You Are Mine

You Are Mine
YAM-20



...Happy reading 🤗...


Keesokan harinya.....


Lia melangkahkan kakinya di koridor sekolah yang masih tampak sepi. Hanya ada beberapa murid saja yang baru tiba. Ketika melihat Brian berada tak jauh darinya Lia menghentikan langkah kakinya.


Untuk beberapa saat Lia hanya terdiam di tempatnya. Ia menghembuskan napasnya pelan sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakinya mendekati pria itu. Ia sudah membulatkan tekad untuk bertanya perihal dugaannya. Meskipun ia masih malu, mengingat kejadian waktu itu bersama Alya.


"Brian..." panggil Lia saat sampai di sisi pria itu.


Brian yang sedang memainkan ponselnya, mendongak. Ditatapnya Lia dengan alis terangkat. "Apa?"


Lia memainkan tangannya yang tertaut. Tiba-tiba saja dirinya menjadi gugup. Ia takut jika salah lagi. Namun dari petunjuk yang ia dapat kemarin menujukan memang Brian lah pelakunya. Meskipun dirinya sedikit kurang yakin. "Hmm, gue mau tanya-" Lia mengantung kalimatnya, merasa ragu untuk melanjutkan.


"Bertanya apa?"


Lia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "l-lo kenapa nyuruh orang buat ngikutin gue?" tanya Lia cepat.


Melihat reaksi Brian yang justru terkekeh kecil membuatnya semakin takut. Takut jika dirinya salah lagi kali ini.


"Kemarin temen lo nuduh gue ngikutin lo. Sekarang lo nuduh gue nyuruh orang buat ngikutin lo. Mau lo tuh sebenernya apa sih? Kurang kerjaan banget kali gue ngelakuin itu semua sama lo."


"Please, jujur sama gue. Gue tau lo bohong."


"Ck. Ngeyel banget sih lo di bilangin."


"Brian, please jujur. Gak usah bohong lagi. Jelas-jelas udah ada buktinya. Kata Kenzo lo selalu ngikutin gue. Dan kemarin gue sempet bicara sama orang yang ngikutin gue. Dia emang gak bilang siapa yang nyuruh dia, tapi dia sempet mau nyebutin nama lo. Jadi kali ini gue mohon sama lo buat jujur."


Brian sempat terdiam sesaat sebelum decakan kasar keluar dari mulutnya. "Lo dapet info aja setengah-setengah gitu. Main nuduh-nuduh orang. Gue gak-"


"Gue cuma mau lo jujur, Bri dan stop lakuin itu ke gue. Lo pikir di untit gitu enak hah? Gue risih tau! Gue capek. Setiap kali gue pergi, gue ngerasa gak tenang mulu. Gue mau hidup gue tenang. Gak di untit melulu kayak gini." mata Lia tampak berkaca-kaca setelah berhasil melupakan emosinya. Setiap hari selalu di untit membuatnya benar-benar kesal. Dan kali ini Asha sudah muak. Ia ingin menyudahi semuanya. Ingin hidupnya kembali tenang dan tak ada yang menguntitnya lagi.


Brian kembali terdiam setelah mendengar perkataan Lia. Selama beberapa menit pria itu hanya diam dan menunduk. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Menghembuskan napasnya pelan, ia kembali mengeluarkan suaranya. "Oke, lo emang bener. Gue emang ngelakuin itu semua ke lo." Brian menepuk pahanya pelan kemudian bangkit berdiri.


Lia tersenyum sinis. Setelah ia melupakkan semuanya baru pria itu ingin mengaku. "Kenapa? Apa alasan lo ngelakuin itu ke gue?"


"Karena itu tugas gue. Gue harus selalu jagain lo. Berhubung waktu itu gue sempet ketahuan sama lo makanya gue suruh beberapa orang buat gantiin gue dulu biar lo gak makin curiga sama gue." jelas Brian .


"Tugas lo? Maksudnya? Gue gak paham." Lia menggeleng pelan merasa tak paham dengan penjelasan yang di berikan Brian. "apa lo juga cuma di suruh?" lanjut Lia ragu.


"Ya, bisa di bilang gitu. Kalau lo tanya siapa yang nyuruh gue. Sorry, gue gak bisa jawab soal itu." setelah mengucapkan itu Brian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Lia yang masih terpaku di tempatnya.


Jadi pelaku utamanya itu bukan Brian, lantas siapa? Sekarang bukannya mendapatkan kejelasan Lia justru semkian di buat bingung.


...****...


"Woi, ngelamun lo! Kesabet entar." seru Alya yang membuat Lia tersentak. Lia menghembuskan nafasnya gusar dan meletakkan kepalanya di atas meja. Sejak tadi ia masih memikirkan tentang pembicaraannya dengan Brian pagi tadi.


