
Mahen Al Kahfi
Nama salah satu siswa yang populer di sekolah Hanza.
Hanza tentu tahu itu, karena Mahen adalah kakak kelas yang datang promosi ke sekolahnya kala itu. Ia tidak jatuh cinta dan tidak ingin ada perasaan lebih mau apapun itu.
Tapi tiba-tiba saja sejak saat itu, sejak saat dirinya pulang sekolah dan memutuskan mampir ke minimarket kala itu, entah perasaannya saja atau memang sebuah kebetulan Mahen jadi sering kali muncul dihadapannya.
Mahen sering kali menggodanya karena insiden mie hijau edisi cowok Korea itu.
Seperti---
"Udah makan mie hijaunya belum, dek?"
"Gimana dek, kamu dapat photocard atau fitcard?"
"Aku do'ain kamu dapat bias kamu ya, dek."
"Udah lengkap belum koleksi photocard nya?"
Dan pastinya diiringi kekehan menyebalkan yang keluar dari mulutnya.
Hanza penasaran dengan Mahen sejak ia masuk ekskul musik sebenarnya. Karena ia punya kesempatan untuk kencan dengan orang yang ia inginkan. Ia pula sudah memasukan Mahen dalam daftar cowok-cowok beruntung yang akan ia kencani. Ataukah Hanza yang beruntung karena dapat berkencan dengan mereka, salah satunya Mahen Al Kahfi?
Jadi, sekarang giliran Mahen Al Kahfi yang akan menemani kencan fantasi terakhir-nya. Mari ucapkan selamat untuk Mahen.
Mahen Al Kahfi
Tulisnya di buku ajaib miliknya. Menunggu hari esok tiba, kencan seperti apa yang akan mereka lakukan nantinya?
...****************...
Hanza yang tengah duduk di bangku dekat taman sekolah seketika menoleh dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk disampingnya, dan yang lebih kegetnya lagi orang itu adalah seorang Mahen Al Kahfi.
Berdehem kecil kemudian menoleh kearah Hanza yang menatapnya.
"Jadi, kamu yang bernama Hanza Fahira."
Hanza yang menatapnya tambah keheranan dengan yang Mahen ucapkan. Wajar saja Mahen tahu, mungkin dari absensi ekskul musik.
Mahen mengambil buku seukuran telapak tangan lebih kecil sedikit dari telapak tangannya yang lebih besar kemudian seperti membaca buku itu.
"Hanza Fahira. Kelas 10, hobi menonton semua yang berhubungan dengan NCT, membaca novel romansa dan cerita di dunia orange, group kesukaan 4Boys and who most i love is ... me?" Ujarnya seperti sebuah pertanyaan diakhir kalimatnya, dan tertawa kecil kemudian.
"You love me?" Tanyanya menatap Hanza.
"Maksud kak Mahen?" Tanya Hanza juga penasaran.
"This is yours, right?" Katanya menutup buku itu dan menyerahkan pada Hanza.
Hanza menatap syok buku yang berada ditangan Mahen, buku itu memang miliknya yang beberapa hari ini ia lupa menyimpannya. Jadi, bukunya ada pada Mahen? Tapi, bagaimana bisa.
"Iya Kak. Ini buku aku. Kok bisa ada di tangan kak Mahen?" Hanza mengambil bukunya.
"Aku nemuin buku itu di perpustakaan. Bukunya bagus. Apalagi isinya." katanya tersenyum miring.
Hanza menatap Mahen, kakak kelasnya ini sedang menyindirnya. Ayolah, apa yang bagus dengan isinya hanya curahan-curahan hati Hanza yang bisa dibilang berlebihan. Tentang dirinya, hobinya, kesukaannya, kegiatannya, curahan tentang cerita dunia orange yang pernah ia baca, group NCT, 4Boys dan lainnya. Tunggu 4Boys--- Mahen kan salah satu anggota 4Boys, beberapa hari ini buku milik Hanza ada padanya, apa Mahen sudah membaca semuanya, curahan berlebihan tentang 4Boys? Terutama nama Mahen itu sendiri yang sudah banyak Hanza tulis didalam buku miliknya. Astaga, Hanza tamatlah riwayatmu!!
