A Million Memoria

A Million Memoria
Kuliah..



SEOUL


Okt, 2019..


Pk. 05.05


"Huft,aku masih mengantuk. Tapi apalah daya, hari ini aku mulai kuliah." Protes Yeonhee.


Yeonhee pun bangun dan membereskan kamarnya itu. Sebenarnya ia malas sih, namun wanita tak boleh berantakan.


Yeonhee mandi dan menggunakan style seperti Celana panjang, tank top dan kemeja tipis. Yeonhee memang tak suka yang banyak gaya, jadi dia pun tampil natural tanpa polesan make up.



Setelah selesai itu, Yeonhee mengambil tas kuliah nya beserta laptop di dalamnya. Seva berangkat kuliah dengan mengendarai Bus umum.


Padahal baru pukul 06.00 tapi, Yeonhee sudah berangkat , supaya ia bisa mencari Keheningan sesaat itu alasan utamanya.


Tak heran bila Yeonhee membawa sereal untuk dimakannya nanti di kampus. Mood Yeonhee hari ini kurang baik, mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu.


'seperti nya ada yang dilupakan,,' Batin Yeonhee.


 


\- **A MILLION MEMORIA** \-


 


Tak berselang lama Yeonhee sampai di kampus. Yeonhee berjalan melalui lorong dan, tujuannya adalah majalah dinding. Ya, itu untuk mengetahui kelasnya.


Setelah ada majalah dinding dihadapannya, Seva mencari namanya. Ouch, namun yang terlihat dihadapan Yeonhee adalah kertas bertuliskan,,


"Semua mahasiswa dan mahasiswi yang masih baru, diharapkan berkumpul di lapangan paling atas untuk Ospek. Diharapkan semua membawa kebutuhan ospek hari ini!"


"Haah, mengapa aku tidak tau." Protes Yeonhee pada pihak kampus.


"Dasar bedebah! Tak ada yang memberi tau aku. Sudahlah, ****** aku nanti dihukum." Yeonhee menggerutu.


Tak ada yang bisa dilakukan Yeonhee selain berdiam diri, tak lupa makan sih. Yeonhee hanya duduk di pinggir lapangan voli, sembari memakan sereal nya.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Seandainya Mina datang mungkin kita akan menjalani hukuman bersama! Tapi itu adalah hal yang aneh bila Mina datang." Tangisan akibat kenangan Mina mengeluarkan beberapa tetes air mata.


Ia hanya berusaha menahan air mata nya supaya tidak pecah, namun yang terjadi nihil. Tangisan nya pecah, banyak air mata yang turun, menuruni pakaiannya.


Hal yang sangat membuat hati Yeonhee terasa berdenyut hingga membuatnya, Menangis. Yeonhee berharap ada seorang teman yang dapat diandalkan, supaya bisa menjadi sahabat.


'merutuki diri sendiri, hal yang membuat ku makin sedih. Hati nurani ku menangis, membuat hari ini terasa ingin kubuang jauh jauh.


Apa ada yang mau menolongku, agar aku tak jatuh ke jurang yang sangat berkabut dan parah?


Adakah malaikat yang akan menyanyikan lagu merdu, yang membuat sedih ini menghilang?


Hidup? Mengapa aku hidup tanpa beralasan? Aku bukan seorang pembangkang, apalagi kriminal, namun mengapa kehidupan ku terasa lebih berat dari mereka? 'Batin Yeonhee.


 


\-\-\-\-


 


"Hei, apa kau rindu aku? Aku sudah merasa terlalu sehat." Sapaan Mina tak membuat Yeonhee menoleh.


"Siapa kau?" Tanya Yeonhee yang membuat Mina takjub, berapa lama Mina tak sadarkan diri.


"Hei, kau sahabat ku apa orang asing ku?" Tanya Mina lagi.


"Aku kan bertanya, sebaik nya kau menjawab my mood is bad now!" Suruh Yeonhee yang membuat Mina segera mengucap kata.


"Geurae, Je ireum eun Choi Mina ibnida." Jawab Mina.


"Hmm, Apa kau bawa alat ospek?" Tanya Yeonhee dengan menoleh pada Mina.


"Aku bahkan tak tau akan ada ospek, kau tau kan aku sudah berapa lama pingsan, ya mungkin nanti kita akan dihukum. Biarlah!" Jawab Mina enteng.


Yeonhee tak percaya apa yang diomongkan oleh Mina. Apitu benar benar jati diri Mina? Atau dia amnesia?


"Hei, Yeonhee gaja!" Mina sembari menggenggam tangan Yeonhee lalu menggeret nya menuju ospek.


