
Hanza tengah mengkhawatirkan Lia sejak dari perpisahan mereka sepulang sekolah, kabar Lia tidak ada lagi setelahnya ditambah ponsel sahabatnya itu tidak aktif sama sekali sampai sekarang. Apa terjadi sesuatu pada Lia, semoga saja semua baik-baik saja. Akan tetapi perasaannya sekarang tidak baik sama sekali. Dirinya harus menghubungi seseorang yang mungkin saja dapat membantunya. Jendra Putra Novia. Entahlah Hanza hanya terpikir bahwa Jendra dapat mengatasi kegelisahannya. Meskipun awalnya dirinya memilih Mahen sebagai opsi pertama tapi cewek itu mengurungkan niatnya. Hanza merasa Mahen masih mempunyai urusan yang memusingkan, menurutnya. Semua karena Maureen.
Hanza menghubungi Jendra dan memintanya untuk bertemu di sebuah kafe dekat rumahnya. Hanza rasa menceritakan lewat panggilan telepon tidak bisa leluasa bercerita. Akhirnya dirinya sampai dan menunggu Jendra untuk beberapa menit mungkin. Hanza memesan minuman yang paling sering dibeli di kafe tersebut. Tak lama Jendra datang dengan seseorang yang tidak ia ingin repotkan, Mahen Al Kahfi. Jendra datang bersama Mahen dan dua orang lain di belakang mereka yaitu Haikal dan Reyhan juga. Astaga Hanza hanya bisa menganga tak percaya. F4 khayalannya sedang berjalan menuju meja tempat dimana ia duduk.
"Hai, Hanza dedek gemes." Ucap Haikal dengan tengil setelah keempatnya ikut duduk satu meja dengan Hanza.
"Baru juga dateng udah tengil aja lo." Sahut Jendra merasa bosan melihat ketengilan Haikal yang senang sekali menggoda adik kelas. Haikal hanya menyengir sebagai tanggapan. Mahen dan Reyhan hanya menggeleng tak heran dengan kelakuan Haikal itu.
"Jadi, Za ada apa, kata kamu ada sesuatu yang penting banget sampe gak bisa di ceritain di telepon?" Kata Jendra, membuat yang lainnya ikut menatap Hanza juga. Hanza jadi gugup dibuatnya kan karena ditatap cowok-cowok ganteng di sekolahnya.
"Gini, kak." Hanza menatap keempatnya bergantian. "Lia gak tahu kemana. Sampai saat ini belum ada kabarnya sama sekali, orangtuanya bahkan gak tahu juga kemana Lia karena ponselnya pun gak aktif sampai sekarang. Aku khawatir makanya aku mau minta bantuan kak Jendra karena kakak-kakak yang lain juga ikut kesini aku harap kalian juga mau ikut membantu." Pinta Hanza dengan lirih.
"Hm.. aneh ya." Haikal menaruh tangannya di dagu. "Ada kemungkinan di culik gak sih?" Ucapnya dengan hati-hati.
Hanza meringis, ia sempat berpikir begitu sebenarnya. "Kak aku takut banget." Hanza tambah khawatir jadinya dengan kemungkinan terburuk itu.
"Kamu tenang aja, Hanza." Kata Reyhan lembut. Cowok itu bahkan tak segan mengusap bahu Hanza agar cewek itu merasa sedikit tenang. Hanza duduk sendiri, di kursi sebelah kiri ada Haikal dan Reyhan yang posisinya dengan Hanza. Disisi kanannya ada Mahen dan diseberang nya Hanza adalah Jendra.
Haikal berdehem agak keras, Reyhan yang gak tahu apa-apa hanya heran apa Haikal tersedak ludahnya sendiri atau bagaimana kenapa tiba-tiba berdehem. "Apa sih, lo." Omel Reyhan.
"Ck, lo mah gak tau berita sih." Haikal mendengus pelan. Membuat Reyhan menaikan sebelah alisnya heran.
"Ada yang cemburu loh nanti. Udah itu jangan lakuin skinship lagi sama dek Hanza." Ucapnya pada Reyhan. Haikal menatap Jendra dan Mahen. Usut punya usut rupanya Haikal tahu tentang yang diantar oleh Jendra saat pesta ulang tahun Mahen. Dan juga tentu saja dengan Mahen yang pernah jalan berdua dengan Hanza saat pertemuannya dengan Lia kala itu.
"Ya bilang aja lo cemburu, Kal." Protes Reyhan tak terima dilarang begitu oleh Haikal yang notabene juga bukan siapa-siapa Hanza.
