
Matahari bersinar malu-malu pukul sembilan pagi, seperti mendukung Ji Joon yang masih bergelung di dalam selimutnya. Gadis bersurai sebahu itu sebenarnya sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu hanya saja tubuhnya terasa enggan untuk beranjak dari atas tempat tidur. Demi Tuhan, rasanya sudah lama sekali sejak tidur nyenyaknya beberapa waktu terakhir.
Ji Joon hampir mendapatkan tidurnya kembali saat sebuah ketukan pada pintu kamarnya terdengar, disusul suara adik laki-lakinya yang menyuruhnya untuk ke luar kamar. Tanpa pikir panjang gadis itu memberikan penolakan dengan suaranya yang lantang.
“Ibu menyuruhmu untuk sarapan.”
“Bilang pada ibu aku akan sarapan nanti, sekarang biarkan aku kembali tidur.”
“Baiklah.” Lalu setelahnya Ji Joon bisa mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari pintu kamarnya.
Untuk beberapa saat gadis itu mencoba kembali memejamkan mata, namun akhirnya ia mengurungkan niat untuk kembali tidur. Ji Joon menyibak selimut dan merenggangkan sedikit tubuh kaku bangun tidurnya. Meraih smartphone miliknya dengan tangan kiri sementara tangan lainnya ia gunakan untuk memijat tengkuk hingga bahu, Ji Joon terlihat sibuk dengan kegiatan paginya.
Matanya memeriksa beberapa notifikasi yang tertera di layar ponselnya, beberapa pemberitahuan dari akun sosial media yang ia ikuti dan sisanya—yang paling banyak, pemberitahuan dari Line yang terlihat tumpang tindih. Ji Joon menyentuh ikon layanan aplikasi berbalas pesan itu dan mendapati banyak pesan dari grup alumni sekolah menengah atasnya yang belum ia baca, juga beberapa pesan pribadi yang juga bernasib sama.
Dari sekian banyak pesan Ji Joon tertarik membuka pesan dari seseorang yang ia tunggu balasannya sejak semalam. Kemarin malam tepat sebelum ia tidur—setelah selesai dengan album kelulusan, Ji Joon mencoba mengkonfirmasi kedatangan salah satu teman dekatnya. Han Sang Mi. Namun sayangnya pesan yang ia kirim hampir larut malam itu tidak langsung mendapat balasan. Tentu saja, mengingat saat itu adalah waktu terlelap seseorang dalam tidurnya.
Aku dan suamiku akan datang, bagaimana denganmu?
Ji Joon sesekali tersenyum saat mengetikan sebuah jawaban, dan senyumnya semakin lebar saat pesan yang ia kirim kali ini dengan cepat direspon.
Aku sudah di rumah, kalau kau datang aku juga akan datang.
Bagus, aku akan datang dengan Seul Bi. Kau harus menyiapkan hadiah untuk keponakanmu.
Ahh… Ia hampir lupa jika temannya itu sudah menikah dan bahkan sekarang telah memiliki seorang putri. Menyadari hal itu membuat Ji Joon merasa bersalah, karena pada hari pernikahan temannya itu ia tidak bisa hadir dan sekarang Sang Mi bahkan telah memiliki seorang anak. Tentu saja ia akan membawakan hadiah untuk keponakan kecilnya.
Ji Joon baru saja akan mengetik balasan saat nama Sang Mi tertera pada layar ponselnya. Segera ia menggeser ikon penerima panggilan.
“Ya! Shin Ji Joon!”
Ji Joon menyernyit terkejut menjauhkan ponsel dari telinganya. Temannya ini sama sekali tidak berubah bahkan setelah berkeluarga.
“Pelankan suaramu, aku belum tuli.” Ji Joon menyahut kalem dan terdengar suara tawa renyah dari seberang sambungan.
“Bagaimana kabarmu? Kau ini, kenapa sulit sekali menghubungimu heh nona yang selalu sibuk?”
