
Yura dan Akbar sudah keluar dari cafe lebih dulu, sedangkan Citra dan Lena masih disana. Citra rasa Lena dan Akbar butuh bicara serius. Maka dari itu Citra membujuk Lena untuk bertemu Akbar kembali di rumah. Membujuk agar keduanya bersama lagi.
Jujur Citra udah sangat amat sayang dengan Lena. Citra merasa Lena itu perempuan yang baik untuk anaknya kelak. Lihat saja sekarang meski Lena kurang kasih sayang dari ayahnya tetapi dia masih tetap menjadi anak baik yang bisa dibanggakan. Bukan seperti anak yang lain atau bisa dibilang kena pergaulan bebas karena tak ada yang memperhatikannya.
"Lena." panggil Citra saat melihat tatapan mata Lena kosong setelah kepergian Akbar dan Yura tadi.
"Eh iya mi? Kenapa?" tanya Lena pada Citra yang sudah menatapnya seakan penuh selidik.
"Mami rasa kalian harus bicara berdua deh." ujar Citra dengan nada serius.
Lena menatap Citra penuh tanya, "untuk apa lagi mi? Semua udah aku bicarain sama Akbar, dan itu udah keputusan kita bersama."
Citra menggenggam tangan Lena. "Tapi mami rasa kalian cuma salah paham. Kalau kalian bersikap kaya gini terus bukan hanya kamu yang sakit hati tapi Akbar juga dan mami juga."
Lena merasa bersalah pada Citra. Bisa di lihat dari wajahnya Citra sekarang. Wajahnya seperti orang memohon dengan sangat memohon pada Lena. Bagaimana mungkin Lena menolak itu. Lena tidak mau membuat Citra kecewa padanya.
Lena mengangguk. "Oke aku bakal bicara sama Akbar mi, tapi nanti."
"Kapan Len? Sekarang aja, kita bicarain ini di rumah."
"Loh, maksud mami?"
"Kita ke rumah dulu biar kalian bicara di rumah, gak ada penolakan." ucap Citra lalu bangkit dan menuju kasir untuk membayar tagihan makanan tadi.
Sedangkan Lena hanya bisa menarik nafasnya panjang. Mungkin ini yang terbaik pikirnya, benar kata Citra bukan hanya dirinya saja yang sakit di sini.
****
Sesampainya di rumah Akbar dan ternyata Akbar sudah lebih dulu sampai di sana. Entah mengapa Lena merasa canggung, sungguh.
"Bar sini, mami mau bicara." panggil Citra saat melihat anak laki-laki sedang di dapur mengambil air minum.
Akbar berjalan menuju ke arah mami nya yang baru datang bersama dengan Lena yang sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka.
"Kenapa mi?" tanya Akbar pada Citra.
"Mami rasa kalian harus selesaiin masalah kalian sekarang. Jangan terlalu larut dalam masalah, gak baik. Jadi mami suruh Lena kesini supaya kalian bisa bicarain ini berdua." jelas Citra.
Akbar menatap Lena dan Citra bergantian. Tak mengerti maksud maminya, karena baru kali ini Citra ikut campur dengan masalah percintaannya sejauh ini.
"Ajak Lena ke kamar kamu, tapi inget jangan macem-macem. Kalian hanya perlu bicara bukan yang lain." ucap Citra tegas lalu meninggalkan keduanya.
Bukan maksud Citra menyuruh mereka berduaan di kamar. Hanya kamar Akbar adalah ruangan yang sangat pas untuk mereka membicarakan hal ini. Citra tau ini berlebihan tapi apa salah jika orangtua memilihkan anaknya bersama orang yang tepat?
"Ayo ke atas." ajak Akbar pada Lena yang hanya dijawab anggukkan oleh Lena.
Dan baru pertama kali Lena memasuki kamar kekasihnya itu eh masih kekasih apa udah mantan sih disebutnya?? Biasanya Lena hanya mengetuknya dari luar tanpa masuk ke dalam.
Pertama kali yang Lena lihat di kamar Akbar adalah fotonya dengan Akbar terpajang di dinding kamar lelaki itu. Bukan cuma satu, bahkan banyak. Ternyata selama ini Akbar selalu mencetak foto bersamanya jika mereka berfoto bersama.
"Akbar." panggil Lena yang masih speechless.
"Kenapa? Kaget ya?" tanya Akbar saat melihat wajah Lena yang nampak seperti orang kaget atau terharu atau apalah itu.
"Kenapa?" tanya balik Lena.
"Kenapa masih di pajang? Dan nyuruh buat di copot? Tapi maaf Len, aku gak bisa copot ini semua." ternyata pertanyaan Lena di salah artikan oleh Akbar. Bukan itu yang Lena maksud dengan kata 'kenapa' yang ia berikan pada Akbar.
"Bukan itu. Kenapa kamu ngelakuin ini semua? Kok aku gak pernah tau?" tanya Lena menjelaskan apa maksud pertanyaan sebelumnya.
"Mami gak ngasih tau tentang hal ini?" Akbar malah bertanya balik pada Lena.
Lena menggeleng. "Biasanya mami selalu ngasih tau kamu hal apapun menyangkut aku." ujar Akbar.
"Sini duduk." ajak Akbar.
Lena mengikuti Akbar duduk di karpet bulu yang ada di kamar cowok itu. Kamarnya sangat rapi, bahkan wanginya pun enak untuk di hirup.
"Kenapa mau di ajak mami kesini?" Akbar memulai pembicaraan membuat Lena kaget karena masih saja takjub dengan kamar Akbar.
