
Pagi itu masih seperti pagi musim semi kemarin saat Ji Joon menerima sebuah pesan di ponselnya. Semilir angin yang berhembus lembut masih terasa sedikit dingin, membuat Ji Joon mengeratkan jaket di tubuhnnya. Ji Joon menarik ponselnya dari kantung jaket dan melihat sebuah pesan dari Min Joon.
Aku hampir sampai halte, cari aku di bagian belakang
Ji Joon tersenyum tipis dan segera membalas pesan itu dengan beberapa kalimat. Pandangannya ia alihkan dari ponsel ke arah datangnya bus yang ia tunggu, dan tak lama sebuah bus terlihat menghampiri halte di mana Ji Joon menunggu bersama beberapa orang lainnya.
Ji Joon segera memasukan ponselnya ke dalam saku jaket seraya berdiri dan mengambil posisi untuk masuk ke dalam bus. Begitu bus berhenti dan pintunya terbuka, Ji Joon langsung melesat ke dalam dan menuju bagian belakang. Ji Joon bisa melihat Min Joon menyembulkan kepalanya ke samping, membuatnya menahan geli melihat tingkah kekasihnya.
“Duduklah.” Min Joon berdiri dari duduknya dan menyerahkan tempatnya kepada Ji Joon saat gadis itu sudah berada di depannya.
“Terimakasih,” senyum Ji Joon terukir penuh lalu mengambil duduk di tempat Min Joon sebelumnya, sementara lelaki itu berdiri dengan satu tangan bertumpu pada alat bantu yang dipasang di langit-langit bus—tepat di samping Ji Joon.
Dari bawah Ji Joon bisa melihat betapa rupawannya seniornya ini, untuk ukuran seorang pelajar remaja Min Joon cukuplah tampan, dan kemampuannya di bidang fotografi lebih dari cukup untuk membuat beberapa gadis jatuh hati padanya. Apakah termasuk Ji Joon? Mungkin saja.
Saat Ji Joon terang-terangan memperhatikan Min Joon dari tempatnya, diam-diam lelaki itu melirik dari sudut matanya. Tersenyum geli melihat bagaimana gadis itu tak sadar bahwa dirinya pun tengah memperhatikannya. Dan saat Ji Joon tersadar dari lamunannya, Min Joon sudah setengah mati berusaha menahan tawanya melihat bagaimana ekspresi terkejut kekasihnya.
Ji Joon memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona malu yang tak bisa ia tahan. Sementara itu Min Joon yang sudah berhasil mengendalikan diri mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Ji Joon dan bergumam pelan. “Kita hampir sampai.”
Ji Joon mengalihkan pandangannya, mencoba melihat ke depan namun terhalang oleh orang yang duduk di depannya. Dan tak berapa lama bus yang mereka tumpangi berhenti.
“Ayo.” Min Joon menggeser tubuhnya dan membiarkan Ji Joon berjalan di depannya yang masih menyembunyikan rona malunya dengan tidak menatap ke arahnya.
Saat mereka berhasil ke luar dari bus Min Joon bergumam. “Jangan lakukan itu lagi.”
Ji Joon langsung menoleh. “Apa?”
“Melamun di keramaian, terlebih kalau tidak ada aku.” Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar bersama siswa-siswa yang lain.
“Aku tidak begitu.” Ji Joon menyangkal panik, masih malu karena ketahuan menatap kekasihnya itu secara terang-terangan.
“Oh, benarkah?” Min Joon menolehkan wajahnya ke arah Ji Joon, mencoba melirik ekspreisi gadisnya.
“Tentu saja.” Ji Joon mendelik garang.
“Dan sekarang?” Min Joon semakin tertarik menggoda Ji Joon yang ternyata memiliki sisi berbeda dari apa yang ia tahu selama ini.
“Terserah senior saja, aku tidak peduli.” Ji Joon membuang mukanya namun tak bisa mencegah bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman lebar. Langkahnya terasa ringan, berjalan beriringan menyusuri jalan dengan kuncup-kuncup sansuyu yang mulai mengembang di atas kepala, bersama seseorang yang istimewa di sampingnya.
Min Joon tertawa ringan, sebelah tangannya terulur mengacak surai Ji Joon yang tergerai. “Dasar kau ini.”
Ji Joon mencondongkan tubuhnya ke arah berlawanan, tak benar-benar menolak sebenarnya. “Senior, hari ini aku ada jadwal klub.”
Min Joon tersenyum menyadari maksud perkataan kekasihnya, namun rasanya ia tadi belum cukup puas menjahili gadis itu. “Jadwal klub? Kebetulan hari ini aku harus pulang cepat, mungkin aku akan duluan.”
“Oh, begitu.” Ji Joon menyahut kecewa, matanya melirik ke tempat lain dan melewatkan ekspresi geli Min Joon atas reaksinya. Min Joon bisa saja langsung membongkar kebohongan yang ia katakan semata-mata untuk membuat kekasihnya senang, namun ekspresi kecewa Ji Joon terlihat menarik di matanya, rasanya sayang sekali melewatkan kesempatan untuk menggoda gadis itu. Jadi ia akan menyimpan rahasia ini untuk sementara waktu.
.
—oOo—
.
“Aku masih marah padamu!”
Ji Joon mengindahkan ucapan Hana, ia meletakan tasnya di atas meja dan mencari pouch makeup kecil miliknya. “Aku tahu,” sahutnya kalem disela kegiatannya mengolesan lip balm ke bibirnya.
