2013

2013
BAB VII : Yang Pertama di Ruang Klub



Ji Joon menyibukan dirinya dengan terus mencari cara menghindar dari kedua temannya, kebisuannya semakin menjadi di setiap menitnya bahkan sampai seluruh jam pelajaran hari itu berakhir. Ia tak ingin memusuhi Hana selamanya, namun saat ini ia hanya perlu menjaga jarak dengan temannya itu, memberikan Hana dan dirinya sendiri waktu untuk tenang dan merenung.


Bahkan saat Shin Ji mengajaknya untuk makan siang Ji Joon mencoba menghindar, beralasan harus ke Ruang Organisasi Sekolah untuk melakukan sesuatu. Itu tidak sepenuhnya sebuah kebohongan, saat ini dirinya masihlah sebagai anggota resmi dari organisasi tersebut jadi ia masih harus melakukan tugasnya. Terlebih festival musim semi akan diadakan sebentar lagi, kegiatan yang baru menjadi agenda rutin selama tiga tahun ini cukup menyita waktu walaupun tidak lebih merepotkan dari hari jadi sekolah mereka.


Ji Joon baru saja meninggalkan Ruang Organisasi Sekolah beberapa saat yang lalu, rapat persiapan selalu menjadi hal melelahkan untuknya. Bukan karena banyaknya hal yang harus dibahas, melainkan banyaknya tenaga yang harus ia keluarkan untuk menghadapi Ki Seob. Laki-laki itu selalu punya cara untuk mendebatnya.


Ji Joon mendesah setelah melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat setengah jam lebih sejak pelajaran terakhir berakhir. Alasan yang ia buat siang tadi untuk menolak Shin Ji justru membuatnya menghabiskan waktu berjam-jam di Ruang Organisasi Sekolah.


Ji Joon berbelok menuju koridor setelah menaiki anak tangga, berjalan perlahan menuju kelasnya. Hampir seluruh siswa satu angkatnya di lantai dua sudah meninggalkan sekolah kecuali sedikit sekali di antaranya, entah untuk urusan pribadi atau klub. Ji Joon menghentikan langkahnya sejenak, memandang senja yang hampir menghilang dari balik jendela koridor. Tangannya terulur meraih ponsel di sakunya, memeriksa notifikasi yang mungkin saja bertengger manis di layar utama, namun nihil. Tak ada pesan balasan dari Min Joon sejak terakhir kali ia membalas pesan kekasihnya itu, ah dia paling tidak sabaran menunggu sebetulnya.


Ji Joon memasukan ponselnya kembali dan hampir beranjak saat manik matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Dae Hwa dan seorang gadis di sudut halaman sekolah, berdiri berhadapan di bawah sebuah pohon besar. Ji Joon tak bisa melihat jelas wajah gadis itu, namun melihat gerak-geriknya sepertinya ia tengah berdebat dengan Dae Hwa.


“Sudahlah, bukan urusanku.” Ji Joon menaikan bahunya acuh dan berlalu dari tempatnya, bersamaan dengan Dae Hwa yang menoleh ke arahnya. Menyernyit heran melihat Ji Joon yang masih berada di lantai dua dan sedang menuju ke kelas mereka setelah mangkir dari jam pelajaran setelah istirahat siang dengan alasan rapat.


.


—oOo—


.


“Ulangi lagi!”


Ji Joon mendengar teriakan Pelatih Kim Nari dua ruang jauhnya dan buru-buru menghampiri secepat langkahnya bisa membawanya. Pelatihnya itu pasti dibuat kesal oleh salah seorang anggota klubnya, dan jika bertanya siapa itu pastilah dirinya, yang tidak ada di sana saat latihan dimulai hingga berakhir dengan pelatih mereka yang melampiaskan kekesalannya ke anggotanya yang lain. Ji Joon sungguh menyesal dan melontarkan banyak permintaan maaf disepanjang langkahnya untuk semua anggota yang terkena imbasnya.


Dia berdiri di depan pintu ruang klub, berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam. Tangannya terulur ragu untuk membuka pintu, namun tetap dilakukannya. Pintu berpernis tipis itu tergeser terbuka, menarik perhatian seisi ruangan yang kini menatapnya.


“Bagus,” Pelatih Kim berjalan menghampiri Ji Joon yang berdiri mematung di depan pintu. “Akhirnya kau datang juga.”


