2013

2013
BAB XI : Pertaruhan



Luar biasa! Ji Joon bisa menangkap sinyal yang di berikan Ki Seob padanya melalui kedipan mata. Jadi dengan menekan rasa antusias yang mungkin saja akan terdengar berlebihan Ji Joon memperhitungkan intonasinya. “Lebih dari itu, Ki Seob-sii,” atensi para peserta rapat kini beralih padanya. “Klub Dance akan menjuarai Kompetisi Nasional tingkat pelajar tahun ini.” Ji Joon mengedarkan pandangannya dari Ki Seob, menatap teguh sepuluh pembina klub di hadapannya.


Lee Kwan Hoon menaikan alis, lalu menyunggingkan senyum mencemooh ke arah Ji Joon. “Bermimpilah sesuai dengan kemampuanmu, nak. Kalau tidak kau hanya akan terjatuh dengan rasa sakit di bokongmu yang mendarat lebih dulu.”


Raut wajah Ji Joon menggelap, rahangnya terkatup rapat dan manik matanya menatap Kwan Hoon penuh peringatan. Sialan, rasanya gurunya itu tidak pernah mengucapkan kalimat yang menyenangkan untuk didengar.


“Kalaupun dia terjatuh, setidaknya dia akan terjatuh diantara bintang-bintang.” Nari menyahut bagaikan seember air dingin bagi Ji Joon. Mendadak emosi di hatinya reda dan pikirannya kembali waras. Hampir saja ia mengacaukan rencananya sendiri karena terpancing oleh ucapan Guru Lee yang selalu tak pernah disukainya.


“Oh! Lihat siapa yang bicara,” Kwan Hoon tergelak menghina. “Salah satu yang terjatuh diantara bintang-bintang?”


Siapapun, siapapun mampu menalar ucapan Kwan Hoon yang tidak layak diucapkan oleh seorang guru sepertinya. Dan lelaki itu selalu menjadi yang termenyebalkan diantara para guru lainnya, tidak ada yang sememuakan Lee Kwan Hoon.


“Guru Lee, perkataan anda sangat tidak pantas.” Ki Seob mengkritik, dan Kwan Hoon hampir membuka mulutnya kembali saat kepala sekolah menahannya dengan sebuah peringatan.


“Dasar menyedihkan.” gumam Nari yang masih bisa didengar orang lain, salah satunya adalah objek umpatannya.


Seperti menyiram bensin pada api yang hampir padam, Kwan Hoon dengan berang berdiri dari duduknya dan menatap Nari dengan kilatan amarah. “Kau! Tutup mulutmu! Kalau bukan karena latar belakangmu, klub sampahmu itu pasti sudah dibubarkan sejak lama!”


Beberapa guru yang berada di dekat Kwan Hoon mencoba menghalangi pria itu yang seperti menggebu ingin menghampiri Nari, pun Nari yang tak kalah meledak mendengar ucapan Kwan Hoon yang tidak berdasar. “Kau yang tutup mulut, brengsek! Kau bukanlah apa-apa tanpa Pelatih Jang di Klub Basket kesayanganmu itu,” Nari menyingkirkan tangan-tangan yang memegangi tubuhnya. “Pada kenyataannya, Lee Kwan Hoon, kau hanyalah seorang pecundang bermulut besar.” desisnya penuh penekanan.


Tidak hanya para guru yang dibuat kepayahan oleh perkelahian kedua guru tersebut, tapi anggota Organisasi Sekolah pun dibuat tak berkutik di tempat. Entah harus bagaimana menghadapi situasi yang tak pernah mereka saksikan sebelumnya. Pun Ji Joon dan Ki Seob yang hanya mampu berdiri mematung menyaksikan bagaimana kedua guru berbeda gender itu berseteru.


Brak!


Seisi ruangan terperanjat mendengar gebrakan meja yang cukup nyaring. Ji Joon memandang horor ke arah Nari, gurunya itu terlihat sangat emosional. Dadanya kembang-kempis mengambil napas putus-putus sementara raut wajahnya kian mengeruh.


“Kalau begitu bertaruhlah denganku,” Nari menyodorkan brosur yang diberikan Ji Joon sebelumnya. “Kalau klubku berhasil memenangkan kompetisi ini, kau harus berlutut di hadapan seluruh anggota Klub Dance.”


“Kalau aku yang menang?”


“Aku akan mengundurkan diri—”


“Kim Nari!”


“Guru Kim!” seru Ji Joon dan pemilik yayasan bersamaan, namun sayangnya hal itu tak berarti apa-apa.


“—sebagai guru di sekolah ini.”


.


—oOo—


.


Ji Joon menekan amarahnya yang hampir mencapai ubun-ubun dengan terus melakukan teknik pernapasan. Sudut matanya melirik pemilik yayasan yang tak lain adalah ayah kandung Kim Nari, tengah berbicara serius dengan putrinya itu. Sesekali Ji Joon dapat mendengar umpatan tertahan yang terlontar dari bibir gurunya. Bahkan setelah sekian tahun gurunya itu tak pernah sekalipun merubah sikapnya kepada sang ayah.


“Itu bukan urusan, *abeoji**.”


“Baiklah, lakukan apapun yang kau mau tapi ini akan menjadi yang terakhir. Kalau kau gagal kali ini, kau harus pulang ke rumah dan menerima perjodohan yang kurencanakan.”


“Aku tidak akan pernah menuruti perintahmu!” seru Nari pada ayahnya yang terlah berbalik pergi.


Ji Joon langsung menghampiri Nari saat pemilik yayasan telah berlalu dari ruang rapat yang telah sepi. Amarahnya kembali mendidih saat dia berhenti untuk menatap Nari lurus-lurus.


