
“Setelah ini kita akan tinggal di mana Dit?” Pancing Almeera untuk mencari tahu terkaannya tadi benar atau salah.
“Kita tinggal di sini sampai kita masuk kuliah. Tidak apa apa kan?”
‘Benarkan dugaanku, yah tidak jadi tinggal di rumah mewah deh’ batin Al. Bagaimana pun dia berharap bisa tinggal di Rumah Adit yang seperti istana dan dia menjadi putrinya.
“Lo keberatan?” Tanya Adit lagi karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab. “Nih, anggap aja biaya sewa gue.” Melempar amplop coklet agak tebal ke hadapan Al yang tengah duduk di ranjang.
“Apa ini?”
“Buka aja! Terserah mau buat apa aja.”
Al membuka amplop itu yang ternyata isinya uang lembaran 100 ribuan sebanyak 100 lembar yang ia ketahui dari kertas kecil yang membelit.
“Belanjakan sesukamu! Mau dikasih ke orangtuamu juga boleh.”
“Terima kasih”
Al menyimpan uang itu ke lemari pakaiannya setelah mengambil beberapa lembar dan menaruhnya ke dompetnya. Kemudian dia kembali duduk di pinggiran ranjang.
“Jalan yuk.” Al menjalankan rencananya tadi.
“Ke mana?”
“Deket deket sini aja, keliling kompleks. Sekalian cari makan, ada bakso langganan gue, enak lho.”
“Ok. Tapi jangan lama lama, gue masih capek.”
Mereka berdua jalan bersama mengelilingi komplek. Banyak tetangga yang menyapa mereka berdua. Hanya Al yang menanggapi sedangkan manusia yang ada di sampingnya sedang sibuk memainkan ponselnya tanpa berniat membalas sapaan para tetangga.
“Adit!” bisik Al sambil menyikut lengan Adit.
“Apa?” Tanpa menoleh.
“Itu orang orang pada nyapa kita, elo malah sibuk main HP aja.” Al kesal.
“Biarin aja, mereka yang mau nyapa kan, gue kan ga suruh.” Jawab Adit datar.
Al memutuskan untuk jalan lebih dahulu meninggalkan Adit. Ia masih kesal dengan sifat Adit yang baru saja terjadi. Apa tanggapan para tetangganya nanti dengan tingkahnya Adit barusan. Itulah yang Almeera pikirkan.
Al sampai di warung bakso langganannya lebih dulu. Adit masih sekitar 100 meter sebelum sampai. Masih focus pada HPnya Adit terus jalan tanpa memperhatikan jalan. Tanpa ia sadari tengah ada polisi yang sedang tidur melintang di atas jalan. Bruuuk!! kaki Adit tersandung benda itu. Seketika ponselnya terlempar dan masuk ke dalam got.
“Sh*t!!!”
‘Rasain tuh’ Al yang melihat dari kejauhan menghampiri Adit kemudian menolongnya untuk berdiri.
“HP gue mana?” Adit memperhatikan sekeliling dan tak menemukan keberadaan ponselnya.
Almeera menengok ke bawah got. “Ha… Itu HP lo.” Menunjuk HP Adit yang ada di bawah sana.
“Mana-mana?” Mata Adit mengikuti arah yang ditunjukkan telunjuk Almeera. “Mungkin ini akhir kebersamaan kita.”
“Maksud lo apa?” Tanya Al sambil berusaha mengambil HP Adit.
“Jangan diambil! Udah buang aja.” Larang Adit.
Al melebarkan kelopak matanya. Dengan gampangnya Adit membuang benda yang Al tau harganya itu setara dengan sepeda motor yang sering ditunggangi Ayahnya ke kantor.
“Gak sayang, siapa tau ada yang penting?” Al tau orang seperti Adit mampu membeli HP lagi tanpa takut akan jatuh miskin. Tapi kan data data di HP itu?
“Semua yang penting selalu gue backup di laptop gue.”
‘Orang kaya memang otaknya selalu selangkah lebih kedepan, makanya bisa kaya.’ Puji Al dalam hati.
Al terdiam memikirkan perkataan Adit. Jangan jangan Adit juga sudah menyiapkan backup untuk Al kalau kalau Al sudah tidak dipelukan lagi. “Adit apa kau juga akan membuangku jika sudah tidak membutuhkanku lagi?” pertanyaan itu tiba tiba muncul dari mulut Al.
“Lo ngomong apa? Gue gak ngerti.” Balas Adit.
Al memilih tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia memutuskan kembali kerencana awal, makan bakso di tempat langganannya.
tbc.