2013

2013
BAB X : Rapat Awal Tahun



Suasana menjadi hening untuk waktu yang tak singkat, suara tik tok dari jam dinding mengisi seluruh ruangan yang berisi tujuh orang siswa yang sama-sama diam membisu.


“Sampai kapan kita akan menunggu?!”


Pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya selama hampir setengah jam, yang dilontarkan oleh Ketua Seksi Kedisiplinan. Si kartu As andalan tim bisbol sekolah mereka—Jae Hyun, lelaki bertubuh atletis itu bersandar pada dinding di samping pintu sejak beberapa menit yang lalu, bersiap kalau kalau orang yang ditunggu tiba. Maka ia akan dengan senang hati untuk memberinya kejutan luar biasa, sebuah bogem mentah yang tak main-main.


“Semuanya sudah berkumpul?” Ki Seob bertanya persis saat pintu terbuka lebar, menganggetkan tujuh orang yang berada di dalam ruangan. “Ruang rapat sudah siap, kita harus…” Ki Seob terdiam, alisnya yang lebat semakin berkerut. “Apa yang kau lakukan di situ, Jae Hyun?”


“Hiraukan bocah besar itu,” Julia—Ketua Seksi Kesenian, menyela. “Kita pergi sekarang sebelum Guru Kim mengomel.” lanjutnya mengiringi langkah memimpin yang lain untuk ke luar ruangan.


Ji Joon yang sedari tadi bersikap apatis segera meraih beberapa berkas di atas meja dan mengekor gadis blasteran Inggris – Korea tersebut, disusul anggota lainnya yang mulai mengikuti. Siang itu suasana cukup ramai saat mereka menyusuri koridor menuju ruang rapat di lantai dua gedung selatan, padahal jam istirahat akan berakhir beberapa menit lagi. Keberadaan mereka yang jarang terlihat berjalan bersama berhasil menarik perhatian siswa-siswa tahun pertama, menyebabkan bisik-bisik yang  cukup nyaring.


—oOo—


Ji Joon menguap ke empat kalinya dalam lima belas menit terakhir. Kamis tak selalu manis, justru membuatnya meringis. Batinnya sok puitis.


Bagaimana tidak, ketuanya—Jang Ki Seob, membuatnya begadang selama dua hari berturut-turut demi menyusun berkas-berkas bahan rapat. Belum lagi banyaknya revisi yang diinginkan Ki Seob, membuat tugasnya seakan tidak ada habisnya.


Oh! Ya, Ji Joon bukanlah satu-satunya di sini. Tepat di sampingnya sang Bendahara Umum juga mengalami hal yang sama, mungkin lebih parah. Laporan keuangan tidak pernah menjadi hal yang mudah dikerjakan bahkan oleh seseorang secerdas Hye Yeon. Ki Seob membuat jam tidur gadis itu terpangkas habis selama beberapa hari belakangan.


Ji Joon membuang napas berat, kepalanya terjatuh dramatis ke atas meja. Suasana ruangan yang sejuk akibat pendingin ruangan sama sekali tidak membantunya, justru kini ia ingin sekali terlelap barang sebentar saja.


Ji Joon baru saja akan menutup mata saat suara Hye Yeon yang memperingatinya juga tepukan gadis itu di bahunya membuatnya terpaksa mengangkat wajah, linglung sejenak. Sebelum akhirnya ia mendapatkan kesadarnya kembali walau tak benar-benar utuh.


Beberapa guru yang menjadi pembina klub telah mengisi deret kursi di hadapannya, sementara mereka—anggota organisasi, mengisi deret yang berseberangan. Ji Joon melirik dari ujung matanya, Guru Kim sebagai Pembina Organisasi Sekolah pun sudah menempati kursinya di ujung sana.


Mengalihkan pandangannya, Ji Joon melirik Kim Nari yang mengambil duduk dua kursi di sebelah kanan dari hadapannya. Mata Ji Joon berkilat penuh peringatan saat gurunya itu menyunggingkan senyum menyebalkan. Ji Joon telah bersepakat dengannya mengenai rapat hari ini namun hal itu tak lantas membuatnya merasa tenang, Kim Nari, gurunya itu kadang penuh kejutan tak menyenangkan.


Siang itu, setelah Ji Joon berlari meninggalkan Dae Hwa di kelasnya dan membolos pelajaran seni ia datang menghampiri Nari yang saat itu tengah mengajar di kelas 1 B-I. Meminta—memaksa lebih tepatnya, sang guru untuk menghentikan kegiatannya sejenak.


