4Boys

4Boys
physico girl 3



Mahen tidak salah dengan kecurigaannya, dan Lia memanglah di culik dalang di baliknya adalah Maureen. Cowok itu di hubungi oleh Maureen. Cewek yang sepertinya sudah berubah menjadi terobsesi pada Mahen itu mengirim sebuah pesan yang isinya foto Lia dengan keadaan tangan dan kaki terikat, matanya tertutupi kain, ngerinya mulutnya dililit kain. Mahen meringis dengan itu. Haruskah ia melaporkan kepada polisi? Namun sebelum niatnya terealisasikan, Maureen sudah mengancam akan menyayat permukaan kulit wajah Lia. Maureen mengirimkan kembali video berdurasi pendek dimana pisau kecil tajam menyusuri wajah Lia. Mahen jadi mengurungkan niatnya itu.


Maureen meminta Mahen untuk datang menemuinya sendiri jika ingin Lia selamat dan dibebaskan. Mahen tentu saja bingung. Melapor polisi Maureen akan mencelakai Lia, tidak melapor sama saja mengumpankan dirinya pada kandang buaya.


Akhirnya Mahen memutuskan untuk menemui Maureen sendiri tanpa memberitahu dan meminta bantuan siapapun termasuk sahabat-sahabatnya. Mahen memasuki rumah dimana Lia di jadikan sandera didalamnya.


"Kak Mahen datang juga." Maureen tersenyum tidak merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat.


"Iya." Mahen menjawab datar.


"Kak Mahen melakukan sesuai apa yang aku perintahkan bukan?" Tanya Maureen memicing.


Mahen mengangguk "Iya seperti yang kamu lihat aku datang sendiri kesini."


"Mau bertemu pacarmu?" Tawar Maureen, kata 'pacar' ini di tujukan untuk Lia. Maureen masih salah paham.


"Dia bukan pacarku, reen. Dia temanku. Kenapa kamu membawa seseorang yang gak bersalah ke masalah kamu?" Ucap Mahen berang.


"Kalau dia bukan pacar kakak, kenapa memberinya hadiah? Kenapa repot-repot datang kemari untuk selamatkan dia?" Maureen mulai emosi.


"Dia hanya temanku. Aku beri dia hadiah karena dia sudah membantuku mengerjakan tugas, apa salah?" Bohong mahen, sebisa mungkin Mahen harus melindungi Hanza. Tidak menutup kemungkinan jika ia jujur Hanza yang akan menjadi korban Maureen selanjutnya.


"Aku gak percaya." Maureen bersikeras tidak percaya. Dirinya tetap meyakini bahwa Lia adalah seseorang yang berarti untuk Mahen.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi, bebaskan Lia yang gak salah apa-apa. Aku udah dateng sesuai yang kamu inginkan."


Maureen memandang Mahen dari jauh. Sudut bibirnya menyeringai keatas. "Oke, aku akan bebasin dia. Dengan syarat kak Mahen harus melakukan apapun yang aku suruh. Gimana?" Tawar licik cewek itu.


Mahen memandang tidak suka pada Maureen. Tawaran itu tentu merugikannya. Maureen pasti akan berbuat semena-mena padanya. Hati kecil Mahen yang memiliki kebaikan itu berbisik hanya dengan menuruti kemauan Maureen, dirinya akan menyelamatkan nyawa Lia. Dengan sangat terpaksa Mahen menyetujui tawaran cewek itu.


"Bagus.. kak Mahen, itu pilihan yang bagus. Teman kakak aku bebaskan setelah ini." Maureen tersenyum penuh kemenangan.


Maureen berjalan dan mendekati salah satu bodyguard nya berbisik agar cewek yang mereka sekap di bebaskan. Bodyguard Maureen keluar dengan membawa Lia dengan kondisi yang sama seperti dalam video yang Maureen kirimkan.


Seluruh tali yang mengikat tangan dan kaki dilepaskan dan juga kain yang melilit dan menutupi matanya dilepaskan. Lia mengerjap heran melihat ada sosok kakak kelasnya berdiri di seberangnya. Mahen akhirnya mendekati Lia dan membantu cewek itu berjalan keluar dari rumah itu. Sebelum keduanya benar-benar keluar, Maureen mengingatkan Mahen agar tidak ingkar dengan kesepakatan mereka.


