
Jangan terlalu cepat berubah karena aku sulit untuk mengimbanginya
****
Area kampus masih cukup ramai sore hari ini, entah ada apa tak tau. Akbar pun masih ada di kampus entah ada urusan apa lelaki ini masih stay disini. Padahal jam kuliahnya sudah selesai sejak tadi.
Saat ini Akbar sedang berada di lapangan basket bersama dengan teman satu kelasnya. Sepertinya mereka habis bermain-main sebentar di sana. Karena di dahi dan bajunya terdapat keringat yang bercucuran membuat kesan seksi bagi siapa saja yang melihat, di tambah lagi kaos yang di pakainya basah karena keringat dan menciptakan lekuk tubuh sang lelaki humoris itu semakin terlihat. Anjayyy.....
"Akbar." panggil Yura membuat Akbar menoleh ke arah sumber suara itu.
"Gimana keadaan lo?" tanya Akbar. Bukan karena peduli tapi hanya basa-basi. INGAT. Disisi lain Yura merasa senang di tanya seperti itu oleh Akbar.
Dengan senyum tipis yang Yura terbitkan mampu membuat Akbar tau jawabannya. "Udah baikan, aku kesini cuma mau bilang makasih karena kamu udah bawa aku ke klinik tadi."
Akbar mengangguk. "Gak masalah, lagian kan posisinya tadi lo lagi sama gue, masa iya gue tinggalin lo begitu aja."
Efek yang besar bagi Yura. Lihat saja senyum tipis itu berubah menjadi senyum lebar dan menambah kesan lebih cantik dari yang tadi.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Akbar tanpa di duga-duga oleh Yura.
Tuh Yura bilang juga apa, tujuan utamanya hanya berterimakasih tapi di kasih lebih.
Yura mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Paling naik taksi, soalnya tadi aku berangkat di anter supir dan sekarang supirnya lagi anter nyokap."
"Pacar lo?" tanya Akbar membuat Yura mengerutkan keningnya. Ah ya dia tau siapa yang di maksud oleh Akbar.
"Arga? Dia bukan pacar aku." jelas Yura, ia tak mau Akbar salah paham.
"Terus?" Ohayolah Akbar kenapa lo jadi kepo begini. Bikin senyuman Yura berubah menjadi penuh arti.
"Dia itu cuma mantan aku. Emang sih taunya satu kampus aku sama dia pacaran tapi kenyataannya gak gitu." ujar Yura.
"Cuma mantan tapi masih sedeket itu? Gak salah?" Emang ya Akbar dari dulu gak berubah,gosip terus kaya perempuan.
Yura mengangguk. "Iya emang itu faktanya. Kita udah putus lama banget sebelum kuliah."
"Kenapa putus kalo sampe sekarang masih bareng?" Akbar masih mendesak Yura dengan pertanyaan.
Yura menarik nafasnya gusar. Bukannya senang tapi malah membuat Yura sebel. Ternyata Akbar orangnya sekepo ini batin Yura.
"Aku gak bisa kasih tau kenapa aku sama dia putus." Akbar mengangguk.
Gak penting juga pikirnya.
"Yaudah gue anter lo pulang kak, mumpung gue lagi baik." ujar Akbar membuat Yura menatap Akbar tak percaya. Beneran?
"Ayo balik sekarang aja. Lo udah gak ada urusan kan?" lanjutnya. Yura hanya menggeleng lalu mengikuti langkah Akbar dari belakang menuju mobil laki-laki itu.
Dan jangan kira mereka tidak menjadi pusat perhatian. Dari awal Yura menghampiri Akbar juga banyak yang sudah memperhatikan keduanya. Sampai Yura masuk kedalam mobilnya Akbar dan ada beberapa yang mempotret kejadian itu.
Di perjalanan hanya ada suara radio yang terdengar. Baik Yura maupun Akbar tidak ada yang berniat membuka suara, sampai akhirnya Yura lah yang memulai percakapan itu.
"Kamu sama Lena pacaran udah berapa lama?" tanya Yura basa-basi.
"Dari kelas 3 SMA." jawab Akbar singkat.
Yura mengangguk. "Kenapa kalian bisa putus? Padahal kalian serasi."
Akbar terdiam lalu menjawab pertanyaan Yura tadi. "Kita gak putus, kita cuma break untuk introspeksi diri masing-masing aja sih."
"Oh bagus dong, berarti berita yang tersebar itu gak bener." ujar Yura dengan nada suara yang berbeda.
Akbar diam tak menjawab. Untuk apa menceritakan pada Yura, ia tak ingin kejadian Bianca terulang lagi.
"Kalo aku minta temenin makan sebentar sama kamu. Kamu keberatan gak Bar?" ajak Yura.
