4Boys

4Boys
is it real?



Dua saudara sepupu itu tengah berada di kamar yang lebih tua, sang adik sepupu terlihat merengek pada kakak sepupunya itu.


"Ayo bang temenin gue ya!"


"Enggak Haikal, gue bilang gak mau dari tadi! Maksa banget sih lo."


"Ini pertama kalinya gue mau ketemuan bang. Dag-dig-dug jantung gue, temenin dong please!"


"Gak mau, males!"


"Gue kasih kado apapun yang lo mau deh."


"Beneran nih?"


"Iya. Asal lo mau temenin gue doang gak aneh-aneh. Katanya dia mau bawa temen gak bakalan jadi nyamuk lo nantinya."


"Kapan?"


"Gue ajak sore ini di cafe biasa."


"Oke. Balik dulu sana!"


"Thanks bang Mahen-kuuu~."


...****************...


Lia memoles wajahnya dengan riasan tipis memeriksa berkali-kali wajahnya didepan cermin kecil yang selalu ia bawa. Hanza yang ikut menemani hanya menatapnya malas.


"Lia, kamu gak perlu berlebihan kayak gitu, natural aja lagian kamu udah cantik."


"Ini pertemuan pertama aku sama dia Han. Aku harus tampil lebih cantik soalnya aku udah tolak dia puluhan kali buat ketemu, nanti dia mikirnya kenapa ditolak terus karena aku jelek lagi. Aku kan cantik, Han."


"Gak masuk akal. Lagian cuman mau ketemuan doang kan, gak lebih?"


"Kalau sampai cocok sih lanjut, Han. Hehe."


"Mana kok lama banget belum datang juga. Emang gak masalah kamu ajak aku segala?"


"Gak masalah aku udah bilang mau bawa teman. Sebentar lagi nih, Han. Ini sebenarnya kita aja yang datangnya awal, dia minta janjian jam empat hehe."


"Liaaa... Dari jam setengah tiga sore kamu udah rusuh. Sekarang masih jam empat kurang lagi." Hanza agak kesal dengan sahabatnya ini.


"Aku kan gak mau kita telat, gak sopan, Hanza." bela Lia tak mau kalah.


Handphone Lia bergetar menandakan ada pesan yang masuk ternyata dari aplikasi kencan dia tepatnya dari si fullsun yang aku sudah tahu siapa dia itu. Tapi, Lia tetap tidak percaya sebelum dia ketemu langsung katanya. Lihat saja Lia, si fullsun itu adalah kakak kelas kita yang tengil itu.


"Katanya dia baru aja sampe, Han. Duh aku tambah deg-degan." Katanya meremat tangan Hanza.


Pintu cafe terbuka, seseorang bersurai hitam memakai jeans dengan atasan kaos putih dan jaket denim berwarna mocca masuk dengan memegang handphone ditangannya.


Hanza melihat intens kearah seseorang itu, memastikan dengan mengerjapkan matanya berkali-kali. Seseorang itu tersenyum kearahnya dan melambaikan tangan, menghampiri meja yang ditempatinya dan Lia.


"Hai?... " Sapanya canggung dan menggaruk tengkuknya.


"Hai juga. Kak Mahen??" Itu Lia yang jawab masih tidak percaya, karena dari tadi sebenarnya Mahen itu tersenyum dan melambaikan tangan kearah kami tepatnya untuk Lia.


"Udah lama?" Tanya Mahen.


"Enggak kak belum lama kok."


"Kamu...?" Tanya Mahen kearah Hanza. "Hanza, kan?"


"I...iya kak. Aku nemenin Lia hehe."


"Um.. gue gak nyangka bakal ketemu kalian."


"Aku lebih gak nyangka kalau fullsun itu kak Mahen." Jawab Lia antusias.


Mahen berdehem kecil sebelum ngomong. "Sebenarnya bukan gue."


"Maksud kak Mahen?" tanya Lia heran kan yang datang kemari itu adalah dirinya, jika bukan Mahen lalu siapa? Apa temannya?


"Haikal. Dia fullsun dan bukan gue, gue gak main aplikasi begituan. Sebentar lagi dia datang kok, tadi katanya mau mampir dulu ambil cash karena takut kalian nunggu lama jadi dia suruh gue masuk duluan." Mahen menjelaskan kesalahan pahaman ini yang dikira ia adalah fullsun padahal bukan.


Hanza sedikit lega mendengar hal itu. Entah perasaan apa itu, tadi hatinya sedikit sakit saat tahu Mahen yang ketemu dengan Lia.


"Oh gitu ya kak. Dia gak bilang mau bawa teman juga sih, jadi aku kira kakak yang mau ketemu aku hehe."


