A Million Memoria

A Million Memoria
Understanding for others...



Okt 2019


Pk. 04.40


Seoul...


Hari ini aku bangun dengan mood yang bagus. Karena aku telah berjanji untuk menginap di rumah Mina, aku segera bergegas menyiapkan barang. Setiap pagi pasti aku akan jogging. Aku segera memakai celana training dan kaos berlengan panjang.


 


\*


 


Kini aku telah sampai di Taman, aku sampai di taman pukul 05.00 pagi. Udara yang kuhirup di taman memang menyegarkan. Disini banyak pepohonan yang rindang. Sesaat aku jogging, tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Aku segera berlari ke Pos Taman. Aku tak menyangka bila aku akan bertemu dengan Yeobin - ssi.


Aku sangat canggung untuk berbicara dengannya. Maka dari itu aku menjauhinya. Hujan turun begitu derasnya, meski aku memakai baju lengan panjang udara dingin tetap menerpa ku.


"Uhhhh, neomu chuulyo!" Ucap Yeonhee.


Tiba-tiba saja Yeobin melemparkan jaket hoodie yang dipakai nya.


"Udara cukup dingin, kenapa tak pakai luaran?" Tanya Yeobin dingin.


Aku terkejut melihat Yeobin. Dia begitu Dingin dan tak banyak bicara.


"Heii, kalau ingin memberi jangan melempar, Kasar sekali dirimu!!" Teriak Yeonhee.


"Aku minta maaf, Pakai lah atau akan ku ambil!" Suruh Yeobin.


Aku tak ada pilihan lain, bila aku tak menerimanya aku akan kedinginan, jadi ku pakai jaket Hoodie itu.


 


**°°°**


 


Jaket hoodie itu sangat hangat, aku tau meski Yeobin membenci ku tapi ia perhatian. Hujan sangat awet sampai pukul 8 pagi. Aku memandang Yeobin ia sangat berbeda dengan yang dulu, dia yang sekarang sangat dingin. Aku menatap nya, ia sedang membaca buku komik bergenre horror-action. Dia menatap ku balik, aku segera memalingkan kepala ku.


Hujan lama kelamaan mulai mereda, aku ingin segera pulang. Aku melepas dan mengembalikan jaket Hoodie itu. Namun reaksi Yeobin sangat berbeda.


"Tetima kasih atas jaket mu ini! Aku jadi hangat." Kata Yeonhee.


"Simpanlah dan kembalikan itu saat masuk universitas." Balas Yeobin sembari berjalan pulang.


"Aa~ mwoya? Sombong nya dia! Hanya karena meminjamkan aku jaket?" Yeonhee kesal sembari berjalan menuju rumah.


"Meski kau menghilang dari dunia ini, aku akan melajang tak peduli apapun itu." Yeobin berbisik sambil berjalan jauh dari Yeonhee.


Aku pun tersadar meski ia terlihat cuek namun, dia cukup perhatian. Karena hujan telah reda aku pun pulang. Sesampainya di rumah, Minha langsung bertanya itu jaket siapa?


" Aku pulang! "Kata Yeonhee.


"Omo, Daebag! Kapan eonni membeli hoodie ? Itu, neomu bissada! "Tanya Minha.


" eonni dipinjamkan oleh teman, apa ini mahal? Memang berapa harganya? "Tanya Yeonhee .


" eonni! Neo babo ibnigga? aku membaca di Internet harganya sekitar 500 ribu sampai 1 juta won . "Jawab Minha .


aku tak merasa tercengang atau bahkan sangat tercengang dengan harga jaket ini.


Dia juga tak menyia- nyiakan jaket ini, karena dipakai oleh orang yang ia cintai bukan.


Aku pun langsung berjalan menuju kamar untuk mengirim pesan pada Mina.


Saat aku sampai, aku membuka Handphone ku terdapat banyak sekali pesan dari Mina.


