
Ji Joon terlihat menopang dagu, membolak-balik halaman yang sama pada buku bacaannya, tidak benar-benar memperhatikan kecuali beberapa kata yang tengah dibacakan gurunya dan teman-temannya secara bergantian.
Suara nyaring Mrs.Jung yang bersahut-sahutan dengan salah satu teman kelasnya nyatanya tak bisa mengalihkan pikirannya secara utuh dari ucapan Dae Hwa. Fakta bahwa Ji Joon merasa terganggu dengan ucapan lelaki itu membuatnya jengkel sendiri. Ji Joon berhasil memberikan alasan atas nama Dae Hwa kepada Guru Bahasa Inggrisnya itu, tapi hal itulah yang membuatnya menyesal. Setidaknya ia berpikir teman sekelasnya itu benar-benar memiliki urusan penting untuk dilakukan hingga harus membolos pelajaran, tapi nyatanya itu hanya sebatas urusan menuntaskan hasratnya saja.
“So, who’s next?” Ji Joon menaikan wajahnya dari buku, melirik sekelilingnya dari ujung mata lalu mendapati Mrs.Jung tengah menatapnya penuh ketertarikan. “Shin Ji Joon?”
Ji Joon melotot bingung ke arah Mrs.Jung dan bukunya bergantian, dia terlalu sibuk melamun hingga tak memperhatikan paragraf terakhir yang dibaca sebelumnya. Ji Joon hampir membuka mulutnya untuk meminta maaf dan siap menerima omelan dari gurunya itu saat Shin Ji menyerahkan bukunya sendiri yang sudah ditandai. Ji Joon langsung menerimanya dan memberikan gestur terimakasih lewat bibirnya.
“Shin Ji Joon?”
“Yes mam.” Ji Joon beralih pada buku yang dipinjamkan Shin Ji, berdiri dengan buku di tangan dan mulai membacanya. “At the party starting the new school year, Snape had been appointed as the new Defense Againts the Dark Arts teacher, which was ver—”
Semua orang—termasuk Ji Joon, menoleh ke sumber suara saat suara pintu yang terbuka dari luar mengintrupsi mereka, menampakan Dae Hwa yang berdiri membungkuk ke arah Mrs. Jung. “Maaf saya datang terlambat, Mam.”
“Apa kau sudah merasa lebih baik Dae Hwa?” Mrs.Jung bertanya heran. “Kau sudah kuberikan izin untuk tidak mengikuti pelajaran.”
Dae Hwa menoleh pada Ji Joon yang hanya memandangnya dari sudut mata. Ia tak menyangka gadis itu akan benar-benar menepati perkataannya dan membuat alasan yang berbeda dari apa yang ia katakan. Jika ia tak salah menebak, Ji Joon pasti meminta izin dengan alasan klise bahwa ia tidak enak badan dan pergi ke ruang kesehatan. “Saya sudah lebih baik, Mam.”
“Kalau begitu masuklah.”
Ji Joon bisa merasakan bagaimana Dae Hwa meliriknya sepanjang langkah antara pintu dan meja lelaki itu. Mungkin saja Dae Hwa tidak begitu yakin bahwa ia menepati ucapannya, yang akan menjadi kali terakhirnya membantu lelaki itu. Terlepas benar atau tidaknya ucapan Dae Hwa, namun kemungkinan apa yang dilakukan Dae Hwa bersama kekasihnya di toilet benar-benar membuat Ji Joon kembali ditarik oleh kenyataan bahwa lelaki itu adalah siswa bermasalah yang seharusnya ia hindari.
.
—oOo—
.
Suasana kantin begitu ramai saat Ji Joon, Hana dan Shin Ji berjalan menuju antrian. Tangannya terulur meraih nampan alumunium dan siap mengambil beberapa lauk makan siang. Nasi, sup, banchan (lauk pendamping), dan buah sebagai makanan penutup.
Hana yang berada di depan Ji Joon mencondongkan tubuhnya sedikit ke belakang dan berbisik sepelan mungkin. “Aku penasaran.” Matanya melirik sekitar, memastikan tak ada yang menguping pembicaraannya. “Kau dan Dae Hwa, ada apa?”
Ji Joon menyenggol Hana dengan pundaknya, memerintahkan gadis itu untuk berjalan sebelum orang yang mengantri di belakang mereka melayangkan protes. “Tidak ada.”
