2013

2013
BAB XIII : Kabar Kencan Yang Mengejutkan



Ji Joon kelewat antusi pagi itu, pagi yang ia tunggu sejak beberapa hari yang lalu. Ia bahkan hampir terjaga semalaman hanya karena memikirkan bagaimana ia akan melewati hari ini. Sebenarnya Ji Joon kelewat kerbau jika di hari libur, tanpa kegiatan dan ditemani oleh kasur kesayangannya, untuk satu waktu Ji Joon bahkan bisa hampir seharian berada di dalam kamar dan hanya ke luar saat sore hari. Entah bagaimana ia mampu menahan perutnya dari sarapan dan makan siang.


Itulah sebabnya Ibu Ji Joon menyernyit heran ke arah anak gadisnya yang baru saja selesai mandi, berjalan ke arah dapur dengan hanya mengenakan bath robe dan rambut basah yang terbungkus handuk.


“Kenapa?” Ji Joon menatap sang ibu sama herannya. Ibunya bahkan mematikan kompor dan menaruh pisau di atas talenan kayu.


Ibu Ji Joon mendekati anak gadisnya itu—yang berada di depan kulkas yang terbuka, dan menyentuh dahi putri sulungnya. “Tidak panas,” lalu ibu dua anak tersebut melirik pada kalender dinding di tembok dapur. “Hari ulang tahunmu sudah lewat, hari ini bukan paskah dan natal masih lama.”


“Ck! Ibu ini kenapa sih?” Ji Joon mencebik sebal.


“Kau sehat kan? Ini Hari Minggu loh ….”


“Aku tahu.” Ji Joon melirik sekilas pada ibunya seraya mendengus samar, tangannya terulur meraih sekotak susu vanilla lalu kembali menutup pintu kulkas.


“Biasanya kau bertapa seharian di dalam kamar,” ibu Ji Joon menaikan bahunya acuh lalu kembali pada irisan sayur yang ia tinggalkan tadi dan kembali menyalakan kompor. “Kau mau pergi kencan ya?” sambungnya.


Uhuk-uhuk-uhuk!


Ibu Ji Joon refleks menoleh saat mendengar suara tersedak dari anak pertamanya, dan melihat bagaimana Ji Joon dengan wajah merahnya yang mencoba menghentikan batuknya  membuat naluri dalam dirinya tergerak. Ia dengan cepat meraih gelas terdekat dan mengisinya dengan air untuk diberikan kepada Ji Joon.


“Minum ini,” Ibu Ji Joon menyodorkan ujung gelas tepat di depan bibir putrinya, lalu ia membantu Ji Joon untuk minum perlahan. “Kau ini bagaimana sih? Minum susu saja sampai tersedak begitu.” omelnya pada sang putri sulung.


Ji Joon hanya melirik malas ke arah ibunya. “Memangnya ini karena siapa?” inner Ji Joon menggerutu sebal. Dan setelah beberapa teguk terakhir yang melegakan, Ji Joon membiarkan ibunya kembali mengambil alih gelas untuk ditaruh pada tempat cuci piring. Lalu setelahnya ia beranjak meninggalkan dapur.


Ibu Ji Joon yang melihat pergerakan putrinya bertanya bingung, “Kau mau ke mana?”


“Kamar.” jawab Ji Joon tanpa menghentikan langkahnya.


“Susumu tidak kau habiskan?”


“Sudah tidak ingin.”


Mendengar jawaban Ji Joon membuat sang ibu menggelengkan kepala. Ji Joon-nya telah tumbuh besar dengan cepat namun beberapa hal masih belum berubah. Ia menoleh pada kotak susu yang tergeletak begitu saja di meja dapur, tangannya terulur meraih kotak susu tersebut dan mengembalikannya ke dalam kulkas.


“Bu! Tolong masukkan kembali kotak susunya ya!”


Ibu Ji Joon kembali menggelengkan kepala dengan kekehan yang tak bisa ia tahan saat mendengar seruan sang putri yang ia yakini berasal dari kamarnya. “Dasar, bagaimana jika ayah dan saudaranya terbangun karena suaranya yang nyaring itu?” monolognya sebelum kembali pada kegiatannya yang tertunda.


.


—oOo—


.


Ji Joon ke luar kamar setelah menghabiskan lebih dari satu jam untuk membuat dirinya siap, walaupun pada kenyataannya Ji Joon sendiri merasa tidak puas dengan hasil pekerjaannya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya sebelum berjalan menuruni tangga.


Kakinya terbalut sepatu jenis dolly shoes berwarna kuning pastel dengan hak 3 cm, berpadu cantik dengan A-line dress tanpa lengan dan corak dengan warna pastel. Sontak saja hal itu menjadi pusat perhatian penghuni rumah yang lain saat Ji Joon berjalan menuruni tangga.


