AKBAR

AKBAR
23



Coba dong komen kalian tim mana.


Baca pagi..


Atau


Baca malam....


Happy reading ❤


Siang ini Lena sedang berada di sebuah cafe bersama dengan Citra. Yah Citra, mami cantiknya Akbar. Tadi Citra lah yang menghubungi Lena dan mengajaknya bertemu. Mau nolak pun Lena tak bisa, karena Lena mengingat seberapa sayang Citra padanya,masa hanya karena masalah dirinya dengan Akbar ia harus menjaga jarak juga dengan Citra, dan disinilah mereka sekarang.


"Aku telat ya mi?" tanya Lena pada Citra karena Citra sudah lebih dulu sampai.


Citra menggeleng. "Enggak kok, mami juga baru aja sampai. Kamu mau pesen apa? Mami udah pesen duluan tadi." tanyanya lalu memanggil pelayan di sana.


Dan Lena memesan makanan serta minuman. Lena sengaja sejak tadi tidak makan karena pasti Citra akan marah kalau Lena tidak makan bersamanya.


"Gimana di kampus?" Tanya Citra.


Lena menghela nafas nya panjang. "Kenapa sih mami harus punya anak ganteng kaya Akbar?" tanyanya.


Citra mengangkat alisnya bingung, "maksud kamu?"


"Iya karena Akbar yang terlalu ganteng jadi apapun yang menyangkut Akbar pasti cepet banget kesebarnya." keluh Lena pada Citra.


Citra mengerutkan keningnya kali ini.


"Sebenernya aku sama Akbar itu kalo di kampus backstreet mi. Mereka taunya aku cuma sahabatan sama Akbar. Nah hari ini entah kabar dari mana seluruh mahasiswa di kampus mau dari fakultas mana aja tau kalo aku pacaran sama Akbar dan lebih parahnya lagi kabar putusnya aku sama Akbar mereka tau." jelas Lena dengan nada sedikit emosi.


Untuk masalah putus Citra memang sudah tau. Entah dari Lena ataupun Akbar keduanya sudah cerita. Maka dari itu Citra mengajak Lena bertemu bukan di rumah karena ia tak ingin membuat Lena canggung nantinya kalau bertemu dengan Akbar di rumah. Tetapi untuk masalah backstreet Citra baru tau.


"Loh? Kenapa harus backstreet Len yaampun." Citra tak habis pikir dengan ini.


"Akbar gak mau Lena di ganggu sama fansnya begitu juga Lena gak mau ribet meladenin mereka, tapi yang ada malah kaya gini." sesal Lena.


"Kamu gak ada niat buat balik lagi sama Akbar? Mami kasian liat dia, udah kaya orang gila. Pulang ngampus masuk kamar sampe makan malam baru keluar itu juga makannya cuma dikit. Di samper Raka aja dia gak mau." jelas Citra membuat Lena merasa bersalah.


"Tapi di kampus dia biasa aja mi. Gak ngerasa sedih gitu malahan dia sekarang lagi di gosipin deket sama kakak tingkatnya." adu Lena.


Citra menggeleng. "Gengsi Len. Akbar kan gitu padahal mah bucin banget dia sama kamu, lagian kalo Akbar punya pacar lagi mami gak akan setuju."


Lena tertawa pelan. "Mami gak boleh gitu, siapa tau kebahagiaan Akbar ada di sana." ucapnya sambil menahan sesak.


Citra menggenggam tangan Lena yang sedang berada di atas meja. Seakan meyakinkan itu gak akan pernah terjadi. "Len, mami minta tolong banget sama kamu, jangan bikin Akbar sakit. Kalian balik lagi ya?" pintanya dengan suara yang amat sangat memohon.


Akbar yang selalu nyakitin Lena mi batin Lena.


"Semoga aja mi, Lena juga selalu berdoa kalau jodoh Lena itu Akbar, jadi kemanapun Akbar pergi dia bakal balik lagi sama Lena. Mami tenang aja." kalimat penenang yang di sampaikan oleh Lena mampu membuat Citra sedikit lega.


Tak lama pesanan mereka tiba. Padahal tadi Citra lebih dulu yang memesan tapi datangnya bersama. Tau aja nih pelayanannya. Hehehe.


****


Di klinik.


"Akbar mana?" satu kalimat yang pertama kali Yura ucapkan saat siuman.