"Kak Mahen harus ingat dengan perjanjian kita."


Mahen berhenti sejenak menatap Maureen tanpa menjawab apapun, kemudian melangkahkan kembali kakinya.


"Kak Mahen ada apa?" Tanya Lia setelah keduanya berada di mobil milik Mahen. Dan Mahen sudah memberikan minuman dan makanan untuk Lia agar cewek itu lebih bertenaga.


"Enggak apa-apa, Lia. Maureen gak melakukan hal macam-macam kan sama lo?" Tanya Mahen. Lia menggeleng.


"Iya. Gue anterin lo pulang sekarang ya?" Tawar Mahen. Lia mengangguk.


"Omong-omong Lia, maaf lo harus terlibat kedalam urusan gue sama Maureen. Maureen salah paham dan mengira lo adalah pacar gue." Mahen menghela nafas khawatir.


"Iya gak apa-apa. Tapi tetap aja dia bahaya banget ya kak. Kakak udah lapor polisi kan?" Tanya Lia penasaran. Tapi gelengan dari Mahen membuat dirinya tidak senang.


"Loh kenapa, ini kan tindak kriminal kak? Aku korbannya loh, gak menutup kemungkinan akan ada korban lain, aku khawatir sama Hanza kak." Ucap Lia. Mahen menoleh. Memang benar Mahen mengkhawatirkan cewek itu juga.


"Iya gue tahu. Justru karena gue khawatir sama lo sama Hanza juga, gue gak lapor polisi." Ungkap Mahen yang membuat Lia mengerutkan dahi heran.


"Kenapa begitu kak?"


"Orang tua Maureen adalah orang yang berpengaruh dan kaya raya. Kalaupun kita melaporkannya, dia akan dengan mudah bebas dari tuntutan. Dan melakukan balas dendam yang lebih dari ini, Li." Mahen menjelaskan.


"Sebaiknya lo juga jangan lapor polisi ya. Gue khawatir sama lo dan keluarga lo juga."


"Tapi kenapa kakak bisa bebasin aku?"


"Karena yang Maureen mau itu gue. Makanya gue akan menerima apapun yang dia perintahkan ke gue." Ucap Mahen tersenyum kecil.


"Jadi.. kak Mahen jadiin diri kakak jaminan?" Simpul Lia.


"Bisa dibilang gitu lah." Mahen terkekeh sumbang.


"Kak, maaf gara-gara aku." Lia mencebikkan bibirnya merasa bersalah pada Mahen.


"Bukan salah lo, Lia. Justru lo itu korban dari kesalahan pahaman Maureen dan keegoisan gue." Mahen tidak suka dengan Lia yang menyalahkan dirinya itu.


"Kakak juga gak salah. Cewek itu aja yang kayaknya punya gangguan kejiwaan deh kak." Sahut Lia.


Mahen tampak berpikir sejenak. Benar, Maureen terlalu terobsesi padanya. Obsesi juga salah satu bentuk gangguan kejiwaan kan? Jika manusia normal yang sudah di tolak akan sadar diri dan mundur. Tapi tidak dengan Maureen, cewek itu malah nekat sampai Lia saja menjadi korban karena obsesinya terhadap Mahen.


"Hm.. untuk sekarang gue anterin lo pulang dulu ya. Keluarga lo pasti khawatir banget."


"Iya, kak."


Mahen akhirnya mengantarkan Lia ke rumahnya dengan selamat. Orang tua Lia tampak begitu lega melihat kepulangan putrinya setelah satu hari hilang tak ada kabar. Lia mengatakan pada orang tuanya bahwa pelakunya telah ditangkap. Lia melakukan apa yang Mahen nasihatkan padanya. Orang tua Lia pun berterimakasih pada Mahen tanpa ada rasa curiga sama sekali.


Akhirnya Mahen pamit pulang, di perjalanan dirinya memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya?