
“Si alan! Berani beraninya ya lo semalam perkosa gue.” Marah Al kepada Adit yang masih terlelap. Al baru saja tersadar dari mimpinya dan menjumpai dirinya yang masih polos tanpa benang sedikitpun. Al langsung menarik selimutnya sampai ke dada, kemudian mendorong tubuh Adit sehingga tubuh lelaki itu terjungkal ke lantai.
“Apa-apaan sih masih pagi, juga?” Tanya Adit sambil mengelus kepalanya yang nyeri akibat terbentur lantai.
“Lo yang apa-apaan, semalem lo perkosa gue somplak.” Jawaab Al geram.
“Apa? Ga mungkin. Gue aja ga ada selera sama lo.” Adit tak percaya.
“Lo lupa? Kalau lo lupa liat aja kondisi lo sekarang!” Jawab Al marah sambil menunjuk tubuh polos Adit.
Adit segera mengamati dirinya sendiri. Kemudian mendapati dirinya yang polos tanpa benang sedikitpun. Adit segera mengambil bantal untuk menutup enokinya.
“Ini pasti akal-akalan lo kan? Ayo ngaku!” Adit tidak percaya dan justru menyalahkan Al. Adit-adit kalau ga percaya lo balik lagi aja ke bab 8, di situ lo ada adegan enak-enaknya sampai lo lupa segala.
Mendengar penuturan Adit membuat Al menangis. ”Hiks….Hiks… lo jahat Dit, semalem lo udah jebol keperawan gue, sekarang lo pura-pura lupa. Kalau gue hamil jangan-jangan lo juga ga mau ngakuin anak elo.” Ucap Al sambil sesenggukan.
Tanpa menghiraukan tanggapan Adit, Al langsung lari ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan menengadahkan diri di bawahnya sambil menangis. Al ingat dirinya itu istrinya Adit, dan itu memang hak Adit. Tetapi perlakuan Adit sampai saat ini masih menimbulkan keraguan bagi Al untuk menyerahkan dirinya suutuhnya kepada Adit suaminya.
Di kamar Adit menatap bercak darah yang menempel pada sprey. Adit mencoba mengingat ingat kejadian semalam, tetapi nihil. Setelah balik dari restaurant Adit langsung pulang dan menemui Al yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Apakah mungkin? Apa benar yang Al katakana?” Adit bertanya pada diri sendiri.
-
-
Sekitar satu jam di kamar mandi akhirnya Al keluar dari kamar mandi. Dia buru-buru mengambil baju gantinya kemudian masuk kamar mandi lagi. Tak lama Al keluar, dia segera merapikan pakaiannya yang semalam sudah dia masukkan ke lemari. Al berniat pergi. Dia takut Adit melakukan hal yang sama lagi.
“Lo mau ke mana?” Tanya Adit yang bingung dengan tingkah Al.
Al tidak menjawab.
“Memang semalam kita beneran udah begituan?” Tanya Adit lagi setelah pertanyaan pertama tidak dijawab oleh Al.
“Al maafin gue, gue ga bermaksud ngelakuin ini semua. Banyak hal yang harus gue jelasin ke elo. Gue takut lo ga terima. Gue mau certain kalau lo sudah siap. Lo jangan nangis lagi ya, kalaupun lo hamil gue akan bertanggunjawab. Lo janagan khawatir.” Adit berusaha menenangkan.
Tanpa memperdulikan ucapan Adit, Al melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun langkahnya keburu terhenti manakala Adit mencekal pergelangan tangannya.
“ Lo mau ke mana?” Tanya Adit.
“Lepasin Dit! Gue benci sama lo.” Ucap Al marah sambil menghentakkan tangannya agar terlepas dari tangan Adit. Namun sepertinya usahanya sia-sia. Yang ada tangannya malah sakit sendiri. Malang betul nasibmu Al.
“Gue ga ijinin lo pergi” Tanpa sadar Adit memeluk tubuh mungil Almeera. Al berusaha memberontak, namun Adit tak membiarkannya. Adit semakin mempererat dekapannya. Entah perasaan apa yang sekarang berada di hatinya. Yang pasti sekarang dia tidak mau berada jauh dari Al.
Hangatnya pelukan yang Adit berikan membuat Al sedikit lebih tenang. Lambat laun dia mulai melupakan kejadian semalam. Lagi pula apa salahnya Adit dia kan suami sahnya, gambarannya seperti itu isi kepala Al saat ini.
“Adit lo pegang tongkat?” Tanya Almeera.
“Enggak, gue ga pegang apa-apa gue kan lagi peluk elo.” Jawab Adit.
“Terus yang di bawah apa? Dari tadi dorong-dorong perut gue, geli tau.” Al memegang benda keras yang sedari tadi mendorong perutnya.
“Aaahh….” Adit mende sah.
“Lo kenapa Dit?”
“Kayaknya yang lo pegang itu enoki gue deh.”
Al segera memastikan sesuatu yang ada di tangannya.
“DASAR ADIT MESUUUMM!!!!!” Teriak Al.
tbc.