4Boys

4Boys
not fine



Hari ini tepat delapan belas tahun cowok itu dilahirkan, ia adalah Mahen Al Kahfi. Salah satu cowok terkenal di sekolahnya. Mahen banyak di kagumi hampir seluruh siswa dan siswi di sekolah. Para siswa kagum karena Mahen itu berprestasi dan serba bisa, banyak poin plusnya bahkan selalu di banggakan oleh para guru. Selain itu, cowok kelahiran agustus ini juga banyak kenalannya karena sifat humble nya. Kalau para siswi kebanyakan sukanya karena Mahen Al Kahfi ini ganteng yang menjadi poin utamanya.


Mahen bahkan membuat undangan ulang tahun dua ratus lembar lebih, itupun belum yang di luar sekolah. Astaga pestanya ini sepertinya akan berlangsung meriah, tempat diselenggarakannya saja di ballroom hotel.


...****************...


Lia tidak ada hentinya menggoda Hanza, perihal kejadian tempo hari saat dirinya dan Mahen berada di wahana taman bermain. Lia terkejut dan tidak percaya awalnya saat melihat unggahan story di akun sosial media milik Mahen. Di postingan pertama Mahen ada foto diri Hanza yang sedang menunduk. Adalah saat cewek itu tengah membalas pesan dari sahabatnya, ternyata yang di maksud Lia adalah foto dirinya yang di potret diam-diam oleh kakak kelasnya itu kemudian di unggah ke story Mahen sendiri dengan caption mengundang tanya orang-orang yang melihat storynya tersebut. Lalu di postingannya yang kedua adalah saat dimana mereka berdua tengah menaiki komedi putar. Keduanya seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan, Hanza yang sesekali merekam Mahen terlihat seperti budak cinta yang begitu menyukai Mahen.


Banyak pesan masuk ke sosial media Mahen menanyakan siapa cewek di dalam unggahannya tersebut. Karena posisi Hanza saat di foto menunduk jadi wajahnya tertutup oleh sebagian rambutnya. Sedangkan di video sengaja ia menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.


Haikal yang tahu itu adalah Hanza si adik kelas gemes juga tak mau kalah cowok tujuh belas tahun itu terus-terusan menggoda kakak sepupunya itu. Aku yang berjuang kamu yang jadian, katanya. Yang di maksud Haikal adalah berjuang ingin mendapatkan seorang pacar, tapi malah Mahen yang duluan jadian. Padahal mereka--- yang melihat postingan hanya salah berasumsi.


"Ya kenapa sih emangnya, kal? Lo cemburu?" tantangnya.


"Kagak. Eh tapi iya sih. Lia kayaknya kurang suka sama gue bang masa dia malah bahas lo mulu." Jelas Haikal mengadu ke Mahen.


"Resiko jadi orang ganteng banyak yang naksir." Mahen tertawa percaya diri.


"Najis.. sombong lo!!" cibir Haikal.


"Haha."


...****************...


Pesta ulangtahun cowok itu diadakan malam pukul tujuh hingga selesai. Sekarang sepulang sekolah mereka, Lia dan Hanza sibuk memilih gaun mana yang akan mereka kenakan perihal kado sudah mereka siapkan satu hari setelah mendapatkan undangan dari Mahen.


Akhirnya setelah menghabiskan waktu satu jam lebih memilah gaun yang akan mereka kenakan saat ke pesta. Keduanya memilih gaun dengan warna senada putih hanya berbeda model.


Mereka telah sampai di tempat tujuan, Hanza dan Lia terperangah melihat betapa mewahnya pesta ulangtahun salah satu pentolan di ekskul musik tersebut. Mereka tidak percaya pesta ini hanya sebuah pesta ulangtahun, pasti ada sesuatu didalamnya, celetuk sahabat Hanza alias Lia. Cewek rambut panjang itu sepertinya keceplosan berucap seperti itu buru-buru ia mengalihkan perhatiannya ke yang lain. Cewek itu tidak lupa bahwa Hanza pernah bilang kagum dengan Mahen. Hanza langsung overthinking karena celetukan sahabatnya.


Hanza tersadar kala Lia menarik lengannya menuju stand dessert cake mini.