Mendengar pujian yang jarang sekali terucap dari mulut adiknya membuat Ji Joon merasa lebih percaya diri dan terus melangkah hingga ke meja makan. Dalam hati ia berterimakasih pada kedua teman baiknya—Hana dan Shin Ji, yang telah membantunya berbelanja dan mengajari cara memoles wajah kemarin.


“Kau akan pergi?” Shin Young Woon—ayah Ji Joon, bertanya heran. Tidak biasanya anak gadisnya itu sudah rapih di jam segini, dengan dress dan dandanan manis seperti yang ia lihat sekarang. Biasanya Ji Joon akan turun ke meja makan dengan setelan piyama dan rambut yang digulung asal saat sarapan pagi, lalu setelahnya anak gadisnya itu akan kembali masuk ke dalam kamar dan akan ke luar saat menjelang makan siang. Atau bahkan tidak ke luar kamar hingga sore hari.


“Ayah, itu sudah pasti ‘kan?” Ji Nam menyela. “Kakak tidak mungkin serapih ini jika tidak ada acara penting, kakak itu pecinta piyama di minggu pagi.”


Ji Joon berdecak malas mendengar sindiran Ji Nam. Mengabaikan celotehan sang adik, Ji Joon mengambil beberapa makanan untuk ia santap.


“Kau akan pergi ke mana?” kali ini giliran sang ibu yang mengajukan pertanyaan.


Ji Joon menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. “Berkencan.” jawabnya singkat sambil memasukan sesuap penuh makanan ke dalam mulut.


Uhuk!


Tidak hanya sang ibu, tapi dua orang yang berada di meja makan pun ikut tersedak mendengar pengakuan mengejutkan Ji Joon. Ketiganya berlomba meraih gelas terdekat dan meneguk isinya dengan cepat.


“Jadi, yang tadi itu sungguhan?” Ibu Ji Joon memandang anak gadisnya yang tengah melahap sarapannya dengan santai.


“Bukannya ibu sudah tahu?”


“Ibu hanya asal menebak saja tadi, mana tahu kau akan pergi berkencan sungguhan.”


Ji Joon melirik tak senang mendengar kalimat sang ibu. “Apa maksudnya itu?”


“Makudnya, kakak itu tidak pernah berkencan. Sekalipun kau pergi di akhir pekan paling-paling hanya main bersama teman, dan penampilanmu sangat tidak menarik. Kalau kau ingin tahu pendapatku.” komentar Ji Nam disela kegiatan mengunyahnya.


Sung Min mencoba tidak peduli dengan terus fokus pada sarapannya. “Bukan urusanmu aku ingin berpenampilan seperti apa, aku tidak berkencan denganmu ini.”


“Siapa yang mau berkencan dengan gadis tomboy seperti kakak,” Ji Nam menyahut cepat. “Aku merasa kasihan pada senior yang kau bohongi kak.” lanjutnya sambil memasang ekspresi iba yang dibuat-buat.


“Ba … bagaimana kau tahu?” tanya Ji Joon tanpa sadar.


“Aku hanya menebak saja.” Ji Nam menaikan bahunya acuh. Lalu ia manaruh sendok di samping mangkuk dan menautkan jari-jarinya untuk menopang dagu, lalu menatap sang kakak seperti seorang detektif yang tengah mengintrogasi tersangka sebuah kasus. “Tapi … kalau kakak bertanya begitu, itu artinya ….”


“Tidak! Ma … maksudku iya, tapi ….” Ji Joon menyergah putus-putus. Sial, kenapa ia jadi gugup begini?


Ji Joon mendelik kesal pada Ji Nam yang tanpa ragu tertawa hampir terbahak, dan sialnya Ji Joon tak menemukan cara untuk menghentikan adik menyebalkannya itu. Ji Joon bahkan hampir melemparkan sendok dan sumpit miliknya sebagai langkah terakhir jika saja ayahnya tidak memperingatkannya dengan suara lembutnya yang tegas, juga meminta Ji Nam untuk berhenti tertawa dan bersikap sopan saat di meja makan. Dan untuk kebijaksanaan sang ayah, Ji Joon benar-benar merasa tertolong.


“Ji Joon-ah,” panggil sang ayah ketika kedua anaknya telah kembali tenang. “Ayah tidak melarangmu untuk dekat dengan siapapun bahkan lawan jenis, tapi ayah harap kau mampu menjaga dirimu dan nama baik keluarga. Kau paham maksud ayah ‘kan?”


Ada jeda yang jelas sebelum Ji Joon akhirnya membuka mulut, “Ya ayah, aku mengerti.” sahut Ji Joon yang terdengar hampir seperti bisikan.


Ji Joon tahu jika sang ayah memiliki pemikiran yang cukup kolot, namun mendengar ucapannya barusan entah bagaimana membuatnya menjadi begitu gugup dan sedikit tertekan. Segalanya adalah hal yang pertama untuknya dan untuk pertama kalinya juga ia merasakan beban yang lebih berat di bahunya yang sempit.