Ji Joon terlihat membenahi posisinya, mencari posisi nyaman gadis itu beralih duduk bersandar pada kepala ranjang. “Aku baik, bagaimana denganmu?” Jawabnya singkat.
“Abaikan aku, aku tentu baik-baik saja, sangat.” Ji Joon menggeleng geli mendengar jawaban sembarangan Sang Mi. “Ji Joon-ah, kau benar-benar akan datangkan? Kau tidak akan kabur lagi kan?”
Ada jeda sesaat setelahnya, entah bagaimana Ji Joon merasa pikirannya kosong setelah disodorkan pertanyaan oleh teman baiknya itu. “Tentu, tentu saja aku akan datang.”
Namun Sang Mi tidak bisa dibodohi dengan jawaban Ji Joon yang terdengar ragu. Dan yang terjadi setelahnya adalah Ji Joon yang mulai jengah meladeni pertanyaan-pertanyaan Sang Mi yang lain.
“Dengar, aku akan datang akhir pekan nanti.” Kalimat itu sukses menghentikan ocehan Sang Mi di ujung sambungan. “Aku, Shin Ji Joon akan benar-benar datang kali ini. Apa kau sudah puas?”
“Tentu. Sudah seharusnya begitu Ji Joon-ah. Kau harus menghadapi mereka dan berhenti bersembunyi dari rasa takutmu.”
“Aku tidak takut Han Sang Mi, hanya saja—” Ji Joon terlihat tak yakin dengan kata yang akan ia ucapkan. Gadis itu memberikan jeda di antara mereka, berpikir kalimat apa yang cocok untuk menggambarkan perasaannya. Ji Joon terlihat menghela dan menghembuskan napasnya perlahan. “Hanya saja, aku tidak yakin pada diriku.”
Sang Mi terdengar berdecih keras sebelum membuka suara. “Tentu saja kau sanggup, kau sudah pernah melakukannya sekali lalu apa bedanya kali ini? Sudah bertahun-tahun Shin Ji Joon, aku yakin kau sangat jauh lebih siap sekarang.”
“Justru karena sudah berlalu bertahun-tahun, aku menjadi semakin tidak yakin pada diriku, apakah aku benar-benar sebaik itu untuk memaafkan bahkan setelah sekian banyak waktu berlalu. Aku takut mengetahui kenyataannya bahwa akulah satu-satunya yang paling terpengaruh sementara mereka bisa melanjutkan hidup dengan baik.”
“Ji Joon-ah….” Sang Mi menyahut lirih, suaranya terdengar begitu khawatir dan setelahnya ia banyak mengatakan banyak kalimat penyemangat, setidaknya ia harus bertanggungjawab mengembalikan mood sahabatnya yang telah ia rusak.
Masih segar diingatannya bagaimana Ji Joon pernah begitu hancur dan terluka, sekali itu ia melihat sahabatnya begitu terpukul. Mereka masih remaja belasan tahun yang hanya mengerti tentang sekolah, persahabatan dan percintaan. Namun banyak hal yang harus sahabatnya itu alami.
.
—oOo—
.
Siang menjelang sore saat Ji Joon muncul dari balik pintu kamar mandi bercat coklat dilapisi pernis tipis. Sebuah handuk kecil tersampir di pundak dengan ujungnya yang ia gunakan untuk menggosok rambutnya yang masih basah. Baju tidurnya kini telah berganti dengan baju super santai ala gadis dua puluh enam tahun itu. Kaos over size dan celana olahraga pendek di atas lutut.
Kakinya melangkah ringan menuju dapur, membuka kulkas dan meraih sebotol air mineral dari dalam. Ji Joon hampir meneguk air mineral itu saat sebuah tangan menyambarnya tanpa ijin.
“Ya! Shin Ji Nam!” Ji Joon menoleh dengan cepat dan mendapati adik laki-lakinya tengah menyabotase air mineral miliknya.
