
Sore hari di rumah megah milik keluarga Anggara, Adit tengah merutuki kebodohannya. Dia tanpa sengaja mendaftarkan dirinya pada universitas yang jauh dari kotanya saat ini.
“ah… sial. Mikir apa sih gue waktu itu.” gerutunya sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Ntar gue sama siapa di sana.”
Maklum anak itu sedari kecil tidak pernah mau pisah dari kedua orang tuanya. Sampai urusan pekerjaan orangtuanya yang membuat mereka harus keluar kota atau bahkan luar negri pun Adit tak akan tertinggal, dia selalu ikut.
Kini kenyataan sudah berjalan ia tak mungkin lagi mengundurkan diri. Pendaftar masuk di Universitas lain sudah beberapa hari yang lalu di tutup. Kini harapannya hanya satu, dia berharap ada salah satu temannya yang juga masuk di universitas tersebut. Ditanyainya seluruh teman SMA nya. Dari sekian banyak teman SMA nya hanya satu nama yang juga masuk di universitas tersebut. Ya, dia adalah Almeera.
Tanpa ada rasa sungkan Adit menawarkan Almeera untuk bisa tinggal bersama dia saat di kota baru itu. Adit merasa tak akan bisa bertahan sendiri di kota barunya. Dengan adanya Almeera setidaknya akan ada seseorang yang akan membantunya disaat dia butuhkan. Almeera yang paham agama tidak mau memenuhi permintaan konyol yang dilontarkan Adit tersebut. Dia tidak mau satu rumah dengan lelaki yang bukan mahromnya.
Adit yang mendengar alasan Almeera, sekali lagi melontarkan pernyataan konyol menurut gadis itu. “Gue bakal nikahin lo,” ucap Adit.
Almeera yang memang sedari dulu mengagumi sosok Adit sebenarnya tidak keberatan. Anak paling populer di sekolah. Tampan, anak orang kaya, jago olahraga, tak ayal membuat membuat setiap siswi di sekolah memujanya. Tetapi apakah secepat itu dia menikah? Dengan Adit lagi. Satu hal yang sangat dibenci Almeera dari sosok Adit, SOMBONG. Kata itu yang selalu ada dibenak Almeera.
“Gue bakal datang ke rumah lo untuk melamar lo,” lagi Adit berkata yang membuat Almeera susah menelan ludahnya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Adit yang walaupun sudah tiga tahun mereka selalu satu kelas tapi jarang sekali mereka bicara tiba-tiba ingin melamarnya. Pasti ada konspirasi dibalik semua ini.
“Lusa gue ke rumah lo,” Adit memberi keterangan kapan dia akan ke rumah Almeera. Antara yakin dan tidak Adit harus mengambil keputusan ini. Tak lagi ada alasan baginnya untuk membatalkan rencana ini. Adit membutuhkan orang untuk membantunya mengurusi segala kebutuhannya saat di kota baru itu.
Merasa permasalahannya telah beres Adit bisa bernafas lega. Tanpa dia tahu bahwa akan ada permasalahan baru yang mungkin timbul dari tindakannya tersebut.
“Permasalahan gue kelar,” gumamnya. Raut wajah tanpa beban terpancar lagi di mukanya yang sedari tadi tampak lesu dan tidak bersemangat. Kini dia bisa tidur dengan lelap.
Disisi lain Almeera sedang kebingungan.Hatinya mulai goyah. Apakah dia perlu bicara kepada orangtuanya atau tidak. Karena dia sendiri tidak yakin apakah Adit akan benar-benar menikahinya. Karena dari awal dia mencium bau konspirasi dari kejadian ini.
Walaupun sebenarnya Almeera memang mengagumi Adit, tapi dia tidak suka kebiasaan Adit yang sombong dan suka memainkan perasaan wanita. Banyak siswi wanita yang Adit dekati tapi tanpa satupun yang diberi kejelasan. Ya, maklum orang kaya bebas.
Almeera memutuskan untuk tidak memberitahu orangtuanya. Dia menganggap Adit hanya sedang main main kepadanya. “Tak usah dipikirlah, bikin pusing saja. Palingan dia cuma main main saja.
tbc.