
Dua hari setelah itu, tampak tak ada persiapan apapun di rumah Almeera sebagai penyambutan keluarga Adit. Ya itu semua karena Almeera tidak memberi tahukannya pada kedua orangtuanya. Batinnya masih tidak percaya dengan perkataan orang itu. Apalagi setelah percakapannya lewat telpon waktu itu, dia tidak menghubunginya lagi. Sekarang Almeera sedang di dapur bersama ibunya. Memasak sambil membicarakan pembicaraan antara ibu dan anak.
“Persiapan kuliah kamu bagaimana Al?”, Ibu bertanya sambil memotong wortel. Pagi ini mereka berdua akan memasak sop ayam. Merasa yang ditanya tak menjawab ibu Almeera mengulangi pertanyaannya, namun tak dijawab juga. Dilemparkannya seiris wortel yang langsung mendarat di pipi Almeera. ”Buaaahahaha,” tawa ibu pecah melihat Almeera yang kaget akibat ulahnya.
“Ibu kenapa sih? Kalau mau lempar lemparan sama ayah aja, tuh di taman.” Gerutu Almeera terhadap tingkah ibunya.
“Habisnya kamu sih ditanya diem aja. Lagi mikirin apa? Cowok ya?” Pertanyaan ibu begitu tepat mengenai kndisi Almeera saat ini.
“Punya pacar aja belum, mau…..” Ups ketahuan kalau Almeera masih jomblo. Padahal kalau dia mau menerima cowok cowok di sekolahnya sudah pada ngantri. “Ibu tadi nanya apa?” Almeera berusaha mengalihkan perhatian.
“Persiapan kuliah kamu bagaimana?” Ibu mengulang pertanyaannya.
“Oh itu, tinggal berangkat aja sih bu. Semuanya sudah Almeera siapin.” Jawab Almeera penuh bangga.
“Anak ibu memang sudah mandiri.” Puji Ibu Almeera pada putrinya. Jangan tinggi tinggi pujinya ya bun anti anak ibu terbang lo.
”Iya dong.” Jawab Almeera sambil menepuk nepuk dadanya. “Oh iya bu. Hari ini ibu sama ayah ada rencana keluar ga?” Almeera menanyakan itu karena takut takut Adit benar benar datang.
“Hari ini ga usah pergi dulu ya bu.” Rayu Almeera sambil memelas. Bagaimana tidak, apa jadinya jika Adit benar benar datang dan dia hanya seorang diri di rumah. Apa yang harus dia katakan? ‘Tuhan tolong Almeera.” Doa Almeera dalam batinnya.
“OK, memang kenapa?” Ibu ingin tahu alasan Almeera. Karena tidak biasanya Almeera berperilaku seperti ini. Ibu juga sebenarnya sudah memperhatikan tingkah aneh Almeera sejak kemarin. Menuang air sampai kebanyakan, makan tak habis, kemarin pun Almeera katanya mau bilang hal penting tapi tidak jadi. Pasti ada sesuatu yang Almeera sembunyikan. Dan ibu inging mengetahuinya.
“Gapapa bu, Al cuma pengen aja seharian ini kita bisa kumpul bersama. Kan ga lama lagi Al sudah harus pergi kuliah.” Hanya alasan itu yang dapat keluar dari mulut Almeera dan ibu mempercayainya. Mereka berdua melanjutkan kembali kegiatan masaknya.
Disisi lain Adit sedang mempersiapkan semua kebutuhan untuk lamarannya. Ya walaupun tak banyak yang dia siapkan, tapi dia harus persiapkan sebaik mungkin agar meyakinkan mertuanya.
Adit akan ke rumah Almeera bersama ketiga temannya. Kevin, Ejo, dan Rendi, merupakan ketiga sahabatnya sejak SMP sampai sekarang. Di sekolah mereka terkenal dengan sebutan K.E.R.A . Kera di sini bukan binatang yang banyak bulunya dan mempunyai ekor panjang serta mirip sama orang yang baca novel ini tapi ga pernah vote dan like. Tetapi KERA adalah kelompok dari empat cowok ABG paling tampan di sekolah mereka.Adit tidak menyertakan orangtuanya. Dia tahu pasti orangtunya tidak akan menyetujui rencananya.
‘Nanti siang jam 2 jangan lupa!’ Begitulah isi pesan singkat yng Adit kirimkan kepada tiga sahabatnya yang masing masing membalas OK.
tbc.