2013

2013
BAB XII : Sunday Morning



Ji Joon tak bisa menahan rasa herannya saat manik matanya menemukan Cho Dae Hwa bersandar pada dinding di dekat pintu masuk ruang paduan suara. Sesuatu yang jauh dari kata biasa saat menemukan lelaki itu di sekolah di jam sepagi ini. Terlebih mengingat perangainya yang biasanya datang didetik-detik terakhir pelajaran pertama akan dimulai, juga keberadaan lelaki itu saat ini yang berada di dekat ruang klub paduan suara. Seingatnya Dae Hwa tidak pernah jadi bagian dari klub manapun.


Ji Joon menaikan bahunya masa bodoh disela langkahnya yang terus terayun, tak ingin ambil pusing dengan alasan apa yang membawa Dae Hwa berdiri santai di sana. Ia tak ingin memikirkan apapun saat ini kecuali beberapa gerakan yang sedari semalam terus tergambar dalam kepalanya. Tubuhnya tak sabar untuk merealisasikan setiap imajinasi yang seakan semakin menggila setiap detiknya hingga membuatnya sempat berpikir untuk melakukan sedikit akrobatik disela tarian. Hal gila yang bahkan tak akan sanggup ia lakukan.


Dae Hwa dan Ji Joon tak sengaja bertemu lirik saat Ji Joon hampir berada di depan lelaki itu, namun Ji Joon segera mengalihkan pandangannya kedepan. Mengabaikan eksistensi Dae Hwa di sana.


“Apa aku sudah berubah menjadi hantu ya?” monolog Dae Hwa saat Ji Joon melewatinya begitu saja, ekor matanya melirik Ji Joon yang tetap melanjutkan langkahnya. “Atau … seseorang sudah tidak bisa melihat lagi?” sindir Dae Hwa yang sukses menarik perhatian Ji Joon.


Dae Hwa menyadari bahwa Ji Joon pada dasarnya sangat tidak menyukai sindiran ambigu yang sebenarnya ditunjukan untuk gadis itu. Seperti beberapa hari lalu saat seorang teman mereka melontarkan sindiran keras namun tak menyebutkan nama, sementara seisi kelas mengetahui objek tersebut adalah satu-satunya gadis bermarga Shin di kelas mereka. Dan hal itu memicu tindakan Ji Joon yang menyerang teman sekelas mereka dengan perkataan telak yang membuat seisi kelas terdiam.


Ji Joon memutar tubuhnya, “Apa yang kau inginkan?” tanyanya to the point.


Dae Hwa menoleh, “Ucapan salam, mungkin?”


Ji Joon mendengus tak percaya, ia menatap lekat lelaki itu dari atas hingga bawah. Cara berpakaian yang khas Cho Dae Hwa sekali, dasi yang tidak dikenakan, dua kancing teratas kemeja yang sengaja dibuka dan bagian bawah kemeja yang di masukan asal ke dalam celana. Pantas saja Jae Hyun selalu mencak-mencak setiap bertemu dengannya.


Dae Hwa menyernyit tak nyaman saat Ji Joon hanya diam sambil terus menatapnya. “Apa yang kau perhatikan?”


Ji Joon menaikan pandangannya dan tersenyum remeh. “Memangnya … apa yang bisa kulihat darimu?”


“Kau belum mengucapkan salam, Shin.” sergah Dae Hwa cepat saat melihat Ji Joon hampir beranjak.


Ji Joon terlihat terdiam sebentar sebelum membuka suara, “Bagaimana bisa kau meminta tanpa memberi, Cho Dae Hwa?” jawab Ji Joon tanpa menoleh lalu ia segera mengambil langkah menjauh menuju ruang klubnya.


.


—oOo—


.


Ji Joon berdiri tegak menatap pantulan dirinya pada cermin besar, seragamnya telah berganti dengan celana olahraga pendek di atas lutut dan kaus over size berwarna navy. Sebuah lagu mengalun dari pemutar musik di sudut ruangan, irama fusion jazz mengalun merdu menarik Ji Joon untuk menggerakan tubuhnya perlahan.


