
Reyhan Fauzi
Kira-kira bagaimana cara buku ini bekerja ya. Hanza sudah menulis nama Reyhan tapi tidak terjadi apa-apa hari ini, Hanza bahkan belum melihatnya ini sudah jam istirahat biasanya dia -Reyhan sudah di kantin bergabung dengan kak Mahen.
Dari pengamatan Hanza sih Reyhan itu orangnya kalem dan baik tidak tahu kalau sudah dekat.
Hanza menyeruput jus mangga yang dia pesan lalu menghabiskannya hingga habis berniat menyudahi acara memperhatikannya karena orang yang di tunggu yang tidak kunjung datang.
Sedang asyik membayangkan kak Reyhan-nya itu datang sebuah bola basket menghantam bagian kepalanya cukup keras membuatnya meringis kesakitan kalau di drama-drama sih pasti sudah pingsan.
Tapi tidak dengan Hanza, dia tidak tahu bagaimana caranya pingsan. Dia hanya bisa meringis memegang kepalanya sambil menahan malu tentu saja ini jam istirahat banyak siswa-siswi di luar kelas.
"Maaf gak sengaja."
Suara itu Hanza hafal, Reyhan Fauzi.
"Iya lain kali hati-hati, kak." Jawabnya ketus.
Siapa yang tidak kesal terkena lemparan bola meskipun orang yang melempar adalah orang yang ganteng tetap saja tidak bisa membuat rasa kesalnya hilang
"Kita ke UKS ya. Aku antar, nanti ku obati luka kamu."
Reyhan membantu Hanza berdiri dan mengantarnya ke UKS.
"Maaf, biar kulihat apa ada yang luka." Ujar Reyhan sopan setelah mendudukkan Hanza di ranjang UKS. Posisi Reyhan berdiri di depan Hanza mencoba melihat keadaan kepala cewek itu.
"Enggak perlu, kak. Lagipula gak luka cuma bikin pusing aja. Kakak bisa tinggalkan aku sendiri ada petugas kok disini aku bisa minta tolong ke mereka." Tolak Hanza masih memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Reyhan sendiri masih kukuh dengan ucapannya bersikeras ingin mengobati Hanza.
"Gak bisa. Aku harus tanggung jawab. Aku gak mau di omongin orang-orang karena menelantarkan kamu."
Kenapa cara dekat dengan kak Reyhan harus gini sih, gara-gara ketimpuk bola. Kan gak elit sama sekali.
Hanza membuang nafas dan terdengar jelas oleh kuping Reyhan.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanyanya khawatir.
"Enggak kak. Lihat aja gak kenapa-kenapa, cuma benjol dikit." Elaknya menunduk kemudian memegang bagian kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Kamu anak ekskul musik kan?"
Pertanyaan Reyhan yang tiba-tiba itu membuat Hanza mendongakkan kepalanya mata bulatnya menatap Reyhan yang tangannya berada di kepala Hanza.
"Kok kakak tahu?"
"Siapa yang gak bakal tahu sih, kalau kamu secara terang-terangan lihat kearah kumpulan anak paduan suara terus tepatnya kearah aku. Bukannya fokus ke ekskul kamu, mata kamu malah kemana-mana." Ujar Reyhan diakhiri kekehan kecil.
Hanza tambah membulatkan matanya tak percaya akan penuturan Reyhan.
"Kamu suka aku ya?" Tanya Reyhan percaya diri. Salahkanlah Hanza yang membuat Reyhan menjadi sepercaya diri itu, iya Hanza memang terang-terangan kalau memperhatikan orang. Membuang muka dan merasa malu ketika terciduk sebagai pelaku.
Masih bungkam tak percaya ditambah malu Hanza tidak pernah menyangka akan di interogasi langsung oleh korban mata jelalatannya. Mungkinkah Reyhan tidak nyaman? Dan memintanya untuk berhenti memperhatikannya karena ia tidak suka.
Malu malu malu
"Anu... Itu... Um..."
"Apa?"
"Maaf kalau membuat kakak risih."
Hanza menundukkan kepalanya.
"Aku minta maaf kalau kakak merasa tidak nyaman karena diperhatikan olehku."
"Awalnya sih begitu. Aku merasa tidak nyaman. Kayak 'apa sih orang itu tidak jelas'."
Reyhan menatap Hanza sedangkan tangannya masih berada di kepala cewek itu kemudian turun ke pipi dan mencubitnya pelan membuat rona merah muda muncul di kedua pipi Hanza.
Reyhan tersenyum dan berucap. "Kamu lucu."
"Bagaimana kalau pulang sekolah kita kencan?" Tanyanya, tapi lebih ke sebuah ajakan.
