
Memutuskan ke perpustakaan di jam istirahat ini karena aku tidak ingin mampir kesini lagi saat pulang sekolah tiba.
Aku mencari buku paket biologi.
Berjalan mencari rak dimana buku itu berada saat aku menemukannya. Buku itu berada di rak jajaran kedua teratas tanganku kurang sampai, jaraknya sekitar sepuluh senti di atas tanganku.
Meskipun sudah mencoba berjinjit tetap saja masih tidak sampai.
"Kalau butuh bantuan itu bilang. Jangan maksa diri."
Suara cowok tiba-tiba terdengar tepat dibelakang telingaku membuatku refleks mundur karena kaget, kepala belakangku terantuk dagu cowok itu dan membuatnya meringis kesakitan.
"Maaf gak sengaja."
"Iya. Dimaafin."
"Lagian kakak ngagetin tahu."
"Jadi, lo mau buku itu?"
Hanza mengangguk mengiyakan.
"Nih. Kenapa gak minta bantuan aja gitu."
"Makasih kak Haikal. Tadi kan gak ada siapa-siapa jadi minta tolong ke siapa coba?
Kakak kenapa ke perpustakaan gak ke kantin?"
"Lagi cari buku buat bahan makalah.
Kok tahu nama gue, sih? Lo PRH ya?"
"Apa itu PRH?"
"Penggemar Rahasia Haikal." jawab kak Haikal dengan kekehan nya.
"Hm... Bukan kak. Kita satu ruangan ekskul otomatis aku tahu kakak, apalagi kakak itu bawel jadi mudah banget dikenali."
"Oh anak ekskul musik ya? Kalau paduan suara gue pasti tahu muka lo."
"Iya kak. Aku ke kelas dulu, permisi."
...****************...
" Oi, PRH."
"Astaga kak Haikal bikin kaget aja. Apaan sih PRH PRH."
"Ngaku aja lo itu PRH juga kan."
Kalau iya kenapa, huh?
"Enggak ya kak." sangkalku.
Sejak kejadian di perpustakaan hari itu kak Haikal jadi sering menggodaku dengan sebutan apa itu PRH --- Penggemar Rahasia Haikal katanya.
Kak Haikal itu kayaknya sadar deh kalau dia itu ganteng makanya tebar pesona terus. Apalagi suka banget godain adik kelas yang menurutnya lucu. Dan membuat yang di goda malu-malu kucing.
Untungnya aku gak pernah jadi korban tebar pesonanya kak Haikal, geli banget rasanya pasti malu juga selama ini cuma jadi saksi mata aja.
Tapi karena kejadian di perpustakaan hari itu sekarang giliran aku yang selalu di goda dia.
Kak Haikal itu memang ganteng, senyumnya cerah, cuma sayang, agak flirting aja. Gak tahu kalau lagi kencan?
Aku jadi penasaran bagaimana rasanya berkencan dengan kak Haikal sepertinya menyenangkan apalagi kelihatan kak Haikal itu asyik orangnya.
Beruntung sekali yang menjadi kekasihnya, mungkin.
Hanza tersenyum sendiri membayangkannya, jadi yang menjadi teman kencan Hanza selanjutnya adalah
Muhammad Haikal Akbar
...****************...
Hanza tetap enggan membantu temannya ini. Sudah puluhan kali ia tetap menolak satu permintaan dari temannya. Dibujuk dengan apapun Hanza tetap tidak mau.
Sampai---
"Kalau kamu gak mau bantuin aku. Aku bakal mengirim chat ke kak Mahen dan bilang ke dia kalau kamu suka sama dia."
Ancam Lia yang tengah memegang hp milik Hanza membuka roomchat kosong Mahen dan mulai mengetik sesuatu yang menggelikan tinggal menekan tombol send saja.
"Astaga Lia. Kamu mainnya gak asyik ah. Jangan dong!!" Pinta Hanza mencoba menggapai hp miliknya.
"Jadi, mau ya bantuin aku?"
"Ya udah iya. Lagian kamu aneh-aneh aja mainan aplikasi kencan segala. Mana orangnya random lagi nama samaran fullsun pakai photo profil Shin-chan."
"Udah, nanti sore katanya. Ketemu di Cafe seberang toko buku." Ucap Lia.
"Iya. Tapi kamu ikut kan, Li?"
"Enggak dong Han. Kamu aja."
"Bilang aja kapan-kapan. Kapan yang entah kapan hehe."
