
Saat ini Lena sedang berada di kantin fakultas hukum bersama dengan Akbar. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak melakukan ini berdua. Eh bukan macam-macam dengan kata 'ini' alias makan berdua.
"Bar, nanti selesai kuliah anterin aku ke toko buku bisa gak?" tanya Lena takutnya Akbar sedang ada janji dengan siapa.
"Yah bisalah sayang." balas Akbar sambil mengelus rambut Lena lembut.
Keduanya melanjutkan acara makannya sambil sesekali berbincang. Hingga Yura datang ke meja mereka. Wajah Lena berubah, senyum yang tadi terukir sirna begitu saja. Bukan karena Lena benci tapi Lena tak suka dengan tingkah Yura. Selalu saja menganggu pikir Lena.
"Akbar, bisa bicara sebentar?" tanya Yura pada Akbar tanpa melirik ke arah Lena sedikit pun.
"Bicara aja disini, ada apa?" suara Akbar yang terdengar agak sedikit ketus. Akbar tidak mau ada salah paham lagi dengan Lena.
Lena menoel paha Akbar dari bawah seakan mengingatkan agar tidak seperti itu. "Tapi ini tentang organisasi Bar, kita harus ketemu sama Bara." jelas Yura.
Lena hanya bisa diam sambil mendengarkan apa yang akan di katakan lagi oleh kekasihnya dengan perempuan di hadapannya.
"Masalah apa? Gue cuma anggota, bukan panitia inti buat acara nanti." tegas Akbar.
Yura menghela nafasnya, sakit rasanya saat di tolak begini sama Akbar. Yura tidak tau sebenarnya apa yang ia rasakan pada Akbar. Apakah ia telah jatuh cinta pada kekasih orang? Coba yang tau komen.
"Tapi Bara nyuruh semua anggota kumpul." usaha Yura tetapi kali ini benar, Bara lah yang menyuruh.
"Coba kamu lihat grup, Bara udah kasih pengumuman disana." lanjutnya. Akbar mengecek ponselnya yang memang dari tadi tidak ia sentuh, karena ia ingin menikmati moment ini bersama dengan Lena.
Dan benar, pengumuman yang di berikan oleh Bara yang mengharuskan semuanya berkumpul.
Lena dapat melihat pesan itu dari samping. Tidak mau di bilang perempuan egois akhirnya Lena buka suara.
"Udah gapapa kamu rapat aja dulu, aku tungguin kamu di kantin utama aja." ucap Lena mencoba mengerti di posisi Akbar.
"Tuh Bar, pacar kamu aja ngizinin. Ini kan tanggung jawab kamu juga." sahut Yura membuat Lena menatap Yura sebentar lalu beralih lagi ke Akbar.
"Tapi Len," ucapan Akbar terpotong saat tangan Lena terulur untuk merapikan rambut Akbar. Hal itu di perhatikan oleh banyak pasang mata termasuk Yura.
"Aku gapapa sayang, kita masih punya banyak waktu. Aku bakal nungguin kamu di sini sampai kamu selesai. Kamu gak usah khawatir, aku gak akan marah." nada lembut yang keluar dari bibir Lena serta sentuhan di rambutnya membuat Akbar mengangguk.
Yura yang melihat hal itu hanya dapat diam terpaku sambil merasakan sakit yang entah datang dari mana.
Lena tersenyum manis di depan Akbar. Sejujurnya Lena merasakan sesak, tapi mau bagaimana lagi. Ini udah jadi tanggung jawab Akbar saat dia memutuskan untuk ikut organisasi di kampusnya.
"Aku anterin kamu ke kantin dulu ya." tawar Akbar namun di jawab gelengan oleh Lena. "Gak perlu Bar, aku bisa sendiri. Lagian kasian itu kak Yura udah bela-belain samperin kamu kesini biar kamu gak kena marah ketua kamu." ujar Lena sambil tersenyum kecut ke arah Yura. Sedangkan yang ada di pikiran Yura bahwa kali ini ia menang lagi dari Lena. Oh ****!
