4Boys

4Boys
birthday party



Aku membuka lokerku.


Pluk


Sebuah undangan pesta ulang tahun terjatuh dari lokerku. Saat kulihat ternyata undangan dari kak Mahen, terlihat jelas di bagian atas undangan ini tulisan Mahen's Birthday Party. Dan tertera namaku sebagai yang diundang. 'Dear Hanza'.


Astaga aku diundang?


Aku tidak menyangka, apa sekarang aku menjadi salah satu teman dekat kak Mahen?


Ini benar-benar sulit dipercaya. Aku harus berpenampilan cantik agar tidak mengecewakan kak Mahen sebagai teman dekatnya.


...****************...


Aku datang sendiri ke pesta kak Mahen. Sayang sekali Lia tidak di undang, aku heran kenapa hanya aku saja yang diundang padahal kami sama-sama satu ekskul musik pasti kak Mahen juga kenal Lia. Apa ini gara-gara hari itu? Hari dimana aku tidak sengaja bertemu dengannya di minimarket dan ternyata dia mengenaliku sebagai salah satu anggota ekskul musik, dia jadi menganggapku sebagai teman dekatnya. Sudahlah, lagipula Lia biasa saja seperti tidak tertarik.


Kak Mahen tampil dengan setelan jas serba hitam serta rambut rapi, terlihat tampan dan berwibawa seperti seorang pimpinan perusahaan atau seperti seseorang yang akan melamar? Eh. Dia kan masih sekolah kelas tiga, astaga belum waktunya.


Oke kembali ke pesta kak Mahen. Setelah pemotongan dan memberi kue. Sekarang dia berjalan ke arah piano, katanya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang. Seseorang itu siapa ya? Yang pasti bukan aku.


Beruntung sekali seseorang yang akan dinyanyikan sebuah lagu oleh kak Mahen, seistimewa itukah dia sampai kak Mahen ingin menyatakan perasaannya tepat di hari ulang tahunnya di depan banyak orang dan yang membuat gemas adalah didepan orang tua kak Mahen sendiri.


Kak Mahen mulai memainkan tuts pianonya sesekali iya melihat kearah tamu undangan dan tersenyum kepadaku.


Eh?


Matanya kembali lagi ke arah piano dan lagu pun selesai kak Mahen tersenyum dan lagi dia menatap-ku?


Tamu undangan memberi tepuk tangan atas penampilan kak Mahen. Aku tersadar dan ikut bertepuk tangan.


Tidak mungkin untukmu, Hanza. Jangan bermimpi, kalian tidak sedekat itu!


"Wah lagunya untuk siapa, nak?" Goda sang mama ke kak Mahen.


Kak Mahen cuma tersenyum tidak menjawab pertanyaan sang mama, malah langsung memegang microphone.


"Aku merasakan tatapanmu saat kita pertama kali bertemu." Tatapannya seperti mengabsen satu persatu undangan yang hadir dan berhenti tepat saat melihatku?


Kak Mahen menatapku atau siapa?


"Kupikir itu kesalahpahaman saja." Lagi-lagi kak Mahen tersenyum manis.


"Tapi kali kedua, ketiga dan seterusnya aku mulai sadar ini bukan kesalahpahaman saja, ini cinta pada pandangan pertama yang setiap saat terus bertambah." Kak Mahen terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Dihari ini aku Mahen Al Kahfi ingin membuatmu merasa istimewa dengan disaksikan puluhan orang dan kedua orangtuaku, kuharap kamu mau menerima aku sebagai kekasihmu." Kak Mahen berjalan kedepan menghampiri undangan yang hadir terus melangkah tanpa memutuskan tatapan mata dan senyum manisnya kearahku.


Eh?


Aku menatap kearah sampingku ada kak Irene yang cantik sedang tersenyum kearah kak Mahen. Iya sudah pasti tatapan itu untuk kak Irene pasti cocok bersanding dengan kak Mahen.


