AKBAR

AKBAR
34



Hari sudah pagi, namun belum ada tanda-tanda kalau Akbar akan membuka matanya. Citra dan Devan sedang pulang kerumah untuk membawa keperluan mereka selama di rumah sakit. Begitu juga Gita dan Beni. Di rumah sakit tinggal Bianca, Linda, Raka, Kayla dan Lena.


Lena sudah sedikit tenang, namun masih suka menangis dalam diam. Lelaki yang selalu membuatnya tertawa sedang berjuang di dalam.


"Kay, Akbar kira-kira kapan bangun ya?" pertanyaan itu keluar dari mulut Lena. Bianca yang mendengar itu langsung menatap Lena tak suka.


"Mau ngapain lagi? Mau nyusahin adek gue lagi? Lagian lo ngapain masih disini sih! Mending pulang, gak guna juga disini." ketus Bianca.


"Bi.." tegur Linda.


"Kak Bi gak boleh ngomong kaya gitu, Lena disini untuk Akbar. Kalau nanti pas Akbar bangun, gak ada Lena pasti Akbar makin sakit. Kayla percaya kok, kalau Akbar sayang banget sama Lena. Lagian Lena gak mungkin nyakitin Akbar sampai kaya gini. Ini semua memang kecelakaan kak." akhirnya Kayla membuka suaranya membela Lena. Kayla yakin ini memang bukan salah Lena, ini memang takdir.


"Atau aku bakalan suruh orang untuk selidikin kasus ini, biar kak Bi gak nyalain Lena terus." lanjutnya lagi membuat Bianca terdiam.


Lena hanya bisa diam sambil menunduk, dadanya sesak. Kenapa bisa Bianca sebegitunya.


"Kak." panggil Lena dengan suara yang kembali bergetar.


Bianca tak menjawab.


"Izinin aku disini sampai Akbar buka mata ya, aku bakalan pergi kalau Akbar memang udah gak butuh aku lagi. Tapi kalau memang kebahagiaan kak Bi lihat aku sama Akbar pisah aku akan lakuin itu. Tapi nanti setelah Akbar sadar ya, aku mohon." lirih Lena dengan air mata yang sudah kembali mengalir di pipinya.


Kayla menggeleng, "gak kaya gitu jalan keluarnya. Kalo emang lo harus pisah sama Akbar, gue juga harus pisah sama Raka."


Raka menatap ke arah Kayla tak percaya, maksud dari perkataannya apa. "Kok jadi kita juga kena Kay?" tanya Raka.


"Kamu bilangin ke kak Bi, ini bukan salah Lena. Kalau memang mereka harus pisah, maaf kita juga harus pisah." lirih Kayla.


Raka menggenggam tangan Kayla, "gak bisa kaya gitu Kay, ini masalah mereka bukan masalah kita."


"Masalah Lena masalah aku juga Ka!" tegas Kayla membuat Raka membuang nafasnya kasar.


Raka menatap Bianca tajam, begitu sebaliknya. Bukan Raka tidak berani berkata kasar pada Bianca, disini ada Linda. Pasti Raka akan di marahin Linda. Meskipun Raka tau Linda akan mendukung dirinya dari pada Bianca yang jelas-jelas salah. Kenapa sih Bi....


Tiba-tiba saja Yura dan Arga datang. Entah dari mana mereka tau kalau Akbar masuk kerumah sakit. Lena memandang wajah Yura tak suka. Hatinya lagi hancur kenapa juga Yura pakai datang kesini.


"Akbar gimana Len?" tanya Yura pada Lena.


"Akbar masih di dalem kak, belum sadar." balas Kayla. Kayla tau apa yang di rasa Lena.


"Kenapa bisa Akbar kaya gini?" tanya Yura lagi.


"Kecelakaan kak." sahut Kayla lagi.


"Aku boleh jenguk gak?"


"Lo siapa?" tanya Bianca pada Yura.


Yura memandang Bianca dari atas sama bawah. "Kenalin nama gue Yura, kakak tingkat Akbar di kampus. Dan ini sahabat gue, Arga kakak tingkat Lena." ujar Yura.


"Gue Bianca, kakaknya Akbar." ujar Bianca.


Yura mengangguk, "kalau gitu gue boleh jengukin Akbar gak kedalem?"


Bianca mengangguk dan Yura melangkah kedalam bersama Arga. Lena yang melihat itu hatinya terasa teriris. Sesampainya di dalam Yura melihat kondisi Akbar jauh dari kata baik.


"Halo Akbar, ini aku Yura. Kenapa bisa kamu kecelakaan? Maaf ya aku baru tau kabar kamu hari ini. Kamu cepat bangun ya, aku bakal nungguin kamu sampai kamu bangun." jelas Yura.


Arga menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikiran Yura, "kamu harus istirahat, gak bisa jagain Akbar. Lagian Akbar udah banyak yang jagain kamu lihat sendiri di depan." peringat Arga.


"Aku baik-baik aja Ga, aku mau disini ikut jagain Akbar. Kalau kamu mau pulang, pulang aja gapapa." ujar Yura dengan suara sepelan mungkin.


"Gak bisa, kamu harus istirahat. Nanti aku di marahin mami kamu kalo kita gak pulang bareng. Lagian gak enak sama Lena, Ra."


"Emang salah aku sebagai teman juga khawatir sama Akbar?" Arga hanya diam tak menjawab. Mau dijelaskan juga posisi Yura saat ini gimanapun akan susah.