Arga yang berada disana bingung. Untuk apa Yura mencari lelaki itu. Bukannya itu mantan kekasihnya Lena? Apa benar berita yang beredar bahwa putusnya hubungan keduanya karena Yura?


"Ngapain nanyain cowok itu? disini ada aku." ujar Arga.


"Yang bawa aku kesini siapa?" bukannya menjawab pertanyaan Arga, Yura malah mengalihkan pembicaraan.


"Akbar." jawab Arga ketus.


Yura berusaha untuk bangkit, "Aku harus ketemu dia buat bilang terima kasih karena bawa aku ke sini. Coba kalau gak ada dia, siapa yang mau bawa aku. Palingan mereka yang ngeliat langsung nyariin kamu."


"Aku mau ketemu langsung Ar. Anterin aku ketemu dia." rengek Yura.


"Tapi kamu baru aja sadar. Istirahat dulu sebentar disini."


Yura menggeleng tanda tak mau. Mau tidak mau Arga lah yang mengalah. Arga paling tidak bisa menolak permohonan dari Yura. Apalagi jika wajah perempuan itu sudah berubah menjadi sedih.


"Oke kita ketemu sama Akbar. Tapi kita gak tau dia udah pulang atau belum."


"Tas aku mana? Coba ambilin ponsel aku didalam tas, hubungi nomer Akbar." pinta Yura.


"Kalian sering chat? Kamu tau gak kalo Akbar itu udah punya pacar?" selidik Arga.


Yura mengangguk. "Tau, Lena kan? Tapi kan sekarang mereka udah putus."


"Dan itu gara-gara kamu kan?" tuduh Arga membuat wajah Yura berubah.


Arga mengacak wajahnya frustrasi. "Bukan gitu maksud aku Ra, maaf kalo kata-kata aku tadi salah. Cuma aku gak mau semua orang nyalahin kamu karena hubungan mereka."


Yura menatap Arga. Tatapannya masih sama seperti dulu padanya. Namun sayang ini...


"Aku gak peduli mereka bilang apa. Yang jelas ini bukan salah aku, salahin mereka berdua yang gak bisa jaga hubungannya." ucap Yura tenang.


"Tunggu sebentar aku hubungin Akbar dulu ya." Lanjutnya.


Yura menghubungi Akbar. Entah kenapa Yura merasa nyaman berada di sekitar lelaki muda itu. Lelaki yang memiliki senyum manis serta suara lembut membuat setiap orang yang menatap atau mendengarnya menjadi teduh dan adem. Duhh jangan dibayangin nanti kalian senyum-senyum sendiri.


Panggilan itu selesai. Dan untungnya Akbar masih berada di kampus. Yura meminta tolong pada Arga untuk mengantarnya bertemu dengan Akbar. Tujuan utamanya untuk mengucapkan terima kasih. Siapa tau ada tujuan kedua atau lebih biar bisa lebih lama melihat lelaki humoris itu pikirnya.


"Bianca mana? Kok tumben gak keliatan di kampus." tanya Arga pada Yura.


"Pergi sama mami ke butik." ujar Yura.


"Tumben, ngapain?" tanya Arga.


"Biasa banyak pesenan jadi dia disuruh bantuin mami. Kan kamu tau sendiri aku gak bisa, kalau dia semuapun bisa." lirih Yura.


"Udah gak usah sedih gitu, kamu bisa kok."


"Bisa apa?"


"Bisa sembuh." ucap Arga sambil menarik ujung hidung mancung milik Yura membuat Yura memukul lengan cowok itu.


"Kebiasaan." rajuk Yura.


Arga hanya tertawa. Sudah menjadi makanan sehari-hari sejak dulu melihat kemanjaan Yura.


"Mau aku gendong apa jalan sendiri?" tawar Arga.


Yura menggeleng. "Jalan lah. Nanti di sangkain sama orang aneh-aneh lagi."


Arga tersenyum menggoda. "Kan mereka kira, kita pacaran."


Arga dan Yura tertawa bersama sambil keluar dari ke klinik itu. Untung saja di klinik itu ada satu ruangan yang bisa di pakai pasien untuk beristirahat lebih lama. Atau emang takdir di ciptakan untuk Yura.


Bersambung....


Nahh ke buka nih satu-satu...


Jadi Lena sama Akbar balikan apa enggak nih?


Terus hubungan Arga sama Yura apa ya?


Dan hubungan Yura sama Bianca apa? Pasti yang ini gampang nih ketebaknya. Hehehe.