
“Aku menolak pengunduran dirimu." Suara itu terdengar penuh penekanan, mengintimidasi untuk menyetujui ucapannya.
Ji Joon tahu tak akan mudah untuk menang debat dengan seseorang yang sangat keras kepala seperti Ki Seob, Ketua Organisasi Sekolah tahun ini. Teman adu mulutnya selama setahun belakangan di organisasi tersebut.
“Aku sudah mendapat persetujuan dari Guru Kim.” Ji Joon menjawab kalem dan tak lama terdengar desisan jengkel dari orang di depannya. Gadis itu beranjak dari duduknya, malas melihat wajah garang Ki Seob yang seperti karnivora kelaparan. Demi Tuhan! Ini masih terlalu pagi untuknya mengeluarkan banyak tenaga menghadapi Jang Ki Seob. Ia bahkan tak sempat mengelak saat seorang teman di Organisasi Sekolahnya itu menariknya paksa dari gerbang ke ruangan ini.
Ki Seob mengamati tiap gerak dari teman perempuannya itu yang mulai menyusuri rak buku kecil di dekat pintu masuk. Koleksi pribadi dari organisasi mereka yang sebenarnya sudah gadis itu baca keseluruhannya.
Ki Seob menyandarkan punggungnya lebih dalam saat ia dengan santai berhasil menarik urat-urat Ji Joon keluar. “Guru Kim meminta saranku dan tentu saja aku menolaknya.”
Ji Joon menoleh dengan cepat, mengamati sekilas ekspresi lawan bicaranya. Sial, dia serius. Ji Joon membawa sebuah buku di tangannya, salah satu novel karangan Kim Eun Jeong yang sudah ia baca beberapa kali. Gadis itu menarik salah satu kursi di tengah ruangan yang tidak begitu luas, mengambil duduk dan mulai membaca seperti tak pernah mendengar perkataan Ki Seob.
“Kau tak bisa berpura-pura mengabaikannya Ji Joon, jelas kau tahu Guru Kim akan sangat mempertimbangkan pendapatku dan kau sendiri tahu apa itu.” Ki Seob memandang Ji Joon lamat-lamat dari kursi kerjanya, menunggu reaksi gadis itu. Ji Joon bisa sangat meluap-luap saat beradu argumen dengannya, menuangkan isi kepalanya dalam sekali tarikan napas. Atau bahkan bisa sangat tenang tanpa suara, namun mematahkan segala opininya dalam satu kalimat telak.
Ji Joon menutup buku yang memang tak sedang dibacanya. “Dan keputusanku sudah final, kau sendiri tahu kenapa aku memilih mundur. Lagi pula, sejak awal para seniorlah yang bersikeras tetap memasukan namaku ke dalam kepengurusan.”
Ekspresi Ki Soeb perlahan berubah, Ji Joon selalu menjadi lawan bicara tersulit untuknya. “Organisasi masih membutuhkanmu. Tidak, aku membutuhkanmu.”
Ki Seob yang buru-buru meralat perkataannya menarik perhatian Ji Joon, jarang sekali ketuanya ini berkata seperti itu padanya. “Lalu apa yang akan kau lakukan?” Ji Joon bertanya skeptis. “Kau tau aku sama keras kepalanya denganmu.”
Ki Seob tersenyum miring. “Sebuah penawaran?”
Ji Joon memandang Ki Seob penuh pertimbangan, ia tahu laki-laki itu dalam mode pebisnis kapitalis sialannya. “Jelaskan secara singkat, aku malas berpikir.”
“Memangnya kau punya pikiran.” Ki Seob bergumam. “Tetap di organisasi dan kau kuberikan semua keringanan dan toleransi yang kupunya.”
Ji Joon tertegun sesaat, memandang Ki Seob dengan tampang bodoh dan mulut sedikit terbuka. Apa pikirnya aku akan terbujuk hanya dengan hal seperti itu? Lalu setelahnya tawa gadis itu pecah begitu saja. Tertawa begitu nyaring seperti telah mendengar sebuah lelucon dari pelawak nasional. “Jang Ki Seob, kau pasti sudah gila.” Ucapnya disela tawa yang makin tak tertahankan.
Ki Seob terkesiap melihat reaksi Ji Joon, ia tak mengharapkan antusiasme tapi melihat gadis itu tertawa terbahak membuatnya jengkel juga. “Tidak segila kau.”
Sepanjang waktu yang ia punya setelah pengangkatannya sebagai ketua baru ia terus memikirkan bagaimana cara membujuk Ji Joon untuk tetap tinggal di Organisasi Sekolah, memikirkan banyak penawaran yang akan membuat gadis itu tetap tinggal. Termasuk beberapa ancaman kalau perlu.
Secara jujur Ki Seob mengakui kemampuan Ji Joon menjalankan organisasi berdampingan dengannya, sudah terbukti setahun belakangan ini. Walau mereka selalu berdebat hampir di semua rapat yang mereka hadiri bahkan untuk hal terkecil sekalipun tapi entah bagaimana kerjasama keduanya adalah yang terbaik. Selalu ada pertentangan tapi selalu ada penyelesaian setelahnya.
