
Perpustakaan
Ji Joon melesat begitu sebuah pesan balasan diterimanya, menyusuri lorong lantai satu bangunan sebelah barat dengan langkah lebar setengah berlari. Untung saja lapangan bisbol tidak begitu jauh jaraknya dengan bangunan utama sekolah, sehingga ia bisa langsung menuju perpustakaan yang terletak di sudut bangunan untuk menemui Ki Seob.
Ini belum hari terakhir di minggu ini—batas waktu yang diberikan Ki Seob untuknya, esok masih tersisa Sabtu dan tidak masalah sebenarnya jika Ji Joon mengambil waktu sedikit lebih lama untuk berpikir. Namun ia tidak ingin membuang kesempatan dengan merasa ragu-ragu. Klubnya butuh banyak bantuan jika ia ingin membawa Klub Dance sekolahnya menuju Tingkat Nasional, juga Organisasi Sekolah bukanlah tempat asing yang akan membuatnya kesulitan, satu-satunya kesulitan adalah Jang Ki Seob itu sendiri.
Langkahnya diperlambat saat ruang perpustakaan telah tertangkap indra pengelihatannya. Ji Joon memasuki perpustakaan dengan langkah pasti, berbelok di kanan pintu masuk dan berjalan menyusuri rak-rak buku yang tinggi menuju ujung ruangan di mana meja dan kursi tertata rapih dengan pencahayaan dari jendela-jendela besar yang terbuka menghadap lapangan bisbol dan sepak bola yang bersebelahan.
Postur Ki Seob yang tidak begitu tinggi terlihat tengah membaca di meja dekat jendela. Ji Joon mengedarkan pandangannya ke sekeliling, perpustakaan telah sepi dan hanya tersisa beberapa siswa yang bisa ia hitung dengan jari, mungkin tidak sampai tujuh. Ji Joon melirik jam di pergelangan tangannya, sisa sepuluh menit sebelum jam istirahat berakhir. Pantas saja.
Ki Seob tidak mendongak dari buku yang dibacanya saat Ji Joon mengambil tempat duduk di hadapannya. “Aku sudah menunggumu dari tadi.” ucapnya sebagai sambutan.
Ji Joon mengerling malas. Apanya yang menunggu kehadirannya, jelas sekali laki-laki itu memang berada di perpustakaan sejak tadi, ini hanya kebetulan. “Langsung saja,” ucap Ji Joon tanpa basa-basi. “Aku menerima penawaranmu. Dengan persyaratan yang harus disetujui.”
Ki Seob melipat ujung halaman yang dibacanya, sambil menyingkirkan buku itu dia membenahi posisi duduknya. “Katakan.”
Ji Joon memandang Ki Seob penuh perhitungan. “Sebelumnya aku ingin tahu bagaimana caramu menaikan anggaran Klub Dance?”
Ki Seob mengangkat sebelah alisnya, senyum tipisnya tersungging. “Kenapa kau ingin tahu?”
“Bisahkah kau mengatakannya saja tanpa bertanya balik?” kata Ji Joon dari sela-sela giginya.
Mata Ki Seob menyipit. “Kau tidak lupa dengan rapat awal tahun kan?”
Ji Joon terkesiap. Ki Seob benar, dia melupakan tentang rapat awal tahun yang selalu diadakan pengurus struktural bersama guru pembimbing dari seluruh klub sekolah, yang juga dihadiri beberapa guru yang berkepentingan. Membahas agenda kegiatan yang menjadi tanggung jawab Organisasi Sekolah termasuk pembahasan anggaran klub di dalamnya.
“Aku tak akan melakukannya begitu saja, kau juga harus ikut andil di dalamnya,” Ki Seob menangkap ekspresi tak paham Ji Joon. “Aku akan membuka jalan saat rapat nanti, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?”
Ji Joon terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Ki Seob. “Bukankah itu artinya kau tidak benar-benar membantuku?”
Ki Seob menarik tubuhnya, bersandar pada kepala kursi sambil melipat lengannya di dada, kepalanya sedikit dimiringkan dengan senyum ragu yang sengaja tak ditahan. “Benarkah? Aku tidak berpikir seperti itu.”
Ji Joon menengadahkan wajahnya dramatis, mulutnya terbuka demi menghirup napas dalam-dalam lalu kembali menatap Ki Seob dengan ekspresi tak percaya diiringi desahan napas keras. “Jang Ki Seob, kau sedang mempermainkanku atau apa?” Ji Joon memberi jeda, “Kau tahu seperti apa pembimbing Klub Dance bukan? Dia guru penuh masalah yang tak bisa diandalkan.”
Walaupun sejujurnya harus Ji Joon akui bahwa Guru Kim sangat berbakat dalam bidang musik dan tari, tapi sayangnya hal itu sama sekali tidak akan membantunya kali ini. Terlebih nilai minus Guru Kim bukanlah bakatnya namun sikapnya. Bakatnya adalah hal yang luar biasa dan orang awam pun bisa mengetahui hal itu, Ji Joon bahkan sering berpikir bahwa gurunya itu seharusnya menjadi penyanyi saja ketimbang menjadi guru.
“Sebagai guru tentu saja itu hal yang mustahil untuk Guru Kim, tapi sebagai putri pemilik yayasan? Siapa yang berani menolaknya. Lagi pula, kalau aku langsung menaikan anggaran tanpa rekomendasi pembimbing organisasi klubmu akan mendapat kesulitan nantinya.”
Sekali lagi, Ji Joon dibuat menganga tidak percaya mendengar ucapan sang ketua organisasi. “Jang Ki Seob, kau sungguh mengerikan.” desis Ji Joon.
