Adit&Almeera Young Marriage Secreat

Adit&Almeera Young Marriage Secreat
BAB 3



Pukul 1 masih kurang 59 menit Adit mulai menuju ke rumah Rendi untuk menjemput ketiga sahabatnya yang sudah janjian ketemu di sana. Kenapa tidak janjian di rumah Adit aja ketemunya, itu karena kelima mobil milik keluarga Rendi sedang dipakai semua, sedangkan yang dua sedang di service. Yang ada tinggal sebuah limosin dan tak mungkin Rendi memakai itu. Ya lagi pula rumah Rendi tak jauh dari rumah Adit.


“Yang lain pada belum datang?” Pertanyaan yang langsung muncul dari mulut Adit saat tidak menjumpai 2 sahabatnya yang lain. Adit berdecak sebal. “Kemana sih mereka?”


“Santai bro, lo aja yang kecepetan. Lo udah ga sabar mau kawin?” Goda Rendi pada sahabatnya.


“Lagian ini baru jam berapa brother?” Rendi menarik lengan Adit dan menunjukkan jam tangan milik Adit sendiri yang masih menunjukkan jam 12 lewat 10 menit 4,735 detik. “Masih lama kan?”


“Hehehe….” Tawa Adit sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Etah dia ingin segera melamar Almeera. Sejak dua hari lalu Adit selalu bertemu Almeera dalam mimpinya. Bukan karena cinta justru sebaliknya. Adit berfikir Almeera menemuinya di mimpi untuk menagih janjinya. Maka dari itu dia ingin segera menepati janji agar Almeera tidak lagi mengganggunya di mimpi. Begitulah teori yang muncul di kepala Adit saat ini.


Adit menunggu di ruang tamu saat Rendi sedang mandi sambil mengirim beberapa pesan kepada Kevin dan Ejo untuk segera datang. Lama memandangi HP dia baru ingat belum mengabari Almeera lagi bahwa dia akan datang. Ingat akan hal itu Adit berniat menghubungi Almeera, namun niat itu urung dilakukan saat Adit dengan percaya dirinya, “ahh..tak perlu kuberi tahu, sekarang pasti dia sedang senang sambil menungguku. Mana ada perempuan yang menolak dengan lamaran seorang Aditya Wisnu Anggara.”


Setelah 30 menit kemudian Kevin dan Ejo datang secara bersamaan. Mereka mengedarkan pandangan ke seisi rumah yang sepi itu.


“Lo sendiri? Rendi mana?” Tanya Kevin saat menyadari ketidakadaan sang penghuni rumah.


“Lagi mandi. Tau tuh lama banget gue nunggunya.” Jawab Adit malas karena sudah lama menunggu.


“Udah berapa lama sih?” Kali ini Ejo membuka mulutnya.


“Sekitar 30 menitan” jawab Adit mulai kesal saat dirinya sadar telah menyia-nyiakan waktu begitu banyak hanya untuk menunggu seorang Rendi untuk mandi.


“Wah gila tuh anak, kayak cewek aja mandinya.” Komentar Ejo menanggapi jawaban Adit.


Setelah satu jam dari saat meninggalkan Adit Rendi baru turun dari kamarnya. Tanpa merasa berdosa dia langsung mengucapkan kalimat yang membuat 3 sahabatnya semakin geram, terutama Adit. “Ayo cepetan nanti keburu telat loh.”


“Yang dari tadi bikin lama siapa? Elo kan?” Adit geram. Dia mengepalkan tangan sambil meninjukannya ke udara.


“Udalah mending kita berangkat, dari pada telat.” Rendi melenggang keluar meninggalkan ketiga sahabatnya.


Tak ingin membuang waktu, Kevin, Ejo, dan Adit mengikuti Rendi keluar. Mereka berangkat ke rumah Almeera dengan mobil Adit. Rendi duduk di kursi kemudi sedangkan ada Adit di sampingnya dan ada Kevin dan Ejo di kursi belakang sedang bermain batu gunting kertas.