"Oke kita makan." balas Akbar yang memang dirinya juga sudah merasakan lapar.
Keduanya memutuskan makan di cafe dekat sana. Dan tanpa di duga, cafe yang samalah dengan keberadaan Citra dan Lena. Emang ya dunia tak selebar daun kelor.
Akbar tidak melihat Lena ataupun Citra namun Lena lah yang melihat mereka lebih dulu saat mereka masuk kedalam cafe yang memang posisi duduknya ke arah pintu masuk.
Citra ingin bangkit namun Lena menahannya sambil tersenyum. Lena kecewa. Kenapa bisa dengan mudahnya Akbar begitu pikirnya.
"Coba kamu telepon dia, dia jujur atau bohong sama kamu." saran Citra dan mau tidak mau Lena menurut. Ia juga penasaran dengan respon Akbar. Kan ini juga salah satu cara untuk membuktikan bahwa Akbar masih mencintainya atau tidak.
Lena mendial nomer Akbar lalu menekan tombol hijau. Dari tempatnya duduk Lena melihat Akbar tengah mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Iya, halo Len kenapa?"
"Kamu dimana?"
"Lagi di cafe nih. Ada apa?"
"Sama siapa? tumben."
"Sama Yura. kenapa? Ada yang perlu aku bantu?"
"Oh gapapa, yaudah lanjutin aja dulu. Kalo udah selesai kamu ke meja aku sama mami ya."
Terlihat Akbar sedang celangak celinguk mencari keberadaan keduanya. Dan benar saja kedua perempuan yang dia sayangi ada disana. Lena menatapnya datar sedangkan Citra menatapnya tajam. Setajam golok.
"Aku ke sana sekarang."
Bip.
Panggilan terputus. Dari tempat duduk Lena bisa di lihat keduanya sedang berbicara sambil melihat ke arahnya. Kalian tau apa yang Lena rasain? Coba tebak..
Akbar dan Yura berdiri menghampiri meja dimana terdapat Lena dan Citra disana. Akbar mencium punggung tangan Citra dan pipi ibunya itu. Lalu diikuti oleh Yura namun tanpa mencium pipi.
"Kok mami bisa di sini?" tanya Akbar pada Citra.
"Kok Akbar bisa di sini?" tanya balik Citra. Yura kaget dengan interaksi ibu dan anak di hadapannya sedangkan Lena biasanya saja. Sudah terlalu sering melihatnya.
"Mami, kenalin ini kakak tingkat Akbar di kampus." tunjuk Akbar pada Yura.
"Yura, tante." Citra hanya mengangguk tanpa merespon apapun.
Sedangkan Lena hanya diam saja menatap Akbar hanya sesekali saja. Rasanya terlalu sakit melihat Akbar bersama dengan Yura saat ini, di hadapannya.
Tapi Lena bersyukur Akbar ternyata jujur. Kalau tadi Akbar bohong, mungkin sakit hatinya akan berlipat ganda.
"Kok kamu ketemuan sama mami gak bilang aku Len?" tanya Akbar pada Lena.
"Mami ngajaknya mendadak, lagian kamu belum keluar kelas tadi." balas Lena.
"Lagian juga ngapain bilang, orang udah gak ada hubungan apa-apa." sahut Citra membuat Akbar menatap ibunya tajam. Anak durhaka dasar.
"Kok mami gitu? Katanya gak rela kalo aku sama Lena pisah kemarin aja mami yang nangis." kesal Akbar.
"Iyalah mami kesel sama kamu." ketus Citra. Yura hanya diam memperhatikan ketiganya. Ternyata hubungan Lena dengan ibu nya Akbar sangat dekat. Terlihat sekali dari cara ibunya Akbar menatap Lena. Sangat amat sayang sepertinya.
"Silahkan duduk kak. Pesen makanan aja biarin mami yang bayar." ujar Lena mencairkan suasana. Lena hanya menutupi rasa sakitnya agar Citra tidak perlu terlalu khawatir pada dirinya.
Yura mengangguk. "Makasih ya Len, tapi aku gak enak, aku pamit pulang aja ya."
"Loh kok pulang? Gapapa makan dulu aja disini, nanti pulangnya tante yang anter." sahut Citra.
Lena tau maksud Citra, "Akbar yang anter mi, tadi kan mami janji mau anterin aku."
"Tapi kan Len-" Lena menggeleng pada Citra dan untungnya Citra paham.
Dan Akbar lah yang menjadi diam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Kenapa dirinya ada di situasi kaya gini? Serba salah. Tapi jujur Akbar tau apa yang tengah dirasakan Lena namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa ini kemauan gadisnya.
Bersambung....
Uuuuuuu gimana part ini? Kebawa baper gak nih??
Menurut kalian apa yang di lakuin Lena udah bener atau malah salah?