“Nih, kukembalikan.” Ji Nam dengan ringan menyodorkan botol air mineral yang kurang dari setengah isinya itu kepada Ji Joon, yang dengan bodohnya ia terima begitu saja.
Delikan galak Ji Joon layangkan pada adiknya yang telah melenggang menuju kamar mandi. Haah… percumah saja ia menghabiskan tenaga meneriaki adiknya itu, Ji Nam tidak akan menggubrisnya. Justru ia akan menjadi
Ji Joon menatap dramatis botol di tangannya sebelum meminum habis isinya dengan enggan. Ia baru saja ke luar dari dapur setelah menyelesaikan urusannya saat adik laki-lakinya ke luar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada—dasar! Ji Joon masih memperhatikan punggung adiknya yang telah menghilang dari pandangannya, memasuki ruangan di depan kamar miliknya.
Adiknya kini sudah tumbuh dewasa, sebagaimana ia bertambah umur begitupun dengan adik laki-lakinya. Ji Joon ingat bagaimana Ji Nam dulu begitu bergantung dengannya bahkan sampai awal sekolah menengah atas, tapi sekarang adik lelakinya itu sudah mampu mengurusi keperluannya sendiri. Ji Nam kecil yang merengek dan menangis mengekor kemanapun ia pergi kini sudah tergantikan dengan sosok laki-laki dewasa yang akan maju paling depan untuk melindungi keluarganya. Adiknya itu masih sama keras kepalanya, masih sama menyebalkan dan jahilnya, hanya saja kini ia lebih banyak mengerti tentang banyak hal.
Memikirkan adiknya membuat Ji Joon mendadak menjadi melankolis tanpa sebab, seperti bernostalgia. Mungkin efek dari jarangnya dua bersaudara itu bertemu dan pulang ke rumah di waktu yang bersamaan.
Ji Joon beranjak menuju kamarnya, menempatkan diri di meja belajar dengan smartphone yang telah ia genggam. Tiga panggilan tak terjawab dari seseorang yang tak asing, teman dekatnya yang lain. Jung Sera.
Ji Joon mencoba menghubungi balik Sera namun ditolak, lalu tak lama temannya itu mengirimkan sebuah pesan.
“Aku sedang melakukan sesuatu. Ayo bertemu malam nanti di Coffee Time, aku akan mengirimkan petanya padamu nanti, Dah~”
Ji Joon memutar bola matanya dan memberikan sebuah stiker berbentuk jempol sebagai jawaban.
.
—oOo—
.
Ji Joon terlihat jengah, berkali-kali ia memeriksa jam tangan dan pintu masuk secara bergantian. Dagunya ia topang dengan sebelah tangan dan wajahnya ia alihkan ke luar jendela café, memandangi orang-orang berlalu lalang. Mulai bosan menunggu temannya yang molor dari janji yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Padahal ia sendiri sudah berusaha datang beberapa menit sebulum jam yang dijanjikan tapi kenyataanya justru temannya itu lah yang terlambat, bahkan gadis bersurai sebahu itu telah menunggu selama satu jam lebih.
Ji Joon melirik tak berselera pada menu pesanannya di atas meja, segelas macchiato yang hampir habis dan sepotong cinnamon rolls yang terlihat belum tersentuh sama sekali kecuali beberapa suap.
Ji Joon mengulurkan tangan meraih ponsel di dalam tasnya, mengatifkan pemindai sidik jari dan memeriksa apakah temannya memberikan kabar. Nihil. Teman janjiannya itu tidak memberikan kabar lagi sejak hampir lima belas menit yang lalu.
“Kalau dia masih tidak muncul dalam lima menit aku akan pergi dari sini.” Ji Joon mendengus kesal, melempar asal ponselnya ke atas meja—menimbulkan bunyi tak yang cukup nyaring, lalu melipat kedua lengannya di meja dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Sebenarnya Ji Joon bukan orang yang perhitungan bahkan jika ia harus menunggu, namun kali ini toleransinya sangat sedikit dan waktu satu jam bukanlah waktu yang singkat. Kalau saja ia tak mengingat pertemanan yang terjalin di antara mereka sudah pasti Ji Joon akan memblokir nomor ponsel Sera.
