
Namaku Hanza Fahira siswi menengah atas kelas satu, umur lima belas jalan enam belas tahun omong-omong.
Panggil saja Hanza yang cantik, eh tidak tidak. Aku tidak sepercaya diri itu. Hanza, itu saja, oke.
Kalian penasaran aku belajar di sekolah mana sekarang? Kuberi tahu di SMA Harapan Bangsa. Kenapa aku memilih untuk bersekolah disini?
Jawabannya karena kejadian beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya saat aku baru menginjak semester genap di kelas sembilan. Eh bukan cuma karena kejadian itu juga sih. Tapi karena jarak sekolah itu yang paling dekat dengan rumahku.
Oke, akan aku ceritakan.
Tapi, sebelumnya..
Kalian tahu F4?
Tentu saja, bukan?
Mereka itu ada banyak sekali versi, mulai dari Taiwan, Korea Selatan, Thailand bahkan di Indonesia dan sepertinya versi lain masih banyak lagi.
Dari sekian banyak versi F4, aku paling suka yang ada di sekolahku saat ini, mari kita sebut 4Boys. Alasannya, karena mereka nyata bisa aku lihat secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Tapi, tetap saja tidak bisa ku miliki. Penggemar mereka merupakan mayoritas penduduk sekolahku sendiri yang didominasi murid perempuan tentunya, biasanya disebut 4Me. Masukanlah aku kedalamnya karena aku juga menjadi salah satu penggemar 4Boys.
Mereka adalah---
...****************...
Beberapa bulan yang lalu..
"Nah, anak-anak nanti akan ada kakak-kakak dari SMA Harapan Bangsa yang akan mempromosikan sekolah mereka. Ibu harap kalian bisa bersikap yang baik ya terhadap mereka." Ucap wali kelasku kala itu.
Tak lama ada yang mengetuk pintu kelas, merekapun masuk setelah wali kelasku mempersilahkannya.
Mereka terlihat berwibawa dengan jas almamater sekolah yang mereka kenakan, pakaian rapi, rambut cepak rapi, pokoknya dari atas sampai bawah enak dipandang tidak ketinggalan mereka um--- ganteng hehe.
"Halo, adik-adik yang manis, cantik dan juga ganteng." Seketika suara riuh di kelas yang didominasi oleh murid perempuan termasuk aku. Si Kakak yang sedikit lebih tinggi dari yang satunya senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kita perkenalan dulu ya, kan ada istilah tuh namanya tak kenal maka tak sayang, gimana mau sayang orang kitanya aja belum kenalan, kan?"
Suasana kelas kembali riuh ketika salah satu murid perempuan menanggapi ucapan si kakak yang tengah promosi itu dengan percaya dirinya berucap "Kak, kok aku udah sayang ya sama kakak meskipun kita belum berkenalan."
"Wah, adik makasih loh. Namanya siapa dek?" Balas si Kakak sambil tersenyum, ia menatapnya mencondongkan sedikit badannya ke arah meja yang diduduki oleh murid perempuan itu.
"Hanza, kak." Iya itu adalah aku. Posisiku duduk di barisan depan tepat di depan si kakak yang lagi promosi. Dengan percaya dirinya aku memberikan tanggapan seperti itu melupakan nasihat wali kelasku agar bersikap baik. Ini cukup baik kan meskipun memalukan, tidak apa-apa lah.
"Dek Hanza, kalau udah sayang sama kakak berarti mau dong melanjutkan sekolahnya ke SMA Harapan Bangsa?" Tanya kakak itu dengan senyum percaya dirinya. Sedangkan aku menahan senyum dan membuat warna merah muda yang muncul begitu saja di pipi kiri dan kananku.
Oke, kembali ke tujuan utama yaitu promosi sekolah.
"Iya hehe." Jawabku malu-malu yang langsung saja dapat sorakan dari teman satu kelasku.
"Kalau gitu kamu harus mempersiapkannya ya dan yang lain juga harus belajar giat, oke?"
"Oke, kak." Ucap anak kelas serempak.
"Oh iya nama kakak Mahen Al Kahfi. Panggilnya kak Mahen yang ganteng aja ya." ucapnya disertai kekehan.
Percaya diri sekali si kakak ini tapi kan memang ganteng. Jadi iya kan saja.
Anggota pertama 4Boys, dia memperkenalkan diri dengan nama Mahen Al Kahfi. Wajahnya tirus, hidungnya kecil dan mancung, bibirnya tipis dan merah apa dia memakai perona bibir ya? lupakan jangan salah fokus! kulitnya putih, dan badannya cukup tinggi.
"Percaya diri banget sih, kak?" Jawab Kakak promosi yang satunya lagi. Yang cuma dibalas senyum lebar oleh kak Mahen.