"Lain kali hati-hati, jaga buku kamu baik-baik!!" Ujarnya mengusap kepala Hanza pelan kemudian berlalu pergi meninggalkan Hanza yang masih terbengong.
...****************...
Sejak insiden tadi pagi, Hanza akan berusaha menghindari Mahen. Iya lah betapa malu dirinya karena buku diary Hanza ada yang membacanya terlebih yang membaca adalah sosok yang di cantumkan di dalam tulisannya.
Tetapi sepertinya Hanza lupa kemarin ia telah menulis nama Mahen Al Kahfi di buku ajaib miliknya alias cowok terakhir yang akan kencan dengannya. Jadi hal seperti menghindar agar tidak bertemu dari Mahen rasanya tidak bisa untuk hari ini.
Dan benar saja, karena motor matic miliknya mengalami kebocoran Hanza sekarang berada di bengkel. Dan di bengkel ini ia bertemu lagi dengan Mahen. Remaja itu habis mengisi angin pada ban motornya.
"Hai Hanza?" tanya Mahen ketika melihat siapa siswi perempuan yang tengah menunggu motornya di perbaiki.
"Kak Mahen? Lagi apa disini?" tanya Hanza kaget, yang berusaha di hindari malah tidak sengaja bertemu lagi.
"Abis isi angin."
"Nih, dek udah beres." Pekerja bengkel itu memberi tahu Hanza bahwa motornya sudah selesai di perbaiki.
"Oh iya, makasih pak." sambil membayar biayanya.
"Mau langsung pulang?" tanya Mahen.
"Iya, kenapa emangnya kak?"
"Oh, gak sih nanya doang."
Hanza mengangguk. "Ya udah kalau gitu duluan ya kak." pamitnya pada cowok itu.
"Eh eh tunggu, sebenarnya aku mau ajak main?" ujar Mahen plin plan tadi katanya sekadar tanya aja. Tapi kenapa sekarang mengajak main katanya?
"Eh?" kata itu refleks keluar dari bibir Hanza. Takut ia salah dengar.
"Kok eh sih? Kamu sibuk gak abis ini? Ada kursus? Atau acara?" pertanyaan beruntun membuat remaja gadis itu tambah bingung.
"Hmmm..." akhirnya hanya gumaman yang keluar dari bibirnya yang membuat Mahen sedikit agak kesal.
"Mikirnya lama.."
"Kok galak sih?" refleksnya tidak terima, kak Mahen yang biasanya lembut bicaranya kemana?
"Hehe.. maaf, abisnya kamu sih. Jadi gimana, ada acara gak kamu?"
"Enggak sih kak. Paling nungguin kabar dari cowok aku aja."
Deg. Mahen kok agak gimana ya hatinya. Cemburu, tidak menyangka dan sedikit kesal lagi. Ia berusaha bersikap tenang. "Ekhem.. secara gak langsung di tolak ini mah. Bilang dong dari tadi." Akhirnya.
"Hehe.. maaf ya joke aku gak sampe ke kakak. Cowok aku tuh NCT Mark Lee, aku selalu nungguin doi update di ig atau gak di boba."
Hah? Mahen menjatuhkan rahangnya. Tapi agak wajar sih sekarang ini banyak yang suka idol korea apalagi Hanza masih remaja.
"Hmmmm.. stop halu dek!" candanya.
"Yey.. suka-suka sih." balasnya menjulurkan lidah mengejek Mahen.
"Kembali ke topik tadi mau gak dek aku ajak main?" tanyanya sekali lagi.
"Kemana?"
"Yah ke mall nonton bioskop gitu lah atau kamu maunya kemana?"
"Hmmm.. mall aja gapapa aku sekalian ada yang mau di beli."
"Oke, kita pulang dulu ke rumah masing-masing. Nanti kakak chat kamu yah."
"Kakak punya nomerku?"
"Iya kan di group chat ekskul."
"Oh oke kalau gitu."
...****************...
Mahen sudah di depan rumahnya Hanza, dan sudah memberi tahu Hanza juga. Ia hanya tinggal menunggu Hanza keluar dari rumahnya.