Dua perdelapan ketukan dari intro lagu Sunday Morning milik Maroon 5 menenggelamkan Ji Joon dalam imajinasi dari lekuk gerak dua orang berbeda jenis kelamin yang saling berhadapan membentuk gerakan lembut yang cantik. Lalu saat bait pertama dinyanyikan, Ji Joon tersadar dan memulai dari gerakan yang terlambat.


Steal some covers, share some skin


Ji Joon membuka kedua lengannya di samping tubuh dengan kedua telapak tangan yang terkepal, sementara kedua kakinya ia buka selebar bahu. Lalu setelahnya ia membuat gerakan menendang dengan satu kaki dan kedua tangan yang terulur ke depan mengikuti ketukan musik. Ji Joon melakukan lompatan kecil ke kiri setelahnya dengan kedua lengan yang menyilang. Lalu ia berhenti sejenak, postur tubuhnya terlihat feminim dengan telapak tangan kiri yang terbuka seakan siap menyambut uluran tangan seseorang.


Ji Joon kembali menggerakan tubuhnya dengan pandai ketika bait selanjutnya terdengar. Senyum dan ekspresi di wajah mungilnya menunjukan kepuasan batin yang amat sangat.


Clouds are shrouding us in moments unforgettable


You twits to fit the mold that I am in


Dalam setiap gerakan yang ia ciptakan ia benar-benar berpikir bahwa ini akan semakin menakjubkan jika dilakukan oleh dua orang secara berpasangan. Sama seperti isi lagunya yang menceritakan sepasang kekasih yang memadu kasih di minggu pagi. Gerakan yang jelas dan tegas, namun romantis juga sedikit sensual. Oh, Ji Joon hampir menggila dengan imajinasinya atas gerakan yang ia tarikan, terhanyut dalam letupan semangat yang tak tertahankan. Ia mungkin saja bisa menghabiskan waktu seharian untuk menemukan gerakan-gerakan lain untuk lagu yang masih berputar mengiringnya itu.


Lalu bait pada chorus mulai mengalun. Ji Joon berjingkrak beberapa kali dengan gerakan menyenangkan yang selaras antara tangan dan kaki, gerakan yang ia pikir akan cocok dilakukan oleh si laki-laki sementara pasangan perempuannya akan menunggu sebentar di luar frame.


That may be all I need


In darkness, she is all I see


Dan dibait kedua gerakan Ji Joon berubah cepat memainkan peran si perempuan, bergerak seakan-akan ia baru saja masuk ke dalam frame. Gerakannya terlihat riang dan hentakannya menjadi lebih tegas, menanggalkan kesan sensual namun tetap pada gerak romantis yang samar.


Come an rest your bones with me


Driving slow on Sunday morning


And I never want to leave


Ji Joon tersenyum lebar, terlihat puas dengan sesi latihan paginya. Ia menolehkan kepala ke arah pintu dan mendapati tiga orang teman satu klubnya tengah berdiri di ambang pintu memperhatikannya, yang baru ia sadari saat melakukan gerakan berputar tadi.


“Apa itu koreo baru?” Sang Mi bertanya seraya berjalan menuju tengah ruangan diikuti kedua teman lainnya.


Ji Joon menjawab dengan sebuah gumaman, ia beranjak menuju sudut ruangan untuk mematikan alat pemutar musik. “Sejak kapan kalian di sana?”


“Sejak gerakan ini.” jawab Sang Mi sambil memeragakan sebuah gerakan yang diamini gelak tawa dari kedua temannya yang lain.


Ji Joon menghampiri ketiga temannya yang telah terduduk di tengah ruangan. “Apa kalian akan latihan juga?” tanya Ji Joon setelah berhasil mendaratkan bokongnya di samping Hye Jin.


