AKBAR

AKBAR
35



Tak lama dokter masuk kedalam ruangan Akbar bersama suster. Hal itu membuat mereka yang berada di luar panik. Termasuk Lena. Panik karena kondisi Akbar dan panik karena takut disalahkan lagi.


"Mba bisa tunggu diluar, biar kami yang menanganin pasien." suruh suster.


Tanpa bicara apa-apa Lena keluar dari sana. Menangis dan berdoa, hanya itu yang bisa Lena lakukan sekarang. Semua yang tadi berada didepan menatap Lena penuh tanya terutama Bianca.


"Lo liat Lin! Dia nyakitin adek gue!" teriak Bianca yang tidak sadar kalau ini rumah sakit. Emosinya kembali meledak.


Lena menggeleng keras, dengan cepat Kayla memeluk sahabatnya dan ikut menangis. "Gue gak apa-apain Akbar Kay, gue cuma bilang gue bakalan pergi kalo emang seharusnya begitu." adu Lena.


Kayla mengangguk, "tenang ya, berdoa supaya Akbar baik-baik aja. Dia cowok kuat." ujar Kayla sambil menahan tangisnya.


Lena menangis sambil dalam hatinya terus berdoa bahkan dia menyelipkan kata 'kalau Akbar ninggalin Lena, Lena akan ikut dengan cara apapun.'


"Lo apain adek gue di dalem? Kalo lo emang udah gak suka sama dia, gak usah lo bunuh dia secara perlahan! Cukup lo tinggalin dia aja beres!!" bentak Bianca lagi.


"Bi, lo bisa gak sih atur emosi lo! Ini rumah sakit, gak otak beneran ya lo." marah Linda.


"Kenapa sih semua orang belain ini cewek? Apa bagusnya! Udah jelas ini semua karena dia." emosi Bianca masih terus meledak sampai akhirnya Citra dan Devan datang.


"Loh ada apa kak?" Tanya Citra pada Bianca.


Bianca tidak menjawab maminya, lalu Citra menoleh ke arah Lena yang sedang nangis di pelukan Kayla. Citra menghampiri Lena lalu mengambil alih pelukan itu.


"Yang sabar ya sayang, mami yakin Akbar akan bangun secepatnya. Kita masuk yuk liat Akbar." ajak Citra, dengan cepat Lena menggeleng.


"Kenapa gak mau? Kamu harus ada di samping Akbar biar Akbar kuat." ajaknya lagi.


"aa.akbar la..gi diperiksa sam..ma dok..ter mi tiba-tiba a.ja monitor Akbar terhenti." ujar Lena sambil sesegukan dan detik itu juga Citra menangis. Devan dengan cepat menghampiri istrinya lalu memeluknya.


"Ini karena Lena mi, tadi sebelum Lena masuk kedalam Akbar gak kenapa-napa." sahut Bianca. Citra tidak menjawab apapun hanya nangis dan merancau nama Akbar.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampilkan suster disana. Membuat mereka mendekat lalu menatap sang suster dengan tatapan mengintimidasi. Mereka semua berharap ini bukan kabar buruk.


"Permisi, disini apakah ada yang bernama Lena?" tanya suster.


Citra langsung menunjuk Lena "ini Lena sus, gimana keadaan anak saya? Baik-baik aja kan?" tanya Citra beruntun.


Suster menggeleng membuat semuanya lemas seketika, "boleh mba Lena masuk kedalam sebentar? Karena tadi kami sempat mendengar nama Lena disebut oleh pasien. Siapa tau dengan keberadaan mba, pasien bisa bertahan." ujar suster membuat Lena dengan cepat masuk kedalam sana dan suster kembali menutup pintunya.


"Lo liat, saat kondisi kaya gini adek lo cuma inget Lena! Lo bisa bayangin gak kalau Lena ninggalin adek lo?" sindir Linda membuat Bianca bungkam.


Sedangkan Lena sudah berdiri di samping brankar Akbar dan mengelus wajahnya. Tangisnya terus mengalir tetapi tanpa suara dan ini sakit banget.


"Kamu bertahan ya, aku disini sama kamu. Aku janji gak akan ninggalin kamu, sampai kamu sembuh." ujar Lena.


"Aku sayang kamu, kita berjuang sama-sama ya. Aku gapapa kok, kak Bi kaya gitu karena sedih ngeliat kamu kaya gini. Jadi aku mohon kamu cepet bangun ya, aku butuh kamu."


Keajaiban.


Sungguh!


Detak jantung Akbar kembali terdengar, bahkan jari telunjuk Akbar bergerak sebentar. Membuat semua mengucap syukur. Apalagi Lena. Bahagia? Tentu. Sangat malah.