"Aku tak percaya bila kau Mina! Mina yang kukenal tak begitu periang."Bentak Yeonhee pada Mina.


" HO, kau tak percaya ya. Apa Mina yang kau kenal mempunyai bekas luka di lutut nya? " Mina berusaha Membuktikan bahwa dirinya memang Mina.


Yeonhee hanya mengangguk lalu tersenyum pada Mina. Yeonhee segera memeluk Mina tak percaya, bahwa Mina ada disisi nya sekarang.


Mina menerima pelukan itu dan mengeratkannya. Huft, Mina bernapas lega. Akhirnya Yeonhee menerima dia sekarang.


Kedua sahabat itu segera pergi ke lapangan ospek. Mereka pasrah bila mereka dimarahi.


Apa daya mereka? Mereka hanya mahasiswi baru dan bukan orang penting disini.


 


***°°°***


 


"Semua berdiri tegak, jangan ada yang membungkuk." Bentak panitia ospek yang juga angkatan kakak kelas.


Semua siswa dan siswi berdiri tegak, dan Yeonhee, Mina baru sampai lapangan dengan napas terengah engah.


"Sunbaenim, Joeseonghabnida! Kami telat dan tidak membawa atribut ospek." Yeonhee meminta maaf kepada panitia ospek dan Mina hanya celingukan tidak jelas.


Tanpa diketahui Yeonhee, ternyata Sunbae panitia itu adalah Yeobin. Yak, karena sedari tadi Yeonhee hanya menundukkan kepalanya.


" Hei, tegakkan kepala mu! "Bentak Yeobin.


"Ne, sunbaenim. Jeongmal joeseonghabnida. Silahkan hukum kami. " Lirih Yeonhee sembari mendongakkan kepalanya.


Hah, apa yang dilihat Yeonhee? Ia begitu takjub bagaimana bisa ia memanggil si 'Bedebah' Itu Sunbae? Huft, sangat lah malu Yeonhee.


" Ck, ck, ck. Orang bodoh mana yang memilih mu menjadi sunbae ku? Neo babo nya? " Tanya Yeonhee.


" Hei, kau yang sopan sedikit ya! Baru aku mau menghukummu dan temanmu itu, kau malah menambah beban hukuman mu itu! " Bentak Yeobin.


Yeonhee hanya terkekeh kecil karena perkataan Yeobin. Apa yang dimaksud Yeobin? Hukuman? Silahkan hukum saja!


"Kalo kau mau menambah hukuman pada kami, tak apa kok, kami bukan orang bodoh seperti mu. We are not afraid!" Tambah Yeonhee.


"Geurae, kalian harus menginap untuk membersihkan seluruh area kampus! Dan kalau belum selesai besok pagi, saya tambah lagi hukuman itu!" Suruh Yeobin pada Yeonhee dan Mina.


'Cih, dasar kejam. Manusia tan berperikemanusiaan! Memang tak punya hati! Bedebah!' Ujar Yeonhee dalam hati.


Yak, akhirnya Yeonhee dan Mina menyerahkan diri pada hukuman itu. Apalagi selain menjalani nya.


 


\-***A Million memoria*** \-


 


Yeonhee berjalan menuju cafe di dalam kampus dan Mina hanya mengikuti nya. Di cafe itu suasana nya hening tidak seperti di tempat ospek.


'pasti sekarang ada yang berteriak "Ambil tali rapia dan ikat di pinggang dan blaaa.... Blaaa... Blaaa' umpat Yeonhee dalam hati.


Mina duduk di pojok cafe dekat jendela, seperti tau apa yang dipikirkan Yeonhee. Disitu hanya ada suara jari yang bersentuhan dengan laptop.


Cukup hening, membuat Yeonhee nyaman. Mina daritadi hanya memandang hp nya. Sebuah ide tersemat di pikiran Yeonhee.


"Aku tau apa maksud mu. Aku tak akan memedulikan nya, Hanya gurauan tak berguna. " Tanya Mina.


Yeonhee bertepuk tangan, karena teman didikan nya itu sudah bisa berpikir dewasa.


"Hebat, Kau sudah dewasa sekarang. Tak heran kau dapat keluar dari Seonjing byeongwon." Kata Yeonhee bangga.


"Gomawo, Chingu kebanggaan ku. Aku memang dewasa bukan, a~ aku tak ingin sombong." Mina seakan menutupi keinginan untuk sombong nya.


"Terserah, karena kau sudah dewasa. Aku tak akan mengurus mu lagi, Chingu." Ucap Yeonhee sambil tersenyum miris.


Mina dan Yeonhee melanjutkan aktivitas di kafe itu , kafe ini yang terbaik.


EPISODE 7 SELESAI.