“Tidak.” jawab Yeon Hee yang sedari tadi diam.


“Sebenarnya kami sengaja mencarimu, kau tidak ada di kelas jadi kami memutuskan untuk mencarimu disini,” jelas Sang Mi. “Masalah dance competition. Apa kau benar-benar akan melakukannya sendirian?” sambungnya saat Ji Joon menatapnya dengan penuh tanya.


Ji Joon menaikan bahunya ringan, ia menarik tubuhnya ke belakang dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. “Ya, begitulah.” sahutnya singkat.


“Tapi bagaimana dengan babak penyisihan daerah?” tanya Yeon Hee.


Hye Jin yang berada di samping Yeon Hee pun mengajukan pertanyaan lain. “Waktunya tidak banyak, dan tanpamu bagaimana formasi kita akan lengkap?”


“Lagi pula, kau pasti akan disibukan dengan persiapan festival musim semi. Ji Joon-ah, lebih baik tidak usah berpartisipasi di kompetisi itu, kita fokus saja pada kompetisi nasional.”


Ji Joon menatap bingung ketiga temannya bergantian. “Baiklah satu-persatu,” Ji Joon menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan. “Aku tidak mungkin untuk mundur dari kompetisi ini, Hye Mi. Salahkan saja pelatih kita yang sesumbar di rapat tempo hari. Dan untuk penyisihan daerah, akan berjalan seperti yang sudah direncanakan.”


“Itu dia!” pekik Yeon Hee. “Bagaimana dengan formasi kita? Kita tidak mungkin mencari penggantimu, lagipula siswa tingkat pertama baru akan menentukan klub saat festival musim semi nanti.”


Ji Joon terdiam sejenak, sebenarnya ia juga sangat berat hati jika tidak dilibatkan langsung dalam penyisihan daerah nanti. Namun jarak waktu penyelenggaran keduanya hampir bersamaan, hanya berselisih tiga hari. Lagi pula Dance Competition itu diselenggarakan oleh salah satu lembaga pendidikan terkenal di daerahnya, jika klub mereka berhasil memenangkan kompetisi itu sudah pasti klub mereka akan selamat dari ancaman pembubaran.


Ji Joon mengehembuskan napas kasar seraya bangkit dari duduknya. “Sudahlah, ikuti saja perintah Guru Kim. Aku ingin berganti pakaian, bisakah kalian ke luar?” pinta Ji Joon yang langsung ditanggapi ketiga teman satu klubnya.


.


—oOo—


.


Pintu kayu bercat cokelat berpernis tipis itu terbuka dan menampakan Ji Joon yang tengah sibuk mengikat cepol rambut panjangnya.


“Oh astaga!” Ji Joon terperanjat mendapati Min Joon yang tengah bersandar pada dinding koridor tepat di depan pintu klubnya saat ia menaikan wajahnya yang sedari tadi menunduk.


Min Joon tergelak kecil. “Kau mudah sekali terkejut.”


“Itu karena senior yang sering muncul tiba-tiba.” sanggah Ji Joon. “Apa senior menungguku?”


Min Joon menyentil pelan dahi Ji Joon yang dihadiahi delikan sebal olehnya. “Memangnya siapa lagi.” sahut Min Joon enteng seraya berjalan menyusuri lorong.


“Apa sudah lama?” tanya Ji Joon yang telah berhasil menyamai langkah Min Joon di sampingnya.


Min Joon hanya menggeleng sebagai jawaban. “Apa … minggu ini kau bebas?”


“Apa senior mengajakku kencan?” mata Ji Joon terlihat antusias.


“Kau mau atau tidak?”


“Apa itu perlu ditanyakan?” Ji Joon mencebikan bibirnya sebal, namun sedetik kemudian ekspresinya kembali berubah. “Kita akan kemana?”


Min Joon tidak menjawab, ia justru meraih sebelah tangan Ji Joon dalam genggamannya.