"Kak.." panggil gadis itu sambil membuka pagar rumahnya, gadis itu tersipu malu outfit yang mereka kenakan memiliki kesamaan yaitu sama-sama memakai jeans dan baju putih, Mahen memakai denim jaket sebagai luarannya sedangkan Hanza tidak.
"Yuk," ajak Mahen memberi gestur agar hanza segera naik motornya.
"Eh tapi kamu udah izin ke mama kamu dulu kan sebelumnya?"
"Iya udah kak," ujarnya sambil mengaitkan helm miliknya.
"Kamu suka film apa?" tanya Mahen agak sedikit teriak karena mereka sedang di atas motor dan di jalan raya.
"Horor aku suka. Tapi kalo kakak mau yang lain ya ayo, biar sama-sama menikmati filmnya."
"Iyaa kita liat aja dulu list filmnya ya nanti."
"Han.. ?"
"Kenapa kak?"
"Telat ini sih nanyanya."
"Apa emangnya?"
"Kamu udah ada cowok?"
"Enggak kak,"
"Oke jadi aman, ya. Gak bakal ada yang labrak."
"Iya aman. Eh kak?"
"Apa?"
"Kalo kakak gimana?"
"Tenang aja sama aman kok. Aku gak ada cewek juga."
"Iya sih gak punya pacar, tapi yang suka kakak banyak. Aih bisa-bisanya aku lupa hal itu."
"Tenang aja sih."
Akhir mereka sampai di mall.
"Duh sorry, dek. Harusnya tadi kakak bawa mobil aja ya kamu jadi keringatan."
"Yaa gapapa kali kak."
"Ya udah yuk kita jalan." tangan Mahen, ia tautkan ke telapak tangan Hanza.
"Yaah, cuman film ini aja untuk jam sekarang? Gapapa comedy romance?"
"Hmm.. kak. Aku beli makanan ya kak."
"Bentar, bareng aja."
"Yuk." Mahen menggenggam tangannya lagi. Hanza jadi deg-degan kan. Ini seperti orang pacaran.
Mereka kebagian tempat duduk di pojok atas.
"Han, jauh ya dari layarnya. Gak nyangka bakal sepenuh ini."
"Iya kak, film ini baru kak. Jadi banyak banget yang penasaran kayaknya. Ya udah sih yang penting tetap jelas kak layarnya kan lebar."
"Namanya juga layar lebar."
Hanza dan Mahen tertawa akan joke mereka berdua.
Mereka menikmati film dari awal sampai pertengahan karena salah satu mereka ada yang tertidur, Mahen.
"Kak.. bangun. Filmnya udah beres."
"Hah?"
"Iya ayo keluar."
Kali ini Hanza yang menarik lengan Mahen duluan. Gadis itu tidak canggung lagi.
"Tadi kamu mau beli apa?"
"Oh iya beli novel sih hehe."
"Ayo kesana kalo gitu."
Gantian Mahen yang duluan menggenggam duluan, Hanza menjerit dalam hati ia seperti pacar seorang Mahen Al Kahfi hehe.
Tidak butuh waktu lama karena novel romansa yang menjadi pilihannya tidak susah untuk di cari.
"Kakak gak beli apa gitu?"
Mahen hanya menggelengkan kepalanya. Ia menarik buku yang Hanza pegang. "Sini aku bayarin ya, Han."
"Eh.. gak usah kak."
"Udah gak apa, aku traktir kamu nih jadi terima ya."
"Makasih kak."
"Iya yuk."
"Toleransi pulang ke rumah kamu jam berapa, Han?"
"Jam 8."
"Sekarang masih jam 5 lebih, nanti aku antar pulang jam setengah 7-an ya."
"Iya, aku gak ada pr juga kok."
"Hanza.." Panggil Mahen. Saat ini mereka sedang berada di taman kota lebih tepatnya duduk di kursi taman tersebut.
"Hmm.." jawab Hanza menolehkan kepalanya ke samping tepatnya kearah Mahen yang memanggilnya.
"Ini aku serius yah mau tanya hal yang penting ke kamu, harus di jawab jujur juga!"
Hanza mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu penasaran apa yang akan ditanyakan oleh Mahen, ia menatap manik laki-laki didepannya sebelum akhirnya menjawab.
