4Boys

4Boys
kak Jendra



Jendra Putra Novian


Selamat kak Jen, kakak akan berkencan denganku. Kkk~


Target Hanza selanjutnya adalah Jendra Putra Novian sang ketua team basket yang terkenal. Pemilik mata bulat sabit ketika ia tersenyum. Salah satu orang yang dikagumi hampir semua siswi sekolah. Hanza ini benar-benar bisa saja memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.


Sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone-nya Hanza dikejutkan dengan notifikasi yang muncul dilayar hp nya.


+62 xxx xxx xxx


Ke rooftop sekarang


-jeno


'Jeno siapa ini?'


...+62 xxx xxx xxx...


Ke rooftop sekarang


-jeno


^^^Jeno siapa ya^^^


Jendra, anak basket


'dari tadi kek Jendra Putra Novian gitu ini disingkat-singkat segala'


'sebentar ini kak Jendra, kok tahu nomor aku sih jangan-jangan dia stalker-ku wkwk'


^^^Mau apa ya kak.^^^


Kesini aja dulu, penting!


^^^Otw.^^^


Hanza memasukan hp miliknya ke saku dan bergegas menuju rooftop sekolah.


Hanza disuguhkan pemandangan Jendra Putra Novian a.k.a Jeno kalau disingkat, sedang duduk memejamkan matanya. Hanza berjalan menghampirinya tapi bingung ketika sampai apa yang harus ia lakukan?


"Lo udah datang."


"I...iya kak." Jawab Hanza gugup.


"Lo Hanza, kan?"


"Iya, mau apa kakak manggil aku kesini?"


"Sini duduk." Jendra menepuk kursi kosong disampingnya. Hanza akhirnya duduk walaupun masih gugup ditambah aura Jendra yang sama sekali tidak menunjukkan kata ramah.


"Gue kena dare." Ujarnya membuat Hanza bingung, kenapa harus memanggil dan memberitahunya. Tunggu--- jangan bilang kalau Hanza yang menjadi bahan ta---


"Harus kencan dengan lo, itu dare nya."


---ruhan.


Benar saja tapi kenapa harus Hanza pikirnya.


"Makanya gue bilang ke lo dulu. Lo mau ya kencan dengan gue, bantuin gue dari dare ini.


Gue gak mau nyakitin perasaan lo, kalau semisal tiba-tiba gue deketin lo dan kita berhasil kencan baru setelahnya gue bilang kalau itu cuma dare pasti lo bakal sakit hati dan benci gue.


Gue berbaik hati dengan bilang dulu ke lo, supaya lo gak berharap atau sakit hati nantinya karena gue udah bilang ini dari awal sama lo.


Jadi lo mau bantuin gue?"


Ucap Jendra panjang lebar dan menatap Hanza penuh harap agar mau menolongnya dari dare ini.


Ini sih bukan dare tapi date.


"Tapi kenapa harus aku, kak?"


...****************...


Dua hari lalu Jendra dan teman-temannya, ada Mahen, Haikal, Reyhan, Nadilan, Chandra dan Jidan Mereka tengah duduk melingkar di sebuah cafe, anak muda seperti mereka pulang sekolah bukannya pulang malah nongkrong dulu.


Karena bosan salah satu dari mereka--- Haikal mengusulkan untuk bermain truth or dare.


Satu persatu dari mereka kena dan mereka payah sekali karena lebih memilih truth yang lebih gampang katanya karena gak beresiko.


Botol kembali diputar dan tepat mengarah ke Mahen. Seperti yang sudah kena permainan sebelumnya ia juga memilih truth.


"Saat ini lo ada gebetan gak?" -Haikal


"Ada. Cewek. Cantik. Gemes. Lucu. Hidup lagi."


"Siapa?" -Chandra


"Nanti bentar lagi gue ada niatan deketin dia."


"Ah gak seru lo. Tinggal bilang aja siapa orangnya." -Haikal


Memutuskan kembali bermain karena masih ada yang belum kena permainan ini dan botol pun berhenti tepat kearah Jendra.


"Akhirnya kena juga lo, Jen." -Haikal lagi


"Truth or dare."


"Karena gue laki. Gue pilih dare."


"Nah, gitu dong. Itu baru laki gak payah pilih truth." -Haikal terus


"Eh tadi juga lo pilih truth ya, payah!!" -Reyhan. Yang cuma dibalas cengiran oleh Haikal.


"Hm dare-nya apaan nih?"


"Ajak kencan siapapun yang keluar dari toko buku diseberang itu." Tunjuk Nadilan kearah toko buku yang letaknya ada di seberang sana.


"Gila lo, gimana kalau yang keluar nantinya anak cowok."