 


**WHATSAPP


 


MINA**


Yeonhee - a, kurasa aku menemukan pilihan hidup ku.


Aku hanya ingin hidup bahagia, aku tak mau menyiakan kesempatan untuk ku hidup.


Aku yang membacanya langsung terkejut. Aku segera menyiapkan barang ku. Aku berangkat ke rumah Mina. Sesampainya di rumah Mina, aku tergesa-gesa kedalam rumahnya.


"Mina - a, eodi e seo?" Tanya Yeonhee.


"Ouchh, Yeonhee - a, aku membuat Zouppa Soup. Untuk kita makan. " Jawab Mina.


Aku pun tenang, kukira Mina akan mengakhiri hidupnya.


"Min, Neo gwaencanha ? Aku kira kau ingin bunuh diri." Sahut Yeonhee .


"Aku tak sebodoh itu, aku sadar begitu bodoh nya aku setiap hari kesal dan marah, tapi itu tak ada gunanya untukku, aku harus berjuang menemukan hidup yang baru!" Jawab Mina.


Aku pun menghela napas dengan lega. Hanya Mina teman yang sangat kusayangi. Aku menyantap Zouppa Soup buatan Mina. Rasanya mengingatkan ku pada hari itu......


Aku ingat pembuat nya adalah anak yang seumur dengan ku. Dia begitu baik, tapi ia mengalami kecelakaan pada kepala nya sehingga kepalanya harus dijahit.


 


  . ***°°°***


 


Malam pun tiba, rasanya di rumah Mina sangat mencekam. Sejak Mina menikah dengan Daejin, rumah ini hanya ditempati nya seorang. Tapi, aku menemukan suatu ruangan yang sangat gelap dan dipenuhi banyak darah. Aku tak tau mengenai Kamar ini.


"Ya! Mwo hae?!" Kaget Mina.


"Aaaaaaa, ne !" yeonhee kaget.


"Kau sedang berbuat apa? Mengapa wajah mu seperti ketakutan ?" Tanya Mina.


"aku harus pada intinya, aku hanya berpikir, apa yang dilakukan Daejin? Kamar ini adalah bekas pembunuhan. Kau dapat melihat bahwa banyak darah berceceran di tempat ini. " Yeonhee tau, karena hanya melihat nya ini dapat ditebak.


Mina terdiam, Mina berpikir sejenak, Apa yang harus kujawab Tuhan? Apa aku jujur? Baiklah aku sudah membuat keputusan untuk jujur.


"Ehm, Yeonhee - a, kamar ini memang kamar pembunuhan anakku, aku harus jujur karena aku terlalu jujur untuk berbohong!" Mina menangis.


"Siapa yang membunuh nya?" Tanya Yeonhee.


"Kim Daejin!" Jawab nya serentak, Mina tak dapat berbohong karna apa gunanya untuk berkutik dari masalah ini?.


Aku yang mendengar nya, tau pasti Mina mengatakan hal itu. Ini hanya lah masalah antara dua orang, yang aneh. Pria yang sudah dewasa itu tak dapat berpikir, hidup nya berantakan.


"Dasar pecundang, sama seperti Yeobin. Mina - ya, kau tak berniat balas dendam bukan? Aku tau kah adalah orang yang tersiksa, tapi kau tak mau menyiakan kesempatan hidupmu, benar bukan? " Sahut Yeonhee.


Rasa sakit yang diderita Mina tertambah. Hati nurani Mina berkata 'Biarlah terjadi karena memang sudah takdirnya, namun apa tak ada keadilan untukku? Seharusnya sekarang aku memasuki dunia perkuliahan! Aku hanya pasrah Tuhan, tolong beriku semangat! Dakara kanashikute mo imiganai (jadi tak ada gunanya bersedih)'.


"Lee Yeonhee, stop!!! Kau membuatku pening kepala ku terasa stres kurasa aku akan.." Omongan Mina terpotong, entah kenapa tiba tiba ia pingsan.