"Nama kakak Muhammad Haikal Akbar. Panggilannya kak Haikal aja ya jangan pakai sayang nanti kakak baper sama adik-adik gemes."
Hm, ternyata sama saja.
Dan, anggota kedua yang aku tahu, Muhammad Haikal Akbar, kakak ini ganteng dengan senyum cerahnya, sedikit lebih pendek dari kak Mahen mungkin satu sampai dua sentimeter kelihatannya.
Kak Mahen sama Kak Haikal bergantian menjelaskan tentang sekolah mereka dan sampai tahap membagikan brosur sekolah mereka yang artinya tuntas sudah tugas mereka promosi.
"Oke, cukup sekian ya adik-adik penjelasan dari kami sebagai perwakilan sekolah untuk mengajak adik-adik mendaftar ke sekolah kami. Keuntungan terbesarnya kalian bisa melihat kak Mahen dan kak Haikal.
Sampai jumpa di SMA Harapan Bangsa." Tutup dari kak Mahen lalu pamit keluar menuju wali kelas yang menunggu diluar.
...****************...
Aku sudah menyelesaikan masa orientasi siswa dua minggu yang lalu, saat aku ini berada di kelas bersama chairmate-ku, Aliyah. Tapi panggil aja Lia biar gampang katanya.
Entah kenapa aku langsung nyaman dengan dia, sejak di hari pertama masa orientasi dan berakhirlah sekarang menjadi teman sebangku. Kita sering membicarakan hal random apa saja yang membuat kita tertawa. Sampai selera humor kitapun sama. Apalagi kalau membicarakan cowok ganteng hehe.
"Hanza." Panggil Aliyah.
"Iya, Li."
"Kamu mau ikutan ekskul apa?"
"Kurang tahu, aku belum mikirin itu."
"Ikut ekskul musik yuk bareng aku?"
"Aku bisa sih main piano. Tapi aku malu."
"Malu kenapa sih. Lagian nih sekalian cuci mata tahu."
"Huh?"
"Iya lihat kak Mahen."
"Hm, benar juga sih."
Waktu pulang sekolah tiba juga, tapi aku dan Lia sekarang tidak langsung pulang ke rumah masing-masing melainkan ke ruang ekskul. Kami akhirnya memutuskan memilih ekskul musik.
"Wah, ternyata kak Haikal ikut juga ekskul musik ya." Bisikku ke Lia.
"Enggak, Han. Kak Haikal itu paduan suara."
"Kenapa dia ada di ruangan ini juga?"
"Kan ekskul musik sama paduan suara itu di satukan, Han. Kamu baru tahu?" Aku cuma mengangguk saja karena memang benar aku baru mengetahuinya kalau saja tidak bertanya.
Aku melihat salah satu kakak kelas di bagian paduan suara yang kelihatannya kalem, senyumnya manis sedang menjelaskan sesuatu ke adik kelas atau anggota baru lebih tepatnya.
Calon imam. Batinku.
"Adem banget ya lihatnya juga."
"Huh?"
"Itu adem aja di lihatnya, kayaknya baik deh orangnya."
"Yang mana?"
"Itu yang gak pake almamater mirip aktor Korea Song Joong Ki menurutku."
"Oh itu kak Reyhan. Nama lengkapnya Reyhan Fauzi kalau mau tahu."
Anggota ketiga, astaga dia mirip aktor Korea yang populer itu hehe. Reyhan Fauzi hidungnya mancung sekali ugh, senyumnya bikin meleleh kalau menurutku, gaya rambutnya cocok sekali dengannya terlihat rapi dan ganteng.
"Kok kamu tahu?"
"Dia Kakak yang promosi ke sekolah aku dulu."
"Oh jadi kamu masuk ke sekolah ini jalur kepincut kakak promosi?"
"Heh.. pelan-pelan."
"Kepincut siapa kamu, Han?"
"Kak Mahen yang ganteng hehe."
...****************...
Ekskul musik istirahat selama tiga puluh menit, aku dan Lia memutuskan untuk duduk di bangku dekat lapangan sambil menonton ekskul basket.
Duk!!
Bola basket menggelinding tepat ke kakiku.
"Hey kamu, bisa oper bola basketnya kesini gak. Sorry!"
"Hm. Iya kak." Aku mengambil bola basket dan melempar pelan ke kakak kelas itu.
"Makasih ya." ucapnya sambil tersenyum.
Balasku cuma tersenyum dan mengangguk saja.
"Kamu tahu gak dia siapa, Han?" tanya Lia setelah kakak kelas yang menyuruhku itu kembali bermain basket ke lapangan.
Aku menggeleng.