Kak Mahen semakin dekat dan berhenti tepat didepanku. Dia tersenyum mengulurkan tangan padaku. Aku masih tidak percaya. Dia menganggukan kepalanya memberi kode agar aku mau menerima uluran tangannya.


Dengan gugup aku menerimanya, kak Mahen membawaku ke tempat dimana orang tuanya berada.


"Jadi ini gadis yang istimewa itu, nak."


"Namanya siapa?" tanya sang mama pada diriku.


"Hanza, Tante." Aku menjawab dengan malu-malu.


"Jadi gimana jawabannya, Han?" tanya kak Mahen.


"Ini sulit dipercaya, kak. Tapi aku juga suka sama kakak. Jadi aku menerima Kakak."


"Cie."


Sambutan dan cuitan terdengar riuh. Aku dan Mahen tersenyum bahagia, tangannya terangkat ke bahuku merangkul ku dari samping. Aku sendiri? sudah pasti jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


...****************...


"Kak, aku gak nyangka kalau kakak juga suka sama aku. Kakak ingat gak pertemuan pertama kita itu saat kakak promosi ke sekolah aku?"


"Iya kakak ingat itu. Kamu lucu dan berani. Kakak tidak menyangka akhirnya kamu masuk ke SMA Harapan Bangsa."


"Kan kakak yang minta aku masuk ke sekolah kakak, gimana sih."


"Oh iya. Bagus deh kamu masuk ke sekolah yang sama kayak kakak. Kalau enggak, kejadian ini mungkin gak bakal terjadi."


"Dek."


"Iya kak."


"Pejamkan mata kamu, dek." pinta kak Mahen padaku.


"Mau apa kak?" aku bertanya karena penasaran tentu saja.


"Udah buruan." titahnya lagi mau tidak mau aku harus memejamkan mata.


"Oke deh."


Hanza memejamkan matanya sambil tersenyum.


"Mau apa sih, kak?" tanyanya masih penasaran. Sedetik kemudian benda kenyal dan manis menyentuh bibirnya dengan kasar.


"Kak Mahen!" Pekiknya.


"Loh, Lia?"


"Hayo kamu ngapain, bibir kamu maju gitu pas lagi tidur. Mimpi jorok ya?"


"Mimpi jorok apa? Mainan tai ayam?"


"Hayo ngaku aja dengan siapa? Eh tadi kamu manggil kak Mahen. Astaga Hanza." Lia menutup mulutnya kemudian geleng-geleng kepala tidak menyangka.


"Enggak ih, Lia. Gak gitu. Gak mimpi yang jorok, kok. Tapi mimpi yang indah tahu." Protesnya pada Lia dengan mengguncang lengannya.


"Apa memangnya?" Tanya Lia sedikit penasaran.


"Aku diundang ke pestanya kak Mahen. Disana dia menyatakan perasaan ke aku." Lia menghembuskan nafasnya lalu menyilangkan tangannya didepan dada.


"Kalau mimpi kamu diundang ke pesta kak Mahen, aku ucapkan selamat karena itu menjadi nyata. Ini undangannya." Ujarnya dan memberikan undangan pesta ulang tahun persis di mimpi Hanza, yang membedakan tidak ada kata 'Dear Hanza' hanya Hanza saja.


"Tapi kalau mimpi kamu di tembak kak Mahen aku sarankan tetaplah bermimpi karena itu tidak mungkin. Hahaha." Ejeknya pada Hanza, tentu saja Lia itu berpikir realistis. Hanza menekuk wajahnya kesal, menyesali ucapannya harusnya ia mengurangi kalimat perihal mimpi ditembak Mahen.


"Ih Lia, kamu kok gitu."


"Hahaha mimpi kamu ada-ada saja lagian."


"Omong-omong, kamu diundang juga?" Lia menganggukan kepalanya.


"Semua anak ekskul musik diundang, tentu saja aku juga dapat."