"Seperti yang tadi mami bilang, kita harus bicara. Aku gak bisa nolak mami tadi, maaf." ujar Lena pelan.
Lena diam menunggu Akbar kembali bicara.
"Aku minta maaf sama kamu. Aku ngaku semua yang aku lakuin kemarin-kemarin itu salah." ujar Akbar dengan nada serius.
"Udah aku maafin semuanya." balas Lena.
"Tapi kamu juga salah, kamu ngizinin aku untuk ikut organisasi tapi kamu sendiri yang marah-marah."
"Kalo kamu bisa bagi waktu yang adil buat aku, aku gak akan marah."
Akbar menarik nafasnya. "Aku udah bilang aku bakal keluar kalo kamu gak setuju tapi kamu larang aku untuk keluar, aku jadi serba salah."
"Bukan masalah itu. Kamu nyadar gak sih selama kamu ikut organisasi banyak orang yang ngira kamu pacaran sama Yura. Bahkan waktu kamu berantem sama ketua organisasi itu juga karena Yura kan?" suara Lena sudah bergetar. Akbar tau gadis ini akan segera menangis.
Akbar menarik kepala Lena pelan menuju ke dada bidangnya lalu Akbar mengelus rambut gadisnya yang ia rindukan beberapa hari ini.
"Kamu salah paham. Itu bukan karena Yura tapi karena Bara yang sengaja buat aku emosi. Kamu tau dia ngapain?"
Lena diam. Gadis itu sudah menangis entah apa yang buatnya menangis.
"Bara bilang bakal rebut kamu dari aku, karena dia udah tau kalo kita itu pacaran. Maka dari itu aku emosi." jelas Akbar.
Lena mendongkak melihat wajah tampan milik Akbar, mencari kebohongan namun tak ada. Wajah Akbar menunjukkan keseriusan, tangan Akbar terulur untuk menghapus air mata yang mengalir pada pipi mulus Lena.
"Apa alasan dia bilang begitu sama kamu?" tanya Lena dengan suara yang bergetar.
"Dia cemburu sama aku, karena aku lebih dekat sama Yura dibanding dia yang udah lama banget suka sama Yura tapi selalu di tolak." penjelasan Akbar mampu membuat Lena semakin menangis.
Ia yang salah disini, kenapa bisa ia percaya dengan isu yang tersebar di kampus tanpa menanyakan hal yang sebenernya pada Akbar lebih dulu. Waktu itu Lena sudah menunggu Akbar untuk menjelaskan semuanya namun Akbar lebih memilih bersama Yura dibandingkan dirinya dan membuat Lena putus asa.
"Tapi kenapa kamu malah milih pergi bersama Yura dibanding jelasin dulu semuanya ke aku?" tanya Lena.
Akbar menarik napasnya lalu di hembuskan kembali, "Waktu itu aku harus jelasin dulu ke Yura biar dia gak salah paham sama berita yang udah tersebar kalo penyebab berantemnya aku sama Bara karena dia. Aku gak mau buat Yura baper atau apa sama aku. Makanya aku lebih dulu ikut dia dari pada jelasin sama kamu."
"Aku kira kamu bakal setia nungguin aku untuk dengerin penjelasan dari aku semuanya, tapi kamu malah pergi dan memilih untuk istirahat sebentar sama hubungan kita." lanjut Akbar.
"Jadi kita sebenernya salah paham?" tanya Lena dengan polos.
Akbar mencubit hidung mancung Lena lalu kembali menghapus bekas air mata di pipi Lena. Akbar tersenyum setidaknya dia sudah menjelaskan atau bahkan meluruskan masalah ini.
"Jadi kita balikan?" tanya Akbar dengan senyuman tampannya yang selalu membuat Lena luluh atau salah tingkah jika melihat senyum yang satu itu.
Lena kembali duduk tegap sambil matanya kesana kemari tidak mau menatap Akbar yang ada di hadapannya. Tetapi Akbar segera menggapai pipi Lena dengan kedua tangan yang otomatis wajah Lena berada tepat di hadapan wajah ganteng milik Akbar.
"Kalo orang tanya itu jawab dan tatap matanya." ujar Akbar dengan suara lembutnya.
Jantung Lena berdebar dua kali lipat. Yaampun padahal mereka sudah lama bersama kenapa Lena masih merasakan hal ini saat bersama Akbar. Jadi ingat masa SMA dulu yang dirinya masih suka dengan Raka dan akan selalu deg-degan jika melihat seorang Raka Adipura.
"Kita kan gak putus Bar, kita cuma istirahat sebentar." ujar Lena gak kalah lembut sambil tangannya memainkan rambut Akbar lembut.
"Jadi istirahatnya udah selesai, dan kita kembali kaya dulu. Oke?" ujar Akbar lalu di angguki oleh Lena.
Tanpa sadar keduanya sudah sangat dekat. Akbar menatap Lena dengan lembut yang memancarkan sayang dengan tulus, begitu juga Lena. Akbar semakin mengikis jarak hingga Lena pun refleks menutup matanya.
Tapi.....
"Eh ASTAGHFIRULLAH." teriak seseorang.
Bersambung....
WKWKWKK GIMANA PART INI?? BAPER GAK NIH?
SIAPA YANG UDAH NUNGGUIN MEREKA BALIKAN?
KIRA-KIRA SIAPA YAA ORANG ITU. COBA TEBAK DISINI.
SELAMAT MEMBACA❤