gak akan setuju sama permintaan Lo."
Bianca hanya diam mencerna apa yang Linda bilang tadi. Apa bahagianya Akbar ada di Lena? Batin Bianca.
Sekarang giliran Gita dan Beni, keduanya masuk. Gita masih saja menangis tanpa suara. Bukankah menangis tanpa suara itu lebih sakit?
"Assalamualaikum anak ibu dan ayah. Hiks..hikss." ujar Gita terhenti, Beni mengelus punggung istrinya.
"Kamu kenapa bisa kaya gini sayang? Ibu sedih banget lihat kamu diem aja kaya gini, mana suara yang selalu buat ibu tertawa nak. Kamu bangun ya sayang, kasian kita disini nangisin kamu. Biasanya kan kamu selalu buat orang tertawa kenapa sekarang kamu jadi di nangisin sama semuanya? Bangun ya sayang, ibu yakin kamu pasti kuat." ujar Gita lalu memeluk Beni.
"Hei bro, udah lama kita gak ngopi sambil main catur ya. Ayah udah pulang nih, masa ayah pulang malah di sambut beginian. Ayo lah bro bangun, kita main catur sambil ngopi ya. Yang kuat yaaa Bar." ujar Beni lalu menitihkan air mata. Keduanya keluar itu. Sekarang giliran Lena ditemanin oleh Raka dan Kayla.
Rasanya Lena tak sanggup melangkah mendekat ke arah Akbar. Kakinya terasa lemas. Dengan sigap Raka membantu Lena menuju tempat Akbar sedang tertidur.
Lena kembali menangis namun kali ini tanpa suara dan dihiasi dengan senyuman kecil yang ada di bibir Lena. Lebih tepatnya senyuman miris.
"Sayang?" panggil Lena.
Tak ada sahutan. Raka mengusap bahu Kayla dan Lena secara bergantian. Raka tau keduanya pasti sangat hancur termasuk dirinya. Mungkin kalian pikir ini lebay, tapi apa kalian pernah ngerasain ada di posisi mereka? Saat orang yang kalian sayang, tiba-tiba saja diam tak berdaya padahal biasanya dialah yang paling heboh.
"Akbar kok panggilan sayang aku gak di ja..hiks..hiks."
"Tarik nafas." sahut Raka saat melihat Lena seperti kesusahan bicara.
Lena mengikuti instruksi Raka, "Akbar maafin aku, ini semua karena aku. Aku yang nyuruh kamu pulang. Mungkin kalau kamu masih dirumah aku, ini gak akan terjadi."
Kayla menggiring kepala Lena untuk bersandar di bahunya sambil mengelus rambutnya. "Aku bukan cewek yang pantas untuk kamu Bar, bener kata kak Bi. Ada banyak cewek yang lebih baik dari pada aku. Apa aku harus pergi dari hidup kamu?" curahnya.
"Gak boleh Len, Akbar butuh Lo. Akbar sayang dan cinta sama lo." ucap Kayla.
Lena menggeleng lalu tertawa kecil, "enggak Kay, yang diinginin kak Bi itu lo bukan gue. Gue cuma orang yang Akbar pilih tapi bukan yang kak Bi pilih. Gue juga sayang sama Akbar. Tapi-"
Lena diam dan kembali menangis memeluk Kayla. Rasa sakitnya benar-benar sakit. Tidak bisa ia tahan untuk saat ini apalagi perkataan Bianca yang menusuk ke hatinya. Andai ada Akbar, pasti dialah orang paling depan yang akan membela Lena.
"Bangun Bar, gak kasian sama cewek-cewek kesayangan lo nangisin lo kaya gini?" ujar Raka setenang mungkin. Ia tak bisa menampilkan kesedihan didepan semuanya orang. Biarin dia sendiri yang merasakan semuanya.
"Kita keluar dulu ya, gue gak bisa ngomong apapun lagi sama lo. Gue cuma berharap Lo cepat sadar." ujar Kayla sebelum mereka bangkit dan keluar ruangan.
Lena mencium kening Akbar lama sambil meneteskan air matanya ke wajah Akbar. "Aku keluar dulu ya sayang, kamu cepet bangun. Iloveumore Akbar" lirih Lena lalu beranjak dari sana.
Bersambung....
Yaallah aku ngetiknya sambil nangis ini astaghfirullah ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Siapa disini yang nangis juga kaya aku?? komen yaaaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
APA YANG MAU KALIAN BILANG KE :
AKBAR
LENA
RAKA
KAYLA
BIANCA
LINDA
MAMI CITRA
PAPI DEVAN
IBU GITA
AYAH BENI
AYAH WIRAWAN
curahin hati kalian disini!!
Gimana part ini feel-nya dapet gak sih??