Dan ia tahu betul bahwa Ji Joon terlalu mencintai Klub Dance kebanggaannya lebih dari Organisasi Sekolah, hal yang sempat membuatnya berkali-kali mendapat kritikan tajam dari sesama anggota karena dinilai tak mampu mengemban tugas yang lebih penting. Tapi Ji Joon tetaplah Ji Joon, si keras kepala dan masa bodoh dengan ucapan orang lain. Selama ia melakukan tugasnya dengan baik maka itu sudah lebih dari cukup, ia tak perlu penilaian dari orang lain, itu terserah saja.
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menerima tawaranmu?” Tukas Ji Joon dengan pandangan tak percaya yang berhasil menyulut emosi Ki Seob yang telah tertahan. “Kau benar-benar sudah gila.”
“Tidak segila dirimu, aku jauh lebih baik dan kau tahu itu.” Ji Joon memandanginya seolah-olah Ki Seob benar-benar gila. “Dengar, penawaranku tidak berubah, akan kuberikan semua keringanan lebih dari yang bisa kau terima. Dan aku akan menaikan anggaran klub dance 10%.”
Mata Ji Joon berkilat penuh ketertarikan. Astaga, ini sebuah kolusi. Sejujurnya ia sudah tertarik saat mendengar Ki Seob akan memberikannya keringanan. Namun lebih dari itu, ia tahu Ki Seob bukanlah orang yang mudah, makanya ia tak begitu saja percaya dan memberikan reaksi seakan itu adalah sebuah lelucon. Namun sekarang lain halnya saat lelaki itu mengatakannya dengan begitu serius.
Ki Seob bukanlah ketua baik hati yang banyak siswa sekolahnya pikirkan, dia adalah manusia yang minim toleransi jika itu menyangkut profesionalitas dalam hal apapun, baik sebagai pelajar ataupun anggota organisasi. Dan mendengar dia mengajukan penawaran seperti itu artinya Ji Joon bisa dengan sesuka hati untuk mangkir dari beberapa rapat dan juga tugasnya yang menjadi pertimbangannya untuk hengkang dari Organisasi Sekolah. Dan fakta bahwa dia akan menaikan anggaran klubnya membuat Ji Joon bisa saja menjadi kalap dengan langsung mengiyakan penawaran ketuanya itu.
Ki Seob bisa melihat ketertarikan yang jelas di mata Ji Joon, dan ia yakin gadis itu akan jatuh dalam penawaran yang ia ajukan. “Penawaranmu sangat menarik, tapi aku tak bisa memberikan jawabannya saat ini.” Ji Joon mencoba memainkan beberapa trik, ia tak ingin terlihat begitu mudah jatuh dalam penawaran Ki Seob.
Senyum miring sudah tersungging di wajah Ki Seob sejak ia mengetahui ketertarikan Ji Joon, dan semakin dalam saat gadis itu mencoba jual mahal. “Baik, kau bisa memikirkannya sampai akhir minggu ini.”
Ji Joon mengangkat bahunya acuh, ia tahu bahwa tidak hanya dirinya yang sedang memainkan trik disini. “Baiklah.”
Jang Ki Seob benar-benar perlu diwaspadai. Jika orang lain di luar organisasi mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki itu sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan warga sekolah. Di luar Ki Seob bisa terlihat begitu kalem, bijaksana, dan benci akan kekerasan tapi sebenarnya ia penuh intimidasi dan trik untuk dapat memenuhi keinginannya. Alih-alih menjalankan tugas, laki-laki itu sebenarnya hanya senang menempatkan orang lain di bawah kepemimpinannya. Hal yang selalu membuat Ji Joon bergidik ngeri saat memikirkannya, terlebih lelaki itu selalu sesumbar dihadapannya—saat mereka hanya berdua, bahwa kelak dia akan menjadi politisi hebat dan menduduki kursi parlemen. Entah bagaimana nasib negerinya kelak saat berada di tangan orang seperti Ki Seob.
Pintu ruangan itu terbuka tepat saat Ji Joon menarik diri dari kursi dan berbalik ke arah pintu, menampakan salah satu anggota seangkatannya yang memandangnya dengan terkejut.
Ji Joon tersenyum tipis, temannya itu pasti heran melihatnya berada di sini tepat setelah kabar pengunduran dirinya tersebar. “Hai.” Serunya ramah sambil melenggang ke luar ruangan, menutup pintu dan meninggalkan apapun pembicaraan mereka di belakang punggungnya.
.
—oOo—
.
Jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu saat Ji Joon berjalan menyusuri koridor yang sepi. Langkah kakinya menapaki tangga menuju lantai dua, hampir berhasil di anak tangga terakhir saat seseorang menghadangnya dari arah sebaliknya. Gadis itu berdesis sebal, ia memulai paginya dengan menghadapi Ki Seob dan sekarang—Ji Joon menaikan wajahnya, Dae Hwa. Aku akan sial seharian ini.