"Oh begitu ya. Nanti pulang sekolah ke toko buku yuk ada yang ingin aku beli."


"Maaf banget Han aku ada acara keluarga sore ini jadi disuruh bantuin ibu aku."


"Iya Li gak apa-apa."


...****************...


Hanza memasuki toko buku disana tersedia berbagai perlengkapan sekolah, peralatan menulis yang lengkap bahkan terdapat buku bacaan romansa kesukaan Hanza.


Hanza sudah mendapatkan perlengkapan sekolahnya, sekarang dia tengah mencari buku yang cocok untuk dia jadikan tempat curahan hatinya.


Seolah tersihir matanya tertuju pada buku berwarna hijau neon dengan cover depan lambang cinta atau hati berwarna putih yang kemudian diambilnya.


Saat berniat membuka nya ada suara yang mengagetkannya. Dibelakangnya hadir sosok wanita berpenampilan nyentrik serba hijau neon.


"Selamat kamu pemilik berikutnya."


"Maksudnya apa ya?" tanya Hanza bingung.


"Buku itu. Yang sedang kamu pegang."


"Saya berniat membelinya. Buku ini bagus cover-nya."


"Kamu tidak perlu membayar buku itu cukup bayar saja belanjaanmu yang lain.


Oke, akan aku jelaskan rules dari buku itu. Buku itu ajaib ketika kamu menuliskan nama seseorang kamu akan berkencan dengan nama orang yang kamu tulis jadi jangan sembarang menulis, paham!" Jelas wanita itu memperingatkan.


Hanza pun mengangguk.


"Kesempatan yang diberikan untuk berkencan adalah empat kali dengan orang yang berbeda satu kali kencan satu orang. Jadi, kamu harus benar-benar memikirkan nama orang yang akan kamu kencani agar tidak menyesal nantinya." Nasihatnya agar Hanza benar-benar memikirkan dengan siapa akan berkencan.


"Apa bisa menjadi pacar sungguhan jika mereka menyatakan perasaannya padaku?"


Tanya Hanza penasaran.


Sosok wanita itu menggeleng.


"Tidak. tepat setelah kencan berakhir semua akan kembali seperti semula pada esok paginya.


Buku itu hanya untuk bersenang-senang saja dan kamu terlihat membutuhkannya maka dari itu kamu mendapatkan buku itu."


Percuma saja kalau begitu. Tapi tak apalah hanya untuk bersenang-senang.


"Baiklah terimakasih, omong-omong siapa kamu sebenarnya."


"Aku perantara buku itu dengan calon pemiliknya. Aku pergi dulu." Wanita aneh berpenampilan nyentrik serba hijau neon itu menghilang dari hadapannya.


Jadi buku ini ajaib ya. Oke akan ku coba setelah membayar belanjaanku nanti.


Sebelum benar-benar menuju kasir Hanza mengambil buku seukuran telapak tangannya serupa dengan buku ajaib yang sekarang menjadi miliknya, yang membedakan tidak ada gambar apapun pada cover-nya hanya buku berwarna merah fanta dengan aksen glitter di seluruh cover-nya.


...****************...


Orang pertama siapa ya?


Apakah dia beruntung karena akan aku kencani atau aku yang beruntung karena bisa berkencan dengannya eh maksudku mereka. Aku kan dapat kesempatan kencan dengan empat orang berbeda. Sepertinya pilihan kedua deh karena aku sudah memikirkan nama orang-orang yang akan aku kencani. Pastinya akan membuat kalian iri hehehe.


Gumam Hanza setelah membersihkan dirinya dan mendudukkan diri didepan meja belajarnya.


Siapa ya? Hm.. Ah iya aku penasaran dengan kak Reyhan bagaimana sih dia sebenarnya jika kita dekat?


Reyhan Fauzi


Tulis Hanza setelah berpikir lama,


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tidak bereaksi apa-apa. Kita lihat saja besok di sekolah.