Tidak lama Haikal datang dengan setelan serba hitam-nya. Dari saat membuka pintu cafe sampai duduk ke kursi sebelah Mahen matanya berfokus ke seseorang yang duduk di depan Mahen.


"PRH??" Tanya Haikal. "Wah gak nyangka ternyata anak sekolah kita juga, bang." Ujarnya sambil menggeplak lengan Mahen.


"Hai kak." Sapa Hanza canggung. Ini Lia kenapa kebelet pipis segala sih tadi, rutuk Hanza.


"Sorry, tadi mampir dulu jadi gue suruh bang Mahen duluan. Eh ga apa-apa kan gue bawa teman?"


"Hehe iya kak. Aku juga nemenin Lia kok. Dia ke toilet dulu sebentar."


"Loh? Jadi, si-jeu-ni itu bukan lo, dek?"


Hanza menggeleng.


"Yang ketemuan sama lo lagi di toilet." Jawab Mahen.


"Oh gitu. Ya udah." jawab Haikal tanpa mau memperpanjang lagi.


"Tadi apaan PRH?" Tanya Mahen penasaran.


"Ada deh lo gak diajak. Iya gak, dek?" Tanyanya ke Hanza dan mengerlingkan sebelah matanya nakal.


"Genit banget sih lo." Ujar Mahen dengan menggeplak lengan Haikal.


Hanza cuman senyum melihat tingkah Mahen yang galak dan Haikal yang kesakitan.


...****************...


Karena yang ketemuan Lia dan Haikal. Mahen dan Hanza memutuskan memisahkan diri dari mereka agar tidak terganggu alibi Mahen saja sih sebenarnya. Karena ketiga orang itu tidak keberatan sama sekali.


Mahen mengajak Hanza memasuki sebuah game center. Seperti deja vu, Hanza jadi teringat dengan kencan fantasinya saat bersama Reyhan. Memikirkannya saja membuat pipi Hanza memerah.


"Kenapa?" tanya Mahen karena sedari tadi Hanza hanya diam berbeda sekali saat masih di cafe tadi.


"Kamu kecewa karena dipisahkan dari Haikal?" tanyanya lagi kali ini ia mencoba menebak sumber diamnya Hanza.


"Apa? Enggak kok." Hanza menggeleng.


"Bagus deh. Kita gak boleh ganggu mereka kencan." Mahen tentu saja senang dengan jawaban Hanza.


Hanza, cewek itu cuman mengangguk, ia masih merasa canggung jika dekat dengan cowok.


"Main capit boneka yuk kak?" Ajaknya.


"Ayo. Aku udah ada target boneka tahu, Han." ujar Mahen semangat.


"Oh ya?"


Mahen menganggukkan kepalanya kemudian menarik telapak tangan Hanza tepatnya menggenggamnya menuju mesin capit boneka itu berada.


"Nah, itu dia bonekanya masih ada."


"Yang mana kak?"


"Itu boneka kelinci yang telinganya panjang."


"Kakak pengen banget boneka itu? Aku pernah lihat di toko sebelah dijual gak perlu repot main capit segala."


"Kalau ada yang repot kenapa harus yang mudah?


Kamu sendiri mau boneka apa?"


"Aku pengen main aja sih kak, dapat boneka apa aja aku senang."


"Ya udah. Aku mau dapatin boneka kelincinya buat kamu biar kamu senang."


Hanza tidak salah dengar kan? Pipinya memanas karena ucapan Mahen barusan.


"Aih... Kak Mahen bisa aja."


Mahen mulai memasukan koinnya menarik tuas lalu mengarahkan pada boneka incarannya. Dan hap!! dapat. Tapi saat akan diarahkan ke lubang keluar bonekanya terjatuh ke tumpukan boneka yang lain.


Hanza menghela nafas kecewa pun dengan Mahen yang bermain.


"Tenang aku masih punya beberapa koin lagi." Memulai kembali permainannya. Kali ini lebih mudah karena posisi boneka lebih dekat dengan lubang keluar mesin.


Hap!!


Mahen berhasil kemudian mengambil boneka kelinci itu dan sesuai ucapannya tadi, ia memberikannya untuk Hanza.


"Aaa... Lucu banget! Makasih ya kak." Dipeluknya boneka kelinci itu erat seperti anak kecil saja. Mahen yang melihat itu merasa gemas sendiri.


"Iya sama-sama, Han."