Lena bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan Akbar disana. Walaupun sebelumnya Lena menyentuh pipi mulus Akbar diiringi dengan senyuman serta anggukan kepala.
Gak boleh berpikir yang macem-macem Len, mereka cuma mau rapat doang batin Lena.
****
"Sendirian aja Len dari tadi, nungguin siapa?" tanya Arga yang tiba-tiba duduk di bangku depan Lena.
Lena mendongkakkan wajahnya melihat Arga di sana. Lena berusaha untuk bersikap biasa saja. Sungguh sebenernya Lena sedikit risih dengan keberadaan Arga akhir-akhir ini. Entah hanya perasaan Lena atau tidak bahwa Arga sedang mendekati dirinya. Setiap hari Arga selalu mengiriminya pesan dan beberapa kali juga Arga menghubunginya pada malam hari. Tetapi Lena tidak pernah mengangkat panggilan itu bahkan pesannya hanya beberapa yang ia balas.
Kembali lagi, ia tidak mau ada salah paham lagi pada hubungannya dengan Akbar.
"Lagi nungguin Akbar kak." balas Lena seadanya.
Arga mengerutkan keningnya. "Loh bukannya Akbar udah selesai ya rapatnya dari tadi? Lagian emang dia gak bilang sama kamu, kalo dia lagi anterin Yura pulang?" pertanyaan Arga membuat hati Lena semakin sesak.
Matanya mulai panas dan akan siap menumpahkan cairan bening disana. Tetapi Lena tidak ingin begitu saja percaya pada lelaki didepannya ini. Tidak mau kejadian kemarin terulang lagi karena salah paham.
"Oh gitu, yaudah gapapa kak. Gue nungguin Akbar sampe dia jemput aja disini." Arga menatap Lena tak percaya. Ada ya cewek kaya Lena batin Arga.
Arga melirik jam tangan yang ia pakai. "Lo gak mau gue anter balik aja? Ini udah sore loh." Lena menolak dengan gelengan.
"Gak usah kak, gue nungguin Akbar aja dulu. Kalo dia sejam kedepan belum balik lagi, gue balik." ujar Lena.
Arga menarik napas, "Sekarang aja, gue anterin. Soalnya mereka sekalian belanja buat keperluan organisasinya." bujuk Arga.
Lena menggeleng lagi tanpa bicara lagi. Tangannya bergulir mengetik sesuatu di ponselnya.
Lena Aprilia
Bar, kamu dimana?
Send
Dan kalian tau? Ponsel Akbar tidak aktif bahkan pesan Lena hanya centang satu. Lena gak munafik, pikirannya udah berjalan kemana tau. Mau berpikir positif pun rasanya tidak bisa. Lalu apa benar yang di bilang Arga, kalau Akbar pergi bersama dengan Yura. Dan bagaimana Arga bisa tau hal itu? Arga mengenal Yura?
"Ehm gimana Len? Mau gue anterin pulang aja?" panggil Arga.
Lena menatap Arga, tak ada kebohongan disana. "Kakak kenal sama kak Yura?" tanya Lena.
Arga mengangguk. "Siapa yang gak kenal Yura? Dia bisa di bilang ratu di kampus kita, semua fakultas kenal dia karena prestasi dia." jelas Arga terhadap sosok Yura.
Lena hanya bisa mengangguk-angguk. "Kalo gitu gue pulang sendiri aja kak, masih ada urusan." tolak Lena secara halus. Saat Lena akan bangkit tetapi tangannya di cekal oleh Arga. Sumpah ya Lena ingin sekali memaki Arga saat ini. Gak tau apa kalo mendadak badmood.
"Gue anter aja ya, ini udah sore gue takut lo kenapa-napa di jalan." Arga masih berusaha membujuk.
Lena menghembuskan nafasnya kasar. "Kak tolong lepasin, gue bisa pulang sendiri!" kesal Lena.
Arga masih kekeuh menarik tangan Lena. Dan tak lama datanglah seseorang yang membuat tangan Arga itu terlepas.
Siapa dia???