"Sebenarnya ini udah ke dua puluh kali dia ngajak aku ketemu cuma aku tolak terus. Kasian tahu Han, makanya sekarang aku terima aja ajakan dia jalan."
"Terus, kenapa kamu suruh aku?"
"Aku malu Han. Kata dia sekolah di Harapan Bangsa juga. Aku takut dia orang yang aku kenal."
"Ya sama dong Lia aku juga kan satu kelas sama kamu."
"Tolongin dong Han sekali ini aja. Aku bayarin deh kado kamu buat kak Mahen."
"Oke deal ya."
"Makasih Hanza-ku..." Ucap Lia sambil memeluk Hanza.
...****************...
Omong-omong, Lia memakai nama samaran 시즈니 pakai photo profil Justin Bieber--- penyanyi kesukaannya. Hanza duduk di cafe dekat jendela menunggu si fullsun.
Lia meminjamkan handphone miliknya yang digunakan untuk mengakses aplikasi kencan online itu ke Hanza. Lia sebenarnya mempunyai dua buah handphone jadi yang satunya dipinjamkan ke Hanza agar memudahkan cewek itu berkomunikasi dengan si fullsun nantinya.
...fullsun...
Aku sudah di depan cafe.
Hanza melirik handphone Lia yang bergetar menandakan ada pesan masuk. Ternyata dari si fullsun.
^^^Aku sudah di dalam^^^
^^^Aku dekat jendela, btw.^^^
^^^Pake baju putih celana jeans.^^^
'haha lengkap banget aku balesnya.'
Aku masuk kedalam cafe ya.
Kalau bisa kamu angkat tangan ya. Kkk~
'apa-apaan nih, enggak mau!!'
^^^Ya masuk aja dulu.^^^
^^^Kamu pakai baju apa?^^^
Aku pakai jaket kulit hitam
Celana hitam
Pakai masker hitam
'serba hitam??'
Hanza menoleh kearah pintu cafe yang terbuka disana ada cowok dengan setelan serba hitam sama persis dengan yang si fullsun katakan di chat barusan.
'apa itu si fullsun? tapi dari perawakan badannya kayaknya aku kenal dia deh??'
Benar saja cowok itu menghampiri tempat duduk Hanza, membuka maskernya ternyata---
"Kak Haikal??"
"Wah... gak nyangka ternyata itu lo, dek. Gue kira orang Korea dari display name lo."
"Kakak juga aneh fullsun."
"Eh.. jangan salah, itu karena gue bisa memberikan cahaya buat orang lain gue bisa bikin orang lain senyum." Ujarnya membuat Hanza senyum tipis.
"Nah buktinya lo senyum juga kan karena gue. Btw, gue buta hangeul itu display name lo bacanya apa?"
"Si-jeu-ni kak."
"Artinya?"
Haikal berdehem kecil lalu kembali bertanya. "Lo kalau udah ada cowok ngapain main aplikasi ginian, sih? Lo lagi bosen sama cowok lo? Wah parah lo, dek. Kalau ketahuan bisa langsung putus lo, baru tau rasa!!"
"Aku sama cowok aku ldr kak. Kalau kata lagu Raisa mah 'engkau disana, aku disini'." Hanza terkekeh.
"Apaan sih gak jelas lo, dek. Eh gue belum tahu nama lo."
"Hanza, kak."
"Oke. Eh tapi tetap aja gue gak enak kalau harus jalan sama yang udah punya cowok entar gue dibilang perebut pacar orang lagi. Kenapa gak bilang di chat sih."
"Ya ampun kak. Aku becanda itu panggilan kesayangan dari group NCT buat fans mereka."
"Oh bilang dong dari tadi. Jadi lo jomblo nih?"
"Ya gitu kak."
"Ya udah pesan makan dulu ya lapar."
"Hm... Kak."
...****************...
Sesudah makan mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke taman, tapi sebelumnya mereka mampir ke minimarket terdekat dulu membeli beberapa camilan dan minuman.
Mereka duduk di kursi taman sambil melihat orang-orang yang juga ada di taman. Ada anak kecil yang bermain, anak muda yang pacaran, orang-orang yang sedang menikmati makan dan lainnya.
Haikal tertawa kecil.
Hanza sontak saja menoleh penasaran apa yang membuat Haikal tertawa.
"Kakak kenapa?"
"Lucu aja. Gue gak nyangka apa itu tadi Si-jeu-ni adalah lo. Udah puluhan kali lo nolak buat ketemu, kenapa?" tanyanya menatap Hanza dalam.