"Enggak. Aku baru lihat dia."
"Kak Jendra Putra Novian."
Terakhir, anggota yang aku tahu, Jendra Putra Novian namanya. Menurutku, diantara mereka berempat dia yang paling ganteng. Entahlah, menurutku wajah dan badannya begitu.. apa ya kata yang cocok untuk menggambarkan nya? Ah, seperti seorang pangeran, wajahnya ganteng dan badannya sangat bagus, sepertinya dia rajin sekali berolahraga selain basket maksudku, mungkin suka pergi ke gym agar badannya terbentuk?
"Ayah dia namanya Novian?" tanyaku sedikit bercanda.
"Bukan. Setahuku dia anaknya Pak Tio, itu loh guru Biologi." Jelas Lia serius sekali.
"Terus? Ah, pasti lahir bulan November biar gampang kasih namanya."
"Bukan juga Han, dia itu lahirnya bulan April."
"Kok kamu tahu banget sih?"
"Iya, aku kan stalk dia hehe."
"Dasar ya."
...****************...
Bukankah sudah ku sebutkan semua anggota F4 di sekolahku itu? Mari kita sebut mereka 4Boys. Bagaimana apa menarik atau biasa saja?
Mahen Al Kahfi
-Kakak yang promosi ke sekolah aku dulu
-Ternyata sudah kelas tiga
-Ekskul musik
-Anggota osis
Muhammad Haikal Akbar
-Kakak yang promosi dengan kak Mahen
-Kelas dua
-Ekskul paduan suara + futsal
Reyhan Fauzi
-Kelihatannya sih kalem
-Kelas dua
-Ekskul paduan suara
Jendra Putra Novian
-Paling ganteng
-Kelas dua
-Ekskul basket
Sebenarnya aku tak pernah berpikir sekalipun untuk bisa dekat dengan mereka, 4Boys ---F4 versiku--- apalagi sampai berkencan dengan mereka? Ugh, rasanya tidak mungkin sekali. Aku itu bagaikan rumput liar diantara para bunga kalau diibaratkan. Ya aku tahu diri. Lagipula aku ingin fokus belajar saja sampai ujian akhir agar tidak ada kendala apapun. Soal aku bilang sayang pada kak Mahen saat itu hanya bercanda, tidak serius.
Mendaftar ke SMA Harapan Bangsa jalur kepincut kak Mahen tidak sepenuhnya benar, karena orang tua ku sudah merencanakannya beberapa bulan sebelum kak Mahen dan kak Haikal datang ke sekolah ku dan aku menyetujuinya kala itu.
Kejadian yang menurutku tidak mungkin terjadi berubah sejak saat itu..
Sejak saat aku pulang sekolah..
...****************...
Sudah berada di minimarket aku langsung menuju rak dimana mie hijau itu berada.
"Ah, sekarang aku tidak akan pilih-pilih dan menerawangnya lagipula koleksiku sudah lengkap." Monologku lalu mengambil dua buah mie hijau beda varian rasa.
Saat tujuanku ingin membuka showcase minimarket. Ada tangan lain yang memegang pegangan showcase lebih tepatnya memegang tanganku. Aku menoleh kearah pemilik tangan yang tidak sengaja memegang tanganku.
Ternyata itu tangan kak Mahen.
"Ah, maaf! aku gak sengaja." Kak Mahen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kami mendadak canggung.
"Kamu duluan." Titahnya menyadarkan lamunanku.
"Ah iya." Dan kuambil dua buah susu kotak warna biru muda.
"Kamu anak ekskul musik kan?" Tanya Kak Mahen sedang tangannya mengambil minuman teh kotak dari dalam showcase.
"Iya kak."
"Aku di Ekskul musik juga. Aku Mahen.. kali aja kamu lupa atau gak tahu."
Aku cuma senyum. "Aku tahu kok, kak."
Mata kak Mahen tertuju pada sesuatu yang berada di tanganku yaitu mie hijau serat sayuran.
"Kamu membeli mie itu karena memang suka atau karena ada photocard cowok Korea-nya?" Tanyanya sambil ketawa kecil.
Mataku langsung tertuju pada mie yang kupegang.
"Um... Karena aku suka dong, kak. Terus mie ini juga sehat kan dari sayuran." Tidak salah sih jawabanku tapi karena photocard juga memang benar hehe.
"Kalau dapat photocard ya itu bonus, kak. Kan tujuan aku mau makan mie bukan makan photocard hehe." Dustaku, tentu saja.
"Lucu kamu."
"Huh?" aku terbengong.
"Aku duluan ya." pamit kak Mahen menyadarkan lamunanku.
"Eh iya kak." jawabku kikuk karena malu karena dipanggil lucu oleh kak Mahen.