Hana menarik rambut Ji Joon dan dihadiahi pekikan jengkel dari sang empunya. “Dasar tidak punya perasaan, kau seharusnya merasa bersalah padaku.” Hana menggeram jengkel.
Ji Joon mengembalikan lip balm-nya ke dalam pouch dan memasukannya asal ke dalam tas. Ia memutar tubuhnya ke arah Hana. “Kau sendiri yang marah padaku, kenapa harus aku juga yang membujukmu?”
Hana melotot kesal mendengar respon Ji Joon, temannya yang satu ini sungguh keterlaluan. Sudah galak, ucapannya juga selalu pedas. “Shin Ji Joon, kau benar-benar menjengkelkan.” Hana berdesis kesal.
“Kwon Hana, kau benar-benar bersisik.”
“Kalian berdua sangat mengganggu!” sela Shin Ji tiba-tiba. Cukup jengah melihat kelakuan kedua temannya itu yang selalu saja terlibat adu mulut, seperti tak habis topik untuk diperdebatkan. “Tapi Ji Joon-ah, aku penasaran tentang Senior Min Joon dan Hye Jin. Benarkah mereka….” Shin Ji menggantungkan kalimatnya.
“Benar,” Hana menyahut cepat. “Aku, Ji Joon, Senior Min Joon, Sang Mi dan Hye Jin satu almamater saat Menengah Pertama. Dan mereka berdua adalah mantan kekasih, mungkin sejak kelas dua, aku tidak begitu ingat.”
Ji Joon melirik Hana yang juga meliriknya. “Itu masa lalu, berhenti membesar-besarkan hal ini.”
“Tapi itu adalah fakta, bodoh.” sembur Hana tak puas.
Ji Joon menatap Hana dramatis, mulutnya sedikit terbuka mengalirkan udara menuju paru-paru, mencoba tenang agar tidak membalas ucapan Hana dengan cara yang sama. “Baik, itu memang benar.” sahut Ji Joon pendek.
“Bisakah kalian berhenti bertengkar sebentar saja?” sembur Shin Ji sambil merengut. Ji Joon dan Hana bergumam bersamaan.
“Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui, Shin Ji?” Ji Joon bertanya memastikan.
“Sudah kuketahui.”
Ji Joon mengalihkan pendangannya pada Hana yang masih menekuk muka, mungkin sejak kemarin saat pembicaraan terakhir mereka di kantin. “Dan kau?” Ji Joon bertanya dengan nada sarkastis.
Hana menaikan bahunya sekilas. “Tidak ada.”
Ji Joon menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kau menyergapku dengan fakta yang sudah kuketahui, menempatkanku diposisi bersalah karena membuatmu marah dan mengacaukan mood-ku di pagi hari lalu kau bilang tidak ada? Tidak ada?”
“Baiklah,” sergah Hana. “Kalau aku bilang kau harus putus dengan Min Joon bagaimana?”
“Kau sudah gila,” desis Ji Joon penuh peringatan. “Kwon Hana, sebagai seorang teman kau terlalu ikut campur.”
“Aku hanya—”
“Aku tahu,” Ji Joon memotong. “Kau mengkhawatirkan kemungkinan-kemungkinan buruk kan? Tapi itu semua masa lalu dan kau juga tahu aku mengetahuinya. Kau mengkhawatirkanku dan aku berterimakasih untuk itu, tapi biarkan aku menjalani keputusanku sendiri dan kau tolong dukung saja aku.”
Ji Joon memutar tubuhnya menghadap ke depan, tak memberi kesempatan Hana untuk mengatakan satu patah katapun. Meninggalkan suasana canggung di sekitar mereka dan mengabaikan Shin Ji yang terlibat di dalamnya, yang hanya bisa terduduk diam menyaksikan kedua temannya berdebat hebat—sepanjang ia mengenal keduanya, tanpa bisa melakukan sesuatu. Nanti saja aku pikirkan cara untuk mendamaikan mereka.
Sementara Hana hanya bisa menatap nanar Ji Joon yang telah memunggunginya. Ia tak membayangkan bahwa Ji Joon akan bereaksi sekeras itu, namun bukannya ia sengaja melakukannya. Benar, Hana khawatir tentang hubungan seumur jagung milik teman baiknya itu tapi bukan berarti ia merasa tidak senang. Hanya saja Hana ingat betul bagaimana dulu ia tidak menyukai pasangan Kang Min Joon dan Kwon Hye Jin yang selalu terlihat lengket seperti permen karet kemanapun ia melangkah, dan hubungan mereka pun tidaklah sebentar.
Ji Joon bisa saja terlihat keras di luar, tapi Hana tahu betul bahwa Ji Joon mudah untuk hancur dari dalam. Seperti saat mereka kelas dua Menengah Pertama, saat seorang teman beda kelas mereka mencemooh bagaimana penampilan Ji Joon di atas panggung yang saat itu membawakan cover dance salah satu idol yang tengah naik daun. Yang membuat Ji Joon menangis dalam pelukannya dan satu orang teman mereka yang lain. Sebenarnya itu bukanlah penampilan yang buruk, hanya saja Ji Joon sedikit demam panggung.
Hana menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan, menyesali ucapannya yang sembarangan. Itu seperti kebiasaan, dia bisa apa. Lagi pula yang ia lakukan semata-mata untuk Ji Joon walaupun dengan cara seperti itu. Hana hanya tak ingin temannya terluka karena masalah percintaan, karena saat hati seseorang terluka tak ada yang benar-benar mampu untuk menyembuhkannya.