"Kamu kenapa, Han, aku perhatiin kamu melamun terus? Kepikiran yang aku ucapkan tadi, maaf ya aku gak sengaja ih, asal celetuk aja tadi itu."


Lia merasa bersalah pada sahabatnya itu, apalagi ditambah Hanza yang seorang pemikir.


"Ah gak kok, Li. Kepikiran kucing belum ku kasih makan." Jawabnya asal, padahal ia sama sekali tidak pernah memikirkan kucing Ayahnya itu, bukan tidak peduli hanya saja ia sedikit takut pada kucing.


"Ya kan ada papa mama kamu, terus juga kakak kamu." ujar Lia menenangkan kekhawatiran Hanza.


"Iya Li, kamu bener. Ga tau aja tiba-tiba kepikiran kucing papa hehe." kekehnya padahal tidak lucu sama sekali.


Tiba-tiba suara microphone di ketuk menarik perhatian meraka. Membuat keduanya mengalihkan perhatian pada seseorang yang berada diatas panggung kecil di depan.


Seseorang itu adalah Mahen sang pemilik utama acara. Ia memberikan atensi agar seluruh tamu undangan berkenan mendengarkan apa yang ingin sampaikan.


Pertama cowok itu mengucapkan banyak terimakasih pada tamu yang meluangkan waktu untuk hadir di pesta ke delapan belas tahunnya. Cowok itu sejak awal memberikan sambutan tak melunturkan senyum di wajah tampannya itu. Mungkin merasa bahagia.


"Terimakasih atas perhatiannya teman-teman yang hadir. Silakan nikmati acaranya." Tutupnya, ia melangkahkan kaki kearah orangtuanya.


Seorang gadis di hadapannya tak hentinya menatap Mahen dengan tatapan memuja. Sayang sekali cowok itu malah fokus dengan obrolan orangtuanya.


"Mahen dari tadi kau mengabaikan Maureen." Tegur ibu Mahen. Mahen melirik   gadis yang bernama Maureen itu.


"Ibu kan terus mengajakku mengobrol, mana sempat aku menyapanya." Bela Mahen, ia secara sengaja mengatakan ketidaksukaannya membuat Maureen menunduk.


"Baiklah kalau begitu, kami akan meninggalkan kalian berdua disini. Ayo, Yah." Ibu Mahen menarik lengan suaminya agar menjauh dari calon pasangan itu.


Cowok itu menghela nafas. Melirik Maureen, "Kau mau ikut denganku? Aku ingin menyapa teman-temanku."


Maureen yang tadinya masih menunduk mengangkatnya kepalanya, ia lalu mengangguk pelan. "Memangnya kau tidak keberatan mengajakku."


"Tidak. Ayo!" Mahen bahkan tak ragu menggenggam tangannya.


Di satu sisi ada seseorang yang merasakan patah hatinya, ia meremas lengannya, menggigit bibir bawahnya kecil. Ia benar-benar cemburu pada apa yang ia lihat. Ia memutuskan untuk pulang meskipun masih di awal acara ia tak peduli sama sekali yang penting hatinya dulu harus ditenangkan.


Bahkan ia meninggalkan sahabatnya, diketahui ia adalah Hanza. Ia hanya mengirim pesan singkat pada Lia dan memutuskan mematikan handphone miliknya. Tanpa ia sadari ada yang diam-diam mengikutinya.


Hanza, cewek itu menunggu berharap ada taksi yang lewat sekitar daerah itu. Haruskah ia meminta Ayahnya menjemputnya? Ia menggeleng seperti tidak setuju dengan usulannya sendiri. Masih menunggu selama beberapa menit lagi, cewek itu terkejut ketika ada yang menepuk bahunya tiba-tiba.


"Kak Jendra?" Saat ia menemukan Jendra yang berdada di belakangnya. Ia menghela nafas tenang, Hanza kira seorang penjahat.


"Ngapain disini?" Tanyanya lagi.


"Lo sendiri ngapain disini?" Malah balik bertanya, cowok itu tahu alasannya dibalik Hanza berada disini, pasti Hanza cemburu pada Maureen, calon tunangan Mahen. Jendra menyimpulkan Hanza menyukai Mahen, si cowok receh yang tampan itu. Karena sedari tadi Jendra juga memperhatikan bagaimana Hanza menatap Mahen dan calon tunangannya.