"Alhamdulilah, ini mukjizat dari Tuhan. Dengan kekuatan cinta, pasien dapat bertahan. Kalau gitu biar kami cek kondisi pasien dulu ya mba." ujar dokter membuat Lena mengangguk. Tangisnya berubah menjadi tangis bahagia, walau Akbar belum membuka matanya namun Akbar sudah memberinya tanda bahwa dia masih bertahan. Itu udah lebih dari cukup untuk Lena.


Setelah diperiksa, dokter izin keluar ruangan dan membiarkan Lena didalam. Mungkin ini jalan cepat agar Akbar bisa membuka matanya.


"Cepet bangun ya sayang, aku disini kok." ucap Lena sambil mengelus wajah Akbar dengan lembut.


Tak lama jari Akbar kembali bergerak dan juga kelopak matanya terbuka perlahan membuat Lena bangkit untuk melihat lebih jelas wajah sang kekasih.


Lena mengerutkan keningnya, maksudnya apa? Ah dasar Akbar baru bangun juga.


"Lee..na" panggil Akbar dengan suara terbata. Lena kembali menangis, terlalu lebay memang tapi inilah hal yang Lena tunggu beberapa hari terakhir. Panggilan yang keluar dari mulut kekasih terkasihnya.


Bahkan saat ini Lena yang tidak bisa menjawab sapaan Akbar itu. Mungkin terlalu excited. "Jaa..ngan na..ng..is."


Lena mengangguk lalu berusaha menghapus air matanya namun tetap saja mengalir lewat pipi mulusnya yang selalu kasih sasaran empuk oleh Akbar. "Kamu udah bangun?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Lena.


Akbar mengangguk kecil sambil berusaha tersenyum, Yap berhasil tetapi hanya kecil. Sangat kecil.


"Aku panggil dokter sebentar." ujar Lena lalu memencet tombol untuk memanggil sang dokter.


"Sii..nii a..kuu.. ma..u bi..ca..ra."


Lena mendekat ke arah Akbar sambil mengigit bibir bawahnya, "aaa..kuu.. sa..yaa.ngg kaa..muu." dan otomatis membuat tangis Lena kembali meledak. Ia merasa bersalah setelah apa yang ia katakan sebelumnya dengan Akbar.


Lena mengelus rambut Akbar pelan, nafas Lena sesak karena menangis tanpa suara. "Aaa..ku juga sayang kamu." balas Lena.


Tak lama dokter kembali masuk lalu memeriksa Akbar kembali. Dan yang pasti membuat petugas medis tersenyum bahagia karena pasiennya selamat hanya dengan kekuatan cinta.


"Kondisi pasien sudah stabil, namun masih harus istirahat lebih banyak. Kami juga masih harus melakukan pengecekan lebih lanjut tentang kondisi pasien. Jadi kami minta jangan terlalu sering ajak pasien bicara apalagi membuatnya berfikir berat. Biarkan pasien istirahat."  ujar sang Dokter lalu keluar lagi.


Tak lama Citra dan Devan masuk kedalam, tangis Citra sudah berhenti namun bekas air matanya masih terlihat di sana. Lena bergeser memberikan Citra dan Devan ruang untuk melihat anaknya.


"Akbar, sayang. Ini mami. Kamu inget mami kan?" ujar Citra dengan tangisan kembali menyerangnya.


"Aa..kk..bar.. ga lu..paa.. i..ngaa..at..an mi." balas Akbar.


Citra mencium wajah Akbar berkali-kali. Rindu. Itulah yang Citra rasakan, mungkin semuanya merasakan itu pada sosok Akbar.


"Mami seneng banget kamu udah bangun sayang, terimakasih karena udah bertahan untuk kita sayang."


Akbar menggeleng, "ber..teri..ma..ka..sih sa..ma Le..na, ka..re..na di..a ak..bar ma..sih di..si..ni." otomatis membuat Citra berjalan ke arah Lena lalu memeluk kekasih anaknya itu.


Tangis mereka bersahutan, "terimakasih sayang, terimakasih karena kamu Akbar bangun. Jangan pernah tinggalin anak mami ya, mami mohon." ujar Citra membuat Lena mengangguk.


Tiba-tiba saja ada suara telepon berdering kencang membuat mereka saling menoleh menebak punya siapakah itu... Dan ternyata....


Bersambung...


Huaaaaa gimana??


Gak sedih kan part ini?


Kira-kira enakan bikin


Sad ending ?


Or


Happy ending ?


Pada seneng gak nih Akbar udah bangun?


Apa yang mau kalian katakan pada AKBAR??


Jangan lupa vote dan comment ya❤❤ next? Kita lihat masih rame gak ini lapak, kalau udah sepiii yaa gimana ya, lanjut atau enggak??