
Rupanya Maureen tidak menyerah, kali ini targetnya bukan lagi mengejar Mahen tapi menyiksa Lia yang tidak salah apa-apa. Terhitung sudah tiga hari ini Lia selalu menemukan sampah didalam loker miliknya, ia tidak tahu siapa pelakunya, Lia itu anak baik-baik tidak punya musuh di sekolah. Tapi kenapa ada yang tega memasukkan sampah kedalam loker miliknya?
Setelah di selidiki oleh Mahen dan teman-temannya, pelakunya adalah Maureen. Meskipun berbeda sekolah dengan mereka rupanya cewek itu membayar salah satu siswa di sekolah ini untuk melakukan teror pada Lia.
Mahen merasa bersalah pada Lia. Lia jadi kena getahnya juga akibat penolakan yang Mahen lakukan terhadap Maureen.
Mahen merasa pesta ulang tahunnya itu adalah paksaan, yang mana sebenarnya pesta itu adalah sebuah pesta pertunangan paksa berkedok pesta ulang tahun Mahen. Mahen sudah mengira itu sebelumnya. Awalnya Mahen tidak ingin ulang tahunnya di rayakan pesta apalagi sampai besar-besaran. Mahen sudah dewasa, sejujurnya ia tidak membutuhkan itu, dirinya juga merasa malu dengan perayaan ulang tahun.
Satu bulan sebelum pesta ulang tahun Mahen. Saat itu Mahen tidak sengaja mendengar Ibunya melakukan panggilan dengan rekan bisnisnya. Ibunya berulang kali mengajukan penolakan mana namanya ikut disebut juga, pesta, ulang tahun dan juga tunangan. Apa hubungannya? Cowok itu masih menguping sampai panggilan Ibunya berakhir.
Mahen pergi ke kamarnya. Dirinya merasa tidak enak dengan perasaannya saat ini. Apa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi? Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ibunya masuk kedalam tanpa menunggu ijin darinya.
"Nak, ada yang ingin Mama katakan padamu." Ucap Ibunya.
"Apa Ma?" Sahut Mahen penasaran apa yang akan ibunya sampaikan. Apa ini ada hubungannya dengan percakapannya di telfon.
"Kau sudah besar yah sekarang, delapan belas tahun." Ibunya tersenyum mengusap lembut rambut Mahen.
Mahen tersenyum kecil, cowok itu hanya diam menunggu kalimat apa lagi yang akan Ibunya ucap.
"Lihatlah ini." Ibunya menyodorkan ponsel miliknya yang tengah menampilkan foto seorang gadis cantik dengan balutan dress berwarna biru muda. "Dia cantik, kan?" Mahen mengangguk pelan menanggapinya.
"Kau suka?" Tanya Ibunya lagi.
"Maksudmu, Ma?" Tentu Mahen heran kenapa ibunya tiba-tiba mengenalkan seorang gadis padanya.
"Lihat foto gadis cantik ini, kau menyukainya atau tidak?" Tanya wanita berusia empat puluhan itu.
"Tentu saja tidak. Aku tidak mengenalnya sama sekali." Sahut Mahen cepat membuat ibunya terheran.
"Dia anak gadis dari rekan bisnis Papa, nak." Bujuk ibunya lagi tidak berhenti.
"Lalu apa hubungannya denganku, Ma?" Tanyanya mulai jengah. Dirinya tahu kemana arah pembicaraan ini. Dijodohkan.
"Namanya Maureen, dia menyukaimu Mahen anak Mama yang ganteng." Itu poinnya. Ibu Mahen menangkup pipi anak kesayangannya. Sedangkan cowok itu cemberut tidak suka.
"Tapi aku tidak." Jawabnya jujur dengan wajah yang masih cemberut. Ibunya Mahen menghela nafas tahu Mahen akan menolak ini.
"Ayahnya Maureen meminta kau agar bersama dengan putrinya atau.." Ibunya Mahen tidak melanjutkan kata-katanya karena anaknya itu memotong kalimatnya dengan cepat.
"Atau apa?"
"GuanGroup akan mencabut dana di perusahaan keluarga kita." Ucap Ibunya menatap Mahen penuh harap. GuanGroup adalah salah satu investor terbesar di perusahaan keluarga Mahen. Jika perusahaan besar itu mencabut dana yang telah mereka tanamkan kemungkinan besar saham perusahaan keluarga Mahen akan anjlok.
"Itu pilihanmu, Mahen. Maaf mama hanya harus mengatakan ini." Ibu Mahen harus mengatakan ini pada anaknya. Walaupun ada perasaan sesal dihatinya sebenarnya.
...****************...
