Adit&Almeera Young Marriage Secreat

Adit&Almeera Young Marriage Secreat
BAB 6



‘Maksud Al apa tadi ya nanya itu? Apa dia sudah tau rencana gue?’ Batin Adit setelah mendengar pertanyaan dari Al.


Setelah mendudukkan diri, tak lama kemudian pesanan mereka datang. Al segera menambahkan sambal dan caos ke mangkuknya dengan begitu kalap.


“Jangan banyak-banyak saosnya!”


‘What? Apa ini bentuk perhatian Adit ke gue, dia takut gue sakit perut.’ Batin Al.


“ Lo takut gue sakit perut?” Tanya Al sambil senyum senyum.


“Siapa bilang, gue cuma takut emangnya rugi gara gara saosnya lo habisin.”


‘S**t. Kenapa gue kepedean begini sih?’ gumam Al dalam hati.


Mereka melanjutkan makannya tanpa ada yang bersuara lagi. Tibalah saatnya untuk membayar. Adit menuju mamang penjual bakso dan memberikan benda pipih dari dompetnya yang membuat Al tertawa seketika.


“Huahaha….. Lo becanda? Mana ada orang bayar bakso pinggir jalan pakai begituan.”


“Eits. Jangan remehin neng Al.” Sergah Mang Toyib Si penjual bakso.


“Bisa kan mang?” Tanya Adit memastikan.


“Bisa dong” Jawab Mang Toyib sambil mengeluarkan alat untuk digesekkan pada benda pipih itu.


Seketika Almeera menganga akan. Bagaimana tidak, orang membayar bakso pinggir jalan yang harganya tidak seberapa dengan kartu debit. Teknologi kini semakin meluas, tidak hanya untuk kalangan atas saja, tetapi kalangan bawah juga dapat merasakannya.


“Sejak kapan mang bisa bayar pakai kartu begian?” Tanya Almeera pensaran.


Setelah membayar Adit dan Al kembali ke rumah. Sebenarnya Al tadi sudah mengajak Adit ke taman tapi dianya ga mau. Jadilah mereka kini sedang duduk di kamar Al.


“Adit apakah malam ini lo akan minta itu dari gue?” Al memberanikan diri untuk bertanya. Iya menawarkan diri sebelum Adit minta, takut Adit malu untuk memintanya. Ia ingat pesan Ibunya untuk melayani suami dengan baik.


“ Gue ga akan minta, lo bisa tidur nyenyak malam ini dan malam malam berikutnya.”


‘Si*l. Maksud dia apa coba? Dia ga tertarik sama gue? Terus ngapain lo nikahin gue Adit? Fix ada konspirasi di balik semua ini. Oke gue juga ga akan kasih jatah ke elo ucapan lo tadi akan berlaku mulai detik itu juga.’ Al membatin.


“Oke. Kalau begitu lo ga boleh tidur di ranjang ini. Terserah lo mau tidur di mana aja.”


“Loh gabisa dong lo yang ga boleh tidur di rangjang. Gue kan udah bayar sewa.” Adit menolak.


“Ini rumah ayah gue, dan ini tempat tidur gue. Yang lo perjanjian sewa lo cuma dibolehin tinggal di sini. Kalau masalah tidur lo harus sediain sendiri dong.”


“Yah maafin gue deh kalau gue udah nyakitin hati lo. Boleh ya gue tidur di sini.” Rayu Adit sambil menunjuk ranjang.


“Ya gue bolehin, tapi jangan sekali-kali lo sentuh gue. Gue curiga sama lo. Lo ada maksud lain kan nikahin gue.” Akhirnya Al menyampaikan uneg unegnya.


‘Aduh Al curiga. Bagaimana ini?’ Adit membatin.


‘Oke mulai sekarang gue bakal pura pura jadi suami yang baik biar Al ga curiga.’ Adit merencanakan strategi ke depannya.


Merekapun tidur dalam satu ranjang yang sama. Walau terdapat guling di tengah-tengah sebagai pembatas.


tbc.