Ji Joon membawa Nari ke sebuah ruangan kecil dekat tangga, mungkin ruang bekas menaruh alat kebersihan, dan menyodorkan selembaran yang ia dapatkan dari Dae Hwa.


“Kau menarikku ke luar hanya untuk menyerahkan ini?” Nari bertanya jengkel.


“Iya, tapi tidak juga. Dengar,” Ji Joon menjulurkan kepalanya ke luar, mengamati situasi di luar agar pembicaraannya tetap aman. “Soal anggaran klub, aku punya rencana.” ungkapnya setengah berbisik.


Nari berkilat tertarik. “Aku mendengarkan.”


“Rapat awal tahun akan diadakan minggu depan dan aku ingin kau meyakinkan anggota rapat lainnya terutama kepala sekolah dan pemilik yayasan dengan rencana membawa klub kita ketingkat nasional.”


“Hah?!”


“Stt…” Ji Joon member gestur diam dengan jarinya.


“Apa itu rencanamu?” Nari bertanya skeptis, intonasinya turun setengah berbisik. “Itu bahkan bukan rencana terbaik yang bisa kau pikirkan, Shin Ji Joon.” Nari berdesis dari sela giginya yang terkatup.


“Apa lagi yang bisa kulakukan? Memintanya secara langsung di depan seluruh pembina klub?” sungut Ji Joon tak mau kalah.


“Kau tahu aku—”


“Aku tahu,” potong Ji Joon cepat. “Itu sebabnya aku ingin kau meyakinkan, kak. Dan sisanya serahkan padaku. Dan brosur itu, kita bisa jadikan pijakan pertama kita.”


Suara Ki Seob yang berat penuh kharisma menarik atensi Ji Joon secara utuh, melepaskan lamunannya. Kepala sekolah dan pemilik yayasan telah mengambil tempat di depan ruangan, menghadap langsung peserta rapat bersama Ki Seob yang berdiri di sisi lain sebagai moderator. Dalam hati Ji Joon terus berdoa, semoga guru sekaligus pelatihnya itu menjalankan rencana mereka dengan baik dan bukan sebaliknya. Kalau tidak, mereka berdua harus mengubur dalam-dalam mimpi yang telah dibangun selama ini.


—oOo—


Tangannya terasa kebas dan jari-jarinya mungkin saja akan lepas dari tempatnya saat Ji Joon harus menulis seluruh isi rapat, menghasilkan lembaran-lembaran kertas yang terisi penuh oleh tulisan tangannya yang hampir tak bisa dibaca. Nyatanya butuh lebih dari satu jam untuk membahas seluruh rencana kegiatan Organisasi Sekolah, juga sepuluh klub untuk kurang lebih satu tahun kedepan. Yang akan diawali dengan Festival Musim Semi dua minggu dari sekarang, melibatkan hampir seluruh penghuni sekolah juga rencana mengundang beberapa sekolah terdekat sebagai tamu undangan.


Jangan tanyakan siapa dalang dibalik rencana yang akan menguras waktu dan tenaga panitia dalam realisasi pelaksanaannya, tidak lain tidak bukan adalah si ketua ambisius, Jang Ki Seob.


“Silahkan buka lembar berikutnya.”


Ji Joon terlihat lebih antusias saat Ki Seob meminta peserta rapat untuk membuka lembar berikutnya, rencana pembagian anggaran klub. Ji Joon melirik dari sudut matanya pada lembar berkas yang baru saja ia buka, sementara tangan dan fokusnya masih setia pada jalannya rapat.


“Dari laporan keuangan di lembar sebelumnya, Organisasi Sekolah masih menyimpan sejumlah dana yang cukup besar. Dengan penuh pertimbangan, saya sebagai ketua dan atas persetujuan dari Pembina Organisasi Sekolah, memutuskan untuk mengunakan sebagian dana yang tersisa tersebut untuk mendukung kegiatan beberapa klub.” Ki Seob memberi jeda. “Dan klub yang akan menerima kenaikan anggaran adalah Klub Teater, Klub Seni Lukis, dan Klub Dance.”


“Aku ingin tahu, kenapa kau memilih ketiga klub tersebut?”


Ki Seob menoleh pada pemilik yayasan yang baru saja melemparkan pertanyaan, menyunggingkan senyum tipis khasnya. “Ketiganya memiliki progress yang bagus, potensi juga prestasi.”