Kembali deja vu, saat itu Reyhan meminta Hanza mencium pipinya saat sudah berhasil mendapatkan boneka kelinci itu. Apa Mahen juga akan memintanya? Dasar Hanza!! Itu sih mau kamu. Hanza menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran itu. Membuat Mahen heran Hanza yang membuatnya gemas ini ternyata juga mempunyai sikap yang aneh.


"Kamu kenapa, Han?"


"Enggak kak hehe."


"Mau main apalagi?"


"Um... Terserah kakak aja."


...****************...


"Kamu suka Jendra, Han?" Tanya Mahen sembari melempar bola basket ke ring, masih di game center.


"Jendra. Kamu suka dia?"


"Enggak." Hanza menggeleng. Apa Mahen akan membahas kejadian tempo hari yang menurutnya memalukan?


"Pas jalan sama dia tempo hari kamu terbawa perasaan?"


"Jangan dibahas lagi dong, kak. Aku malu tahu!"


"Aku harus memastikan!"


"Memastikan apa kak?


"Perasaan kamu ke Jendra kayak gimana?"


"Ngapain kak Mahen ngurusin perasaan aku ke kak Jendra gak penting kak!"


"Tapi menurut aku penting, Han. Aku harus memastikan kamu ada perasaan lebih ke Jendra apa enggak."


Hanza menggeleng. "Enggak. Lagipula aku udah ada firasat waktu itu. Jadi ya sesuai ajakannya aja, nganter cari kado buat ponakannya dan gak melibatkan perasaan apapun."


Mahen menganguk kemudian memasukkan kembali bola basketnya dan permainan selesai karena waktunya habis.


"Kalau ke Haikal?"


Hanza sontak menoleh saat Mahen menyebutkan nama Haikal kemudian tertawa.


"Kok ketawa?"


"Kakak tanya perasaan aku ke kak Haikal gimana?"


"Iya. Tadi kayaknya kalian ada sesuatu ya?"


"Um... Kak Haikal tadi keren banget, kak. Aku sampai terpesona. Sebelumnya aku emang udah kagum sama kak Haikal sih apalagi kalau udah nyanyi suaranya enak didengar. Tapi kalau masalah perasaan yang kakak maksud itu suka sebagai cewek ke cowok, belum. Aku belum sampai tahap itu gak tahu kalau nanti sore." Ujarnya sedikit becanda diakhir kalimatnya.


"Oh gitu. Kamu masih polos banget. Aku gemas tahu sama kamu. Kamu sadar gak sih kalau kamu itu bikin gemas orang di sekitar kamu?"


"Masa sih, kak?"


Mahen tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Hanza. "Sakit kak Mahen, pipi aku nanti melar!!"


"Gak bakal dek Hanza, orang kakak cubitnya pelan-pelan tadi."


"Aku marah pokoknya. Heung~" Hanza memalingkan mukanya kesamping.


"Dek..."


"Apa?"


"Jangan gitu!" gemas Mahen sebenarnya dengan tingkah cewek di hadapannya ini.


"Apa sih kak, Lia sama kak Haikal gimana ya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan, jujur ia salah tingkah sebenarnya.


"Gimana yang gimana sih?" tanya Mahen malah belibet.


"Aku telfon Lia dulu deh ya."


Hanza menghela nafas panjang setelah mengakhiri panggilan itu.


"Aku di tinggal pulang." ujarnya lemas


"Ya gapapa sih. Kan ada aku ini nanti aku antar pulang tenang, kamu gak bawa uang lebih ya." Mahen berusaha menenangkan adik kelasnya ini.


"Hey, enak aja!! Ada kok uang. Ih kak Mahen kok bisa mikirnya kesana, aku jadi malu." cewek itu mengerucutkan bibirnya.


"Ya maaf abisnya kayak khawatir aja gitu." ujar kakak kelasnya ini seperti biasa disertai kekehan menyebalkannya.


"Kita jalan lagi aja." Ajak Mahen akhirnya.


Mahen kembali menggenggam tangan Hanza.


"Kak.. kita mau kemana?" tanya Hanza membuat Mahen menghentikan langkahnya. Cowok delapan belas tahun itu juga belum memikirkan akan kemana. Haikal, sepupunya juga sudah pulang meninggalkannya dan Hanza.


"Oh iyaa.. yang penting kita keluar dari mall dulu aja deh."


...****************...


Taman bermain menjadi tempat tujuan mereka atas usul Mahen dan di setujui juga oleh Hanza. Cewek menuju enam belas tahun itu kegirangan, sudah lama sekali Hanza tidak kesini lagi. Dan hari ini tiba-tiba terlintas di pikiran teman kencan sungguhan nya mengajak Hanza kemari yang langsung di iyakan tanpa pikir panjang.


"Kamu kayaknya seneng banget."