"Aku gak enak badan kayaknya, kak. Jadi aku putuskan untuk pulang lebih awal daripada aku kenapa-kenapa." Jawabnya tersenyum kecil. Jelas saja semua itu bohong membuat cowok yang mengetahui fakta sebenarnya tersenyum miris.


"Kak?" Hanza membuyarkan lamunan Jendra.


"Oh gitu, ya udah gue anter lo deh kasihan."


"Gak usah kak, aku tunggu taksi aja."


"Percaya deh sama gue taksi jarang lewat sini kecuali taksi online."


"Ya udah aku pesan taksi online aja." kata Hanza mengambil handphone di sling bag nya.


"Gue anter lo, Za. Lo kan sakit. Gue khawatir. Ayo jangan nolak!" Jendra menarik lengan Hanza, mau tidak mau cewek itu mengikuti langkah besar Jendra menuju basemen hotel.


"Gue gak ada niat buruk sama lo beneran." Ucapnya tanpa menoleh ke belakang sama sekali.


"Masuk." Titahnya pada Hanza, membuat cewek itu langsung masuk kedalam mobil mewah milik Jendra karena cowok itu sudah membukakan pintu untuknya.


"Kak Jendra makasih udah mau nganter aku pulang, tapi gimana sama acaranya, nanti kakak dikira gak dateng lagi."


"Udah ketemu kok tadi,"


"Oh." Hening lagi.


Selama perjalanan mereka hanya beberapa kali bicara, itupun Jendra yang menanyakan secara detailnya alamat cewek itu, dan Hanza pun hanya menjawabnya setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka.


"Udah sampe, Za." kata Jendra, cowok itu melepas seatbelt nya. Hanza yang melihat itu heran lalu bertanya kenapa.


"Gue anter sampe rumah lo ya, sekalian mampir bentar." ujar Jendra yang membuat Hanza terkejut.


"Gak boleh?"


Buru-buru Hanza menggeleng, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasihnya pada Jendra karena sudah mengantarkannya pulang dengan selamat.


"Boleh kok, ya udah kak yuk masuk." Cewek yang belum genap berusia enam tahun itu berjalan terlebih dulu. Ia membuka pagar lalu pintu rumahnya.


Saat Hanza membuka pintu, cewek itu di kejutkan dengan adanya tamu lain yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Lebih tepatnya kakak Hanza yang bernama Dimas bersama pacarnya.


"Kak. Hehe. Sorry. Aku kira gak ada orang disini." ucapnya malu melihat kakaknya yang tadinya saling pegangan tangan langsung melepas satu sama lain saat tidak sengaja kepergok Hanza.


"Yaa, sana masuk kamu!" Usir kakaknya,


"Tapi aku bawa teman kak." Bingung Hanza lalu menoleh ke belakang ada Jendra yang baru berniat masuk ke dalam.


"Oh, bawa aja ke ruang keluarga sana ada papa, mama sama adek-adekmu." Jelasnya pada Hanza, yang di maksud adek-adek disini adalah kucing peliharaan Ayahnya, katanya anggaplah mereka seperti adik kalian, begitu kata papa Hanza.


"Adekmu juga kali, kak." Kekeh Hanza, Jeno dan pacarnya Dimas yang mendengar pertengkaran kecil itu hanya tersenyum tipis.


"Yuk, kak." Hanza menggandeng lengan Jendra, yang membuat kakaknya julid. "Itu temanmu apa calon pacarmu, dek?"


Hanza tak menjawabnya ia teru berjalan ke arah ruang keluarga.


"Ma, Pa." Kedua orang tuanya menoleh. Ayah Hanza terkejut tentu saja, Pria paruh baya itu pertama kali melihat putrinya membawa seorang cowok ke rumah.


Ayah Hanza memainkan mata seolah bertanya siapa yang putrinya gandeng itu.


Hanza buru-buru melepaskan tautan lengannya, "Oh iya ini kak Jendra ma, pa."


"Jendra om, tante." Jendra memberi salam pada orangtua Hanza dengan sopan. Cowok itu mengedarkan pandangan mencari adik-adik Hanza. Ia tak menemukan siapapun lagi selain kedua orangtua Hanza dan juga kedua kucing berjenis persia tidur di sofa khusus kucing.


