Adit&Almeera Young Marriage Secreat

Adit&Almeera Young Marriage Secreat
BAB 13



Kini Al sudah balik dari toilet. Dia kembali duduk di kursinya tadi.


"Makasih ya." ucap Al.


"Hm.."


Mereka kembali melanjutkan makannya. Tak perlu waktu lama, semua makanan dan minuman yang ada di atas meja sudah berpindah ke lambung mereka berdua.


Adit dan Al berjalan menuju kasir. Adit mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu debitnya kepada kasir. Selesai membayar mereka berdua berjalan ke parkiran.


Kini mereka akan menuju mall untuk membeli perlengkapan untuk membuat dress code pada acara penerimaan mahasiswa baru di kampus mereka.


.


.


.


Kini mereka sudah berada di mall terbesar di kota itu. Al berjalan menyusuri setiap toko untuk mencari barang yang dicari.


Setelah ke sana kemari berkeliling, akhirnya semua barang yang dicari sudah didapat. Kini Al dan Adit sedang ada di sebuah cafe di dalam mall itu.


"Lo ga sekalian shopping?" Tanya Adit yang heran dengan barang-barang yang dibeli Al. Semuanya barang-barang untuk keperluan dress code.


"Buat apa? Barang-barangku masih bagus. Baju, celana, sepatu, jam tangan, semua masih baru, kan lo yang beliin belum lama ini.


"Ya siapa tau mau buat koleksi." ucap Adit datar.


"Gue ga kayak cewek-cewek lain ya, buat apa beli barang-barang yang nantinya ga kepake, mending uangnya ditabung, atau diberikan pada orang yang membutuhkan." ucap Al penuh penekanan.


"Terserah lo aja lah."


.


.


.


Al dan Adit sudah sampai di rumah. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Al langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat keringat.


Saat membuka celana dalamnya Al jadi teringat bahwa dia sedang h id. Itu berarti dia sedang tidak hamil. Entah harus bersyukur atau merasa bersalah atas pemikirannya tersebut. Yang pasti dia memang belum mau jika harus mengandung anak Adit sebelum tau maksud Adit menikahinya.


Selesai mandi Al langsung mengganti pakaiannya. Sekarang dia sudah mengenakan pakaian tidur. Setelah mengeringkan rambutnya, Al bergegas ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang sangat lelah hari ini. Tak menunggu lama Al pun tertidur.


.


.


.


Keesokan harinya Al dan Adit tengah sibuk membuat dress code mereka masing-masing.


"Adit bagaimana?" Al menunjukkan dirinya yang tengah memakai topi berbentuk kerucut itu.


"Jelek ga bagus" Padahal dia sedang menutupi kekagumannya, Al terlihat lucu dan imut memakai topi itu. Serasa balik ke masa kanak-kanak.


"Ya memang harus jelek lah, kan ini memang tujuan kakak seniornya, biar kita malu." ucap Al tanpa merasa sakit hati dengan ucapan Adit sebelumnya. "Sekarang lo yang pakek." Imbuhnya.


Adit hanya melongo mendengar penuturan Al. Dia tidak menyangka Al bisa berfikir demikian. Padahal dia kira Al akan marah kepadanya.


"Eh iya." Adit segera memakai topi yang terbuat dari pot.


"Bwuahaha...." Tawa Al pecah melihat Adit yang terlihat begitu culun baginya.


"Ngapain ngetawain gue? huh." Tanya Adit kesal.


"Habisnya lucu. Lo culun banget pakai itu." Jawab Al sambil terus menahan tawa sambil menujuk topi yang sedang dipakai Adit.


"Ck. Jangang ngetawain gue. Udah lanjut ngerjainnya."


Mereka lanjut menyelesaikan keperluan dress code nya. Besok adalah hari penerimaan mahasiswa baru. Mereka harus mempersiapkan keperluan lainnya.


.


.


.


Selesai mempersiapkan semuanya Al berniat langsung ke kamar. Belum sempat iya beranjak dari duduknya, Adit keburu menarik lengannya.


"Apa?" Tanya Al.


"Gue mau ngomong penting."


"Mau ngomong apa?"


"Soal lo"


"Soal gue?"


"Ya"


"Gue kenapa emang?"


"Semisal lo hamil, bagaimana nanti kuliah lo?"


"Pfftt.." Sebisa mungkin Al menahan tawanya. "Adit lo ga inget atau memang ga tau?"


"Inget apa? Tau apa?" Tanya Adit karena bingung dengan pertanyaan Al.


Al menghela napas kasar. "Adit tadi siang kan gue h id, itu artinya gue kaga hamil. Lo kaga tau tentang itu." Al menjelaskan pelan.


"Ooo. Jadi lo kaga hamil? Gue kaga tau tentang begituan."


"Ya. Udah lah gue mau ke kamar."


Al kembali ke kamarnya. sedangkan Adit masih di tempat itu sambil tersenyum karena Al tidak mengandung anaknya.


.


.


.


tbc.