“Permisi?”
Ji Joon melirik dari sela-sela lipatan lengannya saat sebuah suara—yang ia yakini tertuju padanya, mengintrupsinya. Gadis itu bisa melihat kaus berwarna abu-abu dengan jaket bomber berwarna hijau army, entah pria atau wanita.
“Maaf, bisakah anda berbagi meja nona?” Orang asing itu kembali angkat bicara saat gadis di hadapannya tak langsung merespon.
Ji Joon menaikan wajahnya, terlihat keberatan dengan gangguan yang ia terima. Matanya hampir melotot—sebelum ia akhirnya mampu mengendalikan diri dengan baik, saat ia melihat siapa yang mengintrupsinya.
“Cho Dae Hwa?”
“Shin Ji Joon?”
Ucap keduanya hampir bersamaan. Ji Joon memandang laki-laki di hadapannya hampir tak berkedip, pun Dae Hwa yang juga menatap Ji Joon penuh keterkejutan. Untuk sesaat keduanya diam dalam keheningan sebelum seseorang tanpa sengaja menyenggol lengan Dae Hwa dan membuyarkan lamunan keduanya.
Ji Joon mengerjap cepat, memperhatikan sekeliling dan mendapati meja-meja café telah penuh terisi pengunjung. Sejak kapan jadi ramai begini?
“Ah, itu…” Ji Joon menggantungkan kalimatnya, matanya melirik Dae Hwa ragu-ragu. “Kau bisa duduk di situ kalau mau.”
Dae Hwa tersenyum canggung saat gadis di hadapannya itu memberikan gastur pada tempat duduk yang masih kosong. Setengah enggan pria itu mengambil duduk di hadapan Ji Joon.
Dae Hwa mulai menyesap americano miliknya, sesekali melirik pada gadis di hadapannya yang terlihat buru-buru meraih ponselnya. Meninggalkan dirinya dalam suasana canggung.
Ji Joon merutuki nasib buruknya malam itu, setelah menunggu sangat lama yang datang justru orang yang tidak ia harapkan. Walaupun pada kenyataannya mereka akan bertemu juga saat acara reuni nanti, tapi tetap saja kalau bertemu tiba-tiba begini ia mana siap.
“Ji Joon-ah?” Dae Hwa memanggil Ji Joon ragu. Biar bagaimanapun ia lah yang lebih dulu menghampiri—walau ia sendiri tak tahu bahwa itu adalah Ji Joon, dan meminta untuk berbagi tampat, jadi rasanya aneh sekali kalau ia harus menikmati pesanannya dalam keadaan yang tak menyenangkan.
“Ya?”
“Hmm…. Bagaimana kabarmu?” Dae Hwa bertanya dengan sedikit tidak meyakinan. Entah berbasa-basi atau memang ingin tahu.
Ji Joon terdiam cukup lama, memandangi dalam diam wajah tak asing di hadapannya. Ia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang sebenarnya terjadi padanya, rasa tiba-tiba dan keterkejutan yang terasa sakit juga menyenangkan di saat yang bersamaan.
Gadis bersurai sebahu itu tak menampik gelenyar rindu di hatinya, namun lebih dari itu ada rasa tak nyaman juga di sana. Rasa yang ditimbulkan oleh laki-laki yang pernah menjadi penawar dan racun untuknya di waktu yang hampir bersamaan.
Ji Joon berkedip perlahan dan kembali pada atensinya, mengambil napas dalam diam-diam dan menghembuskannya perlahan. Ia menyunggingkan senyum tipis andalannya sebelum menjawab dengan mantap.
“Aku baik, bagaimana denganmu?”
Dan setelahnya mereka mencoba mengobrol dengan santai walau sesekali harus kehilangan topik. Seperti dua orang yang pernah saling mengasihi lalu menjadi asing.