Ki Seob menaikan bahunya acuh dan menyambar bukunya, “Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan Guru Kim Nari bukan?”
“Aku tahu, membuatnya terlihat meyakinkan di rapat nanti.”
“Tidak masalah,” Ji Joon menyahut mantap. “Selama masih menjadi tupoksiku sebagai sekretaris maka akan ku lakukan, selebihnya kau harus menepati kesepakatan kita.”
“Baik.” Ucap Ki Seob sambil berlalu dari hadapan Ji Joon.
Ji Joon mengalihkan pandangannya dari Ki Seob yang telah menghilang di antara rak-rak buku. Ia menghela napas dan memantapkan hatinya atas keputusan yang telah ia buat. Sebelumnya ia telah yakin untuk meninggalkan organisasi namun masalah anggaran klubnya membuatnya berpikir ulang sekali lagi, dan kali ini keputusannya telah berubah. Ia akan tetap berada di organisasi juga akan melanjutkan tujuannya di klub, walaupun itu artinya ia harus membagi fokus, tenaga dan waktunya sekali lagi. Hanya saja kali ini Ji Joon akan memastikan bahwa menerima tawaran Ki Seob tidak akan membuatnya rugi dan sia-sia.
Ki Seob tak lagi menoleh dan terus melanjutkan langkahnya ke ruang kelas, senyumnya terukir tipis kala mengingat ekspresi teguh yang Ji Joon berikan, yang selalu bisa membuatnya terkesan. Tidak, dia tidak memiliki hubungan romantis apapun dengan Ji Joon, itu murni karena ketertarikan atas sifat dasar gadis itu sendiri. Keras kepala, teguh dan sedikit perfectionist. Dan Ki Seob tidak bisa kehilangan orang seperti Ji Joon dari sisinya sebagai partnernya, juga rival dalam adu argumen.
.
—oOo—
.
Sekali lagi Ji Joon harus berjalan dengan terburu-buru. Berkali-kali ia melirik jam tangannya, sudah lewat lima belas menit dari jam pelajaran berikutnya. Saat ini pelajaran yang tengah berlangsung adalah seni rupa, mata pelajaran milik wali kelasnya sendiri. Ji Joon tak tahu harus merasa bersyukur atau tidak mengetahui hal itu, pasalnya, sekalipun Guru Seo terlihat lemah lembut dan penuh pengertian namun saat suasana hatinya sedang buruk ia bisa sangat tidak sabaran dan bermulut pedas.
Ji Joon sudah membayangkan nasibnya yang terkena omelan panjang sang wali kelas di hadapan seluruh teman-temannya saat ia membuka pintu ruang kelasnya yang kosong. Pandangan Ji Joon mengedar dan mendapati Dae Hwa tengah duduk di kursinya yang juga tengah menatapnya.
“Tujuh belas menit,” komentar lelaki itu menatap jam tangannya. “Pelajaran seni diadakan di ruang kesenian.” Dae Hwa menaikan wajahnya, lelaki itu masih duduk di kursinya dengan tenang.
“Kau menungguku?” Ji Joon melangkahkan kakinya menuju kursinya.
“Apa aku terlihat sedang menunggumu?” Dae Hwa bertanya sarkastis. “Bahkan jika itu orang lain aku juga akan melakukan hal yang sama.” lanjutnya sinis.
Ji Joon melirik Dae Hwa dari sudut matanya. “Aku hanya bertanya.” sahutnya dibarengi decakan yang hanya bisa didengar olehnya. Tangannya dengan segera meraih buku sketsa dan kotak pensil dari dalam tas, ia tak ingin berlama-lama hingga membuat kemungkinannya untuk mendapatkan lebih dari sekedar omelan semakin besar.
Ji Joon membawa seluruh peralatan yang ia butuhkan dalam dekapan tangannya, langkahnya sudah separuh ruangan saat ia sadar bahwa Dae Hwa tidak juga beranjak dari tempatnya. “Kau tidak ingin ke ruang seni?” tanynya heran.
Dae Hwa tak seraya menjawab, lelaki itu beranjak dari tempatnya menuju depan kelas. Manik matanya menatap lurus Ji Joon yang memandangnya bingung. “Seseorang menitipkan ini padaku.” ucap Dae Hwa dengan ekspresi tak terbaca saat ia telah berhadapan dengan Ji Joon, tangannya terulur menyerahkan selembar kertas.
Ji Joon meraih kertas yang disodorkan Dae Hwa padanya. Matanya berbinar senang saat membaca kalimat pertama yang sengaja dicetak besar, DANCE COMPETITION!! Oh, ini angin segar untuknya. Seketika otaknya bekerja dua kali lipat lebih cepat, menghasilkan sebuah ide yang harus segera ia realisasikan. Ia telah menerima tawaran Ki Seob dan beberapa hari lagi ia harus bisa meyakinkan peserta rapat untuk menaikan anggaran klubnya, dan selebaran di tangannya pasti bisa memuluskan semua rencananya. Ia harus memastikan klubnya mendapatkan dana yang cukup lalu setelahnya adalah langkah panjang menuju tingkat nasional.
Ji Joon menaikan wajahnya untuk menatap Dae Hwa, “Siapa yang memberikannya?”
Dae Hwa berkerut melihat binar di mata Ji Joon yang berlebihan. “Senior laki-laki.”
Itu pasti Senior Min Joon.
Senyum Ji Joon terukir berlebihan di wajahnya yang mungil, dengan cepat gadis itu menghampiri mejanya dan menaruh buku sketsa juga alat tulisnya di sana. “Terimakasih.” ucapnya seraya berlalu dari hadapan Dae Hwa yang memandangnya penuh keterkejutan.