"Ya emang sih, tapi ada yang lebih cemburu." Ucap Haikal menggerakkan bola matanya kearah Mahen dan Jendra.
Ketiga orang yang tadi hanya diam saja itu kini menatap Haikal penuh tanya. "Apa sih, Kal." Ucap Mahen serius yang membuat Haikal menghentikan acara jahilnya. "Tujuan kita kesini buat bantu Hanza nyari Lia, jadi seriuslah."
"Iya-iya." Jawabnya.
"Gue curiga ini perbuatan Maureen." Ucap Mahen tiba-tiba.
"Maureen?" Tanya Jendra.
"Tapi kita gak bisa asal tuduh juga, bang. Gak ada bukti." Sahut Haikal yang disetujui anggukkan oleh yang lainnya.
"Iya gue tahu." Jawab Mahen menghela nafas. Mahen tidak sembarang berpikir bahwa Maureen dalang di balik penculikan Lia karena dirinya sempat menerima pesan dari cewek itu yang berisi ancaman yang menyangkut pautkan Lia didalamnya.
"Mau bagaimana lagi untuk sementara tunggu sampai besok kita lapor polisi tentang Lia. Kamu yang tenang, Za. Kita pasti bakal bantu, Lia juga teman kita." Kata Jendra menenangkan Hanza.
"Iya Jendra bener, Han. Kamu sekarang pulang aja dulu ya istirahat, besok kita masih masuk sekolah." Kata Mahen menyetujui ucapan Jendra. Cowok itu kini mengelus rambut Hanza lembut, merasa abai dengan keberadaan temannya yang lain seolah hanya ada dirinya dan Hanza saat ini. Membuat ketiganya yang seolah tak dianggap itu melemparkan pandangan satu sama lain.
Haikal berdehem, "ingat bang masih ada kita loh," cibir cowok itu.
"Eh, omong-omong kita kayak F4 yah." Celetuk Haikal senang. Reyhan menaikan alisnya dengan celetukan Haikal barusan.
"Dek Hanza sebagai Jandi dan gua Jun-pyo hahaha." Katanya terbahak. Sontak yang lain merasa malu dengan Haikal yang tertawa itu pasalnya pengunjung yang lain melihat kearah meja mereka.
"Halu lo." Ucap Reyhan. "Gue lah yang cocok jadi Jun-pyo." Katanya menyisir rambutnya kebelakang.
"Lo tuh gak cocok jadi lead male, lo itu cocoknya jadi second lead male yang sadboy hahaha. Udah mah bukan pemeran utama sadboy lagi. Hahaha." Jawab Haikal sombong. Reyhan hanya mendengus lalu menggeplak lengan Haikal agar cowok itu berhenti tertawa. Dan bukan hanya berhenti bahkan Haikal sekarang meringis mengusap lengannya karena geplakan Reyhan cukup keras. Poor Haikal.
"Udah-udah berhenti. Haikal jangan di bales yah nanti tambah ribut lagi kalian." Ucap Mahen melerai keributan. Mau gak mau Haikal berhenti yang tak tadinya akan membalas perbuatan Reyhan.
"Aku penasaran kenapa malah kalian berempat yang datang, aku kan tadi cuma minta kak Jendra untuk dateng?" Tanya Hanza penasaran.
"Kita sebenarnya lagi di rumah bang Mahen, Za. Tadi lo nelpon pas banget kita lagi kumpul dan mereka itu kepo jadi ya udah gue cerita. Dah berakhirlah mereka semua ikut." Jelas Jendra yang diangguki ketiga yang lain. Hanza hanya mengangguk paham.
"Yuk kakak antar kamu pulang." Kata Mahen.
"Aku bawa motor sih kak."
"Iya gak apa-apa. Aku anterin kamu, aku ikutin dari belakang." Jawab Mahen lagi memaksa karena jujur saja cowok itu khawatir.
"Ya udah deh." Jawab Hanza akhirnya.
"Guys, kita duluan yah." Mahen pamitan pada ketiganya. Hanza juga ikut pamitan.
"Semuanya makasih ya. Aku pulang duluan." Hanza tersenyum kecil setelahnya melajukan motornya diikuti Mahen dari belakang.
"Ada bau gosong nih." Ucap Haikal tiba-tiba setelah Mahen dan Hanza pergi. Reyhan hanya cuek bebek tidak menangkap maksud Haikal sedangkan Jendra mendengus pelan.
"Shut up Haikal." Membuat Haikal tertawa puas berhasil menjahili Jendra.