"Min-ah Mianhae, mungkinkah aku merepotkan mu? Aku memang bersalah." Cicit Yeonhee.


' aku bersalah, maafkan aku Mina- ya. Seharusnya derita mu tak tertambah karena aku! Sekarang aku harus membawa mu kerumah sakit, namun tunggu mengapa aku merasa bibirmu itu tersenyum tak terkendali?' Batin Yeonhee .


Apa yang terjadi dengan Mina? Apa takdir ini salah? Apa kehidupan untuknya berat? Atau mungkin saja Mina depresi? Seharusnya **dendam ku atas Mina harus kubalaskan!


Tapi, aku tak akan menyiakan hidupku. Amarah ku memang membara seakan - akan takdir ini salah, dan harusnya memang ini tak terjadi!


Terpuruk, itu yang pasti terjadi padamu kan min? Kehidupan memang berat, akan kuusahakan semua ini terbalaskan.


Keterpurukan mu membuat ku sedih Mina- ya, mianhae Mina! Hanya kau dan Minha yang dapat mengembalikan senyum sumringah ku!


Mentari selalu menyinari dunia, seakan kau dan adikku lah yang menjadi mentariku. Aku telah kehilangan satu mentari ku.


Sekarang hanya ada Angin badai yang menggambarkan pikiran dan keadaan ku. Kacau! Itulah sepatah kata yang cocok untuk ku.


Angin itu lama kelamaan akan menembus hidupku bukan? Membuatku semakin kacau dan berantakan.


Depresi dan frustrasi, keadaan itu akan kuhadapi. Apalagi sekarang? Cahaya kehidupanku meredup.


Tuhan apa kau ingin memisahkan ku dengan segala sesuatu yang berfungsi dan berdampak pada kehidupanku ini?


Apa arti aku ini? Apa alasan ku hidup? Aku tak sebodoh orang orang yang terpuruk. Aku memilih semangat hidup! Hanya berkurang saja.


 


\- **A Million memoria** \-


 


Hentakan sepatu, hanya itu yang dapat kudengar. Aku berada di rumah sakit, mengantar Mina. Sejujurnya aku tak sanggup, bilamana dokter mengatakan Mina harus ke rumah sakit Jiwa.


Dentuman sepatu dokter terdengar, aku menoleh ke pintu ruangan Mina diperiksa. Hanya kekecewaan yang tergambar di raut dokter tersebut.


"Sejujurnya, uisanim katakan yang Sejujurnya, karena aku tak suka orang yang sangat berbasa- basi!" Kata ku tegas, Hingga dokter pun Menghela napas.


"Baik, ehmm sebenarnya seperti ini, aduh bagaimana ya?" Dokter pun resah mengatakannya.


"Quick Dok, just the point!" Bentak ku, aku semakin marah karena basa-basi dokter bernama Jay itu.


"Ok, Just to the point, Mina mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder . Kondisi ini mengganggu kestabilan emosi dan perilaku nya!" Jawab Jay.


"Eum, ok thanks infonya, please.. rawat Mina dengan senang hati ya. Aku tak akan lupa mengabari mu setiap saat, aku tau kau dokter muda yang belum pernah mengalami pasien sepertinya bukan?" Tanya Yeonhee.


Jay hanya mengangguk pelan, sembari tersenyum. Mungkin hati nya berusaha sabar menghadapi Mina.


" Meski aku muda, namun semangat ku besar. Aku akan berusaha untuknya, karena bagiku ini pengalaman spesial untukku. " Suara berat Jay Menggema dalam lorong rumah sakit.


"I trust you, don't despair." Ucap ku terkekeh pelan.


Selepas itu aku meninggalkan tempat itu penuh kepedihan dan keperihan. Dalam lubuk hatiku aku merasa seperti ada pedang tajam yang menusukku dalam dalam. Menyakiti dan melukaiku.


Sampai jumpa Mina, aku ingin kau sembuh dan berkembang.


EPISODE 6 SELESAI.