Mereka tiba di rumah Almeera tepat pukul 2 siang. Seturunnya dari mobil, pandangan Adit tertuju pada rumah sederhana namun indah karena bersih dan rapi. Hal yang Adit herankan kenapa tidak ada penyambutan untuknya. Apakah dia salah rumah? Ah tidak mungkin. Dia sudah tanya alamat rumah Almeera sebelumnya. ‘Tak mungkin salah rumah ini sudah sesuai dengan alamat.’ batinnya. Adit melangkah ke pintu depan rumah itu yang tidak lebih besar dari pintu lemari di kamarnya. Adit mengetuk pintu beberapa kali sampai sang penghuni rumah membukanya.


“Elo” Hanya ucapan itu yang bisa keluar. Adit melihat penampakan Almeera yang hanya mengenakan kaos oblong over size serta celana santai di atas lutut. Tak sesuai harapannya, Adit mengira keluarga Almeera akan menyambutnya secara special mengingat dia anak orang paling kaya di kota ini.


“Elo jadi dateng?”


“Siapa Al?” Terdengar suara seseorang dari belakang Almeera.


Pandangan lelaki yang berusia sekitar 40 tahunan itu mengarah pada 4 remaja dengan pakaian casual macam boyband Korea. Tak berniat menanyakan maksud mereka, Pak Burhan langsung mengajak mereka masuk ke dalam. Karena mengira mereka hanya ingin main.


“Jadi apa tujuan kalian datang ke sini?Apakah kalian temannya Al?” Cecar Pak Burhan yang berhasil membuat Adit menjadi gugup.


“Jadi begini om, sebenarnya yang punya tujuan teman saya ini om.” Jawab Kevin sembari menepuk punggung Adit saat Adit tak kunjung menjawab pertanyaan Pak Burhan.


“Jadi?” Pak Burhan menujukan bola matanya kepada Adit.


Belum sempat menjawab Almeera muncul dengan membawa nampan berisi minuman. Almeera meletakkan setiap gelas di atas meja depan semua orang yang duduk di sana.


“Terima kasih” Adit memandang Almeera yang dibalas senyum gadis itu.


Serasa mendapat dukungan Adit menemukan kembali kepercayaan dirinya. “Saya Aditya Wisnu Anggara om. Say….” Adit memperkenalkan diri dan bermaksud mengutarakan niatnya namun terpotong.


“Kau kah itu? Putra dari Pak Anggara?” Pak Burhan tampak tidak percaya, untuk apa anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja datang ke rumahnya.


“Iya om, orang tua itu ayah saya.” Jawab Adit.


“Jadi apa maksudmu datang ke sini?” Tanya Pak Burhan lagi.


“Saya berniat melamar putri anda. Almeera Putri Laksita.” Jawab Adit dengan lancer.


Pak Burhan dan Bu Laela menganga. Bagaimana mungkin anaknya dilamar oleh anak dari Anggara, orang terkaya di kota ini, kenapa Almeera tidak membicarakan ini sebelumnya. Paling tidak seharusnya dia bisa menyambutnya lebih baik lagi.


“Apa kau serius nak?” Kini Bu Laela ikut bertanya.


“Ini bukti keseriusan saya bu.” Adit menunjukkan sepasang cicin di dalam kain bludru warna merah berbentuk hati yang dia beli sendiri dengan uang jajannya selama satu minggu.


“Tapi kenapa kau tak membawa orangtuamu? Justru mereka yang kau bawa.” Pandangan Bu Laela tertuju pada ketiga teman Adit.


“Mereka terlalu sibuk. Tetapi mereka sudah tahu ini semua.” Jawab Adit bohong.


“Kami tergantung keputusan Al aja, dia yang akan menjalaninya. Bagaimana Al?” Pak Burhan menyerahkan semuanya pada Al.


“Al mau yah” Jawab Al singkat.


“Kapan kalian akan menikah?” Pak Burhan memastikan.


“Minggu depan om, tapi saya tidak ingin ada resepsi om. Saya tidak mau banyak orang tahu tentang pernikahan kami.” Tak mungkin Adit menyelenggarakan resepsi besar besaran. Dia menikah cuma membutuhkan bantuan Almeera saja tanpa adanya cinta. Dan lagi kalau sampai orangrtuanya tahu bisa gagal semua rencananya.


tbc.