“Apa yang kau lihat? Menyingkir.” Dae Hwa menyembur garang.
Ji Joon hampir menggeser tubuhnya—malas memperkeruh suasana, saat Dae Hwa menggumamkan sesuatu yang menyulut emosinya, dia sedang dalam mood yang buruk. “Apa katamu?”
“Persis seperti yang kau dengar.”
Ji Joon memutar bola matanya, jengkel. Kenapa lelaki ini selalu bisa membuatnya naik darah. “Tadinya aku mau menyingkir, tapi sekarang aku berubah pikiran.”
Dae Hwa tersenyum miring, wajahnya menunduk menatap Ji Joon tak berminat. Ia menuruni satu anak tangga dan akan melakukan hal yang sama kedua kalinya saat Ji Joon tiba-tiba bergeser menghalangi. “Apa yang kau lakukan?”
“Menghalangimu, ketua kelas.” Ji Joon tersenyum mencemooh. “Bukankah aku sangat baik? Mengingatkanmu untuk tidak membolos pelajaran?”
“Perhatikan dirimu sendiri sebelum memperingatkan orang lain.” Dae Hwa membantah.
Ji Joon menyandarkan punggungnya di tembok, melipat lengannya di dada. “Aku bisa membuat alasan, Organisasi Sekolah.”
Dae Hwa tertawa sumbang. “Jika aku tak salah ingat, beberapa hari yang lalu kau mengatakan bahwa kau sudah bukan bagian dari geng itu.”
Ji Joon mendelik galak, geng?! “Itu bukan urusanmu. Lagi pula, aku selalu punya tempat di hati Mrs.Jung, dia akan percaya padaku tentunya.” Ji Joon berujar sombong, setengah dirinya memaki. Ia sebenarnya paling benci dengan sifat buruknya yang satu ini yang terkadang naik ke permukaan tanpa bisa ia atasi lebih dulu.
Sementara Dae Hwa sendiri lupa, jam pelajaran pertama diisi oleh Guru Bahasa Inggris kesayangan hampir seluruh siswa sekolahnya. Dan sialnya guru cantik itu menjadikan Ji Joon sebagai salah satu murid favoritnya. Dae Hwa memincingkan mata dan mendekati Ji Joon dengan mantap. Ia mengulurkan tangan kanannya tepat di atas kepala Ji Joon. Siapapun yang melihat keadaan mereka saat ini pasti akan langsung salah paham. “Katakan apa maumu?”
“Tidak ada.” Ji Joon menaikan bahunya mencoba acuh, hampir gagal sebenarnya saat wangi mint dari pasta gigi juga cedar wood dari parfum lelaki itu lebih menarik perhatiannya. “Kau yang memulainya dan aku membalasmu.”
Ekspresi Dae Hwa berubah menjadi tak terbaca. “Kau benar-benar kurang kerjaan.” Ia bergumam tepat di depan wajah Ji Joon, dan setelahnya laki-laki itu menarik dirinya dari hadapan gadis itu.
Ji Joon terkesiap, apa yang sebenarnya coba ia cari dari Dae Hwa. Dirinya hanya dalam mood yang buruk pagi ini dan tanpa sengaja bertubrukan dengan teman satu kelasnya itu. Sebenarnya itu memang sebuah ketidak sengajaan dan sebuah kalimat dari bibir lelaki itu membuatnya ingin membalasnya. Namun sekarang entah bagaimana ia benar-benar merasa ingin tahu.
“Tunggu!” Ji Joon mencoba menghentikan langkah Dae Hwa yang hampir berbelok di ujung tangga. “Katakan urusanmu dan aku akan membuat alasan untukmu.”
Dae Hwa menatap Ji Joon penuh selidik, senyum remehnya terukir. “Aku tidak butuh bantuanmu, lagi pula aku tidak percaya salah satu dari geng sekolah.”
Sialan, laki-laki ini memang menyebalkan!
“Kau bisa buktikan.” Ji Joon setengah menantang. “Kau tahu reputasiku.”
“Cukup baik.” Dae Hwa menyambar. Sekali lagi, ia menatap penuh pertimbangan. Sejujurnya ia cukup tahu reputasi gadis di hadapannya ini—kabar burung dari mulut ke mulut, siswa yang taat peraturan, tidak begitu menonjol seperti yang gadis itu pikirkan tapi cukup mampu membuat beberapa guru menaruh atensi padanya. Menimbang hal itu Dae Hwa mencoba menaruh kartu as miliknya, jika ia kalah ia akan mengakui bahwa Ji Joon cukup berbeda dari angota Organisasi Sekolah yang lain tapi kalau ia menang ia akan punya alasan untuk terus mengganggu gadis itu. Ia tak punya dendam pribadi dengan Ji Joon sebenarnya, ia hanya benci Organisasi Sekolah.
“Toilet.” Dae Hwa melirik dari sudut matanya, Ji Joon masih di tempat saat ia berbalik pergi. “Menemui kekasihku.” Lanjutnya sambil berlalu.