"Ya itu resiko lo pilih dare." -Mahen


Harap-harap cemas sambil melafalkan do'a semoga saja yang akan keluar dari balik pintu toko buku itu adalah cewek muda yang cantik atau tidak yang imut dan gemas. Terlihat pintu toko buku itu terbuka seperti gerakan melambat dan terbukalah pintu itu menampilkan sosok gadis sekolah menengah atas sedang tersenyum sambil memegang sebuah buku.


"Kalau dapatnya cewek bening gitu sih bukan dare tapi date." -Haikal


"Kayaknya dia satu sekolah dengan kita." -Jidan


"Iya gue juga mikir gitu seragamnya sama kayak kita." -Chandra


"Gue tahu anak itu. Gue juga punya kontaknya."


"Serius bang?" -Jendra


Tentu saja kalian tahu pertanyaan itu di tujukan untuk siapa satu-satunya cowok kelas tiga yang ikut bergabung disini adalah Mahen.


"Ya udah bagi kontaknya biar gampang gue menyelesaikan dare ini."


"Udah gue kirim."


Hanza Ekskul Musik


Sebelum mengirim kontaknya Hanza ke Jendra, Mahen terlebih dulu mengganti nama kontak Hanza dari dek Hanza ke Hanza Ekskul Musik.


"Dia anak ekskul musik? Pantesan aja lo punya kontaknya bang." -Jendra


"Iya anak ekskul musik."


...****************...


...Kak Jendra...


Lo udah siap?


Gue jemput.


^^^Udah kak.^^^


^^^Dari tadi.^^^


Udah gak sabar ya.


🤗


^^^Apaan sih geli emot nya.^^^


^^^Cepetan kak.^^^


Hanza bergidik ngeri eh geli kali ya membaca chat dari Jendra maklumlah Hanza ini kan jomblo dari lahir.


...****************...


Mereka memutuskan untuk pergi menonton film ke bioskop Hanza memilih film bergenre horor.


Mereka selesai menonton film dan keluar dari pintu teater bioskop dengan Hanza yang tidak berhenti tertawa. Hanza menertawakan Jendra sang ketua team basket yang takut film horor.


"Lagian kenapa gak bilang kalau kakak takut film horror sih, kan kita bisa pilih yang action atau gak film yang romantis."


"Kan lo maunya nonton horror jadi ya udah. Kemana lagi sekarang. Makan?"


Hanza mengangguk mengiyakan "Iya makan yuk." Hanza menggandeng tangan Jendra menuju restoran Jepang.


"Aku mau makan ramen kak."


"Ya udah gue juga. Btw, kita wefie dulu buat bukti kalau kita udah jalan."


"Ayo kak. Gayanya gimana nih kak?


Aku jarang selfie jadi canggung aja."


"Senyum manis aja."


Karena posisi mereka duduk sebelahan memudahkan Jendra untuk mengambil jepretan. Jendra memposisikan tangannya memegang bahu Hanza wajahnya dia arahkan ke pipi Hanza dan---


cekrek


Bunyi kamera dari hp Jendra bersamaan dengan bibirnya yang menempel pada pipi Hanza.


"Udah. Gua kirim dulu ke group chat."


"Emang harus sambil cium pipi ya kak." Tanya Hanza dengan polosnya.


"Iya buat bukti biar mereka percaya dan iri pastinya hahaha."


"Huh?"


"Makasih ya Za udah bantuin gue."


"Hm.. sama-sama kak. Ini juga makasih kakak traktir aku makan sama nonton udah gitu diantar jemput lagi."


"Namanya juga kencan."


...****************...


Tepat didepan rumahnya Hanza turun dari mobil Jendra, mengucapkan terimakasih dan ucapan hati-hati untuk Jendra kemudian ia masuk kedalam rumahnya.


...Kak Jendra...


Jangan lupa mandi dulu


Sikat gigi juga


Good night~


^^^Iya kak Jen...^^^


^^^Night too~^^^


Hanza kembali membuka buku ajaibnya, dia masih punya dua kesempatan kencan yang akan ia pikirkan besok pagi. Siapa yang akan terlebih dulu dia tulis. Hanza sudah tak sabar untuk itu.


Memikirkan kembali kejadian saat di restoran Jepang tadi pipinya kembali merona merah menutup wajah dengan kedua tangan dan menggelengkan kepalanya. Jendra mencium pipinya. Apa Hanza jangan cuci muka saja? Eh, jorok nanti jerawatan.


Menghilangkan pikirannya tentang kejadian tadi saat kencan Hanza bergegas membersihkan dirinya dan agar segera tidur pastinya.