Ji Joon tercekat, ia tak pernah melihat pelatihnya itu begitu gusar selama ini, bahkan saat ia terlambat jauh lebih lama dari kali ini. “Ada apa pelatih?” Ji Joon bertanya hati-hati.


Pelatih Kim menoleh ke belakang, “Lanjutkan latihan kalian. Han Sang Mi, pimpin mereka.”


“Baik!”


Ji Joon melirik gusar ke arah Sang Mi juga beberapa anggota klubnya yang lain, namun ekspresi sesal yang mereka berikan padanya membuat Ji Joon semakin tak nyaman.


“Ikut denganku.” lanjut Pelatih Kim.


Ji Joon hanya bisa pasrah, menyeret kakinya mengikuti sang pelatih setelah sebelumnya ia meletakan tas dan barang-barangnya di lantai dekat pintu masuk. Mereka berjalan tidak begitu jauh dari ruang latihan, suara musik masih bisa ia dengar, mungkin hanya memastikan agar tidak ada anggota lainnya yang bisa mendengar percakapan mereka.


Pelatih Kim memasuki sebuah ruangan—klub paduan suara, dengan Ji Joon yang masih mengekorinya. Wanita pertengahan dua puluhan itu bersandar pada dinding ruang klub, mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya lalu mengambil satu batang dan menyalakannya.


“Kau guru yang buruk, Kak Nari,” Ji Joon mengerling malas dan membuka dua sampai tiga jendela ruangan. “Katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan.”


Nari menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, membentuk asap putih abstrak yang tercercer di udara. “Aku mendengar kabar kau tidak jadi mengundurkan diri dari Organisasi Sekolah,” Nari melirik Ji Joon sekilas dan kembali menghisap puntung rokoknya. “Kukira kita telah sepakat.”


Ji Joon berdiri di samping Nari, sisi berbeda dari asap rokok yang mungkin mengenainya. Menatap halaman belakang sekolah dengan waspada dari balik jendela yang terbuka, takut-takut kalau ada siswa yang memegoki mereka. “Aku tidak lupa.”


“Lalu?”


“Aku punya alasan,” sergah Ji Joon. “Bisakah kau matikan rokokmu, kak? Ini masih di sekolah kalau kau tidak lupa.”


Nari tak acuh. “Kompetisi Nasional kali ini, kau harus lolos, apa kau mengerti?”


“Tentu saja,” Ji Joon menyahut mantap. “Apa hanya ini yang ingin kau bicarakan?”


“Anggaran klub,” Nari mematikan puntung rokoknya asal pada bingkai jendela dan membuangnya keluar. “Kepala Sekolah dan Dewan Komite menolak usulanku untuk menaikan anggaran klub. Haissh… sialan sekali tua bangka itu.”


“Ayolah..”


Ji Joon melempar bungkus rokok yang isinya sudah berkurang beberapa batang itu ke lantai dan menginjaknya, yang membuat Kim Nari berseru marah pada Ji Joon. Namun gadis itu justru terlihat menantang dengan tangan terlipat di dada. “Apa? Aku mengikutimu kemari bukan untuk melihatmu merokok. Demi Tuhan, apa kau belum kapok dengan hukuman skorsmu beberapa bulan lalu?”


“Ahh.. baiklah baiklah,” Nari mengibaskan tangannya di depan wajah Ji Joon. Gadis kecil yang menjadi muridnya ini bisa sangat cerewet dan menyebalkan kadang-kadang, berbeda dengan image-nya sehari-hari. “Katakan apa solusimu?”


Ji Joon berdecak. “Kau kan pelatih dan pembimbing klub ini, kenapa malah bertanya padaku?”


“Justru karena itu aku mengajakmu bicara, ketua.” Nari menyahut kalem.


Ji Joon mengerling malas. Gurunya yang satu ini benar-benar tak bisa diandalkan. “Aku sudah memiliki rencana.”


“Apa?”


“Aku tak akan mengatakannya padamu,” Ji Joon tersenyum mengejek. “Pikirkanlah cara untuk membujuk kepala sekolah, Guru Kim.” Ji Joon beranjak ke luar ruang, menuju ruang latihan.


Meninggalkan Nari yang berdecak malas melihat kelakuan Ji Joon. “Dasar anak itu,” Lalu memungut bungkus rokok yang sebelumnya diinjak Ji Joon. “Ahh… padahal aku baru saja membelinya. Dasar bocah kurang ajar.”