"Apa?"
"Apa yang mau kakak tanyakan." Ulangnya.
"Begini.. kamu ataupun aku gak bisa melarang orang yang menyukai kita agar menghapus perasaannya, kan?" ujar Mahen menatap Hanza. Gadis itu hanya bisa menatap Mahen tanpa berkedip berusaha mendengar lanjutan apa yang akan di lontarkan oleh kakak kelasnya itu.
"Aku suka kamu."
Deg!!
Jantung gadis itu mendadak bekerja dua kali lipat karena ucapan Mahen barusan.
"Aku tau hak kamu mau menolak perasaan aku tapi, hak aku juga memiliki perasaan sama kamu. Terlepas kamu suka atau tidak aku minta maaf, kamu gak ada hak untuk menyuruh aku menghilangkan perasaan ini."
"Kak.."
"Hanza.. aku mau bertanya lagi.. kamu ada perasaan juga gak sama kakak?"
Omg!!
Hanza terdiam, Mahen menyatakan perasaannya pada hanza? Batin gadis itu.
Ia tidak menyangka. Ayolah terima saja Han, inikan hanya kencan fantasi!! Gadis itu mengalami perang batin dengan dirinya sendiri.
Tapi, bukankah benar ini hanya kencan fantasi? Bolehlah Hanza berbahagia, lagipula di real life ini tidak akan terjadi. Jadi, ayo hanza jangan siakan kesempatan ini.
"Kak.." ucap gadis itu. Mahen menatap harap pada Hanza.
"Gimana..? Kamu lama deh."
"Kak.. kok kayak ngajak berantem sih ini?"
"Haha.. maaf."
"Hmm.. aku.. juga suka."
"Aku gak denger dek."
"Iya, aku juga suka kakak."
"Jadi mau nih jadi pacarnya Mahen si paling ganteng seantero sekolah?"
"Apa? Kok percaya diri banget sih kak?"
"Yey.. tadi katanya juga suka?"
"Bukan yang itu kak. Tapi yang kakak bilang kak Mahen itu paling ganteng seantero sekolah, berlebihan tau. Masih ada pak Jeffry guru bahasa yang lebih ganteng dan masih single lagi."
"Hmm.. kamu ini, Han. Jadi selera kamu itu om-om ya, kalo kamu mau tau pak Jeffry itu kakak aku, please jangan kaget!!"
"What???" Hanza beneran terkejut dengan pernyataan Mahen barusan, Mahen adalah adik dari pak Jeffry, guru bahasa berusia dua puluh lima tahun itu. Berarti umurnya Mahen dengan kakaknya itu terpaut cukup jauh hampir delapan tahun. Wow!!
"Kenapa, kaget?"
"Iyalah.. tapi kok gak ada rame gitu kak? Kayak semua siswa gak tau?"
"Sengaja. Kita emang merahasiakannya, Han. Biar gak ribet aja sih."
"Oalah gitu."
"Masih mau sama kak Jeff?"
Hanza menggeleng. Ayolah pak Jeffry atau kak Jeff yah panggilannya. Rasanya pak Jeffry terlalu dewasa untuk Hanza yang usianya terpaut sepuluh tahun dengannya. Tapi jodoh tidak ada yang tau kan?
"Apa sih. Aku cuma kagum aja lagian gak lebih."
"Jadi kita pacaran kan sekarang?
Hanza mengangguk pelan, jujur saja ia malu sekali. Ia menjadi pacar seorang Mahen?
"Jawab dong iyaaaa gitu."
"Iyaa kak Mahen, kita pacaran sekarang."
"Yes!!"
Gadis remaja itu mengerutkan kening akan kelakuan Mahen, ia lalu tersenyum menurutnya Mahen lucu sekali bertingkah seperti itu.
"Hey!!" Mahen menepuk bahu Hanza. Ia merasa aneh tak ada pergerakan dari gadis itu hanya sebuah senyuman saja yang ia perlihatkan.
"Hey!!" Tepuknya sekali lagi.
Gadis itu tersadar setelahnya.
"Kamu melamun."
"Eh.. iyaa.. kak Mahen sih lucu, bilang 'Yes' kayak tadi haha.."