"Iya aku seneng banget kak. Makasih udah ajak aku kesini hehe."


"Ya udah yuk, pertama kita naik wahana apa dulu?"


"Wahana yang ekstrim yuk kak?"


"Han, kamu becanda?"


"Hehe.. iya aku becanda, aku takut sih."


"Ya emang jangan lah, soalnya bahaya nanti kamu muntah hahaha."


"Alah, alibi aja itu kan kak Mahen juga takut sama kayak aku, ngaku aja deh kak gak usah pura-pura."


"Haha iya-iya emang takut." aku Mahen akhirnya.


"Udah aku duga." jawab Hanza sombong.


"Yuk ah kita mulai naik komedi putar dulu ya." Mahen menarik Hanza akhirnya, menghentikan debat tidak penting mereka.


Mereka akhirnya menaiki wahana komedi putar, sejak naik hingga putaran ketiga mereka tidak henti tersenyum apalagi Hanza, cewek itu bahkan sambil mengabadikan momen tersebut. Mengambil foto, mengambil video pendek untuk nanti ia jadikan story di media sosialnya. Tak hanya gambar dirinya saja yang ia ambil tapi juga sesekali ia mengalihkan kameranya ke arah Mahen yang duduk di kuda komedi putar tepat disampingnya.


"Kak senyum.." titahnya pada Mahen.


"Eh.. kamu videoin aku Han."


Setelah wahana itu berhenti mereka turun, Hanza memeriksa hasil foto dan video yang ia rekam tadi.


Mahen yang melihat itu tersenyum,


"Boleh gak minta hasil videonya kan ada aku di videonya."


"Boleh kak bentar aku kirim ya."


Hanza kembali menunduk memilih foto dan video yang ada Mahen di dalamnya untuk ia kirimkan ke cowok itu.


Diam-diam Mahen mengambil gambar Hanza melalui handphone miliknya. Mahen tersenyum setelahnya, ia kepikiran untuk mengunggah hasil jepretannya ke akun media sosial pribadinya. Dengan caption 'asik banget, liat apa sih dek? sampe kakak di cuekin'


"Udah ku kirim kak, ada kan?"


"Eh?" Mahen kelabakan, ia masih asyik dengan memandangi hasil unggahan di akun sosial medianya.


"Foto sama videonya udah ada kan?"


"Ah!! Iya udah makasih ya udah foto sama video kakak tadi. Kamu simpan ya foto kakak jangan di hapus pokoknya."


"Kenapa? Kan udah dikirim ke kakak lagian? Memori hp ku entar penuh."


"Yah kamu mah."


"Eh iya deh aku simpan buat pajangan."


"Nah gitu bagus!!"


"Pajangan nakut-nakutin malone biar gak masuk ke kamar aku lagi."


"Ya kok gitu.. malone apaan sih dek?"


"Nama kucing peliharaan papa aku."


"Kayak merek parfum."


"Ya emang dari sana kak, ada dua kucing di rumahku tuh yang satu jo satu lagi ya ini malone. Haha gak tau papa aku namain mereka itu." jelas Hanza tertawa di akhirnya.


"Haha random banget sih. Eh tapi kok tega sih foto gantengku masa buat bikin takut kucing kamu." tukas Mahen tidak terima.


"Becanda kak." Hanza tersenyum.


"Tapi, bakal aku jadiin wallpaper hp." ucapnya pelan sekali sehingga Mahen tidak dapat mendengar.


"Hah?? Kamu ngomong apa barusan gak kedengarannya jelas." Mahen sedikit mendekatkan telinganya ke arah Hanza agar cewek itu mau mengulang lagi ucapannya barusan.


"Ah enggak kak. Itu lagi baca mantra." jawabnya dengan candaan.


"Haha apaan sih kamu random juga."


"Haha kak Mahen kok receh banget ya?"


"Kenapa emang, risih ya?"


"Enggak kak, aku senang malahan kita kayak dekat aja gitu, kayak bestie."


"Jadi.. bestie nih??"


'Maunya lebih sih kak, boleh?' Batinnya.


"Emang boleh kita bestie-an?" canda Hanza, lagi-lagi Mahen di buat tertawa.


Handphone Hanza bergetar tanda ada pesan masuk. Cewek itu terkejut membaca pesan dari sahabatnya, Lia.


Sahabatnya itu banyak mengirim pesan yang isinya ucapan menggoda Hanza, ia yang tidak tau apa-apa mengerutkan dahinya heran. Aneh Lia ini. Pikirnya. Ia kembali menyimpan handphone miliknya, tidak enak mengabaikan Mahen lama-lama.