“Ayahku mengatakan bahwa ada seseorang yang akan mewakilinya untuk memarahiku lebih keras.” Nari mencoba berkelakar dan seperti yang sudah ia duga, itu sama sekali tidak berhasil. Kilat dimata Ji Joon justru semakin terasa menyilaukan.


“Aku memintamu untuk meyakinkan seluruh anggota rapat, bukan bertaruh dengan salah satunya!” teriakan Ji Joon tertahan pada giginya yang terkatup.


“Tenanglah, kita pasti bisa membuat Kwan Hoon tutup mulut.”


“Bukan itu yang kupermasalahkan, kak!” Ji Joon berteriak tepat di depan wajah Nari yang semakin terlihat tak bersalah, bahkan gurunya itu masih bisa menyalakan sepuntung rokok tepat di hadapannya. “Demi Tuhan, apa kau tahu apa yang kau pertaruhkan?!”


Ji Joon mengepalkan tangannya sekuat yang ia bisa, dadanya semakin terasa sesak karena menahan emosi untuk waktu yang lama. Naik turun mengatur napas yang tak juga stabil, kilat amarah dimatanya pun tak kunjung padam. Ji Joon mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi gemertak yang kentara.


Tak pernah sebelumnya ia semarah ini pada guru yang sudah ia anggap sebagai saudarinya sendiri. Semenyusahkan apapun keputusan yang dibuat Nari atas klub atau dirinya, Ji Joon selalu punya cara untuk memaafkan gurunya itu. Namun tidak kali ini, Kim Nari, gurunya itu mempertaruhkan banyak hal hanya karena provokasi Guru Lee.


“Sial! Kau tahu kepercayaan saja tak cukup!” Dengan emosi, Ji Joon berlalu.


.


—oOo—


.


Min Joon baru saja ke luar dari Ruang Multimedia yang juga berada di gedung bagian selatan saat manik matanya menangkap punggung Ji Joon yang tengah berjalan bersungut-sungut tiga ruang jauhnya dari tempatnya berdiri. Dahinya berkerut melihat bagaimana cara gadis itu berjalan, Ji Joon menghentak-hentakan kakinya dan sesekali menendang udara kosong.


“Bukankah itu kekasihmu?” tanya teman satu kelasnya. “Sepertinya suasana hatinya sedang buruk.”


“Bagaimana kau bisa bersamanya? Gadis itu sangat galak dan su—aw!” celoteh temannya yang lain, yang kini mengaduh karena sebuah sikutan di perutnya.


“Aku tidak butuh pendapatmu.” sahut Min Joon pendek. Ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ji Joon.


Langkahnya dipercepat seiring dengan ocehan-ocehan Ji Joon yang mulai terdengar, menyebutkan tentang Guru Kim Nari, Guru Kwan Hoon dan masih banyak lagi. Ia tergelak seraya menepuk pundak gadis itu.


Ji Joon berjengit kaget, jantungnya hampir copot dengan debaran tak terkendali saat seseorang yang tak ia tahu siapa menepuk pundaknya. Wajahnya ia palingkan ke kanan namun tak mendapati siapapun, lantas ia memalingkan wajah ke kiri dan seketika itu Ji Joon beringsut mundur.


“Ahh!”


Dua serangan telak. Jika saja Ji Joon memiliki riwayat penyakit jantung ia pasti sudah tidak bernyawa lagi, ia merutuki siapapun yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Matanya terpejam erat sementara debaran jantungnya memburu karena terkejut, menggantikan sesak emosi sebelumnya. Gelak tawa yang tak begitu nyaring memaksa Ji Joon membuka mata, ia berkedip beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya.


Mata Ji Joon memincing. “Senior?”


“Ya ya, ini aku.” Min Joon menyahut disela tawanya yang tak kunjung berhenti. Satu lagi sisi Ji Joon yang baru ia ketahui hari ini.


“Kau hampir membunuhku.” sembur Ji Joon jengkel. “Aku sedang jengkel, tolong senior jangan menggangguku.” Ji Joon hampir beranjak saat Min Joon berhasil mencekal pergelangan tangannya.


Min Joon mentap penuh penyesalan. “Aku minta maaf.”


Ji Joon menghela napas, tak berkutik melihat gurat sesal di wajah Min Joon. Lagi pula Min Joon tidak melakukan kesalahan padanya, hanya bersikap jahil seperti biasa, dirinya saja yang memang sedang dalam kondisi hati yang buruk.


“Ya, aku juga,” Ji Joon tersenyum tipis. “Aku harus kembali ke kelas.” Ji Joon hampir menarik tangannya saat Min Joon justru melakukan sebaliknya.


“Ayo ikut aku.”


Ji Joon menaikan alis bingung, “Kemana?”


Namun Min Joon tak menjawab, hanya berjalan menjauh membawa gadis itu pergi. Ji Joon terang saja bingung, ini masih jam pelajaran dan mereka seharusnya tidak pergi kemanapun selain kembali ke kelas.


Ji Joon melirik ke belakang saat beberapa suara menyoraki mereka, ia menatap heran senior-senior teman sekelas Min Joon lalu dengan cepat menatap lelaki itu. “Senior, itu…”


“Abaikan saja.” sahut Min Joon pendek.


Ji Joon terdiam namun diam-diam melirik lelaki yang tengah menggandeng tangannya, membiarkan Min Joon menuntunnya kemanapun lelaki itu membawanya. Mengabaikan suara riuh di belakangnya yang semakin keras terdengar saat langkahnya semakin menjauh pergi.


 


 


*panggilan ayah dalam bahasa sopan atau formal