"Yaa.. refleks Han, kan aku lagi senang itu."
"Panggilan sayang kita mau apa nih, Han? Kita tentuin sekarang aja biar sekalian."
"Apa sih, baru jadian beberapa menit juga."
"Gapapa dong, kamu nih. Gimana kalo hubby sama Baby."
"Sorry i am anti romantic."
"Ih kamu!!"
"Gak tau tapi itu geli menurutku. Ya udah sih panggilan kayak biasanya aja, aku manggil kakak dan kak Mahen manggil aku adek."
"Ya itu mah gak spesial dong."
"Hmm.." Mahen tampak berpikir. "Udah pokoknya kita manggil satu sama lain 'bubu' yah fix ini gak bisa di debat lagi, ngerti??"
"Alay.. tapi lucu sih."
"Bubuku sayang." Mahen memanyunkan bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke Hanza. Gadis itu sontak berteriak menjauhkan wajah Mahen dengan tangannya.
Kencan merekapun berakhir dengan Mahen yang telah mengantarkan Hanza ke rumahnya. Sekarang mereka sudah didepan pagar rumah Hanza, gadis itu turun dari motor lalu melepas helm miliknya.
Mahen menggenggam tangan Hanza, masih kangen Mahen itu. Hanza kesenangan, gadis itu juga masih ingin berduaan dengan pacar fantasinya.
"Bub, aku masih kangen."
"Kak Mahen please, aku masih geli sama panggilan itu haha."
"Haha.. iya sih aku juga, tapi harus di biasain biar romantis."
"Dah sana kamu masuk rumah."
"Aku tungguin kakak pulang aja, aku liatin."
"Masuk!"
"Kak Mahen.." melas Hanza.
"Iya udah aku pulang duluan kalo gitu." Mahen turun dari motornya. Laki-laki itu melangkah mendekati Hanza tepat didepan gadis itu. Hanza yang hanya sebahu Mahen mendongak, ini terlalu dekat. Tubuh Mahen dan dirinya hanya berjarak lima senti.
"Kak.. mau ngapain. Ada papa aku loh di dalem."
"Apa sih kamu pasti mikir macam-macam yah? Aku cuman benerin rambut kamu yang berantakan."
Benar saja Mahen mengusap rambut Hanza pelan,
"Oh.. Makasih kak. Ya udah sana kak Mahen pulang dulu."
"Iya-iya, bubuuu." Mahen mencubit hidung gadis itu pelan lalu mundur untuk menaiki motornya kembali.
Gadis itu mengusap hidungnya pelan, tidak sakit sama sekali hanya saja itu untuk menutupi rasa gugupnya.
"Aku pulang dulu yah, jangan kangen!! berat tau!! biar aku aja yang kangen eh tapi aku juga pengen dikangenin sama kamu, bub." kata Mahen berlebihan.
"Stop please!" Hanza bertambah geli kan jadinya.
"Haha.. malem Hanza. Kakak pulang dulu ya."
"Iya kakak hati-hati."
Hanza pun masuk ke rumahnya, ia segera membersihkan dirinya.
Gadis itu telah usai dengan acara membersihkan dirinya, ia dikejutkan dengan sosok wanita nyentrik serba hijau neon lagi.
"Wow, kamu menikmatinya kan? Puas bersenang-senang nya?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Karena kamu sudah menyelesaikan misinya, buku itu harus di kembalikan."
Hanza berjalan kearah meja belajar dimana buku ajaib itu berada. Ia mengambilnya kemudian menyerahkannya ke wanita berpenampilan nyentrik itu. Sebenarnya ia belum rela, tapi mau bagaimana lagi, harus mengikuti dengan rules dari buku itu.
"Baiklah, aku pergi."
Wanita itu hilang setelah mengatakannya.
Hanza duduk di kursi meja belajar nya, ia tersenyum setidaknya Hanza pernah berkencan dengan Mahen bahkan sampai berpacaran walaupun hanya beberapa jam dengan kakak kelasnya itu. Ini bukan mimpi, bukan juga khayalan. Tapi ini seperti keduanya karena hanya Hanza sendirian yang mengetahuinya.