2013

2013
BAB VIII : Adu Pukul



Siang itu cuaca begitu cerah, menggiring beberapa orang untuk berada di luar walau hanya sekedar untuk duduk di bangku taman. Dan Ji Joon, memilih menyisihkan diri dari keramaian jam makan siang dengan menikmati cuaca yang tersaji, bersama sebuah buku di tangannya. Duduk di tribun penonton tanpa pemain di tengah lapangan.


Obsidiannya bergerak berirama membaca kata demi kata, perlahan menikmati diksi yang membuatnya semakin penasaran. Buku yang menarik selalu dibaca perlahan, begitu prinsipnya. Ekspresi Ji Joon berubah secepat hembusan angin yang membelai wajahnya perlahan, seperti tenggelam dalam dimensi yang diciptakan pengarang.


Itu pertengahan dari bab Sembilan yang ia baca saat tiba-tiba saja kilas balik kejadian beberapa hari yang lalu berputar di benaknya. Ciuman pertamanya di ruang klub.


*Marcus menariknya ke pintu terdekat, yang membawa mereka ke ruang makan yang sepi. Kemudian Marcus menarik Cyra kepelukannya dan meng*ulum bibirnya.


Begitulah bait yang baru saja ia baca, tidak banyak, hanya dua kalimat sederhana namun sangat sukses membuat tubuh Ji Joon meremang seketika. Tangannya terulur, menyentuh permukaan bibirnya yang dilapisi lip balm dengan buku-buku jarinya yang lembut.


Ji Joon masih ingat bagaimana rasanya, hangat dan lembut, juga sedikit menuntut. Dan biar bagaimanapun, itu adalah yang pertama untuknya. Mengingatnya saja membuat dadanya bergemuruh dan perutnya tergelitik. Oh, gelenyar yang masih asing untuknya.


Malam itu Min Joon memaksa untuk mengantarnya pulang sampai depan rumah, dan walaupun Ji Joon telah meyakinkan kekasihnya itu bahwa tak masalah jika dia hanya mengantar sampai gang, Min Joon tetap keras kepala. Tak baik seorang gadis berjalan seorang diri di malam hari, begitu katanya.


Bohong kalau Ji Joon tak merasa senang, hatinya menghangat mendengar kalimat yang dikatakan Min Joon. Namun bukan tanpa alasan juga ia menolak tawaran lelaki itu, Ji Joon hanya tak tahu bagaimana caranya bersikap setelah apa yang mereka lakukan sebelumnya. Malu dan canggung menyelimuti gadis kelahiran Maret itu, bahkan saat mereka mulai memasuki gang kawasan tempat tinggalnya mereka masih setia dalam kebisuan. Dan yang bisa Ji Joon lakukan hanya melirik was-was ke arah Min Joon yang berjalan di sampingnya.


“Apa yang kau lihat?”


Ji Joon terperanjat, langkahnya terhenti dan menatap Min Joon dengan ekspresi terkejut yang tak bisa ia sembunyikan.


Min Joon mengambil dua langkah ke depan lalu berbalik dan memposisikan tubuhnya di depan Ji Joon, sedikit condong. “Ada apa?”


Ji Joon bisa melihat manik kecokelatan milik Min Joon yang terlihat jernih. “Ti—tidak.” buru-buru Ji Joon membuang muka.


Senyum mengembang di wajah rupawan Min Joon. “Maaf membuatmu kikuk begini,” Min Joon meraih sisi wajah gadisnya dengan sebelah tangan, sedikit memaksa agar bisa memandang wajahnya. “Aku tidak ingin meminta maaf untuk apa yang telah kulakukan, sebenarnya.”


Saat Ji Joon menatap mata Min Joon untuk kedua kalinya, ia sadar bahwa ia telah terjerat oleh gelenyar tak familier yang membuatnya penasaran. “Tidak,” Ji Joon terbata dalam usahanya mengatur napas. “Kalau senior meminta maaf itu artinya apa yang kita— itu bukan kesalahan.” ralatnya cepat.


“Bagus,” senyum di wajah Min Joon semakin dalam. “Ayo.” Min Joon meraih tangan Ji Joon dan menggenggamnya, membawa gadis itu untuk berjalan di sisinya.


Surai kecokelatannya yang tergerai sesekali berkibar terbawa semilir angin, namun Ji Joon masih setia dalam lamunan yang ia ciptakan. Tenggelam dalam ingatan dan ketidak percayaan tentang betapa beraninya Kang Min Joon yang selama ini ia kenal sebagai pribadi yang cukup kalem, lembut dan dewasa, berani mengecup bibirnya—lagi, tepat di depan rumahnya saat lelaki itu mengantarnya malam itu. Tentu saja Ji Joon merasa khawatir kalau-kalau mereka terpergok oleh tetangga atau bahkan ayahnya, bisa kena amukan dia.


Ji Joon menggelengkan kepalanya cukup kuat, mencoba mengusir lamunannya beberapa saat lalu yang berhasil menyita perhatiannya. Lalu—saat Ji Joon bisa meraih pengendalian dirinya, ia kembali pada buku ditangan dan mencoba kembali fokus pada isi dari bukunya.


