2013

2013
BAB I : Album Kenangan



BAB  I : Album Kenangan


.


.


Semburat jingga keunguan berpadu merah jambu mewarnai gumpalan awan yang berarak, senja malambai saat Ji Joon baru saja menginjakan kaki di tanah kelahirannya. Gadis bersurai kecoklatan itu baru saja turun dari sebuah taxi yang mengantarnya dari stasiun. Dengan sebuah koper di tangannya, Ji Joon terlihat kepayahan menyusuri jalan menuju rumah orangtuanya.


Kakinya melangkah perlahan dan sesekali mengamati sekeliling, beberapa tempat telah berubah namun banyak yang lain terasa masih sama. Seperti rumah yang baru saja ia lewati, juga beberapa rumah sebelumnya, semuanya masih bisa ia kenali. Bahkan sebuah toko kelontong kecil tempat dimana ia menghabiskan uang jajan saat masih sekolah dulu.


Larut dalam kenangan nostalgianya, Ji Joon tak menyadari bahwa ia telah sampai pada tempat tujuannya—rumah. Hampir-hampir ia melenggang lebih jauh jika saja kakinya tidak tersandung batu.


Ji Joon berdiri mematung mengamati rumah di hadapannya. Sebuah rumah kecil dengan pagar tua yang masih terawat, juga taman kecil yang menjadi teritori sang ibu yang tidak bisa diganggu gugat, dan spot favorit ayahnya setiap pagi. Ah, mengingat itu membuatnya sadar sudah berapa lama ia tidak pulang ke rumah.


Perlahan Ji Joon mengulurkan tangan, mendorong pagar kayu tua yang terlihat baru saja dicat ulang. Menginjakan kakinya pertama kali sejak dua tahun yang lalu ia pergi untuk merantau ke kota besar. Entah bagaimana kenangan saat ia masih sekolah dulu yang berlari tergopoh-gopoh hampir setiap pagi dengan ibunya yang meneriakinya dari belakang menjadi hal yang pertama kali ia ingat. Senyumnya mengembang, matanya berbinar dengan buncahan perasaan yang siap meluap.


“Aku pulang!” Ji Joon berteriak lantang saat ia telah memasuki pekarangan rumahnya. Disambut gelak dari seisi rumah yang berhambur ke luar untuk menyambutnya.


.


—oOo—


.


Ji Joon melamparkan dirinya ke atas kasur, terlentang nyaman menatap langit-langit kamar. Ia baru saja menyelesaikan makan malam, makan malam tersulit yang pernah ia lalui. Ibunya memberondongnya dengan banyak pertanyaan ini dan itu yang membuatnya berkali-kali tersedak karena ibunya menginginkan jawaban segera bahkan ditengah ia mengunyah makanan. Jika ibunya adalah penembak jitu dan pertanyaannya adalah peluru siap luncur, maka dia adalah korban yang mayatnya akan tidak dapat dikenali lagi.


“Sayang, biarkan putri kita makan terlebih dahulu.” Ayah Ji Joon menyela pertanyaan kesekian yang dilontarkan sang istri saat lagi-lagi melihat putri pertamanya tersedak ditengah makan malam mereka.


“Aku hanya" penasaran, dia ini kan perempuan tentu saja aku khawatir dengan kehidupannya di kota besar.” Sang istri mencebik tak suka dan memberikan alasan.


Sang kepala keluarga menggeleng jengah dengan tabiat sang istri. Wanita yang ia nikahi lebih dari dua puluh tahun itu benar-benar sangat keras kepala.


“Ibu, ibu hanya akan membuat kakak mati tersedak.”


Ji Joon mendelik galak mendengar komentar asal yang dilontarkan sang adik kepada ibu mereka.


Dalam hati—untuk kesekian kalinya, ia merasa bersyukur memiliki orangtua seperti kedua orangtuanya. Mereka bukanlah orangtua yang sempurna, tapi mereka adalah orangtua terbaik yang ia miliki.


Masih dengan rasa haru di dalam hatinya, Ji Joon menjulurkan kaki dan mengambil langkah menyusuri setiap jengkal pada kamarnya. Telapak tangannya terulur menyentuh benda yang ia lewati. Semuanya masih sama seperti terakhir kali, rasanya ia dibawa kembali ke saat masih menjadi siswi menengah atas. Ji Joon menahan geli dengan pikirannya. Lalu manik matanya terpaku pada meja belajar sederhana miliknya yang menghadap ke jendela.


Ji Joon mengulurkan tangan untuk menarik kursi, menempatkan dirinya untuk duduk setelah sebelumnya ia membuka tirai dan jendela kamarnya. Membiarkan semilir angin memasuki ruangan kamar miliknya. Ji Joon meraih salah satu buku di hadapannya.


“Ahh, musuh bebuyutan.”  Gadis itu meringis ngeri melihat buku di tangannya dan dengan segera ia mengembalikan buku itu ketempat semua. “Dari sekian banyak buku dan itu matematika.”


Lalu ia beralih merai gagang laci di bagian bawah, kepalanya tertunduk sedikit demi mengintip apa isi di dalamnya. Dan manik matanya tertarik pada sebuah buku berukuran 25 x 35 cm bersampul hitam yang terletak paling atas.


.


—oOo—


.


Malam belum begitu larut namun ini sudah beberapa lama sejak Ji Joon menemukan sebuah album kelulusannya. Sebuah buku dengan sampul hitam yang tebal itu begitu menyita waktunya.


Gadis itu mengambil duduk di tepi ranjang, melipat salah satu kakinya sedangkan kaki lainnya dibiarkan terjulur ke lantai. Jemarinya terus ia gerakan membuka lembar demi lembar album yang menyimpan banyak kenangan semasa ia bersekolah di Seonju Senior High School.


Ji Joon ingat hari dimana seharusnya ia mengambil foto kelulusan bersama teman-teman satu angkatannya, ia justru tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Membuat ia menjadi satu-satunya siswa di angkatannya yang tidak ikut dalam sesi foto tersebut dan bahkan ia harus melakukan foto susulan sendirian. Bukan hanya itu, ia bahkan mengacaukan ujian akhirnya karena sakit tifus yang ia derita tidak ditangani dengan baik.


Bahkan di hari pertama ujian sekolah ia harus berhenti sebelum memulai apapun kecuali menuliskan namanya pada lembar jawaban karena mimisan dan tak sadarkan diri. Membuat seluruh kelas dan pengawas heboh karena panik. Mengingat hal itu membuatnya merasa malu dan sangat menyedihkan.


Sesekali Ji Joon terlihat berhenti pada lembar yang menampakan wajah tak familiar pada ingatannya yang payah hanya untuk sekedar mengingat nama pemilik wajah itu. Lalu setelahnya ia akan mengamati foto yang lain atau lanjut membalik lembar berikutnya.


Beberapa wajah masih bisa ia ingat dengan jelas, nama bahkan kelas juga klub yang pernah diikuti. “Woah, ini bukannya Kim Su Ah? Dia dari kelas 3 D-I, klub pecinta alam.” Ji Joon bermonolog heboh.


“Ini—”  Ji Joon tercekat saat pandangannya beralih pada foto seorang gadis yang menggunakan bandana feminim untuk menghiasi rambut panjang bergelombangnya.


“Kwon Hye Jin.”


Dan saat bibirnya menyebutkan nama gadis dalam foto itu, ada rasa sakit yang tiba-tiba hadir di hatinya. Rasa yang ia pikir sudah mampu ia lupakan sepenuhnya. Sial!