“Tapi—”
“Cepat ambil makananmu atau kita akan terkena masalah.” Sembur Ji Joon pada Hana. Ji Joon bisa mendengar desisan protes dari Hana namun ia tak ingin ambil pusing. Sesekali Ji Joon akan melihat sekeliling disela kegiatannya mengambil menu makan siang, sekedar memastikan apakah masih ada tempat untuk mereka duduk dengan tenang sembari mengisi perut.
Ji Joon telah mengambil bagian akhir dari menu makan siangnya saat matanya menemukan Hana sudah duduk manis di sebuah meja yang masih kosong dekat tanaman hias. Sejak kapan dia di sana?
“Ada apa?” Shin Ji yang baru saja datang dengan nampannya yang penuh menghampiri Ji Joon dan mengikuti arah pandang gadis itu. “Sejak kapan Hana di sana?”
“Itu juga yang ingin aku ketahui.” Ji Joon menjawab seraya berjalan ke arah Hana yang sudah melambai heboh ke arah mereka. Ji Joon tahu dia harus segera menghampiri temannya itu atau mereka akan mendapat malu karena kelakuan anehnya.
“Kalian lama.” Sembur Hana saat Ji Joon dan Shin Ji baru saja tiba.
Ji Joon memutar bola matanya malas dan mengambil duduk di hadapan Hana, sementara Shin Ji tepat berada di sampingnya. Ketiganya mengambil posisi berdoa sebelum mengangkat sumpit dan menikmati suapan pertama dari makan siang di hadapan mereka dengan perasaan menyenangkan.
“Jadi—” Hana menelan makanannya, melirik sekitar dan berbisik ke arah Ji Joon. “Jelaskan ada apa antara kau dan Dae Hwa?”
“Tidak ada.” Ji Joon menjawab di sela kunyahannya lalu mengambil sendok untuk menyuapkan sup ke dalam mulutnya.
“Kau pikir bisa membodohiku?” Hana mengacungkan sumpitnya di depan wajah Ji Joon yang ditepis gadis itu menggunakan sendoknya. Ji Joon tersenyum mengejek. “Kau sudah bodoh, untuk apa aku melakukan hal yang sia-sia.”
Hana berdesis jengkel, mengangkat tangannya dan member gestur memukul pada Ji Joon. “Dae Hwa adalah siswa bermasalah.”
“Aku tahu.”
“Dia sudah punya kekasih.”
“Aku tahu.”
Hana menatap tak senang ke arah Ji Joon. “Yang ke delapan selama bersekolah di sini.” Hana cukup puas melihat ekspresi Ji Joon yang terkejut. “Kau tak tahu yang satu ini.”
Kini tak hanya Ji Joon yang diliputi rasa ingin tahu namun Shin Ji yang dari tadi diam pun juga mulai memasang atensi penuh pada kedua temannya yang sedari tadi membicarakan hal yang tak sepenuhnya ia pahami. Ji Joon dan Shin Ji terlihat mencondongkan tubuhnya ke arah Hana, tak begitu peduli bila seragam mereka akan kotor karena terkena noda makanan.
“Ck!” Hana berdecak malas, ekspresinya persis seperti biang gosip yang menemukan berita hangat. “Dengar.” Hana mencondongkan sedikit tubuhnya dan berbicara sedikit lebih pelan. “Aku berada di kelas sebelah kelas Dae Hwa tahun lalu jadi aku yakin ini adalah berita akurat, lagi pula kalaupun ini hanya gosip aku yakin kebenarnya tetap lebih dari 50%”
Ji Joon menarik mundur tubuhnya disusul Shin Ji, meletakan sendok yang sedari tadi ia pegang dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia menatap Hana skeptis. “50%? Bahkan separuhnya pun adalah kebohongan. Jangan mengatakan sesuatu yang bahkan tak kau tahu kebenarnya, Kwon Hana.”
“Lupakan angkanya” Hana menyergah ucapan Ji Joon. “Fokus saja pada kenyataan bahwa lelaki itu adalah seorang pemain.” Hana memasukan sepotong kimchi ke dalam mulutnya sebelum melanjutkan. “Jadi kau!” Hana sekali lagi mengacungkan sumpit ke arah Ji Joon. “Segera jauhi Cho Dae Hwa dan jangan pernah terlibat dengannya.”
Ji Joon melongo melihat ekspresi Hana yang penuh peringatan. “A—aku sudah bilang tidak ada apapun diantara kami.” Ji Joon menyanggah terbata. Jujur saja ia tidak pernah benar-benar berpikir untuk memiliki sesuatu yang lebih dengan Dae Hwa, ditambah kejadian pagi ini, rasa ketidak tertarikannya meningkat pesat seperti roket Nasa siap luncur.
