Adit&Almeera Young Marriage Secreat

Adit&Almeera Young Marriage Secreat
BAB 4



Hari ini adalah satu minggu setelah terakhir kali Adit ke rumah Almeera. Perniakahan mereka berdua tak lama lagi akan dilakasanakan. Ruang tamu rumah Almeera sudah disulap menjadi penuh dengan riasan riasan yang indah walau sederhana.


Almeera sedang duduk di depang meja rias di kamarnya. Terdapat seorang tukang rias yang sedang menata tampilan Al yang sebenarnya sudah cantik alami.


Almeera masih ragu akan keputusannya ini. Benarkah dia akan menikah semuda ini? Dan lagi, dari perlakuan Adit selama ini kepadanya , benarkah dia berniat menikahinya tanpa ada tujuan lain? Semua pertanyaan pertanyaan yang menimbulkan keraguan itu memenuhi isi kepala Al.


“Ses. Apa rombongan Adit sudah datang?”


“Sepertinya belum nona. Waktu eke keluar tadi masih sepi.” Jawab seorang perias banci dengan nada yang dibuat buat seperti wanita yang hanya diangguki Almeera.


Disisi lain Adit dan rombongan yang tidak seberapa, sudah ada di depan rumah Al. Mereka langsung disambut oleh penerima tamu. Tak lupa orang orang dibelakang Adit menyerahkan seserahan yang mereka bawa kepada para penerima tamu tadi.


Adit dan rombongan duduk memenuhi ruang tamu. Menunggu penghulu yang belum juga datang.


Tak lama penghulu datang. Seseorang menuju kamar Al untuk memberi tahu Al bahwa akad nikah akan segera dilakukan.


Al turun sembari digandeng dua orang wanita yang umurnya 2 tahun di atas Al. Mereka adalah Elen dan Mira, anak dari kakak kakak Pak Burhan.


Semua mata tertuju kepada Al yang tampak begitu anggun dengan kebaya putih dan riasan wajah tipis yang menambah kecantikan alami gadis itu.


Tak terkecuali Adit yang memandang Al dari saat keluar sampai kini Al sudah ada di sampingnya. Sampai sampai dia lupa sudah berapa liter ludah yang dia telan yang kalau hanya dibiarkan mungkin akan membanjiri seisi ruangan.


Adit seperti tak mengenal Almeera. Kemana saja dia saat di kelas. Sampai sampai ada sosok bidadari berwujud manusia yang luput dari perhatiannya selama tiga tahun terakhir.


Tak lama penghulu memulai akad nikah. Adit mengucapkan akad secara lantang yang disambut kata sah dari semua hadirin di ruangan itu.


Setelah itu Almeera mencium Punggung tangan Adit sebagai bentuk hormatnya kepada lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa menit yang lalu. Kudian Adit mencium kening Almeera sebagai bentuk rasa sayangnya untuk melindungi Almeera sampai maut yang memisahkan.


Tak ada acara resepsi. Beberapa tamu yang hadir pun segera pulang setelah menyantap makanan yang dihidangkan.


“Orangtuamu ga datang?” Begitulah kata yang sudah dipendam olehnya dari tadi akhirnya keluar juga.


“Mereka terlalu sibuk.”


“Mana mungkin orang tua tidak menghadiri pernikahan anaknya hanya karena sibuk.” Sangkal Al pada jawaban Adit. Baginya sesibuk apapun orang tua pasti akan lebih mementingkan datang kepernikahan anaknya. “Pasti ada yang lo sembunyiin?” Al mulai curiga.


“Ga ada yang disembunyiin, mereka memang ga bisa datang karena sedang di luar negri.” Adit menutupi kebohongannya. Sebenarnya dia yang tidak memberitahu orangtuanya.


‘Sesibuk itukah orang kaya? Sampai sampai tidak bisa hadir di pernikahan anaknya.’ Setidaknya itu yang ada dipikiran Almeera.


“Aku mau mandi.” Ijin Almeera. Dia sudah tidak betah dengan pakaian yang kini dia pakai dan polesan make up di wajahnya membuat wajahnya merasa tidak nyaman.


Adit hanya mengguk dan memandangi tubuh Al yang kini sudah hilang dibalik pintu kamar mandi. Dia segera melepas jas dan kemejanya dan juga celana bahannya. Kini dia hanya mengenakan kaos singlet dan celana boxer. Adit kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang milik Al sembari menunggu gadis itu selesai mandi.


Sekitar 30 menit kemudian Al keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti menjadi baju santai. Dia ada rencana mengajak Adit jalan jalan sebentar setelah ini.


Sontak Al menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dan hanpir saja berteriak namun urung dia lakukan saat ingat bahwa lelaki yang sedang terlentang di ranjangnya adalah suaminya. ‘Untuk apa menutup mata’ batin Almeera berbicara.


Almeera buru buru membangunkan Adit agar segera mandi.


“Adit bangun! Mandi gih cepetan!”


Yang dibangunkan hanya menggeliat sambil bicara asal


“Bentar lagi Ma, masih ngantuk.”


Melihat tingkah Adit membuat Al tersenyum. Ternyata Adit yang merupakan anak paling popular saat di SMA ternyata anak MAMA.


“Heh bangun, gue bukan nyokap lo.” Al sok tegas.


Adit membuka matanya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah seorang gadis yang baru saja mandi. Dia yakin akan hal itu karena rambut gadis itu masih tergerai dan basah. Dia pun segera bangun kemudian melangkah ke kamar mandi.


“Adit lo bawa baju ganti gak?” Teriak Al kepada orang di kamar mandi.


“Bawa ada di koper di bagasi mobil gue.”


“ Di koper? Berarti banyak dong yang dia bawa? Apa dia akan tinggal di sini? Kenapa tak tinggal di rumahnya saja?” gumam Al setelah mendenger jawaban Adit.


Almeera segera menyambar kunci mobil Adit yang ada di saku celana bahan Adit yang dia pungut di lantai setelah tanya kepada Adit.


Almeera menuju mobil Adit dan mengambil koper milik Adit di dalam bagasi kemudian membawanya ke kamarnya.


Disiapkannya satu stel baju untuk Adit pakai setelah ini kemudian memasukkan sisa baju lainnya ke dalam lemarinya Al.


Tak lama kemudian Adit keluar. Handuk masih melilit di pinggangnya. Dia langsung melangkah ke arah pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Al di atas ranjang. ‘Tak salah, dia akan cocok untuk pekerjaan ini.’ Pikir Adit dalam batinnya.


tbc.