
Maret, 2012
Pagi itu udara masih terasa dingin walaupun matahari sudah mulai unjuk gigi menyerukan keberadaannya. Beberapa tunas baru sudah tumbuh dan tumpukan salju bahkan sudah tidak terlihat, namun agaknya musim dingin masih begitu berat hati untuk pergi menyerahkan tempatnya pada musim semi yang lebih hangat.
Tahun ajaran baru sudah di mulai, memaksa para pelajar untuk mengucapkan selamat tinggal pada liburan mereka. Gerbang-gerbang sekolah terbuka lebar seakan menyambut siswanya selepas libur musim dingin, juga salam hangat untuk para siswa tahun ajaran baru.
Suasana kelas begitu ramai saat Ji Joon berhasil menemukan kelasnya, 2 C-II. Ruangan yang berada di lantai dua itu disii oleh beberapa orang siswa yang memang menjadi penghuni di kelas tersebut, sementara yang lain hanya mampir untuk memantau atau sekedar ingin tahu di mana teman sekelas mereka sebelumnya ditempatkan.
Ji Joon menghembuskan napas sekilas sebelum memasuki ruangan. Pandangannya ia edarkan ke penjuru ruangan, memilah kursi mana yang masih belum terisi. Dan manik matanya menemukan satu yang menjadi pilihannya di antara kursi-kursi lain yang masih kosong. Kursi paling depan di dekat jendela. Di antara spot favorit kebanyakan siswa itu, hanya kursi itu lah yang masih kosong.
Ji Joon mengambil langkah kilat untuk mengakusisi kursi miliknya. Dan begitu ia menempatinya ada senyum puas terpatri di wajah mungilnya. Gadis itu baru saja menaruh tas di atas meja saat seseorang menepuk pundaknya sangat keras. Ji Joon menoleh dan hampir mengumpat untuk siapa saja yang dengan kurangajar melakukan kekerasan padanya saat seseorang menyapanya dengan ringan.
“Hai Ji Joon-ah, akhirnya kita bisa sekelas ya."
Ji Joon memutar bola matanya malas melihat tampang bodoh dari teman satu SMP-nya itu. Senyum lebar tanpa dosa. “Sialan kau Kwon Hana.”
Mendapat delikan galak dan ucapan ketus tak lantas membuat Hana menciut, gadis itu pada dasarnya memang sudah bebal. “Seperti biasanya, kau selalu galak.” Hana mencibir setengah serius ke arah Ji Joon. Gadis itu menarik kursi di belakang meja Ji Joon, menopang dagu dengan sebelah tangan dan mulai berceloteh.
“Hey Jiji..”
Ji Joon menoleh ke belakang saat mendengar Hana memanggilnya dengan nama yang aneh. “Apa-apaan itu? Kau memanggilku seperti seekor kucing.” Ucapnya seraya membalikan badan menghadap Hana.
Hana yang mendapat kritikan justru terkikik geli. “Bukankah itu lucu? Ji-ji.”
“Tsk! Berhenti sekarang atau kutendang bokongmu.”
“Haih.. Iya iya, dasar nona jutek.” Hana merengut pasrah menerima kekalahan dari Ji Joon. Tentu saja dia cukup waras untuk tidak membuat Ji Joon benar-benar kesal karena candaannya. Karena kalau tidak, kemungkinan bokongnya akan di tendang adalah 100%. Hal itu didasari pengalaman pribadinya sendiri.
Ji Joon hampir membuka mulutnya untuk menanggapi Hana saat suara nyaring bel sekolah menyambangi indra pendengarannya. Gadis bersurai kecoklatan itu menoleh kesana-kemari dan baru menyadari suasana kelasnya sudah lebih sepi dari saat ia datang. Lalu tak lama seorang guru wanita yang ia kenal sebagai guru kesenian itu memasuki ruang kelas.
.
—oOo—
.
Itu baru setengah jam sejak Guru Seo masuk ke kelas mereka dan memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas 2 C-II, namun suasana dalam ruangan itu tidak berbeda seperti sebuah festival kebudayaan tahunan. Riuh dengan suara siswa yang saling bersahutan entah mengatakan apa.
Beberapa kali guru berparas cantik di depan kelas itu harus memukul papan tulis atau meja di hadapannya. Sungguh, menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah.
Ji Joon bisa melihat bagaimana kewalahannya Guru Seo saat meminta teman-teman sekelasnya untuk tenang. Manik matanya terus memperhatikan hiruk pikuk kelas yang akan ia tempati setahun kedepan. Pandangannya tak fokus, hanya mengedar acak ke sekeliling ruangan.
“Psst!”
Dan sebuah suara berhasil mengalihkannya. Ji Joon menoleh ke samping kanannya dan mendapati wajah tak asing yang tengah tersenyum ramah ke arahnya.
“Kita sekelas lagi.” Lanjutnya sambil berbisik.