Dua sahabat itu tengah duduk santai di kursi panjang pinggir lapangan sekolah. Lia tersenyum kecut teror itu masih di lakukan sampai hari ini terpaksa ia mengosongkan lokernya sementara waktu sampai entah kapan. Hanza merasa kasihan dengan sesuatu yang menimpa sahabatnya itu. Dalang dibalik ini semua masih Maureen. Apa ini karena Mahen yang menolak cewek itu karena salah paham mengira Lia adalah seseorang yang disukai Mahen, Maureen jadi menargetkan Lia sebagai pelampiasan marahnya.
"Menyebalkan sekali cewek yang namanya Maureen itu ya, Han." Ucap Lia tanpa memandang Hanza, Lia fokus menatap lapangan dimana salah satu ekskul olahraga bertanding.
Hanza mengangguk, dirinya menatap wajah Lia dari samping terlihat sekali cewek yang lebih tua beberapa bulan darinya itu menunjukkan raut datar seperti sedang tidak baik-baik saja. "Hm. Cewek itu bersikukuh ingin bersama kak Mahen mungkin. Dia melakukan itu berharap kak Mahen menerima. Sungguh ide gila merugikan orang lain, bukan?" Ucapnya bertanya.
"Hanza, seandainya pertunangan mereka terjadi bagaimana perasaanmu?" Lia mengalihkan wajahnya menjadi menatap sahabatnya. Cewek itu menaikan alis menunggu jawaban apa yang akan Hanza ucap.
Hanza diam sebentar tidak langsung menjawab pertanyaan yang menohok hatinya itu. "Ya mau bagaimana lagi mungkin sudah takdir." Cewek itu mengangkat bahu.
"Masih ada kak Jendra iya kan?" Lia mulai tersenyum sekarang dengan menggoda Hanza adalah hiburan tersendiri baginya.
Hanza tidak bisa untuk terkejut kenapa nama Jendra Putra ikut terseret. "Kenapa kamu bawa-bawa nama kapten basket." Protesnya dengan suara agak kecil agar orang lain tidak mendengar.
"Kamu pikir aku tidak tahu ya. Kalian pernah jalan bersama ke mall udah lama sih kejadiannya aku lupa terus mau bilang ini sama kamu, Han." Hanza melotot ia kira selama ini tidak ada yang tahu. Hanza jadi merasa bersalah pada sahabatnya itu karena tidak pernah bercerita tentang dirinya yang pernah jalan bersama Jendra. Kalau untuk Mahen kan Lia sudah tahu karena cewek juga bersamanya kala itu.
"Hehe. Maaf Li aku gak pernah cerita sama kamu." Ucapnya dengan perasaan sedih.
"Gak apa-apa Han, toh udah lama juga. Mungkin kamu butuh waktu aku pikir." Lia mengusap bahu Hanza pelan agar sahabatnya itu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lia hanya ingin menggoda Hanza saja awalnya.
Hanza mengangguk lalu tersenyum kecil. "Itu juga alasan aku meminta kak Jendra untuk mengantarkan kamu pulang waktu ulang tahun kak Mahen." Cewek itu tertawa hingga matanya terlihat segaris.
"Jadi, kamu pilih kak Mahen atau malah pindah haluan ke kak Jendra." Goda Lia lagi. Hanza hanya memutar bola matanya malas, Lia yang jahil telah kembali.
"Lihat kak Jendra menatap kearah kita." Tunjuk Lia menggunakan dagu membuat Hanza melirik ke arah lapangan, benar saja Jendra menatap kearah Lia dan dirinya. Cowok itu tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit kemudian kembali bermain basket.
"Cie Hanza.." Heboh Lia memukul pelan bahu Hanza. Cewek itu tersenyum malu. Dia bukan percaya diri kok, hanya saja.. entahlah.
...****************...
Lia sendirian menunggu jemputan datang. Hanza sudah pulang terlebih dulu karena cewek itu pulang menggunakan bis umum. Sebenarnya Hanza ingin menemaninya sampai sopir nya tiba tapi Lia menolaknya karena kasihan pada Hanza apalagi cuaca agak mendung.
Masih menunggu jemputannya yang belum tiba juga. Lia melihat ada sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di depannya. Lia heran ini bukanlah mobil jemputannya. Lia mencoba berpikir positif mungkin saja jemputan siswa yang lain mengingat masih banyak siswa yang belum pulang. Entah karena ekskul, tugas tambahan, atau latihan.
Dua orang pria keluar dari mobil itu. Lia agak takut dengan badan mereka yang besar-besar. Lia melihat sekitar kanan kirinya mencoba menghampiri siapa saja yang terdekat namun sebelum rencananya itu berhasil kedua tangannya ditarik paksa oleh satu dari mereka satu lagi membekap mulutnya dengan sapu tangan setelahnya Lia tertidur tak sadarkan diri. Dirinya terbangun setelah lumayan lama karena sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam di sebuah gudang kotor dan berantakan dengan keadaan tangan dan kakinya yang terikat, mulutnya juga dililit kain. Lia merasakan ketakutan luar biasa, seumur hidupnya tidak pernah bermasalah dengan orang lain kecuali.. Maureen Gista.