"Mikirin apa lagi sih lo?"


Lia tak menjawab. Ia justru memejamkan matanya. Pusing memikirkan masalahnya ini.


"Al..." panggil Lia tetap pada posisinya. Matanya pun masih terpejam rapat.


"Apa?"


"Gue pusing..."


"Lo sakit?"


Lia diam tak menjawab. Sekelebat ingatan tiba-tiba saja muncul di benaknya. Teringat saat dirinya menguping waktu itu.


""Lo kenapa bisa sampai ketahuan sih?"


"Si bocah tengik itu ngasih tau sama Asha. Untungnya gue bisa ngelak."


"Tapi Ash-."


"Ssttt....".


Lia menegapkan badannya. Salah satu dia pria itu pasti Brian. Lia yakin itu. Karena dalam percakapan itu membahas tentang dirinya. Tapi pertanyaanya siapa lawan bicara Brian waktu itu? Apa itu adalah si pelaku sebenarnya? Jika iya, berarti pelakunya berada satu sekolah dengannya.


Lia mengusap wajahnya kasar. Kenapa menjadi semakin rumit seperti ini sih? ingin menangis rasanya.


"Li! Woi! Lo kenapa sih sebenernya?" heran Alya.


"Hah? Ah, gue gak kenapa-napa kok. Cuma pusing dikit doang." Lia memang belum menceritakan semua kejadian yang ia alami beberapa hari ini pada Alya. Ia masih sibuk memikirkannya sendiri.


"Bener?" Lia mengangguk.


"Btw, Li. Soal si secret admirer lo itu gimana?" Dahi Lia mengernyit. "Gimana apanya?"


"Udah tau siapa orangnya belum."


Lia menggeleng. "Belum..., pusing banget gue mikirin itu. Mana akhir-akhir hidup gue gak tenang banget lagi."


"Ada apa lagi?"


"Gue masih terus di untit. Kali ini tambah parah. Gue cuma keluar beli gula doang aja di ikutin."


"Ish, kok makin serem sih. Laporin polisi aja lah, Li. Biar kapok tuh, jadi gak ngikutin lo mulu. Atau lo mau nyamperin Brian lagi?"


Dahi Lia mengernyit. "Ngapain nyamperin Brian ?"


"Ya tanya lagi. Siapa tau tuh bocah waktu itu cuma bohong."


"Bukan dia."


"Ck. Jangan percaya dulu lah, Cassandra Lia yang cantik. Kali aja Brian waktu itu bohong. Tuh bocah suka bohong soalnya."


Lia menghembuskan nafasnya. Di tatapnya Alya sebentar sebelum akhirnya ia mulai menceritakan semuanya.


"Lah, kok malah jadi rumit banget gini sih, Li? Kalau bukan Brian terus siapa dong?" ucap Alya setelah Lia sudah selesai menceritakan semuanya.


Asha menggeleng tak tahu. Beberapa saat mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Brukk...


"Gue tahu, Li!" seru Alya menggebrak meja. Membuat atensi teman sekelasnya beralih pada gadis itu. Sedangkan Lia yang berada di sampingnya mengelus dadanya karena saking terkejutnya.


Alya yang tersadar akan perbuatannya tersenyum kikuk kepada teman sekelasnya dan segera meminta maaf. Setelah melihat semuanya kembali pada aktivitasnya masing-masing gadis itu kembali menatap Lia. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik di telinga Lia.


"Ngaco lo ah. Gak mungkin." sentak Lia setelah Alya menjauhkan tubuhnya.


"Ya tapi emang dia yang paling mencurigakan, Li. Sikapnya beda banget sama lo akhir-akhir ini. Dia lebih care. Masa lo malah gak curiga sih? Ketara banget kali. Terus nih setau gue dia juga deket sama Brian. Bisa aja kan dia emang yang nyuruh Brian."


Lia terdiam mendengarkan penjelasan Alya barusan. Apa mungkin yang di bilang Alya itu benar? Tapi, ia sama sekali tak memiliki bukti yang menujukan dialah orangnya. Hanya sikapnya saja yang memang berbeda akhir-akhir ini.


Lia menolehkan kepalanya kebelakang, saat itu pula matanya tak sengaja bersitatap dengan Kevin. Buru-buru Lia kembali menatap Alya kembali saat pria itu melepar senyum kepadanya. Seakan tahu jika dirinya tengah di bicarakan saat ini.


"Mau gue tanya-"


"Jangan!" sela Lia cepat. Bisa malu lagi dia jika salah lagi. Lebih baik ia mencari buktinya terlebih dahulu.


"Kenapa? Kan buat mastiin. Dari pada penasaran kan?"


Lia menggeleng kencang menolaknya. "Gak usah, gue besok tanya sendiri aja."


BERSAMBUNG.....