.


—oOo—


.


Waktu menunjukan pukul sembilan lima belas menit saat Min Joon sampai di ruang Klub Dance, ruangan itu terlihat sudah sepi dan hanya menyisakan seseorang yang tengah menari dengan masih penuh semangat. Min Joon berdiri diam menyandarkan tubuh bagian sampingnya di bingkai pintu yang terbuka, memperhatikan bagaimana kekasihnya berusaha lebih keras dari yang lain.


Min Joon mengangkat kamera yang menggantung di lehernya, mengarahkan lensa pada Ji Joon yang bergerak lincah di ruangan yang luas. Satu, dua, tiga bahkan lebih gambar yang ia ambil, tersenyum puas saat melihatnya melalui layar LCD.


“Senior?” Ji Joon terperanjat melihat Min Joon berdiri di ambang pintu. Ia baru saja menyelesaikan latihannya dan sangat terkejut melihat seseorang berdiri di ambang pintu, ia sempat berpikir bahwa itu mungkin saja bukan manusia.


“Kau sudah selesai?” Min Joon berjalan mendekati Ji Joon yang masih terpaku di tempatnya. “Kenapa?”


“Aku pikir kau hantu,” ucapnya gamang. “Kenapa kau ada di sini?”


“Menjemputmu,” Min Joon menuntun Ji Joon untuk duduk di lantai. “Apa kau berlatih sendiri sejak tadi?”


“Ya, tapi baru saja,” Ji Joon meraih botol minum dari tas di sampingnya. Kedua kakinya terulur sementara punggungnya ia sandarkan senyaman mungkin di dinding. “Bukankah tadi pagi kau bilang akan pulang cepat?”  Ji Joon bertanya setelah berhasil meneguk habis air dalam botolnya.


Min Joon tertawa renyah. “Dan kau percaya?”


Ji Joon melirik sekilas pada laki-laki di sampingnya dan berdecih lirih. Untuk sesaat keduanya larut dalam keheningan, Ji Joon bisa melihat pantulan mereka dari cermin besar di depannya yang terpasang di sisi dinding yang lain. Dia baru menyadari bahwa pantulan dari cermin itu memiliki titik buta, pantas saja tadi Min Joon tidak terpantul dalam cermin dari tempatnya berdiri.


Min Joon yang tengah mengotak-atik kamera di tangannya menarik perhatian Ji Joon, gadis itu mencondongkan tubuhnya mendekat guna melihat apa yang menjadi fokus lelaki di sampingnya ini.


“Aku?” Ji Joon menolehkan wajahnya ke arah Min Joon saat yang ia lihat pada layar LCD kamera menampakan potretnya sesaat lalu yang tengah menari, hal yang juga Min Joon lakukan.


Ji Joon dan Min Joon bertemu tatap, jarak antara wajah keduanya yang tipis membuat Ji Joon merasa gugup. Ia tidak pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan lawan jenis, dan hal itu sukses membuat debaran jantungnya menggila.


Hanya untuk beberapa saat waktu terasa berjalan begitu lambat, bahkan keduanya seperti dapat mendengar deru napas masing-masing yang berhembus perlahan. Baik Min Joon ataupun Ji Joon, keduanya terhanyut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri.


Min Joon mengulurkan tangan untuk meraih sebelah wajah Ji Joon, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk mendekap pinggang ramping gadis itu, melupakan kamera miliknya yang ia taruh asal di sisi tubuhnya yang lain. Min Joon dapat merasakan dengan jelas hembusan napas gadis itu menerpa wajahnya dari jarak yang begitu dekat. Sementara Min Joon seperti sudah begitu ahli dan terbiasa, Ji Joon menjadi pihak yang terlihat amatir. Gadis itu terlihat gugup dalam dekapan Min Joon.


Min Joon mengeliminasi jarak yang tersisa, membuat Ji Joon tersentak saat lelaki itu berhasil mengklaim bibir merahnya, ciuman pertamanya. Min Joon—sekali lagi, berperan begitu handal, memenjarakan Ji Joon dalam gelenyar aneh menyenangkan yang baru pertama kali ia rasakan. Ia tak pernah begitu kosong sebelumnya, namun kali ini ia merasa begitu baru dan tanpa persiapan. Bahkan saat Min Joon bergerak konstan, ******* secara perlahan dan begitu lembut, Ji Joon hanya mampu memejamkan matanya begitu saja.