Ji Joon hampir mencapai akhir bab sepuluh saat suara langkah terdengar mendekat ke arahnya di susul suara familier yang tak perlu ia duga-duga. Ia menoleh dan mendapati Hana dan Shin Ji berjalan menghampirinya, seketika itu Ji Joon langsung menutup bukunya. Wajahnya berkerut keheranan, seingatnya mereka belum berbicara sejak hari itu.


Hana mengambil duduk di depan Ji Joon sementara Shin Ji tepat di sampingnya. Ji Joon menatap keduanya bergantian. “Ada apa?”


Alih-alih menjawab, Hana menyodorkan sekaleng colla pada Ji Joon tanpa memutar tubuhnya. Tak menjawab keheranan Ji Joon sama sekali.


“Senior Min Joon mencarimu,” ucap Shin Ji seperti mengerti ekspresi bingung temannya itu.


“Kau belum tuli kan?”


Ji Joon mengindahkan ucapan sinis Hana, “Kapan dia mencariku? Dimana?” tanya Ji Joon tak sabaran.


“Baru saja, dia sepertinya baru dari kelas kita dan tidak sengaja bertemu di koridor.”


Ji Joon baru saja menaikan tubuhnya untuk beranjak setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih pada Shin Ji, saat suara Hana menahannya. “Tunggu, ada yang lebih penting dari kekasihmu itu.”


Kening Ji Joon berkerut sekali lagi, setengah jengkel juga penasaran. Hana dalam mode menyebalkan seperti ini menguras kesabarannya. “Katakan.”


Hana memberikan jeda yang kentara. Membiarkan tubuhnya sedikit merosot di kursi penonton dengan kedua tangan terlipat di dada, pandangannya menatap lurus lapangan bisbol yang mulai menghijau.


“Yah, Kwon Hana!” seru Ji Joon, suaranya sedikit naik karena kekesalannya pada gadis itu. “Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Kau menemuiku tidak untuk meminta maaf, kan?”


“Jangan mimpi.”


Hanya sepersekian menit setelah Hana menjawab dengan nada yang menyebalkan, tangan Ji Joon melayang ringan menampar kepala belakang Hana, cukup keras namun tidak akan sampai membuat gadis itu masuk rumah sakit karena gegar otak. Hana mengaduh sekeras layangan tangan yang Ji Joon berikan. Tubuhnya ia putar agar berhadapan dengan Ji Joon lalu melayangkan sebuah cubitan di paha terbuka gadis itu yang pastinya akan meninggalkan bekas minimal selama tiga hari, seringnya lebih.


Dan selanjutnya keributan yang tak terelakan terjadi, serangan fisik dan makian dilontarkan Ji Joon dan Hana. Mengabaikan Shin Ji yang sekali lagi hanya mampu menjadi penonton.


Hana membenarkan posisi duduknya, juga pakaian dan rambutnya dari sisa pertengkarannya dengan Ji Joon. “Shin Ji Joon, kau membuat rambutku kusut!” pekik Hana heboh.


“Kau pikir bagaimana denganku? Dasar.”


Shin Ji yang sedari tadi diam mengulurkan tangan untuk membantu Ji Joon merapihkan rambutnya. “Terimakasih Shin Ji, kau yang terbaik.” Shin Ji hanya tersenyum mendengar ucapan Ji Joon juga decakan Hana setelahnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Pertengkaran sungguhan yang baru pertama kali ia lihat, dengan pukulan dan makian bisa membuat dua orang menjadi akur kembali setelah beberapa hari saling menghindar dan tidak bicara.


Tahu begitu kupukul saja dua-duanya sejak kemarin, jadi aku tidak perlu repot memikirkan cara mendamaikan mereka!—inner Shin Ji menggerutu kesal, masih dengan ketidak percayaannya. Ya, Shin Ji beberapa kali mencoba membujuk keduanya secara terpisah dan hasilnya gagal.


Hana mengambil sebuah cermin kecil dari sakunya, memeriksa bahwa Ji Joon tidak mencakar dan meninggalkan bekas di wajahnya. Kadang Ji Joon bisa seperti kucing betina kalau sudah terlibat pertengkaran dengannya. Hana menolehkan wajahnya ke belakang. “Ki Seob mencarimu.” ucapnya tiba-tiba.


Ji Joon merengut jengkel, “Kenapa kau tidak bilang dari tadi.” sentaknya diiringi sebuah desisan keras, tangannya sama sibuknya dengan Hana.


Hana kembali menatap ke depan, “Kau pikir aku akan mengatakannya padamu begitu saja?” Hana menaikan bahunya acuh, bersamaan dengan langkah gusar Ji Joon yang meninggalkan mereka.


Hana melirik dari sudut matanya bagaimana Ji Joon berlari secepat yang gadis itu bisa, membuatannya tergelak mengingat Ji Joon sangat benci berlari setiap kali pelajaran olahraga mengharuskan mereka mencatat jarak larian di jalur lari.


“Kenapa kau selalu saja sengaja membuat marah Ji Joon?” Shin Ji buka suara. Cukup heran dengan hubungan kedua temannya yang terlihat seperti kucing dan tikus, terlebih Hana yang selalu bisa membuat Ji Joon lepas kendali.


“Dia saja yang mudah marah,” jawabnya acuh. “Kelak wajahnya akan keriput lebih dulu dibanding kita berdua.” Hana tergelak sendiri mendengar ucapannya, sementara Shin Ji merasa tak yakin apakah ia harus tertawa atau tidak mendengar jawaban Hana yang terdengar tidak nyambung.