
Hari ini seorang cowok pemilik mata bulat sabit ketika tersenyum itu memutuskan untuk menyelesaikan tantangan dare tempo hari yang belum ia laksanakan.
Bermodalkan kontak yang dikirim dari Mahen, Jendra cowok kelahiran bulan April tujuh belas tahun silam itu mencoba mengirim pesan pada targetnya--- cewek yang keluar dari balik pintu toko buku kala itu.
Jendra tidak mengganti nama kontak Hanza sama sekali, masih dengan nama yang dikirim oleh Mahen tidak ada penambahan ataupun pengurangan.
...Hanza Ekskul Musik...
^^^Hai^^^
Siapa ya
^^^Jendra, anak basket.^^^
Ada perlu apa ya kak?
^^^Gue mau kenalan sama lo.^^^
Hanza
Ekskul Musik.
^^^Lo tau gue kan.^^^
Hanza yang berbaring rebahan dikasur empuknya mengecek handphone nya karena adanya notifikasi pesan yang belum ia ketahui dari siapa.
...+62 xxx xxx xxx...
Hai
'siapa sih'
Walaupun sedikit geli Hanza akhirnya membalas pesan yang belum ia tahu dari siapa.
^^^Siapa ya.^^^
Jendra, anak basket.
'kak Jendra? kok bisa dia chat aku?
jangan-jangan tentang dia kena dare itu beneran. kalau iya aku harus hati-hati.'
^^^Ada perlu apa ya kak?^^^
Gue mau kenalan sama lo.
'ckck sudah kuduga. aku tidak akan terbawa perasaan.'
^^^Hanza^^^
^^^Ekskul Musik.^^^
Lo tau gue kan.
'iya lah tau. kakak mata bulan sabit ckck. udah ah aku malas balas chat dari dia.'
Hei bales.
Bantuin gue.
Plis.
^^^Bantuin apa kak.^^^
Anterin gue nyari kado.
Buat ponakan.
'modusnya berbeda dengan saat itu. waktu itu kak Jendra cenderung to the point. Yang sekarang kenyataan malah basa basi busuk.'
^^^Kemana^^^
Jawab dulu !!
Mau apa enggak
^^^Iya boleh.^^^
Gue jemput.
...****************...
Sementara itu cowok berumur delapan belas tahun kini tengah sibuk di kamarnya berusaha berpenampilan agar ia tidak dikenali. Jaket denim hitam, celana jeans hitam, topi hitam serta masker dan kacamata hitam. Alih-alih tidak dikenali bukankah itu tampak mencolok berpenampilan seperti seorang idol saja.
Masa bodoh katanya, yang penting mukanya tertutup tidak terlihat seperti seorang Mahen Al Kahfi.
Mahen sedang dalam misi penyamaran. Misi apakah itu? Misi menjadi seorang penguntit temannya yang akan melakukan tantangan dare tempo hari.
Target terlihat, mereka--- Jendra dan Hanza memasuki sebuah mall. Mahen mengumpat kecil saat Jendra dengan sengaja menautkan jemari tangannya pada jemari tangan milik Hanza.
Jendra dan Hanza, mengantri untuk membeli tiket bioskop dan memilih film horor. Setelah mereka mendapatkan tiketnya. Seseorang menyusul dan membeli tiket yang sama serta meminta posisi duduk yang dekat dengan keduanya.
Meskipun Mahen sendiri takut akan film horor, ia tetap memaksakan diri untuk berjaga-jaga siapa tahu Jendra melakukan hal-hal yang tidak Mahen inginkan.
Kini mereka sudah pada posisi duduk sesuai tiket yang dipesan. Jendra dan Hanza duduk sangat pojok dan Mahen berada tepat di kursi belakang mereka.
'Jen, lo benar-benar ya!! Awas aja kalau sampai berbuat yang iya-iya.' batin Mahen.
Film berputar di menit-menit awal belum di munculkan sosok horor nya, namun tetap saja backsound-nya terdengar menegangkan membuat bulu kuduk merinding.
Teriakan menggema di dalam teater bioskop saat tiba-tiba sosok pemeran utamanya muncul yaitu hantu, namanya juga film horor. Jangan lupakan ada si penakut Jendra dan Mahen di dalam sana sudah pasti teriakan mereka tadi bercampur dengan teriakan penonton yang lain.
Jendra yang penakut itu, menautkan jari tangannya pada tangan milik Hanza. Hanza sendiri sepertinya tidak sadar sedang di modusin cuma mengusap bahu cowok disampingnya itu untuk menenangkannya.
Mahen yang dibelakang berdehem sedikit keras membuat Hanza melepaskan tautan tangannya dari Jendra dan kembali fokus menonton film didepannya.
Akhirnya film pun selesai.
Hanza dan Jendra keluar dari teater dengan Hanza yang tidak bisa menahan tertawa karena cowok keren disebelahnya ini takut hantu?