"Oke! Aku juga disini temenin kamu." putus Arga membuat Yura tersenyum.


"Akbar, aku sama Arga keluar dulu ya. Cepet buka mata, biar kita bisa ngobrol lagi." ucap Yura lalu keluar dari ruangan itu.


Saat Yura keluar, Lena ingin masuk kedalam. Namun sayang, Bianca menahannya. "Lo mau ngapain? Mau buat adek gue celaka lagi?" ujar Bianca membuat Yura menatap mereka bingung.


Bukannya kakaknya Akbar juga deket sama Lena? batin Yura.


"Aku cuma mau lihat Akbar kak, aku gak akan nyakitin dia." lirih Lena.


"Lo gak boleh nemuin adek gue lagi, mending sekarang lo pergi deh." usir Bianca.


Linda tak habis pikir dengan Bianca kali ini, bisa-bisanya dia bersikap seperti ini pada situasi yang di tepat. Lena pasti terpuruk lihat kekasihnya, dan dia butuh pelukan bukan seperti yang Bianca lakukan.


"Bi, Lo apa-apaan sih! Lena sama hancurnya kaya lo. Kalo dia emang niat nyakitin Akbar gak mungkin dia nangis seharian dan masih disini nungguin Akbar." tegas Linda yang akhirnya membuka suara biar Bianca sadar.


Bianca menoleh ke arah Linda lalu tersenyum miring, "lo kenapa jadi bela dia Lin? Di bayar berapa kalian semua sama dia? Dia itu sengaja masih disini biar dia gak disalahin atas kecelakaan ini. Kalian semua bodoh!"


Lena menangis, perkataan Bianca membuatnya sangat sakit hati. Haruskah ia pergi?


"Lo kenapa bisa kaya gini sih Bi? Kenapa!!! Siapa yang udah hasut lo sampe lo segininya sama Lena. Dia salah apa sama lo?"


"Salah dia masuk di keluarga gue! Mami lebih sayang sama dia! Adek gue lebih sayang sama dia! Gue cuma punya papi, dan itupun karena papi jarang ketemu dia! Dia yang datang tiba-tiba masuk kekeluarga gue dengan tampang polosnya, gue gak suka! Dia munafik.!"


Linda menggeleng tak percaya sambil tertawa kencang, "otak lo dimana? Lo udah dewasa! Harusnya lo gak kaya gini, bukan mereka lebih sayang sama Lena. Tapi karena lo gak mau terbuka sama mami atau adek lo!"


"Lo pernah cerita gak tentang pacar-pacar lo yang selalu morotin lo? Enggak kan! Gimana mereka mau tau masalah lo, Lena masuk kekeluarga lo karena Akbar yang ngajak bukan tiba-tiba." lanjut Linda.


Bianca diam. Tetapi matanya terlihat berkaca-kaca. "Sekarang gini, kalo lo gak suka sama Lena dari dulu. Gak seharusnya lo nyalahin dia sekarang setelah 2tahun berlalu. Lo udah lebih dewasa Bi dari adek-adek kita, tapi kenapa pikiran lo yang malah dangkal! Apa perlu gue yang cerita ke mami tentang masalah lo?"


Bianca menggeleng, air matanya mengalir begitu deras. Apa yang di katakan Linda benar, selama ini Bianca tidak pernah terbuka pada keluarganya. Makanya maminya menganggap Bianca selalu bahagia padahal tidak. Jadi salah siapa? Apakah salah Lena? Tidak kan?


"Udah sana kamu masuk, temenin Akbar gak usah dengerin Bianca." suruh Linda pada Lena. Namun Lena belum beranjak, ia masih memandang wajah Bianca.


Apakah aku sejahat itu sama kak Bianca, Bar? Batin Lena.


Tanpa pikir panjang Lena masuk ke ruangan Akbar. Rasanya ingin sekali memeluk Akbar lalu mencurahkan isi hatinya. Tetapi sayang, ia hanya bisa bercerita tanpa memeluk dan tanpa dijawab.


"Akbar..hiks...hiks" Lena menangis di samping Akbar.


"Apa aku salah masuk kedalam keluarga sampai kaya sekarang? Aku tau dari awal kak Bi emang gak suka sama aku, tapi apa sampai sekarang juga masih gak suka hiks...hiks"


"Salah aku apa Bar? Apa!!"


"Bar bangun..hiks..hiks aku kangen sama kamu.. bantuin aku, aku gak kuat sendirian meskipun ada Kayla tapi aku tetep butuh kamu. Bilang sama kak Bi kalau kamu sayang sama aku biar dia percaya dan gak misahin kita..hiks...hiks.."


"Atau aku emang harus pergi dari hidup kamu? Biar kak Bi bahagia. Meskipun aku gak sanggup?"


Tut........


Tiba-tiba saja alat monitor hemodinamik dan saturasi yang dipasang pada Akbar berbunyi panjang dan hanya menampilkan garis lurus.


Panik!


Itulah yang dirasakan Lena saat ini dengan cepat Lena menekan tombol panggilan dokter diruang itu. Tangis Lena semakin kencang, pasti setelah ini Bianca akan berubah pikiran lagi dan mengira dirinya akan mencelakai Akbar.


"Yaallah lindungilah Akbar." doa Lena.


Bersambung....


Sedih gak sih jadi Lena?


Menurut kalian gimana sih??? Kangen sama adegan Akbar sama Lena gak??