"Anu... Itu... " Hanza gugup. Bingung harus menjawab apa, orang ia cuma menggantikan Lia.
"Itu anu apa?" Respon langsung Haikal.
"Lo takut?" Tanyanya lagi penasaran.
"Um... Sebenarnya aku gak ada niatan sampai ketemu sih kak. Cuma buat bersenang-senang aja." ujar Hanza akhirnya mendapatkan alasan yang cukup masuk akal.
"Oh gitu ya. Terus kenapa sekarang akhirnya nerima ajakan gue buat ketemu?"
"Karena kakak pernah bilang anak Harapan Bangsa jadi aku gak terlalu takut. Kita kan satu sekolah."
"Gimana kalau seandainya yang ketemu lo ternyata bukan gue. Apa tetap itu jawaban lo?"
"Hm.. gak tahu."
"Lucu lo."
"Huh?"
"Lo. Lucu. Hanza" ucapnya penuh penekanan di setiap kata.
Hanza salah tingkah dibuatnya, buru-buru ia mengambil satu teh kotak dari dalam kantung belanjaan yang tadi mereka beli di minimarket.
"Cie salting."
"Apa sih, enggak ya kak!"
"Tuh pipi kamu merah."
"Kak Haikal..."
"Iya-iya maaf."
"Gimana perasaan lo pas tau gue itu fullsun. Jawab jujur lo senang atau malah biasa aja?"
"Hm.. biasa aja kak."
"Kok gitu."
"Ya tadi katanya jawab jujur. Kakak ternyata baik orangnya gak tengil kayak di sekolah. Hari ini kakak um--- keren banget."
"Apa gue gak denger kata-kata terakhir yang lo bilang?"
"Kak Haikal hari ini keren banget!" Ulang Hanza.
"Haha."
"Kenapa ketawa."
"Gak tahu, gue seneng aja ketemu lo hari ini. Lo beda banget di sekolah sama di luar."
"Apa bedanya kak?"
"Lo dua kali lipat gemesin tahu gak?"
Ucap Haikal mencubit gemas pipi kanan Hanza.
"Sakit tahu kak."
"Dih gue pelan-pelan tadi."
"Nih lihat pipi aku merah sebelah sini." Tunjuk Hanza pada pipinya yang sedikit memerah akibat cubitan gemas Haikal tadi setelah ia lihat lewat cermin kecil yang selalu ia bawa.
"Mana coba gue lihat?" Tanyanya mendekatkan kepalanya agar memudahkan melihat pipi Hanza yang katanya memerah.
"Ini." Tunjuk Hanza pada pipinya.
"Oh ini." Haikal memegang pipi sebelah kanan Hanza mendekatkan wajahnya dan---
cup
Haikal mencium pipinya. Hanza tentu saja terkejut dan sedikit menegang dibuatnya. Haikal menjauhkan wajahnya dan tersenyum.
"Udah gak sakit kan?"
Hanza masih terbengong dalam posisinya. "Hei.." panggil Haikal dan membuat Hanza sadar saat itu juga.
"Kak Haikal kok main cium aja, gak sopan!"
"Hehe.. Sorry! Abisnya lo gemas banget tahu gak. Kayak minta di pacarin." ujar Haikal diakhiri cengiran tak berdosa.
Haikal melakukan gerakan-gerakan lucu yang mengundang gelak tawa Hanza.
"Maafin ya dek?"
"Iya-iya kak."
...****************...
"Sana masuk rumah kamu, cantik!!"
"Apa sih kak."
"Udah cepat masuk rumah sana. Sekarang siang apa malem?
"Malem kak."
"Ya udah malem juga. Jangan lupa mimpi Haikal.
Besok kita ketemu lagi. Bye~"
"Bye juga kak. Hati-hati pulangnya."
Ini gila!!
Aku terbawa perasaan astaga..
Kak Haikal manis banget..
Kak Haikal tadi ganteng banget..
Cocok banget jadi gandengan gak bikin malu!!
Yang ada, aku yang bikin malu kayaknya..
Apa tadi sore aku bikin malu??
Fullsun.. nama itu memang cocok buat kak Haikal.
Kak Haikal itu memang kayak matahari.. Bikin tersenyum orang-orang disekitarnya termasuk aku yang tadi disampingnya..
Lupakan!!
Lupakan!!
Lupakan, Hanza!! Jangan terbawa perasaan!!
Besok.. semuanya akan kembali normal.