"Sudah dong, Za. Jangan ketawa terus gue malu nih."
"Lucu tahu, kak. Seorang Jendra Putra Novian ternyata takut hantu."
Jendra sendiri sudah memasang wajah malas tanda tidak suka dengan kekehan Hanza.
"Sorry, kak. Pppffttt---" Karena masih tidak kuat ia kembali tertawa.
"Za... Berhenti atau gue cium lo disini."
Mahen yang berjarak lima meter dari mereka masih dapat mendengar meskipun sedikit samar meremat tangannya sendiri.
'awas aja sampai lo berani kayak gitu!'
Hanza dengan cepat mengehentikan tawanya. Menipiskan bibirnya kedalam, menahannya agar tidak tertawa lagi.
"Hehe. Btw, mau beli kado apa kak buat ponakan?"
Jendra melupakan niat atau modus awalnya kan mengantar membeli kado.
"Um... apa ya?"
"Ponakan kak Jendra, cewek?"
"Iya, masih kecil lagi umur lima tahun."
"Kalau masih kecil sih, kasih aja boneka atau mainan masak-masakan."
"Boleh juga, kalau gitu yuk cari."
...****************...
Jendra meminta Hanza memilihkan boneka yang cocok untuk keponakannya. Mulai dari mengambil boneka gorila yang ukurannya lumayan besar.
"Yang ada ponakan kakak nangis!"
Jendra kembali mengambil boneka kali ini boneka seram seperti chucky.
"Kak Jen, nanti mimpi buruk ponakannya."
Boneka beruang berwana merah fanta dengan senyum manis berukuran sedang, menjadi pilihan Hanza. Lalu ia membawanya kearah Jendra yang masih sibuk memilih boneka-boneka yang tak kalah absurd dari yang tadi.
"Nih kak." Hanza menyerahkan boneka pilihannya. "Lucu kan?" Dengan pipi yang di gembungkan.
"Iya lucu banget. Jadi pengen gigit pipi lo."
"Heh. Gak boleh!!"
Jendra cuman ketawa.
"Abis ini pulang, kak?"
"Enggak dong, kita makan dulu. Gue lagi pengen makan ramen nih."
"Oh ya udah."
"Lo mau makan ramen juga?"
"Iya kak, mau!"
"Kita ke kasir dulu buat bungkus bonekanya!"
"Iya."
...****************...
"Ramen disini emang enak loh, kak."
"Oh ya? Lo pernah kesini?"
"Iya bareng teman aku." Katanya lalu menyeruput kuah ramen dari mangkuknya langsung.
"Hei... Pelan-pelan gimana kalau tumpah masih banyak itu!"
"Hehe."
"Sorry. Gue bantu bersihin bibir lo ya." Jendra mendekatkan sedikit wajahnya dan mengusap pelan bibir Hanza yang belepotan oleh kuah ramen tadi.
Hanza mulai berpikir yang tidak-tidak apakah Jendra akan menciumnya? Dilihat dari mata Jendra yang masih belum beralih dari bibirnya dan sedikit memiringkan kepalanya.
Matanya masih berfokus pada bibir Hanza semakin mendekatkan wajahnya lagi kurang dari lima senti---
Dan brak!!
Seseorang yang duduk tepat di samping meja mereka menggebrak mejanya sendiri yang membuat pengunjung lain menatap kearahnya termasuk Hanza dan Jendra yang sudah menjauhkan diri masing-masing.
"Ah maaf-maaf!" Katanya membungkukkan kepalanya berkali-kali kemudian pergi membayar makanannya.
"Kayaknya dia artis deh, kek Jen?"
"Huh?"
"Orang aneh tadi. Dia artis kayaknya. Lihat aja penampilannya sok misterius."
"Gue gak peduli!" Dia udah ganggu momen gue tadi!
"Um... Za, kita foto bareng yuk? Mau gue masukin story."
"Boleh kak."
Hanza mulai memasang pose peace andalannya dan menatap kearah kamera sama halnya dengan Jendra, ia tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.
"Sekali lagi ya, Za?"
Tanpa menunggu jawaban, Jendra merapatkan dirinya ke Hanza dan merangkul bahunya, kemudian menolehkan wajahnya kesamping kearah pipi Hanza.
Satu,
Dua,
Tepat di hitungan ketiga,
"Jendra!!" Suara teriakan dari pintu masuk restoran menggema membuat Jendra diikuti Hanza menoleh kearah sumber suara.
'haha.. Jen, jangan lu apa-apain, adek gemes gue' Mahen tak dapat menahan senyumnya, saat ia sudah menggagalkan rencana Jendra. Masa bodoh dengan rasa malunya yang penting Hanza tidak dicium Jendra.
Mahen berjalan mendekati meja dimana Jendra dan Hanza duduk. Jendra sendiri sudah pasti mengumpat dalam hatinya kerena rencananya gagal dua kali.
"Bang Mahen, ngapain lo disini?"