Shin Ji, Lee Shin Ji. Teman sekelasnya tahun lalu yang duduk tepat di belakangnya, mereka menjadi dekat karena hal itu. Gadis kalem yang akan berubah seperti burung beo sirkus kalau sudah mulai membicarakan boy band kecintaannya.
“Kenapa berbisik?” Ji Joon bertanya heran sebagai balasan.
Shin Ji terlihat bingung dengan pertanyaan Ji Joon, berpikir bahwa yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Untuk apa ia berbisik sementara seisi kelas tengah riuh. Menyadari kebodohannya Shin Ji lantas menyodorkan senyum canggung ke arah Ji Joon.
Sementara Ji Joon hanya menggeleng geli melihat temannya itu. Dengan begini lengkap sudah kehidupannya sebagai siswa kelas dua menengah umum ditemani dua orang beda spesies seperti Kwon Hana yang centil hiper aktif dan Lee Shin Ji si polos telat mikir. Memikirkan hal itu membuat Ji Joon semakin menggelengkan kepalanya, bibirnya tersungging senyum geli.
“Shin Ji Joon, jangan menjadi gila.” Hana berseru enteng dari belakang.
Dan Ji Joon tak perlu repot-repot berbalik untuk membalas ucapan Hana. “Orang gila tidak boleh mengatakan gila pada orang lain, Hana-ssi.”
“Ya! Shin Ji Jo—” Ucapan Hana terhenti saat ia menyadari Ji Joon terlihat terkejut dan suasana mendadak menjadi hening. Ia mengikuti arah pandang Ji Joon dan melihat seorang teman laki-lakinya menunjuk ke arah gadis itu.
Sementara Ji Joon yang sudah tersadar dari keterkejutannya mengalihkan pandangannya pada Guru Seo, meminta penjelasan. Terang saja ia tak mengerti, untuk sesaat yang lalu gadis itu masih sibuk meladeni Hana dan tiba-tiba saja seorang teman lelakinya—yang belum ia ketahui namanya, menyebut dan menunjuknya.
“Dae Hwa menyarankanmu untuk menjadi ketua kelas dan ibu pikir itu bukan ide yang buruk.”
Ji Joon belum sempat membuka mulut untuk mengatakan pendapatnya saat suara dari orang yang sama terdengar menyahut. “Tentu saja bu, Ji Joon adalah anggota Organisasi Sekolah jadi tugas ketua kelas bukan hal sulit untuknya.”
Sedikit buru-buru Ji Joon buka suara. “Saya menolaknya. Saya sudah bukan anggota Organisasi Sekolah dan saya tidak berminat menjadi ketua kelas, lagi pula….” Ji Joon memberikan jeda, sudut matanya memeriksa teman lelakinya itu yang sepertinya baru saja menabuh genderang perang dengannya. Kau salah memilih lawan bung.
Ji Joon ingat lelaki itu, dia salah satu siswa bermasalah bagi Seksi Kedisiplinan di Organisasi Sekolah. Cho Dae Hwa, siswa yang selalu punya alasan untuk membuat anggota Seksi Kedispilinan naik darah.
“Bukankah justru Cho Dae Hwa yang lebih cocok menjadi ketua kelas, Guru Seo?” Ji Joon melanjutkan dengan nada penuh penekanan, senyum tipis penuh kemenangan terukir di wajahnya sementara sudut matanya masih memeriksa Dae Hwa yang tengah menatap tak suka ke arahnya.
Perkataan Ji Joon bukanlah saran, itu adalah sindiran telak. Siapa siswa di angkatannya yang tidak mengetahui bahwa Cho Dae Hwa adalah salah satu dari sekian yang menjadi bulan-bulanan Seksi Kedispilinan.
Sementara itu, Kwon Hana yang berada di belakang Ji Joon sudah menatap ngeri ke arah gadis itu dan juga Dae Hwa secara bergantian. Hana sudah mengenal Ji Joon sejak Sekolah Menengah Pertama, mereka bisa disebut teman dekat dan saat ini Hana tau betul bahwa Ji Joon sedang dalam mode siap tempurnya. Ji Joon yang keras kepala dan tak mau kalah, juga Dae Hwa si siswa bermasalah. Hana tak bisa lagi memikirkan bagaimana kedua orang itu akan berakhir.
.
—oOo—
.
Ji Joon masih merapalkan sumpah serapah bahkan saat seluruh jam pelajaran telah selesai. Matahari sudah kembali ke peraduannya saat Ji Joon berjalan menuju gerbang bersama Hana juga Shin Ji.
“Berhenti maracau atau kusumpul mulutmu dengan kaus kaki!” Hana berseru galak, jengah juga telinganya mendengar omelan Ji Jioon yang seperti tak ada habisnya hari ini.
“Sudahlah Ji Joon, lagi pula kau akhirnya tidak dipilih sebagai ketua kelas bukan?” Kali ini Shin Ji ikut menimpali setelah selama berjam-jam hanya menjadi pendengar setia.
Ji Joon melirik bergantian pada dua temannya di kanan dan kiri, lalu setelahnya gadis itu menghembuskan napas dramatis. “Tetap sajaaa..” Ji Joon menahan geram. “Cho Dae Hwa itu sangat sangat sangat menyebalkan!”