Pulang sekolah?
Kencan?
...****************...
Reyhan menepati ucapannya. Sekarang saja tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi dia langsung bergegas menuju kelas Hanza.
Menunggu cewek itu yang masih mengemasi buku kedalam tasnya.
Hanza tersenyum ini kencan pertamanya selama ia hidup, meskipun ia tahu ini hanyalah fantasi yang akan lenyap ketika mereka selesai berkencan, tapi tetap saja ia merasa senang bisa merasakan kencan dengan salah satu siswa populer di sekolahnya dan ia sangat penasaran akan hal itu.
Akhirnya, karena Reyhan yang mengajak pergi berkencan jadi cowok itu yang menentukan kemana mereka akan pergi ke--- game center.
Reyhan memainkan permainan capit boneka dipercobaan pertama dia gagal keduapun juga gagal, sekarang percobaan ketiga.
"Kalau aku dapat bonekanya, aku dapat cium dari Hanza." Ucap Reyhan semangat lalu memasukan koin terakhir yang dia punya.
Hanza yang mendengar itu tersenyum malu. Apa-apaan ini enak di Reyhan dong. Tapi kan kalau Reyhan dapat bonekanya buat Hanza juga kan? Anggap saja simbiosis mutualisme sama-sama diuntungkan.
"Kok gitu sih kak."
Tanpa menjawab Hanza, Reyhan dengan serius memainkannya melihat boneka kelinci telinga panjang yang menjadi targetnya dan ternyata berhasil.
Reyhan mengambil boneka yang telah keluar dari mesin capit boneka itu. Reyhan tersenyum dan benar saja dia memberikan boneka kelinci itu kepada Hanza.
"Buat aku?"
"Hm." Menganggukan kepalanya
"Jadi... Ayo cium aku..." Ucap Reyhan menunjuk pipinya. "Aku kan udah dapetin bonekanya buat kamu." Lanjutnya lagi-lagi tersenyum manis.
"Aku kan gak menyetujuinya, kak."
"Ya udah kalau kamu gak mau. Bonekanya aku ambil lagi."
"Eh eh gak bisa gitu dong, kan udah dikasih ke aku."
"Ya udah kalau gitu." Ucap Reyhan menunjuk pipinya lagi.
Hanza mendekatkan wajahnya ke pipi Reyhan dan menciumnya kilat.
"Tuh, udah kak. Makasih bonekanya."
"Sama-sama." Reyhan tersenyum menggelengkan kepalanya gemas sekali akan tingkah Hanza yang malu-malu kucing.
Terakhir mereka melakukan photobox. Melakukan berbagai macam gaya mulai dari normal sampai menunjukkan muka konyol mereka.
"Thanks for today, kak Rey." Ucap Hanza berterimakasih pada Reyhan. Hanza senang bukan main, Reyhan begitu baik dan asyik tadi saat mereka jalan-jalan.
"Terimakasih kembali, Hanza. Kita makan dulu ya sebelum pulang."
Hanza menggangukkan kepala tanda iya setuju.
Mereka makan sambil menceritakan apa saja yang sekiranya lucu sampai tidak sadar sekarang sudah pukul tujuh malam. Reyhan mengantarkan Hanza pulang kerumahnya.
"Aku pamit pulang ya, dek."
Dek?
"Iya kakak hati-hati pulangnya jangan ngebut."
Reyhan mengusak pelan rambut Hanza lalu melambaikan tangan.
"Udah sana masuk. Jangan lupa mandi dulu. Mimpiin aku ya."
"Hm. Bye kak." Dadah Hanza.
...****************...
Hanza sudah membersihkan dirinya, sekarang ia tengah duduk di kasurnya memandangi photonya dan Reyhan hasil photobox tadi.
Ah... kak Reyhan manis banget tadi...
Tapi semua ini bakal hilang besok...
Bahkan kak Reyhan gak bakal ingat sama sekali...
Mencebikkan bibirnya Hanza memutuskan untuk tidur saja sambil memeluk boneka kelinci dari Reyhan.
A yo listen up
No matter what they say
No matter what they do
We go resonate resonate
Hanza terbangun dari tidurnya karena alarm yang di pasangnya tadi malam berbunyi. Cepat sekali pikirnya ini masih pukul lima pagi. Dilihatnya boneka dan photo semalam yang ia taruh disampingnya kini telah hilang. Hanza kembali teringat buku ajaib itu.
Berjalan menuju meja belajarnya lalu duduk disana, membuka buku ajaib itu kemudian menuliskan nama seseorang didalamnya.
Jendra Putra Novian
Selamat, kak Jendra akan berkencan denganku... Kkk~