"Gak sengaja lewat tadi terus gue lihat lo sama dia di dalam sini, jadi gue samperin aja."
"Ngapain duduk disini, bang?"
"Oh gak boleh nih. Gue ganggu 'kencan' kalian ya?"
Hanza menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, kak. Kita enggak kencan. Aku cuma nemenin kak Jendra beli kado buat ponakannya."
"Oh ya?"
"Iya kak."
"Pergi lo, bang! Ganggu tahu gak!"
"Kata Hanza aja gue gak ganggu, kok lo keberatan?"
"Bang!!" Jendra mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Mahen. "Gue kan lagi ngelakuin dare dari kalian. Lo lupa?"
"Apa? dare?" Kelihatan sengaja sekali Mahen ngomong itu agar bisa didengar Hanza.
"Pelan-pelan dong, nanti dia dengar!"
"Dare?" Tanya Hanza memastikan.
"Anu... dare apaan, Za."
"Jangan bilang kak Jendra tiba-tiba ngajak aku jalan karena dare?"
"Um... Anu... Itu... Enggak kok, Za."
"Aku dengar semuanya kok tadi."
Mahen sendiri bukannya menolong Jendra dari tuduhan ya meskipun itu benar, ia malah menahan senyum melihat dua orang yang sedikit berdebat karena ulahnya.
"Kak Jendra tenang aja, aku gak marah sama sekali."
Jendra dan Mahen kompak menatap Hanza, harusnya cewek ini marah dong karena jadi bahan taruhan. Tapi, yang dilakukan cewek ini justru senyum.
"Sorry!! Gue gak ada maksud apa-apa kok, beneran." Ujar Jendra.
"Gak sampai bawa perasaan kan lo, Han?" Tanya Mahen sedikit khawatir.
"Enggak kok, kak." Hanza menggeleng pelan. "Aku tahu diri kali, aku gak pantas buat kak Jendra yang keren dan populer. Aku cuman Hanza siswi biasa yang gak menarik sama sekali." Menjeda ucapannya kemudian melanjutkannya lagi. "Kalau gitu aku pulang duluan ya, kak Jendra..." Kemudian melirik Mahen "...kak Mahen."
Hanza sudah mengangkat diri dari kursi dan meninggalkan restoran Jepang itu, menepuk kepalanya ia lupa membayar makanannya. Masa bodoh!! Biar Jendra saja yang membayar.
Kenapa Hanza bersedih? Bukannya ia sudah ada firasat kalau ia jadi target dare dari Jendra, ia hanya malu ditambah ada Mahen tadi, ia harusnya tidak mengiyakan ajakan Jendra. Tapi bisa saja Jendra memberitahukannya tadi kemudian minta maaf dan selesai. Tapi karena ada Mahen yang tiba-tiba datang rencananya jadi berbeda. Sekarang cuman rasa menyesal yang ia rasakan dan malu pastinya karena menjadi bahan taruhan orang.
Sementara itu Mahen dan Jendra masih di restoran Jepang tadi belum beranjak sama sekali setelah Hanza pergi.
"Bang Mahen ganggu rencana gue tahu gak!"
"Rencana mesum lo?"
"Maksud lo apaan, bang?"
"Gue liat tadi lo mau cium pipi dia."
Jendra berdehem kecil. "Itu... Lupakan bang!" Mengalihkan pembicaraan. "Tadinya rencana gue mau ngomongin kalau gue kena dare lalu bakalan minta maaf ke dia. Eh, bang Mahen ganggu semuanya jadi gagal, dia bakal benci gue kayaknya."
"Ya itu resiko lo, Jen."
"Tetap aja bang, gue gak enak hati sama dia. Dia tulus banget tahu bang, udah cantik, bikin gue gemas sama dia, pengen gue gigit pipinya." Ujar Jendra membayangkan Hanza yang tengah menggembungkan pipinya tadi.
"Enak aja!!"
"Kenapa, terserah gue dong."
"Gak boleh. Dia masih kecil tahu, jangan lo nodain kepolosan dia!"
"Halah, bilang aja lo cemburu."
"Btw, penampilan lo kayak orang aneh tadi."
"Huh?" Mahen melirik setelan serba hitam-nya yang membedakan ia menanggalkan kacamata, masker dan topi hitamnya saja.
"Tadi ada orang aneh yang ganggu momen gue yang nyaris aja mau ciuman sama Hanza."
Mahen berdehem kecil. "Jendra, kalau mau mesum lihat tempat dong!!"
"Hehe, tapi tadi momennya pas banget!"
"Di bioskop kagak sempat, boro-boro mau modus gue sibuk berdo'a pas di dalem bioskop takut hantunya keluar beneran."
"Heh!!" Mahen menggeplak lengan Jendra. "Dibilangin dia masih kecil, masih aja lo ya mau modusin Hanza." Menggeplak lagi kali ini lebih brutal dari sebelumnya.
"Ampun bang!" Jendra meringis kesakitan.