Hana sudah memutar bola matanya jengah sementara Shin Ji terlihat pasrah, keduanya yakin Ji Joon akan memulai sesi menggerutu untuk kesekian kalinya. Hana sendiri ingin rasanya memiting leher Ji Joon, namum biar bagaimanapun tenaga Ji Joon lebih besar dari tenaganya dan sayangnya gadis itu pasti dapat meloloskan diri darinya dan justru menyerangnya balik.
“Awas saja—” Ucapan Ji Joon terputus saat tiba-tiba seseorang menerobas barisan ketiga gadis itu.
“Kalian menghalangi jalan.” Dae Hwa melenggang santai diikuti ketiga temannya yang lain setelah berhasil membuat ketiga gadis yang diganggunya menjerit kaget.
“Cho Dae Hwa!” Teriak ketiganya hampir bersamaan. Namun sayangnya lelaki itu tak cukup peduli dan terus melangkah, justru suara tawa terdengar dari kerumunannya.
Ji Joon hampir berteriak memaki saat manik matanya menangkap sosok yang ia kenal tengah menatap ke arahnya. Gadis itu buru-buru menutup rapat mulutnya, menyimpan kembali sumpah serapah yang akan ia lontarkan untuk Dae Hwa. Jaga image, jaga image—rapalnya dalam hati.
Ji Joon mempercepat langkahnya dan diikuti kedua temannya yang saling melirik penuh arti. Ternyata kabar keduanya tengah berkencan bukanlah isapan jempol. Si talent kecil Ji Joon dengan si ahli fotografer Kang Min Joon.
Hana dan Shin Ji saling menyikut melirik interaksi pasangan yang sedang jadi topik pembicaraan sejak pertengahan liburan mereka kemarin. Pasalnya foto keduanya yang sedang berkencan sempat dibagikan seseorang di group Line kelas dan menyebar ke group-group yang lain.
“Apa sudah lama?” Ji Joon bertanya lirih begitu berhadapan dengan Min Joon, raut wajahnya jauh lebih kalem dari sebelumnya.
Hana yang baru saja tiba bersama Shin Ji melirik temannya itu lelah. Kalau tahu tempramen Ji Joon bisa cepat berubah saat bertemu Min Joon seharusnya ia menyeret gadis itu sejak istirahat siang tadi ke hadapan Min Joon. Jadi ia dan telingnya tidak akan mendengar cercaan Ji Joon yang tidak ada habisnya.
“Ada apa?” Min Joon melirik ke arah Hana dan Shin Ji yang terus menatapnya penuh rasa ingin tahu, membuat kedua gadis yang melamunkan hal berbeda itu tersentak kaget.
Keduanya tersenyum canggung mendapati salah satu siswa paling diinginkan di sekolah mereka berada dalam jarak yang dekat, hanya saja sayangnya laki-laki itu sudah jadi milik teman mereka sendiri. Oh, mereka anti tikung-menikung.
“Ah itu….” Shin Ji menyembul dari bahu sebelah kiri Ji Joon, gadis itu terlihat ragu-ragu.
“Senior benar-benar berpacaran dengan si galak ini?” Sementara Hana justru bertanya langsung dari balik bahu Ji Joon yang lain.
Min Joon tersenyum canggung menghadapi ucapan terus terang Hana. “Begitulah, aku berpacaran dengan gadis galak yang manis ini.”
Hana dan Shin Ji sudah bersorak heboh menimbulkan rasa ingin tahu beberapa orang di sekitar mereka saat keduanya menanggapi jawaban Min Joon yang cheesy. Sementara Ji Joon entah harus marah atau senang mendengarnya, gadis itu melirik malu-malu pada kekasihnya itu.
“Ayo?” Min Joon mengulurkan tangannya di hadapan Ji Joon yang dihadiahi tatapan canggung oleh gadis itu. Pasalnya mereka masih ada di lingkungan sekolah dan kedua temannya juga masih di sana.
Mengerti dengan situasi yang mereka alami, Hana mengapit lengan Shin Ji dan mengambil inisiatif untuk membiarkan pasangan kekasih itu untuk menikmati waktu bersama.
“Senior, kami tidak akan mengganggu.” Hana menarik lengan Shin Ji paksa saat gadis itu mencoba memberontak, Shin Ji sama sekali tidak mengerti sikap Hana sebenarnya.
“Ji Joon-ah, kami duluan ya. Sampai jumpa, daah~” Hana mengambil langkah seribu, menarik Shin Ji secara paksa. Gadis itu benar-benar menyusahkan saat “penyakitnya” kambuh, sudah tidak peka telat mikir lagi.
Ji Joon memandang heran ke arah perginya kedua temannya itu, entah ingin berterimakasih atau justru sebaliknya. Tapi tetap saja Ji Joon menganggap cara Hana meninggalkan ia dan Min Joon barusan sangat-sangat dipaksakan. Terlalu terus terang.