"Kenapa kak Jen." Rupanya tingkahnya barusan tidak luput dari pandangan Hanza.


"Enggak, aku nyari adek kamu, Za. Kemana mereka?" Tanyanya dengan raut wajah yang bingung membuat cewek itu dan kedua orangtuanya tertawa.


"Itu mereka lagi pada bobo gemes." Tunjuk Hanza pada kedua kucingnya yang sedang tertidur.


"Oh.. aku kira adek beneran gitu, hehe maaf yah."


"Udah kak, tadi kakak sempat makan gak di sana atau kakak mau balik lagi kesana?" Tanya cewek itu seperti mengusir secara halus.


"Hmm.. iya deh aku balik lagi kesana." Jawab Jendra akhirnya, cowok itu lebih baik dulu saja kali ini. Lagi pula ia canggung disini lain kali saja pendekatannya.


"Kok cepat benget, nak Jendra?" tanya mama Hanza,


"Karena kak Jendra harus balik lagi acaranya belum selesai, maa." Hanza yang menjawab.


"I--iya tante, acara kak Mahen belum ke intinya. Tadi aku ijin anterin Hanza karena katanya gak enak badan."


"Ya udah hati-hati di jalannya. Adek anterin ke depan sana, kakak kelasmu ini."


"Iya-iya mama."


"Om, tante aku pamit."


Dimas, sang kakak penasaran melihat adiknya kembali ke depan rumah karena hanya beberapa menit saja, bahkan lima menit saja kurang.


"Bentar banget pacarannya dek?" Godanya.


"Aku gak pacaran ya kak, cuman mau bilang kalau kak Jendra yang udah nganterin aku pulang dengan selamat, udah sih gitu aja."


"Dek, gak boleh gitu kasihan gak di anggap pacarnya. Eh siapa namanya?" Dimas melirik Jendra.


"Jendra, bang."


"Oke gue catat ya nama lo."


"Apaan sih kak, udah ah yuk kak Jendra!" Hanza mengapit lengan Jendra dan segera meninggalkan ruang tamu.


"Dih posesif, gak boleh banget pacarnya ngobrol sama gue."


Setelah sampai depan pagar ia tersadar dengan apa yang ia lakukan, buru-buru cewek itu melepaskannya. "Eh kak maaf reflek tadi itu.


"Iya gak apa-apa, gue sih kesenengan hehe."  Jendra tersenyum sampai matanya seperti bulan sabit. Hanza menatapnya lucu jadi ia tertawa kecil.


"Nah gitu dong ketawa.."


"Emang kenapa kak?"


"Enggak sih, ya khawatir aja dari tadi gak senyum-senyum. Oh iya gue mau kasih sedikit info nih."


"Apa?"


"Cewek tadi yang sama bang Mahen itu namanya Maureen, calon tunangannya. Dan gue denger juga sih malam ini sekaligus pertunangan mereka." Tiba-tiba Jendra menjelaskan, ia merasa Hanza berhak tahu.


"Ha? Beneran? Kak Mahen kan masih muda kak." Hanza terkejut bukan main.


"Ya iya emang. Namanya juga perjodohan.. Eh---" Sepertinya Jendra keceplosan bicara, ini terlalu banyak informasi.


"Oh.. gak apa-apa kak atau ini itu sebenarnya rahasia diantara pertemanan kalian ya?"


"Ya gitu,"


"Tenang aku bisa jaga rahasia." katanya tetap tenang padahal hatinya tidak baik.


"Oke. Gue balik sekarang ya. Sana masuk sekarang aja."


"Nanti aja nungguin kakak pergi dulu gak enak akunya kak."


"Gue masuk mobil sekarang. Bye Hanza~"


Hanza melambaikan tangannya, setelah mobil Jendra melesat pergi. Ia kembali berpikir tentang Mahen. Pantas saja pestanya meriah sekali ternyata sekalian acara pertunangan. Cewek itu masuk kedalam rumahnya, ia langsung masuk ke kamarnya tanpa ingin di ganggu cewek itu sengaja mengunci pintu kamar bahkan handphonenya belum ia nyalakan lagi. Hanza hanya butuh ruang malam ini