“Omong-omong soal potensi juga prestasi,” seorang guru laki-laki berperawakan tinggi besar menyela, yang tak lain adalah Pembina Klub Basket. “Klub Basket memiliki ketiganya, baik progress, potensi terlebih prestasi.”


Ji Joon mengerling malas, hafal betul perangai pembina klub satu itu. Dasar tukang pamer!


“Anda sebaiknya menjaga sikap anda di depan para murid, Guru Lee.”


Rasakan!


Diam-diam Ji Joon tersenyum puas saat seorang guru wanita yang merupakan Pembina Klub Bisbol angkat bicara. Wanita pertengahan tiga puluhan dengan sejuta pesona yang luar biasa, tubuhnya sedikit atletis dan juga menggiurkan bagi kaum adam. Lebih dari itu, dialah satu-satunya Pembina Klub Bisbol yang bisa mengantarkan klub sekolahnya masuk dalam delapan besar Pertandingan Bisbol Nasional tingkat pelajar tahun lalu.


“Sepertinya Guru Lee tidak merasa senang dengan keputusan Ketua Organisasi Sekolah.” celetuk Nari yang sedari tadi diam. Inilah yang Ji Joon khawatirkan.


“Bukan seperti itu Guru Kim,” Guru Lee tersenyum mengejek. “Terakhir kali Klub Seni melakukan sesuatu yang luar biasa dengan keberhasilan salah satu anggotanya dalam pameran yang diadakan Arario Gallery. Dan Klub Teater mengambil bagian pada perayaan musim dingin tahun lalu di ibu kota, sedangan Klub Dance? Aku bahkan hampir tak bisa mendengar kabar apapun.”


Ji Joon mengatupkan giginya rapat melihat tingkah pongah Pembina Klub Basket kebanggaan sekolahnya ini. Persetan dengan laporan notulennya, ia sudah tidak fokus sejak pria itu membuka mulutnya untuk menanggapi ucapan Guru Kim. Toh tak ada yang bisa ia tulis dari perkataan guru itu pada akhirnya, kecuali beberapa umpatan yang Ji Joon tunjukan secara khusus.


“Anda melupakan fakta bahwa kami hampir berhasil mencapai tingkat nasional tahun lalu, Guru Lee Kwan Hoon.” belum sempat Ji Joon membuka mulut, Nari lebih dulu menyambar dengan pengendalian diri yang terampil.


“Hampir, kalian gagal lolos di penyisihan daerah.” ucap Guru Lee penuh penekanan, membuat Kim Nari tergagap seketika.


“Cukup!” seru kepala sekolah tajam. “Kalian, apa tidak punya rasa malu?! Berdebat di depan para murid saat rapat seperti ini.”


Seisi ruangan mendadak senyap, beberapa saat berlalu sementara kepala yayasan meminta Ki Seob untuk melanjutkan. “Jadi Guru Lee, bisakah saya mengartikan bahwa anda keberatan?”


“Aku hanya menyampaikan opini, bahwa dari sepuluh klub resmi sudah seharusnya kau sebagai pemimpin lebih mempertimbangkan reputasi dan pencapaian.”


Ki Seob tersenyum tipis, semua ini semakin menarik raja. “Dari sepuluh klub resmi, empat klub yang mewakili cabang olahraga selalu mendapat dukungan penuh selama ini, begitu juga dengn Klub Sains & Matematika dan Paduan Suara, sementara sisanya sedikit lebih tertinggal dibelakang. Lagi pula dana yang akan ditambahkan berasal dari beberapa klub tidak resmi yang telah bubar namun penganggarannya telah direncanakan.”


Ki Seob meneloh dan tersenyum samar pada dua orang penting yang duduk di muka ruangan. “Saya harap kepala sekolah dan pemilik yayasan dapat memberi keputusan saat ini juga.”


Pemilik yayasan menegakan badannya, jarinya saling bertaut dan tersimpan rapih di atas meja. “Sedikitnya aku membenarkan ucapan Guru Lee. Klub Seni Lukis membuat gebrakan menakjubkan dan Klub Teater sangat membuatku senang dengan banyaknya sorotan pada sekolah kita. Sementara Klub Dance, aku sendiri merasa ragu.”


“Saya dengar Klub Dance tengah mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di kompetisi nasional tahun ini.”


Pernyataan Ki Seob sukses menarik seluruh perhatian seisi ruangan, termasuk Ji Joon yang kini melirik lelaki itu dan Nari bergantian.