“Ji Joon-ah, kau selingkuh dengan Dae Hwa?” Pertanyaan Shin Ji sukses membuat Ji Joon dan Hana menoleh ke arahnya.
“Aku tidak!”
“Hampir!”
Seru Ji Joon dan Hana hampir bersamaan, membuat keduanya saling menoleh. “Aku tidak berselingkuh.” Desis Ji Joon.
“Itu masih belum dipastikan.” Hana menyahut sama ngototnya.
Shin Ji melihat keduanya bingung. “Bukankah bagus kalau Ji Joon tidak berselingkuh? Walaupun Dae Hwa memang terlihat keren tapi kau sudah punya senior Kang Min Joon. Jadi Ji Joon-ah, kau seharusnya tidak melakukan hal yang tidak baik seperti itu.” Ji Joon dan Hana menoleh ke arah Shin Ji yang memandang kedua temannya bingung. “Kenapa?”
“Aku setuju.”—Hana.
“Aku tidak.”—Ji Joon. “Dengar, aku tidak ada apa-apa dengan Dae Hwa. Jangan minta aku menjelaskannya.” Sergah Ji Joon saat Hana terlihat akan membuka mulut. “Dan aku ingat jelas bahwa aku sudah memliki kekasih yang luar biasa seperti Senior Min Joon.”
Shin Ji dan Hana memberikan reaksi yang berbeda, namun keduanya—terutama Hana, berhenti membahas tentang Dae Hwa dan melanjutkan sisa makan siang mereka dalam diam.
.
—oOo—
.
Hana telah menyelesaikan makan siangnya beberapa menit yang lalu dan disusul Ji Joon setelahnya. Kini keduanya tengah menunggu teman lelet mereka dengan setia. Shin Ji benar-benar punya kebiasaan seperti kukang, melakukan hampir segalanya secara perlahan.
Hana menopang wajahnya, matanya melirik Ji Joon yang juga mulai terlihat bosan. “Jadi kau akan tetap di Organisasi Sekolah?”
Ji Joon mengangkat bahunya tak yakin. “Masih kupikirkan.”
Hana menyeruput isi dari kotak minuman di tangannya yang lain. “Tapi tawaran Ki Seob—” Ji Joon berdesis memperingati. “Maaf, tawaran itu bisa membantu klub dance untuk persiapan kompetisi tahun ini kan?” Hana bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan, setengah berbisik.
“Aku tahu, tapi aku—”
“Ji Joon-ah.”
Ji Joon, Hana dan bahkan Shin Ji yang baru saja menelan suapan terkahirnya menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Sang Mi dan Hye Jin berdiri di samping meja mereka. Kedua gadis itu adalah teman satu klub Ji Joon di klub dance.
“Ada apa?” Tanya Ji Joon.
Sang Min tersenyum tipis dan melambaikan tangan kanannya. “Tidak, kami hanya menyapa saja.”
“Oh.” Satu kata yang dikeluarkan Hana terdengar sumbang, tidak begitu tulus.
“Kalau begitu kami permisi dulu, daah~”
Ji Joon memperhatikan Sang Mi dan Hye Jin yang berbalik menuju meja mereka yang telah diisi oleh beberapa siswi perempuan. Yang Ji Joon yakini berada di kelas yang sama dengan kedua teman satu klubnya, beberapa diantaranya bisa Ji Joon kenali sementara yang lain Ji Joon tak begitu yakin mengetahui namanya.
Sepeninggal Sang Mi dan Hye Jin suasana ketiganya diliputi keheningan untuk sesaat sampai akhirnya Hana melirik Ji Joon dengan rasa ingin tahu. “Kau masih berteman dengan mereka?”
Ji Joon menyernyit tak suka. “Mereka teman satu klubku, apa ada yang salah dengan itu? Lagi pula aku dan Sang Mi satu kelas sebelumnya.” Sembur Ji Joon yang hanya ditanggapi dengan decihan keras oleh Hana. “Ayolah…”
“Aku tidak ada masalah dengan Sang Mi, tapi Hye Jin?” Hana mentap Ji Joon serius, memastikan sesuatu darinya, namun gadis itu hanya memiringkan kepala sebagai tanggapan. “Demi Tuhan, kau tidak lupa kan kalau Kwon Hye Jin adalah mantan pacar Kang Min Joon?!”